One Night In Singapore

One Night In Singapore
Keputusan



Seminggu sudah waktu yang diberikan Leon untuk Naomi berpikir, apa dia mau memberikan kesempatan kepada Leon atau tetap mau putus saja.


Terus terang Naomi memang masih mencintai Leon tapi cintanya sudah tak sebesar dulu, mungkin ini yang terbaik. Dia tidak mau jika nanti hal itu terulang lagi.


Naomi orang yang sibuk sebagai dokter dia harus siap kapanpun dibutuhkan dan jika kesibukan nya malah kurang memperhatikan Leon mungkin saja leon akan melakukan hal yang sama. Mencari orang lain untuk memenuhi kebutuhan nya.


Mereka pun sudah janji akan bertemu sepulang kerja pukul 4 sore, namun dia baru selesai mengobati pasien, pasien pun di antar ke ruang perawatan namun dia masih di ruangan itu. Kosong memang dia hanya membereskan peralatan.


Di ruangan itu Naomi masih duduk termenung, tirai ruangan UGD terbuka sedikit. Datang seseorang menghampiri Naomi.


"Kamu sedang apa, melamun?"


"Ah tidak kok dok, aku lagi berpikir aja." Jawab Naomi


"Panggil kakak dong, seperti dulu kamu suka panggil aku."


"Gak enak dok, ini kan di RS."


"Tapi kan sekarang kita sedang berdua, tak ada yang lain Naomi."


"Ya udah kak Hendrik ada perlu apa, nyamperin berarti ada yang mau di bicarakan bukan?"


Ya..itu adalah dokter Hendrik, yang sedang berbicara di dalam ruangan, tetangga Naomi waktu di Bandung. Mereka beda 2th dan dulu sering main bareng. Hendrik sering menjaga Naomi ketika di rumah ataupun di sekolah. Mereka kenal sejak Naomi pindah ke Indonesia saat usia 5th.


"Ada Leon yang nyari kamu, kamu masih hubungan sama dia, bukannya udah putus ya?" Tanya hendrik memperlihatkan ketidaksukaannya.


"Seminggu yang lalu dia menjelaskan perihal kejadian itu, dan dia minta waktu seminggu supaya saya pertimbangkan kembali hubungan kami. Apa putus atau lanjut."


"Trus kamu akan kembali sama Leon, setelah dia nyakitin kamu nai..kamu masih punya perasaan sama dia?" Nai panggilan sayang buat Naomi dari Hendrik sejak dulu.


"Kalo perasaan, mungkin masih ada walaupun sedikit...." Belum selesai bicara Hendrik lalu memotong ucapan Naomi.



Hendrik memeluk Naomi dari belakang..membuat Naomi kaget dan tak mampu berbicara.


"Jangan... jangan kembali ke Leon. Aku gak suka. Dia pasti nyakitin kamu lagi. Aku gak rela Naomi." Ucap Hendrik dengan suara lirih


"Kak ...kenapa...?" Tanya Naomi masih dalam keadaan bingung.


"Aku ....sayang...kamu.." ucap Hendrik pelan namun masih bisa di dengar dengan jelas.


"Kakak emang sayang aku kan, aku emang adik kesayangan kakak kan?" Tanya Naomi takut salah sangka.


"Ya..sayang dan cinta Naomi tapi sebagai cowok, bukan sebagai kakak." Jawab Hendrik.


Naomi terkejut bukan main. Dia tak menyangka rasa sayang yang selalu dia terima, perlakuan lembut dari Hendrik itu bentuk cinta darinya.


"Sebaiknya kita bicarakan lagi nanti. Aku harus menemui Leon dulu." Ucap Naomi melepaskan pelukan Hendrik.


Namun dia tidak menyadari jika ada seseorang yang memperhatikan mereka di balik tirai...


Arsen yang tahu jika Naomi akan bertemu Leon sore ini dan memberikan keputusannya, dia bermaksud menemui Naomi dan mengungkap kan perasaannya  terlebih dahulu.


