
Hari sudah pagi, ayam pun sudah berkokok. Sinar matahari mulai masuk dan menyinari hari. Mau hati sedang sedih ataupun senang matahari tetap menjalankan tugasnya menyinari bumi.
Pagi itu Arsen, Andre juga Silia kasih tertidur pulas. Hanya Naomi yang sudah terbangun dan berkutat dengan pekerjaannya di dapur.
Setelah menyiapkan sarapan Naomi berniat untuk membangunkan kekasaih dan sahabatnya. Namun Naomi merasa membutuhkan udara yang bersih dan menyejukkan apalagi setelah kejadian tadi malam.
Terus Terang saja dia merasa sedikit terkejut dengan adanya insiden tembak menembak.
Naomi membuka jendela supaya udara segar bisa masuk dan menyegarkan pikiran nya. Dia menarik napas perlahan sambil menutup mata menikmati segarnya udara pagi. Namun dia terkejut karena ada tangan yang dengan perlahan memeluk tubuhnya dari belakang.
Sungguh Naomi terkejut karena baru kali ini ada yang memeluknya dari belakang dan mengecup bahu Naomi dengan mesra. Perlakuan Arsen yang hanga membuat Naomi nyaman namun takut. Dia belum pernah memiliki hubungan sejauh ini.
Naomi tidak menampik dia menikmati momen ini. Lalu dia membuka mata nya yang tadi dia pejamkan untuk menikmati udara segar, dia berbalik dan menatap wajah Arsen yang sangat sexy tentunya yang dapat membuat bulu kuduk merinding Melihatnya.
Bagaimana tidak merinding Arsen kan baru bangun tidur dan gak pake baju. Arsen selalu tidur tanpa kaos, hanya memakai celana pendek.
Naomi menatap Arsen dengan seksama begitupun Arsen yang sangat intens menatap Naomi. Mereka larut dalam rasa. Sampai Naomi berusaha mengendalikan diri nya.
"Khem....kamu udah bangun." Naomi masih menatap Arsen
"Morning my angel....kamu kok udah cantik sih...emmmh wangi lagi." Arsen mencium rambut Naomi dengan mesra.
"Ini kan udah siang...sarapan juga udah di meja. Aku baru ajaau bangunin kalian." Naomi menunjuk makanan yang ada di meja makan dengan dagunya. Namun tangannya masih merangkul pinggang Arsen. Ya posisi mereka saling merangkul.
"Jangan dibangunin dulu." Arsen manja menundukkan wajahnya di pundak Naomi
"Kenapa?" Arsen malah tersenyum dan menatap mata Naomi
"Kamu kok tatap aku kayak gitu sih..." Asli Naomi malu gitu sampe merona pipinya.
"Aku lagi menyimpan wajah kamu di sini." Arsen menunjuk hatinya.
"Maksudnya" Naomi tersipu malu
"Aku mau pergi ke Jerman, mau urus urusan yang kemaren...." Arsen menghela nafas " mungkin membutuhkan waktu yang lama...aku takut kangen."
"Tuh kan belum juga pergi aku dah kangen aja sama kamu my angel." Lanjut Arsen
Naomi yang mendengar itu hanya bisa tersenyum dan tersipu malu.
"Harus hari ini juga ya sen?" Terlihat kecemasan di mata Naomi.
"Ya sayang, jangan khawatir ya. Aku akan selesaikan secepatnya. Aku janji." Arsen dapat melihat kecemasan di wajah Naomi.
"Aku akan tunggu kamu balik ke sini sen...jangan lupa hubungi aku, biar aku tenang bekerja di sini. Ok." Naomi seakan akan tidak rela melepaskan Arsen pergi.
"Tenang...aku pasti balik lagi kok...nak buah aku banyak, mereka terlatih. Aku akan jaga diri. Dan aku pasti hubungi kamu setiap ada kesempatan ok." Arsen mengecup kepala Naomi dengan lembut dan lama, Naomi menutup mata seakan menerima penyaluran kasih sayang dari Arsen.
