
"Bos...uhuk uhuk.. terima kasih..." Gian meninggal di pangkuan James.
Setelah James meninggal, semua anak buah Arsen masuk dan melihat bosnya.
Andre yang mengetahui Arsen tertembak langsung menelpon ambulance.
Dia memeriksa keadaan Arsen, dan Arsen membuka matanya.
"Hi my angel" sapa Arsen mengedipkan mata kirinya.
Merasa dibohongi Naomi langsung memukul dada Arsen dengan pukulan keras sehingga arsen terbatuk batuk.
"Kau membohongiku. Dug dug" dua kali pukulan mendarat di dada Arsen.
"Uhuk..uhuk...honey..sakit." ucap Arsen
Darah terlihat mengucur. Naomi kaget. Ini darah beneran sen?" Naomi kembali khawatir.
"Iya." Jawab enteng Arsen.
Andre membangunkan Arsen dan melepas rompi anti peluru di badan Arsen yang dia pakai dibalik kaos hitam dan jaketnya.
Naomi bingung, Arsen mengeluarkan darah tapi memakai rompi anti peluru.
Andre yang melihat wajah bingung Naomi seakan akan paham akan kebingungannya
"Arsen menggunakan rompi anti peluru, tapi senjata yang Gian gunakan itu memang bisa tembus, namun sedikit menghambat jadi dia tetap terkena peluru tapi tidak separah jika tidak pakai." Andre menjelaskan
"Lihat ini, dia kalo gak pake ini rompi pasti sudah ke alam baka, yang kena perut sama dadanya. Kalo tembus bisa ke jantung kan?" Lanjut andre sambil menunjukkan bekas peluru yang berada di rompi tersebut
"Oh..jadi..ini benar benar darah kamu ya....kapan ambulance datang sih. Kok lama banget?" Ucap Naomi khawatir.
Arsen yang melihat Naomi khawatir merasa senang dan bahagia dia tahu Naomi sangat mencintai dirinya.
James mendekat.
"Sen, ambulance sudah datang, cepat ke RS..aku gak mau kamu mati di sini
Dan juga, nanti aku tak ada saingan lagi." James tersenyum meledek.
"Kau tak akan mampu menjadi saingan seorang Arsen, dari dulu sampe sekarang.hahaha." Arsen tertawa lebar
"Udah Sono pergi." Ucap James.
"Maaf atas kejadian ini bro. Tadinya aku ingin dia selamat tapi dia terus menembak ku, sehingga anak buahku yang menembak nya. Aku sudah mengalah sejak tadi." Arsen terlihat sedih.
"Tak apa, itu sudah pilihan dia, kita sudah mengingatkan beberapa kali. Akan ku makamkan dekat ayah dan adiknya sekarang." Ucap James.
Arsen di bawa naik ambulance ke RS tempat Naomi bekerja. Di sana ada dokter Hendrik dan dokter Adi.
Melihat banyaknya anak buah Arsen di luar RS membuat banyak sekali perhatian. Bagaimana tidak, mobil ambulance diiringi beberapa mobil hitam di belakang nya. Dan keluar semua anak buah Arsen berdiri berjaga sekitar 30 orang di luar dan 20 orang di ruang UGD.
Andre yang baru sadar langsung menghampiri anak buahnya.
"Ya ampun gue lupa." Monolog Andre
"Kalian kembali ke markas saja. Kalo ada apa apa nanti saya hubungi." Perintah Andre
"Oh satu lagi. Egan..kau bawakan pakaian bos besar dan bawa ke sini. Minta bi Vivi aja ya untuk menyiapkan." Lanjut Andre dan diangguki egan
Semua anak buah nya pergi dan hilang entah ke mana.
Arsen sudah di bawa ke ruang tindakan, ada sekitar 5 peluru yang melukai badannya. Tangan 2 peluru, perut, dada dan punggung.
Saat ini yang mengobati adalah naomi dan Hendrik.
Sesekali Hendrik melirik ke arah Naomi.
"Naomi kamu kemana saja? Aku sangat khawatir. Seharusnya kamu masuk tadi jam 8 malam kan, eh datang datang dengan keadaan berantakan dan bernoda darah. Aku sangat khawatir, kamu tau itu." Ucap Hendrik dengan kesal, tegas namun pelan dan masih bisa di dengar oleh mereka bertiga.
"Maaf dok. Kita lagi mengobati pasien, bisa kau marah nanti saja? Setelah selesai aku akan jelaskan.ok." jawab Naomi dengan lembut. Namun Arsen tak suka dengan pemandangan ini. "Sungguh menjengkelkan" ucapnya dalam hati.
"Baiklah kau hutang penjelasan padaku baby." Ucap Hendrik
"Memang dia bayimu?" Tanya Arsen terlihat kesal dan cemburu.
" Dia akan tetap menjadi baby ku, dulu, sekarang atau sampai kapanpun tuan Arsen. Dan sebaiknya anda diam jangan bergerak selama kami mengobati anda."jawab Hendrik ketus.
"Enak saja..." Belum selesai Naomi langsung memotong
"Please sen...diam ok." Ucap Naomi dengan tatapan tajam nya.
"Ok honey, my angel, my love, my everything.." Arsen sengaja banget biar Hendrik tahu Naomi miliknya.
" Ya ampun sen.." Naomi melotot.
"Ok. ok. " sen menutup mulutnya sambil memperagakan dua jari telunjuk dan jempol di depan mulut arsen seperti menutup mulutnya dari kiri ke kanan.
Akhirnya selesai sudah mereka mengobati a sen dan Arsen di bawa ke ruang perawatan.