Dia berharap naomi menerima dirinya dan tetap putus dengan Leon.


"Tapi kamu tidak akan menerima Leon kan nai." Ucap Hendrik berharap


"Tenang aja kak, aku tau keputusan apa yang harus aku ambil." Jawab Naomi langsung melangkah kan kaki pergi ke luar tanpa melirik ke belakang.


Naomi langsung bergegas menuju ruang ganti dan bersiap siap untuk pulang, berganti pakaian melepas jas kebanggaannya, dan disimpan di tangannya. Tidak lupa tas kerjanya.


Sedangkan Arsen yang tahu Naomi melangkahkan kakinya keluar ruangan langsung bersembunyi di bilik ruangan satunya. Untung saja tidak ada pasien. Sebelum Naomi keluar dari ruangan Arsen sudah keluar dari UGD, dia berdiri di dekat pintu UGD.


"Kamu lagi apa di sini?" Tanya Leon Mandang Arsen penuh selidik


"Apa urusanmu?" Jawab Arsen ketus


"Yey...kalo mau masuk, udah sana masuk. Jangan diem di situ." Perintah Leon


"Gue ada perlu sama Naomi." Jawab Arsen ketus.


"Eits..gue dulu. Ini urusan penting. Masalah hidup dan mati gue... masa depan gue." Ucap Leon tak mau kalah.


"Dia dokter...pasti pentingin  pasien, tau." Jawab Arsen tak mau kalah


"Lo kan bukan pasien, sehat gini juga." Jawab Leon sambil menggeram menahan amarahnya


" Kalo gue luka, kira kira dia pentingin siapa ya?" Tanya Arsen menyeringai seakan akan dia ada ide dan yang pasti idenya itu gila.


"Lo kan gak luka,dasar setres." Ucap Leon


Lalu tak lama Arsen melihat Naomi mengarahkan kakinya ke luar dia lalu mengambil pisau lipatnya yang selalu dia bawa dan melukai tangannya.


Sret...darah bercucuran. Arsen lalu menyimpan kembali pisaunya. Dan Naomi yang baru sampe ke pintu luar dia tertegun melihat tangan Arsen bercucuran darah.


"Sekarang gue terluka, gimana...dia milih Lo atau gue." Ucap Arsen


"Dasar licik Lo." Jawab Leon


Naomi yang sudah melihat itu langsung berlari tanpa mengindahkan Leon.


"Tangan kamu berdarah Arsen, kenapa? Ayo obati dulu." Naomi menarik tangan Arsen hendak masuk ke ruang UGD. Namun tangan Naomi ditahan Leon


"Naomi, kita harus bicara. Biarkan Arsen di obati dokter yang lain. Jam kerja kamu udah selesai." Ucap Leon terlihat kesal


"Leon, maaf...aku mohon tunggu ya. Aku obati dulu sebentar saja."


Leon menarik nafas berusaha untuk tenang.


"Ya udah aku tunggu di restoran depan ya. Jangan lama ok." Pinta Leon dengan lemah


"Aku gak akan lama kok." Naomi tersenyum. Ya walaupun sudah jadi mantan Naomi gak mau hubungan nya jadi jelek. Tetap harus menjalin tali silaturahmi, tak jadi pacar tetap bisa jadi teman bukan?


"Ayo Arsen." Ajak Naomi dan Arsen hanya tersenyum dan mengangguk saja.


Naomi langsung mengobati luka Arsen dengan sangat baik dan merasa sedikit heran sih.


"Kamu luka kenapa lagi sih sen?" Tanya Naomi


"Ah, kena pisau."


"Kok bisa sih?"


"Tadi ngupas apel, trus bengong, keiris deh." Jawab enteng Arsen


" Memang kamu kenapa bengong sih? Nih selesai....Aku mau ke Leon dulu ya." Ucap Naomi


Arsen menahan tubuh Naomi dan berkata " kamu gak mau tau aku bengong kenapa Hem?"