Tak lama mereka saling menatap, dan tak disadari wajah mereka mendekat dan ciuman lembut terjadi begitu saja.
"Lo berdua udah bangun, kok gak bangunin gue sih." Andre mengucek matanya sambil masih menguap.
Pagutan mereka pun terlepas ketika ada suara langkah kaki mendekat.
Naomi merasa salah tingkah ketika terdengar suara dari Andre.
"Shit....Lo ganggu aja sih Dre." Naomi memukul tangan arsen dan matanya membesar.
"Emang Lo lagi ngapain sih?" Naomi sedikit lega karena itu tandanya Andre gak melihat mereka sedang berciuman.
"Ng...ngak kok...kita cuma lagi ngobrol aja. Oh ayo sini sarapan dulu. Aku bangunin Silia." Naomi gagap dan langsung beranjak ke kamar.
"Gue mau mandi dulu deh." Ucap Arsen dan berlalu pergi.
"Oh ya ndre, siapin jet jam 10:00 kita terbang pagi ini." Arsen teriak dari pintu kamar
"Ok. Gue telp dulu pilot Steven." Andre langsung telp Steven
Pagi ini mereka sarapan dengan nasi serta ikan pesmol, tahu tempe, capcay, juga ada sandwich. Takutnya Arsen tidak suka sarapan pagi dengan nasi.
Arsen mengantarkan Naomi juga Silia ke RS, lalu mereka pergi berangkat ke Jerman untuk menyelesaikan urusannya.
Arsen berangkat pukul 10:00 am sampai di Jerman sekitar 09:00 pm jika menggunakan pesawat terbang biasa mungkin membutuhkan waktu sekitar 12-15 jam akan tetapi Arsen menggunakan jet dengan kecepatan yang tinggi sehingga lebih cepat.
***
Naomi dan silia seperti biasa berada di tempat kerja masing masing, Naomi berada di Unit Gawat Darurat sedangkan Silia berada di poli obgin (kandungan). Dan kebetulan saat ini banyak pasien anak dan balita sehingga Jihan diperbantukan ke bagian UGD, untung saja poli anak sudah ada dokter anak baru sehingga Jihan bisa agak bernafas lega.
Ketika Naomi sampai di UGD dia langsung menyimpan tas dan memakai jas kebanggaannya, dilihat Jihan sudah berada disana namun hanya raganya saja sedangkan jiwanya tak tau sedang ke mana, ya ...Jihan sedang melamun, entah melamunkan apa.
"Assalamualaikum Jihan, Hey....kok melamun sih ji." Tak ada jawaban dari Jihan sehingga Naomi berinisiatif untuk menepuk bahu Jihan.
"Hey....kamu kenapa, raga kamu ada di sini jiwa kamu kok gak ada." Jihan terkejut bukan main karena dia masih membayangkan dan merenungi apa yang terjadi semalam.
"Oh...ha..Hay Naomi, gu..gue lagi mikirin sesuatu." Jawab Jihan terbata bata
"Mikirin apa sih sampe wajah kamu kayak gitu? Pagi pagi tuh harus tersenyum biar hari hari yang kita lewati bisa terasa ringan."
" Mau nya gue juga gitu mi." Jihan kembali terlihat sedih
"Kamu ada masalah ji, ngomong sama gue. Apa si Adi bikin masalah? Ntar biar gue pites tuh kutu kupret." Naomi terlihat kesal
"Oh bukan bukan...bukan Adi kok....gue.. itu....hiks hiks."
"Loh.. loh..kok nangis sih. Arrrrgh...siapa yang bikin Lo nangis? Biar gue hajar....eh...si Vian bukan?"
Jihan tertunduk dan terus menerus menangis sambil memukul mukul dadanya. Terlihat sakit dan sesak.
Naomi yang melihat itu tak sanggup lagi dan dia dekap Jihan lalu mengusap usap punggung Jihan.
