
Setelah kelas selesai, Shasha membuka handphonenya, di sana dia membaca pesan dari gio, dan terdiam.
"Sepertinya aku harus menelepon nya." Gumam Shasha
Ketika dia menekan no gio, namun handphone gio tidak aktif.
"Kok gak aktif ya? Apa dia menghindar?" Shasha memutuskan untuk membicarakan nya dengan sang kakak saat mereka sudah pulang ke rumah.
Waktu terus berputar dan berjalan seperti biasanya.. Shasha yang tinggal di rumah dengan Arkana juga sang Baby sitter , memutuskan untuk bermain di taman sampai hari mulai gelap.
Sekitar pukul 19:00 sore Arsen dan Naomi baru pulang karena Naomi ada operasi dadakan dan Arsen yang sudah kepalang menjemput harus menunggu Naomi di ruangan sang istri.
Mereka masuk berbarengan dan mengucapkan salam.
"Assalamualaikum" ucap arsen dan Naomi
"Waalaikmslm." Ucap ketiga nya yang ternyata sedang makan di meja makan.
"Mommy... mommy... mommy... Daddy..." Arkana berlari langsung memeluk Naomi dan Naomi sudah merentangkan tangannya.
"Kok panggil mommy 3x tapi Daddy cuma sekali."
"Kata ustadz, pertama yang kita harus sayang mommy , kedua mommy, ketiga mommy, baru Daddy... Gitu." Arsen pura pura cemberut
"Kok gitu...gak adil." Rengek Arsen
"No..no...Daddy jangan cemburu sama mom... Karena mom lebih banyak pengorbanan nya buat aku..."
"Emang iya?" Arkana menganggukan
"Ngandung, lahirin, menyusui... Kan Daddy gak bica." Arsen mengusap kepala Arkana dengan gemas.
"Arkana kok pintar banget sih...udah bisa punya adik nih kalo gitu." Naomi menatap tajam Arsen.
"Not now...arka baru 3th.. tunggu 2th lagi.." Naomi melangkahkan kakinya menuju meja makan.
"Kamu lagi makan?" Arka menganggukan kepalanya
"Ya mom.."
"Ayo lanjut dulu makannya biar tambah besar dan pintar." Naomi memberikannya pada baby sitter nya.
"Kak..aku butuh saran dari kalian...bisa nanti kita ngobrol ?" naomi menatap Arsen, merasa ada sesuatu..
"Boleh..Kita bersih bersih dulu ya..setelah makan kita ngobrol di sofa aja ya sha" shasha tersenyum dan mengangguk.
Arsen dan naomi mandi dengan cepat lalu menjalankan ibadah bersama, setelah itu turun dan menyantap makan malamnya..
Arkana yang sudah selesai makan sekarang berada di pangkuan Arsen yang sedang menikmati makannya.
"Daddy...geli..ahahh...aahhhaaa." Arsen sambil makan tapi sering menggelitik arka dengan jambang tipisnya.
"Daddy...stop..aaaahaahaa stop Daddy.
Makan yang bener Daddy..." Arsen menyudahi makan malamnya begitupun dengan Naomi.
Karena akan ada pembicaraan serius, maka arka di bawa ke ruang bermain oleh pengasuhnya.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang keluarga. Ada televisi di depannya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang?" Arsen mengusap rambut Shasha, saat ini Shasha duduk di tengah.
Kakak dan kakak ipar yang sangat menyayangi nya ini menunggu sang adik membuka suara.
"Kak... Emmm gio mengajak aku tunangan.. dan mungkin tak lama dari tunangan sepertinya akan menikah " Arsen masih menunggu yang diutarakan sang adik
"Menurut kak semi dan kak Naomi, aku harus bagaimana?"
"Sha... Kakak sih setuju saja ya, gio pria yang baik... Dia dewasa juga bertanggung jawab, setia juga tampan, sukses... Gak ada celah sama sekali.." ucap Naomi.
"Stop sanjung dia sayang..." Naomi mengeryitkan dahinya
"Kamu cemburu sayang? Aduh gak banget... Kita udah kayak saudara dan akan jadi benar benar saudara setelah mereka menikah sen.."
"Ok...iya... Dia memang baik sha... Trus kamu cinta gak sama dia? Bersedia gak kamu menikah di usia kamu sekarang?"
"Kami sih tergantung kamu sendiri sha... Hanya saja kakak tahu gio saat ini sangat ingin menikah karena ayahnya sakit, dan beliau mendesak untuk secepatnya menikah karena takut tidak dapat melihat gio menikah." Ucap Naomi
"Jika kamu menolak dan dia masih di desak, maka kemungkinan kamu akan kehilangan gio..." Shasha sungguh khawatir hal itu membuat dia takut akan kehilangan gio..
