One Night In Singapore

One Night In Singapore
Kehilangan



Arsen akhirnya sampai di rumahnya yang berada di Jerman. Cukup melelahkan karena belasan jam berada di jet pribadinya. Malam ini dia harus tidur namun sebelumnya dia akan menelpon sang kekasih pujaan hati.


Arsen:


Hallo my angel...kamu udah tidur?


                                          Naomi:


Hi sen...belum kok lagi rebahan aja. Kamu udah sampe, pasti capek.


Arsen:


Ya ini aku baru nyampe kamar, mau mandi trus tidur. Badan capek banget.


Naomi:


Ya udah cepet istirahat ya.


Arsen.:


Tapi aku masih kangen kamu, pengen peluk tapi jauh. Ah...hal yang aku benci itu salah satu nya ini. Merasakan rindu


Naomi:


Aku juga rindu kamu. Tapi kok benci sih?


Arsen:


Ya benci kalo gak bisa langsung ketemu. Terlalu jauh jadi susah ngobatinnya. Kalo Deket trus rindu kan aku bisa langsung samperin aja.


Naomi:


Ya udah jangan lama lama di situ. Ok. Sebaiknya kamu cepet istirahat ya..biar masalah cepat teratasi. Hati hati... jangan lupa makan.


Arsen:


Siap my angel...


I love you 😘


Naomi:


I love you more honey. Bye


Arsen:


Bye...😘😘😘😘


Naomi:


😘 Udah aku tutup ya.


Naomi langsung menutup telpnya. Da perlahan menutupkan matanya masuk ke dalam mimpi.


Keesokan harinya seperti biasa Naomi bekerja di bagian UGD namun kali ini ditemani oleh dokter Hendrik. Kebetulan Adi sedang ada operasi.


Tak banyak kata diantara mereka karena saat ini Naomi dan Hendrik sedang menangani pasien ya terjatuh dari gedung kantor yang sedang di bangun.


Bangunan ini memang dirobohkan dan akan dijadikan mall oleh pemilik lahan. Namun salah satu pekerja bangunan terjatuh dari lantai 4.


Laki laki berusia sekitaran tiga puluhan ini mengalami pendarahan di bagian bahu, kepala dan kakinya. Sehingga saat ini pasien harus segera dilarikan ke ruang operasi.


Keluarga korban menunggu di luar, mereka histeris apalagi istrinya tengah mengandung dan sering pingsan akibat mendengar informasi mengenai suaminya.


Tak lama beberapa orang berpakaian jas hitam datang dan menghampiri istri korban.


"Nyonya, anda istri dari pak Jepri?" Tanya salah seorang dari pria berjas hitam


"Iya. Memang anda siapa?" Masih dalam keadaan terisak


"Saya disuruh pemilik bangunan untuk menyampaikan, suami anda tidak perlu bekerja lagi. Dan ini uang cukup untuk berobat." Ucapan laki laki itu datar dan sang istri korban merasa tersinggung karena tidak ada ucapan simpati dari kata katanya.


"Gampang sekali anda berbicara ya, suami saya sedang meregang nyawa, namun surat pemecatan dan uang saja yang kami terima. Tak ada kah rasa simpati dari bos Anda?" Nada suara terdengar kesal dan sedih bercampur.


"Maaf saya hanya menyampaikan apa yang bos saya ucapkan." Menetes lagi air mata sang istri


"Baik terima kasih atas uang dan surat pemecatan. Anda boleh pergi." Datar dan dingin suara kali ini dikeluarkan oleh perempuan tadi.


Tak lama Naomi dan Hendrik keluar dari ruangan operasi, sang istri pun berlari secepatnya menghampiri kedua dokter tersebut.


Raut wajah mereka terlihat tertekan, apalagi melihat sang istri yang dalam keadaan mengandung.


"Bagaimana dokter keadaan suami saya?" Air mata terus mengalir dari mata nya.


"Maaf nyonya, kami sudah berusaha, darah pun sudah kami siapkan namun Tuhan berkehendak lain.....suami anda tidak dapat kami selamatkan karena terlalu banyak darah yang keluar." Langsung istrinya pingsan mendengar ucapan dari dokter Hendrik.


Berat memang menyampaikan berita duka apalagi harus menyampaikan kepada istri yang tengah mengandung.


Perempuan itupun langsung diangkat dan ditidurkan di brankar. Naomi dan Hendrik mengurus administrasi dan kepulangan almarhum dengan saudara dari istri korban.


Lelah dan berat hari ini....tidak mudah menjalani hari hari jika kita menghadapi kegagalan dalam operasi, karena satu nyawa telah menghilang.