"Please ji...Lo bilang ke gue...Lo kenapa sih? " Jihan berusaha untuk mengatur nafasnya berusaha menenangkan diri.
"Kalo Lo udah tenang Lo boleh cerita ke gue." Jihan mengangguk dan menarik napas perlahan baru dia membuka suara
" Vian selingkuh mi.." Naomi yang mendengarnya langsung terkejut bukan main
"What? Are you sure?" Naomi berteriak
"Yes i am." Jihan masih terisak sisa dari tadi menangis
"Itu kenyataannya mi...gue merasa sesak....gue lihat sendiri dia sama cewek di apartemen, setengah telanjang mi....gue liat bareng Adi..kita ke sana tadi malem mau ngambil hp Adi yang ketinggalan di jas vian."
Naomi terbelalak, matanya melotot dan rahangnya mengeras juga tangan mengepal.
Ini lah sisi Naomi, yang orang lain jarang mengetahuinya, bahkan mungkin tidak pernah. Hanya orang orang yang mengenal dekat baru tahu. Hanya Jihan, Adi dan kak Hendrik.
" Walaupun pahit...memang itu kenyataannya kan?" Kembali lagi air mata itu menetes. Melihat perubahan wajah Naomi Jihan jadi khawatir, dia takut kejadian dulu terulang lagi.
Jihan lupa gimana Naomi dulu...melihat dia seperti itu mengingatkan kejadian sewaktu SMA.
"Mi....gue gak papa kok...Lo gak usah khawatir ok. Mi...jawab gue mi..." Jihan bener bener panik, tidak ada jawaban dari Naomi.
Naomi terlihat menarik napas dan berkata
"Mana Vian...di mana Vian, Ji ?" Jihan panik bukan main
"Gu..gue gak tau mi...mungkin dia gak masuk. Iya gak masuk mi."Jihan terbata bata
"Lo bohong Ji, kalo Lo gak kasih tau, biar gue yang cari.." Naomi marah, geram tak terima melihat temannya menangis sampe seperti itu.
Naomi pergi menuju ruangan khusus para dokter berkumpul tapi Vian tidak ada, mencari ke ruang lab juga tidak ada, ketika dia beranjak kembali ke UGD terlihat Vian yang baru melangkah kan kakinya. Sontak Jihan yang sedari tadi mengikuti Naomi untuk mencegahnya bertemu Vian pun tambah khawatir.
"Khem.... akhirnya ketemu juga Lo." Naomi tersenyum namun terlihat menyeramkan. Vian yang baru datang terlihat kebingungan.
"Maksud Lo gue mi?" Vian menunjuk wajahnya sendiri
"Ya Lo...ikut gue ke rooftop." Naomi melangkahkan kakinya dan berbalik ke Jihan
"Ji...Lo diem di sini. Jangan ikutin gue. Ngerti." Jihan takut, walaupun Naomi imut tapi kalo udah marah wah dia gak tau deh harus gimana. Jadi dia cuma mengangguk aja.
Naomi berjalan dengan cepat dan Vian mengikuti dari belakang. Walaupun bingung dengan sikap Naomi Vian tetap mengikutinya ke rooftop.
"Gue harus telp Adi." Gumam Jihan.
Adi yang mendengar hal itupun langsung berlari keluar ruang operasi, dia baru saja selesai melakukan operasi dan hendak berganti baju lalu istirahat sejenak, namun mendengar apa yang diucapkan Jihan di telp membuat Adi tak bisa istirahat. Dia secepatnya berganti baju dan berlari menghampiri Jihan.
"Kalo gini gue gak bisa istirahat, pasti terjadi hal yang menghebohkan di RS ini. Gawat....Naomi...Naomi...tahan amarahmu sayang....gue gak mau Lo kayak dulu." Gumam Adi
Di rooftop sudah ada Naomi dan Vian. Vian terlihat sangat kebingungan sebenarnya ada apa dengan Naomi. Tak ada suara yang Naomi ucapkan. Dia terlihat sedang menahan sesuatu. Ya menahan amarahnya.
