
Pagi telah tiba mereka baru saja terbangun, gio yang merasa bangun kesiangan, cepat cepat pergi ke kamar mandi, dia mengambil air wudhu dan melaksanakan kewajiban nya. Dia gunakan jaketnya sebagai pengganti sejadah.
Dasha yang tak mengerti hanya memperhatikan saja. Dia baru teringat, pernah saat melewati sebuah mesjid di salah satu tempat, daerahnya dia lupa namun dia mengingat ketika gio mengangkat tangannya dan mengucapkan 'Allahuakbar' dia tersenyum mengingat moment yang tak mudah di lupakan. Saat itu dia sedang berjalan jalan mencari pekerjaan, mondar mandir tak tentu arah.. dia mendengar suara berkumandang di salah satu gedung, dan semua orang, semua laki laki, tak tahu berapa banyak namun cukup banyak langsung memasuki gedung tersebut.
Sempat Dasha mengintip apa yang mereka lakukan di sana, namun ada seseorang wanita dengan pakaian serba tertutup meyapanya. Di sana dia tahu apa yang para laki laki lakukan. 'Sholat berjamaah'. Dasha merasa kagum karena hanya satu suara ajakan mampu membawa sekian banyak laki laki ke tempat itu.
Dasha baru mengerti jika gio memang berbeda dari laki laki di sana.
"Hai...melamun." Dasha kaget dengan tepukan tangan di bahunya.
"Oh...ya.." gio menatapnya tajam
"Apa yang kau lamunkan?" Dasha tersenyum " bukan apa apa...emmm gio..boleh aku bertanya?"
"Boleh... Silahkan." Gio mendudukkan tubuhnya di sofa
"Apa yang kau lakukan tadi?" Gio tersenyum manis
"Aku sholat subuh, tapi aku kesiangan. Hehe... Harusnya sekitar pukul 4:30 jika di Indonesia... Dan ini sudah pukul 6 pagi..." Dasha menganggukan kepalanya.
"Kenapa harus sholat?" Tanya nya bingung. " Karena aku seorang muslim Dasha, sholat lima waktu itu wajib hukumnya bagi umat muslim, jika ditinggalkan akan berdosa..." Santai gio
"Oh...begitu...ada aturan lain?" Gio tersenyum " banyak lah .. aturan semua ada di Al Qur'an, namun tidak sedikit orang juga melanggar. Dan aku hanya orang yang berusaha untuk melaksanakan nya... Jauh sekali dari kata sempurna. Aku banyak dosa. Hehehe.." gio menggaruk tengkuknya
"Salah satu aturannya apa yang bertentangan dengan kehidupan yang ada saat ini"
"Kenapa kamu penasaran?"
"Aku hanya ingin tahu saja."
"Ok. Aku sebutin ya yang besarnya aja. Di larang Meminum minuman keras, membunuh, dan berzina... Dan aku yakin di setiap agama manapun pasti itu dilarang. Benar?" Dasha menganggukan kepalanya "pantas dia tidak mau menyentuhku, dia takut dosa." Gumamnya dalam hati sambil tersenyum.
"Sekarang aku, aku ingin menanyakan sesuatu. Keluargamu kemana?" Dasha berubah menjadi sendu.
"Kedua orang tua angkat ku meninggal di sebuah kecelakaan....." Dasha menjeda ucapannya " mereka naik taxi setelah pulang dari acara kelulusan ku....mereka meninggal dunia di tempat." Dasha mulai berkaca kaca, gio paham langsung berdiri dan memeluk Dasha yang duduk di sisi ranjang.
"Maaf...aku mengungkit rasa sakitmu." Gio mengelus punggung dan menepuk bahu Dasha.
"Tak apa apa..." Gio melepas pelukannya dan menatap Dasha.
"Tunggu..tunggu...kamu bilang orang tua angkat?" Dasha menganggukan kepalanya " trus orang tua kandung mu kemana?" Dasha menatap lurus dan mengingat kejadian 10 tahun yang lalu.