"Kamu harus dirawat dulu ya sen, untuk beberapa hari. Dan jika satu kantong darah ini habis kau bisa pijit tombol ini dan aku akan datang memeriksamu ok." Ucap Naomi dan hendak pergi.
Tangan Naomi dicekal.
"Aku mau ke ruangan ku dulu, ada yang harus aku laporan kepada atasanku akibat keterlambatan datang." Ucap Naomi
"Siapa? Hendrik?" Terdengar nada tidak enak ditelinga Naomi.
"Ya.. dia kan atasanku juga di sini. Dua dokter kepala bagian ahli bedah." Jawab Naomi malas.
"Emang gak bisa langsung ke kepala RS gitu laporan nya?"Arsen sedikit meninggikan suaranya
"Dan ini baju kamu dari mana? Yang tadi udah diganti, kamu dapat dari dua juga?" Cemburu benar benar membuat dia tak bisa mengontrol emosi nya.
"Cih...kau cemburu. Gak bisa sen. kepala RS gak ada di sini. Dia pasti lagi tidur, ini sudah malam sen jam 12. Kau lihat jam di sana? Dua sedang berada di alam mimpinya. Lagi pula untuk apa ada dokter kepala tiap bagian kalo semua harus menghadap kepala RS. Kamu ada ada saja." Naomi terlihat kesal dan pergi meninggalkan Arsen.
Sampai di pintu Naomi mendengar ucapan Arsen.
"Tunggu ..baju yang kamu pakai dari mana? Kenapa gak minta padaku tuk membelikan?" Naomi tersenyum geli mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Memintamu belikan akan terlalu lama tuan, sedangkan aku harus cepat mengobatimu. Kau sendiri yang minta aku yang turun tangan.." Naomi pergi dan sudah tak terlihat lagi.
Arsen cemberut dan merasa kesal karena dia tidak bisa membelikan bajunya. Dia kira itu baju dari Hendrik soalnya dia melihat Hendrik memberikan paper bag ke tangan Naomi dan Naomi mengambil nya lalu pergi memakai baju yang berbeda.
Saat ini Naomi dan Hendrik sedang berbicara mengenai kejadian yang sudah terjadi, Hendrik sungguh kaget. Dia tidak menyangka wanita yang dia cintai mengalami kejadian seperti itu.
"Tapi kamu gak kenapa kenapa kan?" Tanya Hendrik terlihat khawatir.
"Tidak kok kak...tenang aja." Jawab Naomi santai sambil makan mie karena terus terang dia kelaparan.
"Kamu yakin memilih dia, dia selalu berada di dalam bahaya, dan kamu sempat beberapa kali terlibat. Bisa kau pikirkan lagi Naomi?" Tanya Hendrik.
" Mungkin aku tak akan lama berada di sampingnya kak, karena dia sudah kembali." Naomi menatap kosong ubin dengan mata sendu. Dia ingat Hanna calon istri Arsen yang dulu sudah datang.
" Maksud kamu apa dia sudah kembali?" Hendrik tak paham.
"Ah sudah lah kak, Jangan dibahas. Tidak penting." Naomi mencoba mengalihkan pembicaraan dengan memakan kembali mie nya.
Tak lama suara terdengar
Tut...Tut..terlihat tombol merah menyala di number 7 itu artinya pasien ruangan 7 memanggil.
Naomi pergi ke arah ruangan itu dan masuk.
"Ya sen kenapa?" Tanya Naomi.
"Aku lapar." Jawab Arsen dan Naomi memberikan roti juga susu
"Maaf bagian pantry gak ada orang dan tak ada makanan karena terakhir tadi jam 9 malam. Di sana juga gak ada apa apa. Mereka paling jam 5 baru mulai aktivitas nya lagi." Ucap naomi
"Beli juga udah pada tutup. Ini jam 2." Lanjut naomi
"Ya GPP..." Arsen tersenyum sambil memakan roti dan meminum susunya.
"Aku ke ruangan ku ya." Ucap Naomi terlihat mengantuk.
"Ok." Arsen merasa kasihan dan tersenyum melihat punggung Naomi pergi dari ruangannya.
Tut..Tut...bel pasien kembali terdengar dan Naomi menghampiri Arsen lagi.
"Kenapa sen, luka kamu gak apa apakan?" Naomi terlihat khawatir
"Gak kok...aku cuma gak bisa tidur." Arsen tersenyum dan Naomi sontak cemberut. Dia baru ingin menutup matanya eh Arsen memanggil.
"Trus maumu apa?" Naomi terlihat kesal.
"Usap kepalaku." Pinta Arsen.
"Aku ngantuk sen..." Ucap Naomi
"Please...honey...i can't sleep." Mohon Arsen
"Manja." Naomi kesal tapi juga gemas melihat tingkah Arsen.
"Kamu jangan duduk di situ. Sini naik ranjangku." Naomi mengkerut kan dahinya
"Udah sini, peluk aku dan usap kepalaku. " Suruh Arsen dan Naomi yang sudah ngantuk tak mau berdebat, dia naik ke ranjang dan mengusap kepala Arsen namun dia yang sudah terlelap.
Arsen tersenyum melihat wajah Naomi.
"Kamu sangat lelah ya sayang, jari ini memang hari yang berat untuk kita. Tidurlah yang nyenyak." Arsen memeluk tubuh Naomi mendekapnya ke dada dengan erat dan mereka tertidur sampai pagi.
******
Untung gak ada pasien lain ya jadi bisa bobo. Hahaha
Ok. Thanks and see you next chapter
Don't forget to vote and comment ya.
Tinggalkan jejak biar Noona bisa lebih semangat lagi nulisnya
Bye 🤗😘