One Night In Singapore

One Night In Singapore
Haruskah ?



"Dasha tersenyum dan mengangguk


"Hilangkan jejak mereka gio... Hilangkan... Aku tak suka jejak mereka di tubuhku... Hilangkan jejak mereka dengan jejakmu." Gio tak menunggu lama, langsung dia raih tengkuk Dasha dengan lembut dan....


"Ini bekasnya ya? Sebentar.... " Gio pergi keluar menuju mobilnya. Beberapa menit kemudian dia datang dengan membawa sesuatu.


Gio menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh Dasha. " Sudah selesai." Dasha terlihat kebingungan dengan apa yang gio lakukan.


" Kenapa kau menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh ku?" Gio tersenyum lebar " untuk menghilangkan jejak mereka... Biar bau ku ada di sana. Jadi lupakan bau alkohol yang sudah tercium oleh mu."


Dasha menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Apa dia bodoh?" Gumam Dasha


" Maaf Dasha, aku tak bisa menghilangkan jejak yang ada di lehermu, itu mungkin harus pake blash on dan aku tak punya. Oh ya...satu lagi... parfum ku tak mungkin disemprot kan ke wajahmu jadi itu juga tak mungkin." Dasha mengerang dan meraung menangis lagi. 


"Ka..kamu kenapa Dasha? Ada yang salah? Kenapa menangis?" Dasha menatap gio " kau tak tahu apa yang dimaksud dengan menghilangkan jejak?" Gio menggeleng " bukankan itu juga sudah cukup"


"Jika itu sudah cukup, aku bisa menyemprotkan parfum ku sendiri...tak perlu punyamu." Gio terlihat bingung " jadi maksudmu bagaimana?" Dasha menunduk kembali.


"Kau tahu apa yang kulalui tadi? Dia mencium seluruh wajahku, dan tubuhku disentuh nya.... Dan wajah itu masih terbayang...sangat menjijikan tahu... Hiks..hiks..."


" Jadi maksudmu, aku harus men-ci-um-mu, di setiap tempat dia menyentuh mu, begitu?" Dasha menganggukan kepalanya " dengan begitu, wajahmu dan bau mu yang akan terus terbayang...aku tak mau mengingat ciuman pertama ku oleh ******** itu. Untung saja aku tak membuka mulutku."


"Oh....emmm haruskah?" Dasha menggeleng " tidak jika kau tak mau atau kau merasa jijik padaku." Dasha membalikkan badannya dan membawa baju ganti lalu memakai nya di kamar mandi.


Dasha terduduk di atas ranjang dan menangkup wajah nya di lutut.


"Dasha..." Gio memanggil dan dia mengangkat wajahnya


"Apa tidak apa apa aku yang melakukan nya? Kau bisa menelpon pacarmu dan kalian bisa melakukan nya bukan?" Dasha menggeleng " aku tak punya pacar." Gio menganggukan kepalanya


"Cobalah untuk tidur dan lupakan semua nya.... aku akan pulang." Dasha menggenggam tangan gio. " Jangan pergi.. aku takut."


"Baiklah...cepat tidur, nanti aku pulang saat kau sudah terlelap." Dasha menyelimuti dirinya sendiri dan karena lelah akibat menangis membuat dia dapat tertidur.


Ketika dia mulai melangkah kan kakinya, suara teriakan terdengar


"Jangan...jangan...jangan sentuh aku... Aku mohon... Jangan... Aaaa tidaaaak.. hiks ..hiks..." Gio mendekat dan mencoba membangunkan Dasha


"Dasha...Dasha...bangun. Dasha... Hei... Sadar Dasha." Mata Dasha mulai terbuka dan langsung memeluk


" gio...hiks..hiks..." Gio mengelus elus punggung dan menepuk nepuk pundak Dasha.


Gio mulai melepaskan pelukannya dan menatap Dasha yang matanya bengkak akibat terus terusan menangis. Gio menatap Dasha yang terlihat masih ketakutan akan kejadian tadi.


"Aku akan menghilangkan jejak itu..." Gio langsung mencium mata Dasha dengan lembut, lalu turun ke kedua pipinya, hidung dan juga dahi. Gio terdiam dan menatap Dasha, mata mereka saling bertatapan.


"Apa kamu yakin, first kissmu kau berikan padaku? Yakin mau dilanjut?" Dasha menganggukan kepalanya


Gio dengan lembut mencium bibir Dasha, seakan akan benda kenyal itu adalah benda pecah belah, jika terlalu kasar akan pecah dengan mudah. Namun lama kelamaan mereka terhanyut dalam permainan..gio turun sampai ke leher, dia melihat tempat yang terdapat bekas kejadian tadi.. gio sapu dengan lembut menggunakan bibirnya.


Lama kelamaan permainan itu tambah memanas. Merasa hal ini akan berdampak gawat, gio langsung menyudahi semua.


Mereka terengah engah...saling menatap dan akhirnya mereka tertawa bersama untuk mencairkan suasana canggung ini.


"Ah... Dasha .... Kau sudah membuatku melakukan tindakan sejauh ini... Ahahaha tak sangka aku akan melakukannya dengan mu di sini." Dasha tersenyum malu sambil menggigit bibir bawahnya.


"Pipiku merah Dasha... Kau blushing." Dasha tambah malu


"Tidurlah... Aku tak kan Kemana mana, aku akan tidur di sana, di sofa." Tunjuk gio dan Dasha mengangguk.


Mereka kembali ke tempat mereka masing masing dan terlentang berusaha tertidur, tapi keduanya tak dapat tidur karena jantung mereka berdetak kencang.


Wah wah wah ... Bagaimana ini? Gio... Kamu yah... Mulai nakal. Author sentil ya..