Flashback
"Kak...mau ice cream..." Sang kakak tersenyum
"Ok. Rasa strawberry?" Adiknya menganguk " seperti biasa kak."
"Mau ikut...." Rengek sang adik
"Dek, tunggu kakak di sini ya, sebentar saja... biar kakak cepet, kakak lari kok. Ok."
"Tapi jangan lama beli ice creamnya."
"Ya udah, ade tunggu sini biar kakak cepet."
"Iya." Sang kakak pun pergi berlari.
Dasha yang duduk di bangku tak melihat ada seseorang yang datang dari belakang.
Hup... Seseorang mendekapnya dan menutup mulutnya dengan sebuah saputangan dan lambat laun Dasha kehilangan kesadaran, yang terakhir dilihat, sang kakak berlari lari berteriak memanggil namanya nun lama kelamaan suara itu hilang dan penglihatan pun menjadi gelap.
Flashback end
"Aku rindu kak semi...sangat rindu." Air mata itu menetes kembali dengan deras.
"Di mana mereka sekarang? Aku tak tahu. Yang ku ingat dulu aku di culik. Dari Jerman aku di bawa ke sini, ke Paris... dan ketika aku meronta ronta dan berhasil kabur, aku bertemu kedua orang tua angkat ku dan sampai saat ini aku di sini." Gio menarik napasnya
"Pantas saja di rumah ini tak ada siapapun. Usiamu berapa saat di culik?"
"Usiaku 10 tahun dan sekarang aku sudah 20tahun..... 10 tahun sudah aku berpisah dengan keluarga kandungku...ku ingin kembali ke Jerman dan mencari mereka namun aku tak mampu, butuh biaya banyak untuk sampai ke sana dan mencari mereka...makanya aku bekerja dengan keras dan menabung."
"Masalah hutang itu, bagaimana?"
"Tenang, akan ku bayar. " Terdengar nada kesal di sana namun gio langsung menyentil kepala Dasha
Pletak " awww... Sakit..."
"Dasar bocah..maksud aku bagaimana kamu bisa punya hutang dan di jual di club." Dengus kesal Gio
"Oh ...maaf... Itu karena ayah kehilangan perkebunan miliknya, semua terbakar dan ayah meminjam uang satu milyar untuk memperbaiki perkebunan miliknya, namun sayang..yang itu ada yang mencuri, dan ayah kehilangan perkebunan nya karena sertifikat itu sebagai jaminannya."
"Berarti kamu tak punya hutang dong, masa kamu jadi dijual?" Dasha terlihat salah tingkah dengan gelagatnya gio jadi curiga
"Emmm itu...a..aku menerobos... Ke... Rumah orang itu dan hendak mengambil sertifikatnya, supaya ayah bisa terus memiliki perkebunan dan mauku biar bisa di cicil aja gitu...kan baru dipinjam masa langsung di klaim dimiliki. Paling gak kalo dijual itu tanah bisa terjual tiga milyar kan? Satu milyar untuk membayar hutang. Namun aku ketahuan dan mereka hendak memperk*sa aku, lalu aku raih botol bekas minum mereka. Aku pukulkan ke kepala mereka sampai mereka masuk RS dan gegar otak. Tapi ringan kok... Gegar otak ringan. Hehehe..." Melihat tingkah Dasha yang tertawa terpaksa malah membuat gio gemas.
Gio mencubit hidung Dasha sambil tertawa-tawa "ahahaha... Kamu ini ada ada saja... Padahal buat gegar otak berat juga GPP...hahaha.." Dasha ikut tertawa mendengar ucapan gio
"Ya... akhirnya aku tak bisa bawa sertifikat tanah ayah karena kelakuanku. Miris ya...?" Dasha tersenyum manis
"Ya sudah...aku harus pulang dan bersiap ke kantor. Dan kamu silahkan bekerja lagi di minimarket dan ingat, bayar hutang hutang mu, jangan sampe jadi 10 milyar ya. Hehe.." gio beranjak pergi dari sana dan melajukan mobil menuju rumahnya untuk mandi dan bergganti pakaian.
Sedangkan Dasha masih senyum senyum sendiri...