
"Sen...siapa yang akan kamu pilih? Aku atau dia? Aku harus segera mempersiapkan hati ini. Mudah Mudahan kau mengambil keputusan yang tepat." Naomi memejamkan matanya dan jatuhlah air mata nya.
3 jam sudah waktu berlalu semenjak penculikan naomi terjadi. Arsen tengah mengendarai mobilnya, namun dia tidak seceroboh itu dengan memberikan nyawanya ke hadapan James. Dia tau James yang selama ini di balik percobaan pembunuhan selama ini dan mengatas namakan uncel Robert.
Sebelum Arsen pergi ke alat yang sudah dikirim James, Arsen terlebih dahulu menghubungi Andre, dan Andre sudah menyiapkan pasukan khusus yang disebut 'shadow' karena pasukan ini memang disiapkan untuk menyergap dan keahliannya adalah tak terlihat.
Arsen masuk ke gerbang mansion yang sudah terbuka lebar karena sang pemilik sudah melihat lewat monitor pengintainya ada mobil yang dinaiki Arsen sudah tiba.
Lengkungan di bibir tipis James terlihat. Dia menunggu momen ini, di mana saat saat Arsen akan kehilangan wanita yang dicintainya. Momen di saat Arsen bingung harus memilih siapa dan dia berharap kali ini akan mendapatkan gadis yang dicintainya. Cukup 2x dia terluka. Dulu viona lalu Hanna sekarang jangan sampai Naomi juga.
Arsen turun dari mobil dan sudah ada 2 bodyguard dihadapannya.
"Maaf tuan, kami ingin memeriksa anda. Tolong angkat tangan anda." Pinta sang bodyguard.
Arsen tak banyak bicara dia langsung mengangkat kedua tangannya. Sang bodyguard meraba seluruh tubuh Arsen dan mengambil sebuah pistol di saku belakang celananya.
"Silahkan, sekarang anda sudah boleh masuk." Arsen melangkahkan kakinya lalu berhenti di tengah ruangan yang luas setelah mendengar suara tepukan tangan dari lantai atas.
"Prok..prok..prok...
"Hebat sekali....kau sungguh berani Arsen." Arsen hanya diam dan menatap tajam.
"Wow...tatapan mu sungguh menakutkan." Nada ejekan keluar dari James, dia berjalan menuruni tangga.
"Lama tidak bertemu sen, apa kabarmu."
"Jangan basa basi James, aku ke sini bukan untuk saling menyapa." Wajah Arsen merah menahan marah.
"Oh ya, aku lupa...kau ke sini demi seseorang yang kau cintai bukan. UPS ...salah... Dua orang yang kamu cintai. Bukan begitu tuan Arsen sang penakluk hati wanita?" Arsen sungguh jengah dengan basa basi ini.
"Cukup James, mana Hanna dan Naomi?" Arsen sudah tak sabar menahan amarah. Rasanya ingin menghantam wajah mantan sahabat nya itu.
"Baiklah..baiklah...tunggu sebentar. Alex..." James hanya memberi isyarat dengan menggerakkan tangannya. Alex pun sudah paham dan membawa kedua wanita yang telah menduduki kedua hati laki laki ini.
Terlihat kedua wanita itu baik baik saja, tidak ada luka sama sekali. Hanya tangannya saja yang terikat dan mulutnya tertutup.
Ketika kedua wanita itu sudah berada di hadapan Arsen tepatnya di samping James, jaraknya yang cukup jauh namun masih bisa mereka melihat dengan jelas.
Terlihat raut wajahnya Arsen yang sedih, sendu, khawatir dan marah juga kekecewaan...pasti ada rindu juga di sana. Ya Naomi dapat melihat rasa itu di diri Arsen ketika menatap Hanna.
Dan Hanna menunduk malu juga rindu dan seperti ada rasa bersalah. Naomi melihat Hanna meneteskan air mata nya.
Tak sanggup Naomi melihat keadaan seperti itu. Dia yakin Arsen akan lebih memilih Hanna, gadis yang Arsen sangat cintai sejak lama. Tak bisa dibandingkan dengan dirinya yang baru beberapa bulan saja.