"Sebenernya ada apa sih Naomi?" Vian berusaha membuka suara. Namun belum ada jawaban dari Naomi.
"Lo kenapa sih?" Lanjut Vian
"Bukan gue yang kenapa, tapi Lo yang kenapa." Jawab Naomi
"Maksud Lo apaan? Gue gak ngerti." Vian terlihat kebingungan.
"Gue yang lebih gak ngerti sama Lo." Mau Lo apa heh? Lo selingkuh Vian?"
"Oh... maksud Lo...Lo lagi istrogasi gue...Jihan cerita apa sama Lo?" Vian terlihat menganggap sepele masalah semalam.
"Gue mau tanya, Lo bener selingkuh yan?" Tatapan matanya menajam
"Lo tidur sama cewek lain?" Apa kurangnya Jihan buat Lo?" Kenapa Lo tega sama Jihan hah?" Lo anggap apa Jihan?" Cecar naomi
"Sabar dong mi...gue...gue.." Vian bingung mau jawab apa
"Kenapa Lo bingung Hem? Lo tidur sama cewek lain?" Tanya Naomi lagi.
"Belum sempat kok..."
"Belum sempat berarti mau dong ****...sialan Lo...*******." teriak Naomi langsung dia mendekat dan memukul Vian
Bugh..bugh..bugh
Vian tersungkur...mengucur darah dari hidung Vian.
"Bangun lo *******...Lo udah sakitin hati sahabat gue. Arrrrgh shit." Teriak Naomi lagi
Vian berusaha bangun, baru saja berdiri Naomi sudah melayangkan tendangannya ke perut Vian. Lalu tendangan memutar nya menendang kepala Vian.
Brug...Vian terjatuh.
"Akhhhh...Naomi...ampun...ya gue salah....maaf..." Vian terlentang di lantai dan tak lama Adi pun datang.
"Vian....Naomi..." Adi dan Jihan melihat Vian mengeluarkan darah segar dari sudut bibir dan hidung nya.
"Naomi udah....gue gak apa apa kok. Hiks..hiks...jangan kayak gini lagi ya...." Jihan memeluk Naomi meminta Naomi meredam amarahnya.
"Hahaha....Vian Vian...Lo lihat, kemaren gue cuma ngasih pelajaran dikit aja, nah ini Naomi baru ngasih segini. Wah wah wah...gimana jadinya Lo kalo gue sama Jihan gak keburu datang?" Adi malah tertawa puas.
"Untung gue keburu Dateng, kalo gak...jadi rempeyek Lo sama Naomi." Lanjut Adi sambil mengangkat Vian untuk diobati.
"Tunggu dulu." Naomi menatap Vian dan Vian bergidik ngeri sambil mengeratkan genggaman ke tangan Adi.
"Gue mau Lo beresin masalah ini sama Jihan, kalo Lo cuma mau bermain main sebaiknya Lo putus aja. Kalo Lo serius cepat nikah sesuai dengan ucapan Lo dulu. Ngerti Lo.? Lo sakitin Jihan, abis Lo ditangan gue." Naomi berbicara dengan tatapan tajam dan dingin lalu pergi melangkah kakinya dan duduk di kursi untuk menenangkan pikiran dan hati nya.
Sedangkan Adi memapah Vian ke UGD untuk mengobati luka Vian dan Jihan memeluk Naomi.
"Makasih Naomi...lo emang sahabat gue...tapi gue mohon jangan marah lagi ya...gue akan selesaikan masalah ini secepatnya. Gue turun dulu. UGD kosong." Naomi menganggukkan kepalanya dan tersenyum
"Gue mau di sini dulu bentar ya. Nanti gue turun. 10 menit. Ok."
"Ok. Gue tunggu."
****
Wah ternyata Naomi bar bar juga ya...badasssss
Mudah mudahan suka ya part ini. Thanks ya yang udah mau baca cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak, vote and comment juga share. Ok
See you next chapter
Bye 🤗😘