"Terserah kamu sha, kakak akan mengijinkan kamu jika kamu memang sudah siap.."
"Aku cinta gio kak... Dan saat ini dia seperti nya marah padaku..." Shasha tidak melanjutkan ucapannya
"Kenapa dia marah?"Arsen menatap Shasha
Shasha menceritakan semua yang terjadi tadi siang dan arsen tersenyum setelah mendengarkan semua cerita Shasha.
"Ya iya lah dia marah... Kakak juga akan marah kalo Naomi begitu... Kamu juga malah diam saja di siapin gitu." Shasha cemberut
"Aku juga gak tahu... Chef ngasih nya ngedadak gitu... Aku juga kaget kak.."
"Sebaiknya kau cepat meminta maaf kepada gio... Kakak gak mau kalian terlalu lama dalam kesalahpahaman."
"Tapi tadi pas di telpon handphone nya gak aktif..apa gio menghindar?" Shasha begitu terlihat sedih
"Gak mungkin...biasanya dia lagi meeting... Dia orang nya begitu disiplin... atau gak Handphone nya paling di simpan sekertaris nya..." Shasha tambah cemberut lagi karena ingat sekertaris gio itu Shasha.
"Kamu kenapa malah tambah maju tuh bibir?" Naomi mencomot bibir adik iparnya itu dengan gemas.
"Sekertaris gio itu kan Evelyn... Dia pasti sengaja meng non aktifkan hp nya gio." Naomi tersenyum lebar
"Gio gak pernah memberikan hp itu sama Evelyn atau siapapun wanita itu kalo tidak wanita itu istimewa... Paling juga di kasih ke Eza..." Enteng Naomi...
"Aku juga berharap begitu kak.." Naomi mengusap bahu Shasha
"Sabar ya... Tapi kakak ingin tahu keputusan mu apa?" Shasha terlihat berpikir
"Baiklah... Aku siap untuk bertunangan dulu.." Shasha terlihat mantap dengan keputusan nya.
"Telpon lah dia... Mungkin sekarang sedang santai kan?" Shasha mengangguk dan mengucapkan terimakasih lalu pergi ke kamarnya.
Shasha hendak menelpon malam ini, saat ini sudah menunjukkan pukul 8 malam namun di sana mungkin pukul 2 dini hari karena perbedaan waktu Jakarta 6 jam lebih awal. Dia tampak berpikir kembali, maka dia kembali urungkan takut mengganggu istirahat sang kekasih.
Pagi telah tiba, saat ini pukul 6 pagi, Shasha langsung menelepon gio, jika di Indonesia pagi berarti di sana siang. Ya sekitar pukul 12 siang.
Drrrt....drrrtttt... Shasha menunggu telpon nya diangkat. Tak lama terdengar suara itu.
"Hallo sha... "
"Emmm gio... Mengenai yang kemaren, aku minta maaf, chef Philips memang begitu terhadap semua orang..."
" Yah ...GPP... Mungkin orang Eropa udah biasa begitu tapi tidak dengan kami.."
" Kemaren udah aku minta kok sama chef untuk tidak seperti itu lagi...dan dia bisa mengerti."
"Baiklah.."
"Yo..." Terdengar suara wanita di balik telpon itu.
"Evelyn... Sebentar.." suara gio terdengar kembali...
"Emmm mengenai tunangan....aku mau Yo.... Kita tinggal rencana kan kapan.."
"Aaaaah Yo... Sakit..." Terdengar rintihan dari balik telpon lagi.
"Kamu bisa diam dulu gak sih .. jangan gerak." Bisik gio namun masih terdengar oleh Shasha
"Tapi sakit Yo..."
"Aku tahu...ini mungkin karena pertama kali... Udah diem dulu." Bisik gio
"Pelan pelan ya..." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Evelyn..
"Kamu duduk dulu di sana."
"Tapi aku gak bisa jalan, sakit Yo.."
Shasha mengeryitkan dahinya, dia merasa aneh dengan ucapan keduanya yang berbisik namun masih bisa terdengar olehnya.
Shasha sudah tak mampu lagi mendengar pembicaraan nya..namun gio langsung menutup telponnya.
"Sha..nanti aku telpon lagi ya... Ini ada sedikit gangguan... Ok."
Telpon pun terputus. Shasha masih mematung dan tak sadar menetes air mata nya.