Karena tak sanggup melihat itu semua Naomi memalingkan wajahnya ke samping bawah, melihat ke lantai berbarengan dengan Arsen yang mengalihkan tatapannya dari Hanna ke wajah Naomi.
Sedangkan James yang sedari tadi melihat reaksi dari Arsen, Hanna juga Naomi tersenyum licik. Merasa puas dan bahagia, dia yakin Naomi akan melepaskan Arsen walaupun Arsen tak akan melepaskan Naomi.
"Bagaimana Arsen, siapa yang akan kau pilih. Wanita yang sangat kau cintai sejak dulu yang akan kamu jadikan istri, atau gadis yang baru saja kamu cintai baru beberapa bulan ini?"
Wajah Arsen mendadak menegang tatkala dia harus kembali kedalam suasana yang menegangkan. Dia harus memilih diantara dua wanita yang sangat dia cintai walaupun posisinya sudah berbeda. Arsen pun tak tahu dengan hatinya. Batin dan pikirannya masih bergejolak. Satu kata untuk perasaannya saat ini 'bingung'.
"Ayo man....Lo gak mungkin nikahin keduanya kan?" Ucapan James memecahkan keheningan.
Arsen berpikir untuk menyelamatkan Hanna dulu, baru kembali membawa Naomi. Arsen yakin Naomi bisa menjaga diri secara dia bisa bela diri. Namun Arsen tak tahu jika hal itu terjadi apa yang akan Naomi lakukan dan pikirkan atas tindakannya.
"Ok, aku pilih .......emmm....." Arsen menarik nafasnya dan menelan Saliva nya dengan susah.
Arsen menghembuskan napas dengan berat.
"Hah..... Hanna." Suara sunyi dan Naomi sudah menduga, dia meneteskan air mata nya mengatur emosinya dengan menarik napas.
"Kamu harus kuat Naomi...kamu harus kuat Naomi...Hanna lebih membutuhkan Arsen dibanding kamu...ingat ..Allah akan selalu ada di samping mu walaupun Arsen tidak ada, jangan pernah menggantung kan dirimu terhadap manusia karena manusia terkadang bisa mengecewakan dan meninggalkan mu. Tapi tidak dengan Tuhan. Bergantunglah hanya padaNya Naomi. Aku tegar...aku tegar" Itu ucapan penyemangat buat dirinya sendiri, terus terngiang di hati dan pikirannya.
"Hahahaha...kau sudah memutuskan Arsen, kau tak bisa mengganti keputusanmu."
"Baiklah...bawa Hanna mu dan menikahlah...aku akan kirimkan kado untuk kalian. Dan tunggu undangan juga dariku ya kan sayang." James melirik Naomi dan Naomi menatap datar.
Arsen sungguh geram mendengar kata kata James rasanya dia ingin menghampiri laki laki itu dan menghabisinya.
"Alex, buka pengikat tangan dan penutup mulutnya. Antar kan tuan Arsen dan nyonya Hanna keluar sampai naik ke mobil."
Alex melepaskan dan mengantarkan mereka berdua, sambil berjalan sesekali Arsen melirik ke arah Naomi seakan ingin mengatakan 'tunggu aku my angel' namun ketika Naomi sekilas melihat ke arah mereka berdua dia melihat tangan Arsen memeluk bahu Hanna dan sontak wajah Naomi berpaling tak mau melihat mereka kembali.
Hanna yang memperhatikan tingkah Arsen dan wanita yang tak dia kenal itu merasa aneh, ada sesuatu di sana... tatapan yang tak asing. Hanna seketika merasa sakit dan cemburu. Rasa cinta buat Arsen yang berusaha dia kubur masih ada, tak pernah hilang. Bahkan saat ini dia merasa menyesal karena telah meninggal kan Arsen waktu itu.
Hanna bersumpah akan mengganti waktu yang telah hilang, yang harusnya dia lalui bersama Arsen dengan hidup bahagia. Hanna akan membangkitkan kembali rasa yang ada di hati Arsen. Hanna yakin cinta untuknya masih ada, dia tahu lewat tatapan mata dan reaksi dari Arsen saat berhadapan tadi.
****"
Gimana ini, sang mantan telah kembali...
Jangan lupa vote and comment ya guys.
Tinggalkan jejak...
Thanks