Naomi yang di peluk pinggangnya dari belakang merasa tegang.


Deg..deg..


Deg..deg..


"Ya ampun jantung gue..." Dalam hatinya


"Aku memikirkan jawaban mu Naomi... keputusan yang akan kau ambil buat Leon." Seketika Naomi terkejut dan membalikkan badannya dan dia menatap wajah Arsen lalu menatap mata Arsen.


"Kenapa kamu memikirkannya?" Tanya Naomi sedikit menundukkan kepalanya karena posisi nya Naomi berdiri dan Arsen duduk di ranjang


"Karena aku mencintaimu Naomi. Aku tak mau kamu kembali dengan Leon." Arsen menundukkan kepalanya setelah tadi mereka bertatapan.


Arsen menundukkan kepalanya karena air matanya terjatuh dan tak mau Naomi melihatnya. Seorang Arsen yang dingin menjatuhkan air mata, sungguh sudah jadi bucin sejati sepertinya.


Naomi yang tau raut wajah Arsen seketika mengangkat wajah Arsen, terlihat bekas air mata di pipi Arsen.


Naomi menatap Arsen dengan teliti dan tersenyum.


"Kamu nangis sen?"


"Udah jangan liat wajah aku." Arsen merasa malu dan membuang muka tak mau ditatap Naomi.


Naomi yang melihat itu sungguh merasa gemas, bagaimana tidak, Arsen itu tinggi besar, wajahnya tegas terlihat keras, berjambang tapi nangis. Kan lucu banget.


"Kamu malu ya?" Tanya Naomi tersenyum menggoda.


"Oh gak nyangka Lo, seorang Arsen ternyata cengeng ya." Goda Naomi


"Aku gak cengeng tau. Kamu ya berani sebut cengeng sama aku." Arsen cemberut gak rela di sebut cengeng.


"Hahaha...cengeng..cengeng...cengeng..cengeng...." Ejek Naomi namun pelan karena dia masih sadar itu di RS


"Berani ya kamu Hem." ucap Arsen


"Emang...trus kamu mau apa?" Tantang Naomi


Arsen lalu menggelitik Naomi tanpa ampun sontak Naomi tertawa dan terjatuh ke ranjang. Mulutnya dia tutup sendiri karena sadar masih di RS takut berisik.


Naomi yang terjatuh di ranjang dan Arsen yang menindihnya, mereka saling menatap. Dan jantung mereka berdetak sangat kencang. Arsen bangun lalu menjulurkan tangannya.


"Khem...maaf...ayo bangun." Arsen sedikit kaku


" Oh ya, makasih."


"Aku harap kamu bisa memikirkan suara hati kamu, apa masih ada kesempatan buat aku memiliki hati kamu. Terus terang aku sudah jatuh cinta ketika kita bertemu di Singapore." Wah luar biasa Arsen sekarang ngomongnya panjang gak irit irit lagi.


"Makasih Arsen. Nanti kita bicara setelah aku ngobrol dengan Leon ya. "


"Baik, aku tunggu di mobil. Kamu hubungi aku kalo sudah selesai. Sekalian aku antar pulang" Ucap Arsen


"Baik." Naomi tersenyum dan melangkah ke luar menemui Leon.


Di dalam restoran Leon sudah duduk cukup lama, dia sangat tidak tenang, dia memesan jus strawberry kesukaan Naomi. Dan tak lama pesanan datang, datang juga naomi membuka pintu restoran.


"Duduk, ini jus kesukaan mu." Ucap Leon


"Makasih, maaf sudah merepotkan."


"Tidak repot kok. Gmn si bule, udah diobati?"


"Maaf menunggu lama,ini lah resiko sebagai dokter ...emmm si bule? Hahaha Maksudnya Arsen?" Naomi bingung dan setelah sadar dia tertawa . Yang dipanggil bule itu Arsen


"Ya siapa lagi yang sering gangguin kamu kan si bule itu." Jawab Leon ketus


"Kok kamu jadi marah sih?" Tanya Naomi


"Ya kesel aja liat kamu Deket Deket dia."


