
Gio mendekat dan tambah mendekat ke arah Dasha...handuk kecil yang berada di rambutnya gio lempar ke sembarang arah. Gio menatap tanpa berkedip. Dasha yang telah duduk di atas ranjang terlihat gugup bukan main. Dia tak harus bagaimana, mundur mereka dan terus mundur sampe di ujung kasur.
Melihat Dasha hampir terjatuh, gio menarik tangan Dasha dan ..... Set tangan Dasha diraih dan ditarik....Badan Dasha menimpa badan gio. Mereka berdua terlihat kikuk namun gio pura pura tenang
"Awas jatuh...b*kongmu mendarat di lantai kau bisa lumpuh jika kena tulang ekor." Dasha tersenyum manis
"Terima kasih." Gio melipat kedua tangannya di bawah kepala. Kamu gak mau bangun? Sudah nyaman ya nemplok di dada aku?" Sontak Dasha langsung bangun dan berdiri. Gio tertawa lepas "ahahaha...." Dasha baru kali ini melihat gio tersenyum membuat dia juga ikut tertawa.
"Baiklah.... Buka bajumu. Bukannya ingin menyerahkan diri mu padaku? Jangan menyuruh ku membukanya sendiri....lihat pakaian mu... Sangat tertutup begitu... Menyusahkan tahu gak?" Gio memperhatikan raut wajah Dasha dia terlihat kikuk dan ingin berbicara.
...
...
" seharusnya kamu tak perlu berpakaian... Pakai lingerie saja...kalo seperti ini, sungguh merepotkan." Lanjut gio dan dia bangun, dengan perlahan mendekati Dasha.
Gio yang sudah tertawa di dalam hati terus Manahan tawanya supaya tak terlihat. Dia dekap Dasha dari belakang dan membuka sleting bajunya sedikit, rencananya ingin menggoda, setelah sedikit terbuka dia dapat melihat bahu putih bersih juga wangi dari tubuh Dasha. Tanpa sadar gio mengecupnya. Dasha menggidikan bahunya.
Dibaliknya badan Dasha, gio melihat bibir Dasha yang menggoda, kepala gio mulai miring, matanya Dasha masih terpejam semenjak dibuka sleting baju itu, namun bibirnya berkata " jangan..." Dasha berbicara pelan dengan nafas memburu jantung berdetak kencang tak di pungkiri mereka terbuai permainan mereka sendiri, namun gio tersentak dan tersadar ketika Dasha berkata 'jangan' dia mengatur nafasnya, beristighfar dan melepas kan cengkraman tangannya lalu pletak....dahi Dasha di sentil
"Aaaaw..." Dasha meringis kesakitan.
"Maaf Dasha, aku tak bisa.. aku tak akan menyentuh wanita yang bukan istriku.ok.' gio melangkah menjauhi Dasha.
"Emmmmm ini.....iya tuan... maksud saya juga begitu.... Saya bayar pake tubuh saya dengan bekerja tuan. Bagaimana?" Gio menggeleng gelengkan kepalanya.
"Saya tidak butuh pembantu Dasha, sudah ada bi Madena dan suaminya yang akan datang dua hari sekali membereskan semua pekerjaan di rumah ini."
"Tapi saya bisa membantu bibi kan? "
"Bibi dan suaminya sudah cukup.... Kamu pulang lah. Aku ganti baju dulu dan akan ku antar kau ke rumah mu."
"Bagaimana dengan lima milyar? Bagaimana aku mengganti nya?" Gio terdiam. " Sebelum ini kau bekerja di mana?"
"Aku... bekerja di supermarket...itupun jika belum diisi oleh orang lain, karena aku sudah menghilang selama tiga hari." Dasha tertunduk sedih.
"Ya sudah, aku ganti baju dulu. " Gio paling tak tahan melihat wanita bersedih jadi sebaiknya dia suruh Dasha keluar.
Setelah gio keluar mereka pergi ke sebuah tempat yang tidak begitu ramai, memang rumah Dasha bukan di kota dan untuk sampai di sana mereka harus turun dan berjalan kaki memasuki gang.