Naomi butuh Arsen, butuh pelukan yang bisa menenangkan. Karena baru kali ini dia menghadapi kematian di meja operasi.


Naomi tertunduk, sedih...dia butuh seseorang yang menghibur, senyuman dan ungkapan 'my angel' butuh suara Arsen namun laki laki itu tengah sibuk juga di Jerman.


Naomi duduk di sofa ruangannya...sesekali menarik napas perlahan, menahan air mata karena masih terbayang raut wajah sang istri korban.


Tak lama ada ketukan dari luar pintu.


Tok.. tok.. Naomi tak menjawab dan akhirnya pintu pun terbuka.


Ceklek.....


"Kau tidak apa apa?" Naomi melihat ke sumber suara


"Ya...aku GPP. Thanks kak." Naomi tersenyum terpaksa


"Aku tau ini yang pertama bagimu. Tapi begini lah hidup...ada yang baru lahir dan ada yang meninggal. Tugas kita hanya mencoba membantu.... kematian tetap mutlak milik Allah." Naomi menganggukkan kepalanya dan tak terasa air mata pun yang sudah ditahan sedari tadi menetes deras dengan suara isakan yang sangat lirih.


Hendrik yang melihat itu pun langsung duduk disebelah Naomi dan spontan memeluk dan mengusap kepala juga punggung Naomi.


Naomi tidak menolak karena saat ini memang dia butuh pelukan untuk menenangkan. Dia mencoba menarik napas dan menenangkan pikiran. Kendati nya memang tugas dia pasti seperti ini...akan banyak kematian dan penyelamatan juga kesembuhan dalam pekerjaan nya. Dia harus mulai terbiasa.


Namun tak disangka Hendri menarik dagu Naomi dan menatap wajahnya.


"Sudah jangan menangis lagi. Aku tak tega melihat mu menangis. " Tanpa sadar mereka saling bertatapan, tepatnya Hendrik yang menatap Naomi , Naomi hanya sekilas dan Hendrik mendekap wajah Naomi dengan kedua tangannya sehingga mau tidak mau Naomi menatap mata Hendrik dengan rasa kaget.


Hendrik tanpa sadar mendekat dan mendekat, jarak wajah mereka pun tinggal beberapa inci. Dan Hendrik mencium Naomi lembut. Naomi sontak membelalakkan matanya dan kesadaran nya menuntut dia mendorong badan Hendrik.


"Kak...apa yang kakak lakukan?" Naomi sungguh kaget atas perlakuan Hendrik


"Maaf Naomi...aku tak bisa mengendalikan diri ku. Tapi kau tau kan aku mencintaimu dan tak bisa melihat mu bersedih. Spontan aku mencium mu, berusaha menenangkan mu." Hendrik tertunduk dan berbicara dengan sangat lembut.


"Sebaiknya kakak keluar, aku butuh ketenangan. Aku lelah dan ingin istirahat dulu "  nada suara yang dingin diucapkan Naomi


"Baiklah kakak akan keluar, jika kamu perlu bantuan, kakak ada di ruangan." Suaranya terdengar lesu dan rasa malu pun Hendrik rasakan.


Setelah tenang Hendrik pun membiarkan Naomi sendiri untuk beristirahat, dia tidak akan menggangu Naomi 2jam ke depan.


Naomi berusaha menelpon Arsen namun tak diangkat. Sudah 5 kali dia mencoba namun tak ada jawaban. Bahkan pesannya pun belum di baca. Apa sesibuk itu?, apa baik baik saja?, semuanya lancar kan? Banyak pertanyaan yang dia pikirkan saat ini.


Naomi gundah karena takut hal hal yang tak baik terjadi terhadap Arsen. Dia baru ingat Andre selalu ada di sisi Arsen. Akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Andre.


Telponnya tidak diangkat, baru ke 3x telpon tersebut diterima.


"Hallo...dre. apa Arsen ada?" Tanya Naomi


"Sebentar ya...Arsen sedang sibuk. Nanti akan ku suruh telp kamu kalo dia sudah selesai. " Bisik Andre Mungin takut mengganggu acara yang sedang berlangsung dan Naomi paham akan hal itu lalu menutup telp setelah mengucapkan 'see you'


Akhirnya naomi tertidur setelah matanya terasa perih akibat tadi menangis.


Di lain tempat terasa ketegangan yang besar, suara teriakan dan amukan terjadi saat ini.


Dan suara dor... dor..dor...terdengar dari mansion yang sedang didatangi oleh Arsen serta anak buahnya.


Dor..dor.. dor...


"oh no....hiks..hiks...wake up please"


******