One Night In Singapore

One Night In Singapore
Kecemburuan Gio



Setelah pulang menemui kedua orang tua Arsen dan shasha di Singapore, Shasha sempat tinggal di sana selama sebulan lamanya, namun Shasha ikut Arsen ke Indonesia karena selain dia harus ikut dengan sang kakak, dia juga sudah memilih untuk belajar di Institute Francaise d'Indonesiae  yang ada di Indonesia untuk mengikuti kuliahnya menjadi chef.


Di sana Chef Philips yang akan mengajar, seorang chef asal Prancis yang sangat terkenal. Chef ganteng dan masih muda yang selalu menjadi rebutan para mahasiswa nya..


Gio yang masih bekerja di Paris untuk membereskan segala urusan Nya mau tak mau harus berjauhan dengan Shasha.


Setiap urusan yang Shasha tinggalkan mengenai tanah dan sertifikat nya diurus arsen dan telah kembali ke tangan Shasha, rencananya dia akan kembali mengelola perkebunan peninggalan orang tua angkatnya yang saat ini untuk sementara diurus gio.


Shasha harus fokus dengan pelajaran nya.. dia begitu serius dan menikmati setiap pelajaran yang diberikan oleh semua chef yang ada di sana.


Saat break tiba, Shasha menelpon sang kekasih, Gio. Dia melakukan panggilan setelah pelajaran selesai, saat ini teman teman nya dan chef Philips sedang menikmati kue buatan mereka sendiri..


Gio yang sudah kangen meminta untuk melakukan panggilan video, maka terlihatlah beberapa orang di belakang shasha yang sedang menikmati kue kuenya..mereka bertukar kue dan saling mengkritik dan memuji hasil karya temannya.


"Sayang itu lagi apa?" Tanya gio setelah sambungan dialihkan ke  video call.


"Itu...kita baru selesai bikin cake, dan kita cicipi masakan sendiri lalu bertukar, tugas kita memberi masukan dan kritik an jika itu memang diperlukan."


"Wah ..enak dong ..tiap hari makan terus kalo gitu."


"Gak juga, kan kita dapet materi dulu selama seminggu baru di akhir Minggu itu kita praktek..kalo tiap hari...bisa gendut dong aku." Gio tertawa begitupun Shasha..


Mendengar Shasha tertawa membuat chef Philip melirik ke arah Shasha dan dia sambil lewat memberikan kue yang dibikin chef Philips karena tadi mereka harus menduplikat cake buatannya.


Chef yang menyuapi Shasha dengan cepat dan tanpa sepengetahuan Shasha, membuat Shasha kaget.


"Sha, open your mouth!" Shasha langsung membuka mulutnya tanpa sadar gio masih memperhatikan di sebrang sana.


Chef Philips langsung tersenyum dan mengusap cream yang ada di ujung bibir Shasha. Sontak Shasha mengerjapkan matanya dan gio terdiam membisu dengan menahan kekesalan.


"Thanks... chef.." Shasha gelagapan karena dia baru sadar jika sang kekasih sedang melihat dan terlihat kesal.


Shasha udah deg degan takut gio marah, namun sang pembuat masalah pergi begitu aja.


...


...


Wajah gio memerah menahan kekesalan sampe sampe Shasha bingung cara untuk meredakannya.


"Jadi begitu kelakuan chef yang terkenal itu kepada para mahasiswa nya? Enak bener ya?" Shasha ingin menjawab tapi gio masih saja bicara kayak ibu ibu yang lagi ngerumpi.


"Tiap hari bertemu di kelas dan bersikap seperti itu, lumayan tuh banyak yang baper dan akhirnya menjadi kekasih, udah bosan tinggal cari perhatian lagi dan pacaran lagi dengan mahasiswa lain." Ucap gio yang memperlihatkan kekesalannya.


Shasha langsung pergi dan mencari ruangan kosong setelah melihat wajah gio menahan marah.


"Sayang .... Itu sudah biasa, chef Philips lakukan kepada siswanya yang belum mencicipi masakannya..sedangkan aku langsung menelpon karena sudah kangen sekali denganmu, itu hal yang gak aneh sayang..." Gio menggeleng gelengkan kepalanya


"Aku gak mau tahu, Minggu ini kita harus tunangan. Aku gak mau wanita lain dan kamu gak boleh dengan pria lain." Shasha geli sendiri mendengar apa yang gio ucapkan.


"Kenapa mesti Minggu ini? Kan kamu harus ijin dulu sama dad and mam jika kak semi " gio tersenyum


"Kalo masalah ijin, aku sudah mendapatkan nya sejak jauh jauh hari... Kami gak usah khawatir."


"Kalo aku nya gak mau gimana?" Gio langsung berubah raut wajahnya, dari senyuman berubah menjadi masam dan langsung menutup  telponnya." Shasha gelagapan dengan tindakan gio, dia hanya ingin menggoda gio namun ternyata reaksi gio malah menutup telponnya.


Shasha mencoba untuk menelpon balik gio namun tak aktif, awal telpon di tolak kedua kalinya malah tidak aktif.. Shasha bingung harus bagaimana.... sedangkan sebentar lagi dia harus memulai kembali pelajaran nya dengan chef irfan, seorang chef asli Indonesia yang akan mengajarkan berbagai jenis makanan Indonesia.


Di lain tempat, gio sedang berpikir, apa di sini hanya dia yang ingin lebih serius? Apa dia terlalu memaksakan kehendak? Dia memang laki laki yang sudah siap menikah, namun Shasha masih terlalu muda...


"Baiklah sha, aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir... Jika saja ayah tidak sakit, mungkin aku juga siap menunggu mu beberapa tahun lagi..." Batin gio.


Gio yang memang sedang padat d Ngan meeting nya, hanya memberikan pesan singkat untuk Shasha.


"Pikirkan hubungan kita, apa kamu siap dengan hubungan yang lebih serius atau tidak, ku tunggu jawabanmu nanti." Gio langsung men silent handphone nya karena akan menghadiri meeting dengan jajaran direksi di perusahaan nya.


Shasha yang sedang mengikuti pelajaran pun sama meng silent handphone nya dan menyimpannya di loker, karena sebenarnya memang pada saat pelajaran tidak ada yang boleh membawa handphone apalagi sedang diadakan praktek, kecuali saat istirahat maka seluruh mahasiswa diperbolehkan mengambil dan menggunakannya selama waktu istirahat saja.