"Aku tuh Deket dengan banyak orang, pasien aku bukan cuma cewek doang, ada juga cowok, anak anak, remaja juga." Jawab Naomi


"Ya udah jadi gimana keputusan kamu? Kamu masih mau kan kasih aku kesempatan lagi. Please " Leon memelas


"Aku memang masih ada rasa Sayang, namun tidak sebesar dulu. Dan rasanya kita lebih baik berteman saja leon. Maaf." Jawab Naomi lirih


"Jadi tak ada sedikit harapan untuk ku?"


"Maaf Leon...kalo kita jodoh mau berpisah bagaimana pun kita pasti akan kembali bersama."


"Teman?" Naomi tersenyum menjulurkan tangannya untuk berjabatan.


"Baiklah jika itu mau mu. Tapi untuk sekarang aku tak bisa berteman dengan mu, mungkin nanti. Aku butuh waktu Naomi..tapi ya kita berteman." Jawab Leon menggenggam tangan Naomi.


"ya saya mengerti leon." Naomi tersenyum tulus.


" Habiskan minumannya sebelum pulang." Sambil menatap Naomi


"Ya. Makasih." Naomi meminum jus nya dengan habis.


"Aku pamit pulang ya." Ijin Naomi ke Leon lalu dia berdiri.


"Tunggu..boleh aku memeluk mu untuk yang terakhir kalinya?" Leon menahan tangan Naomi.


" Baik lah. Sini." Naomi tersenyum kembali. 


"Mungkin ini yang terbaik untuk kita Leon." Gumamnya dalam hati


Leon pun memeluk Naomi dengan erat, melepaskan rindu selama 4bulan lamanya. Dan ini pelukan terakhir sebagai pelepas perasan cinta untuk Naomi, gadis yang dulu dia harap jadi istrinya, ibu dari anak anaknya, dan harapan itu terhempas sudah karena sikapnya yang egois. Kesalahan yang sangat dia sesali. Jika suatu saat nanti mereka berjodoh, Leon berjanji tak akan menyia-nyiakan lagi.


"Baik lah Leon, cukup. Kita terlalu lama berpelukan. Malu dengan yang lain." Naomi melepas pelukan Leon dan Leon pun sadar dari lamunannya.


Dia harus rela.


"Tersenyum lah Leon...ok. kamu pasti akan jatuh cinta lagi dan mendapatkan seseorang yang baik untuk kau jadikan istri, jika itu bukan aku. Mungkin itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah maha tahu jodoh yang terbaik untuk mu." Ucap Naomi tulus.


"Kamu benar Naomi...kita lahir sudah dengan jodoh nya masing masing...mungkin jodohku belum datang atau masih otw. Hahaha." Ucap Leon.


"Makasih atas perhatian kamu selama ini, kesetiaan mu kepadaku, thanks Naomi."


"Sama sama...kamu juga laki laki baik, kemaren cuma hilaf aja kan? Lain kali jangan lagi ya. Hehe.... Bye Leon." Naomi ngedipkan matanya sebelah


"Ish...jangan kau lakukan itu lagi. Nanti aku susah move on." Ucap Leon


"Hahaha... assalamualaikum. Leon." Naomi melambaikan tangan


"Bye... waalaikmslm. Cantik." Leon pun melambaikan tangan nya.


Leon terduduk dan menundukkan kepalanya. "Kamu harus bisa Leon. Ayo semangat." Menyemangati diri sendiri lalu menarik napas dan hembusan 3x lalu dia pergi dari restoran itu setelah membayar semua pesanannya.


*******


Wah jadi gitu ya keputusan nya. Nah trus nanti Naomi pilih siapa nih, kak Hendrik atau Arsen nih? Secara Arsen sama Naomi beda kepercayaan.


Mau tau kelanjutannya. Tunggu terus ya ceritanya.


Jangan lupa vote and comment


See you next chapter


Bye 🤗😘