Merasa sudah dekat, Dasha menunjuk sebuah rumah sederhana. " Itu rumahku." Gio tersenyum " sudah sampai kan? Ya sudah...aku pergi." Gio tersenyum kecil dan Dasha membalas nya. " Makasih.." Dasha melangkah ke arah rumah sederhana itu dan gio pergi ke mobil, dia melihat ada paper bag yang berisi baju Dasha... Tak lama dua orang pemabuk lewat, mereka berceloteh melewati gio.
Dasha menangis ketakutan dan berusaha melepaskannya namun tak bisa. Gio pun ingat, kedua orang ini adalah orang yang tadi mabuk yang telah melewati dirinya di depan.
Gio meraih kerah laki laki itu, keduanya kaget ada seseorang yang dengan beraninya mengganggu kesenangan mereka.
Gio yang berbadan tegap dan sadar, memiliki kemampuan fighting, tentu saja dengan mudah merubuhkan kedua orang itu.
Hanya diberi beberapa jurus Muay Thai juga mereka kalah. Mereka berlari dengan wajah dan hidung berdarah. Gio melirik Dasha, gadis itu terduduk dengan menundukkan kepalanya di kedua tangannya yang bertumpu di kedua lututnya.
Dia menangis terus menangis. Ketika gio memegang bahunya dia langsung tersentak kaget dan berusaha menepis. Meronta ronta tanpa melihat siapa yang menyentuh.
"Ini aku Dasha...ini aku." Dasha langsung berhenti ketika mendengar sang pemilik suara. Dia membuka matanya dan langsung memeluk gio karena laki laki ini bukan kedua pemabuk tadi.
Dasha memeluk sangat erat sambil menangis. Gio berusaha menenangkan nya. Dibalas Pelukan itu, dan diusap kepala juga punggung Dasha dengan lembut. Akhirnya Dasha sedikit demi sedikit lebih tenang.
"Dasha, ini paper bag mu ketinggalan." Dasha tersenyum
"Untung saja ketinggalan jadi tuan bisa balik lagi." Gio tersenyum " jangan panggil aku tuan, panggil aku gio." Tolaknya.
"Baiklah. Terima kasih gio." Ucap Dasha. Melihat keadaannya gio menyuruh Dasha mandi dan berganti pakaian. Dasha memasuki kamar mandi dan setelah mandi dia terdiam di sana. Terduduk dan kembali menangis setelah melihat di cermin ada bekas kiss mark di lehernya. Dia merasa jijik dan kotor. Gio yang mendengar suara tangisan, langsung mengetuk pintu nya.
"Dasha...Dasha...buka pintunya." Dibuka pintu tersebut dan terlihat wajah sendu dan sembab. Gio mengantar Dasha dan mendudukkan tubuhnya di ranjang. Gio pergi ke dapur membuat teh hangat.
"Minum dulu supaya lebih tenang Dasha" dia pun meminumnya dan menghabiskan nya. Disimpan gelas itu di atas nakas. Sekarang gio dan Dasha duduk bersampingan.
"Sudah jangan menangis...aku paling tak suka melihat gadis atau wanita menangis... Aku tak tahan." Dasha menatap gio dengan sendu.
" Mereka menyentuh ku gio...mencium seluruh wajah dan tubuhku...hiks..hiks .bahkan meninggalkan bekas di leherku....aku sungguh ..hiks ..hiks ..merasa jijik...hiks .. aku sudah kotor gio...hiks..." Gio menatap Dasha dengan lekat terlihat di matanya...dia sangat terluka
"Jika aku hilangkan jejak itu, apa boleh?" Dasha menatap heran
" Di mana dia meninggal jejak,Bakan ku hapus dengan jejakku. Jika itu tak masalah bagimu." Gio menunggu jawaban Dasha.
"Dasha tersenyum dan mengangguk
"Hilangkan jejak mereka gio... Hilangkan... Aku tak suka jejak mereka di tubuhku... Hilangkan jejak mereka dengan jejakmu." Gio tak menunggu lama, langsung dia raih tengkuk Dasha dengan lembut dan....
main ke ceritaku yang lain...aku, kamu dan dia juga pasangan somplak. ditunggu ya.
jangan lupa vote like and comment biar author tambah semangat nulisnya. thanks.