One Night In Singapore

One Night In Singapore
The wedding



Pagi telah tiba, ini lah hari di mana Naomi dan gio akan melangsungkan pernikahan nya. Hanya tinggal beberapa jam lagi.


Naomi saat ini sedang melakukan ritual nya sebelum menikah, luluran supaya kulit badan lebih cerah dan segar.


Pijatan demi pijatan Naomi dapatkan, sehingga tubuh dan pikirannya yang lelah selama beberapa bulan ini dapat sedikit relaks.


Keluarga gio juga teman teman mereka sudah sampai di hotel yang sudah disediakan. Mereka semua menempati kamarnya masing masing.


Sebuah hotel mewah sudah disewa selama satu Minggu dan untuk acara pernikahan dan kamar kamar disediakan untuk seluruh keluarga dan tamu undangan, jadi jika semua tamu ingin menginap sudah pasti diperbolehkan karena sudah di sewa sejak hari Selasa Minggu ini sampai Senin besok.


Ritual luluran sudah dijalani, Naomi merasa lebih segar dan cerah. Namun hati dan pikiran tak tahu ya....tak dapat dibohongi memang...dia masih bimbang tak tentu arah.  Namun dia sudah berjanji setelah akad nikah maka semua rasa dan pikiran tentang laki laki lain selain suaminya akan dia hempaskan.


Pakaian pernikahan sudah di gantungkan...Naomi saat ini sedang di rias oleh seorang perias ternama, teman temannya mendampingi Naomi di kamar itu. Hatinya sungguh dag Dig dug tak karuan.


Jihan dan Sillia memperhatikan Naomi. Terlihat sendu tak seperti pengantin pada umumnya yang akan memperlihatkan kebahagiaan.


Lebih tepatnya seperti pernikahan terpaksa, seperti perjodohan. Tak ada raut bahagia, yang terlihat hanya kebingungan dan sendu.


"Naomi, are you ok?" Ucap Sillia dan Naomi hanya mengangguk


"Cantik...kenapa cemberut terus? Kan hari ini hari pernikahan nya, harusnya senang dong....udah calon suaminya ganteng lagi." Ucap perias itu


"Oh ya mas.  Eh. Mba.." perias itu cemberut " jangan panggil mas lagi loh awas. Eh... kenapa mukanya di tekuk gitu....kalo mba nya gak mau buat akika saja suaminya. Hahaha." Ucap perias itu yang masih sibuk dengan tatanan rambut Naomi.


"Yey....mba nya ada ada saja...ya jangan dong...kasian entar sahabat gue sedih lagi kalo di bawa sama mas nya...eh ..Emba nya..." Ucap Jihan dan Sillia tertawa


"Makanya senyum dong....harus bersyukur udah dapet jodoh ganteng, tajir melintir, baik lagi. Nikmat mana yang mau kau dustakan...Tah Kitu " Naomi tersenyum manis "iya mba...aku sangat bersyukur kok..." Mereka semua tersenyum.


"Nah udah beres, sekarang pakai dulu bajunya." Lalu Naomi memakai baju pengantin dibantu kedua teman nya juga penata rias tadi.


"Kamu cantik banget Naomi..." Mereka tertegun dengan kecantikan Naomi...lebih cantik dari biasanya.


Naomi berdiri melihat ke luar jendela...memandang ke laut yang sangat indah.


"Kita pergi dulu lihat ke bawah..kalo udah siap kita akan balik dan panggil lo. Jangan kemana mana ya " ucap Jihan dan kedua sahabat juga penata rias yang bernama mba Eva itu turun dulu mempersiapkan tempat akad nikah kalo kalo ada yang masih kurang



Naomi memandang ke luar dengan tatapan kosong...lalu membuka tirainya dan sedikit membuka jendela sehingga angin dapat masuk menerpa wajahnya.


Adzan asar telah berkumandang tandanya waktu akad akan sebentar lagi.


Tak..tak...tak...suara langkah terdengar dan tak lama suara ketukan di pintu membuat Naomi mengalihkan perhatiannya. "Apakah ini sudah waktunya?" Batin Naomi


"Hai...my....angel.'' Naomi mendengar suara yang sangat dia kenal dan badannya bergetar tak karuan ketika melihat sosok seseorang yang masih sangat dia cintai." Ya itu Arsen yang datang dan dia menggunakan stelan baju jas dengan celana kain, terlihat gagah sekali.


"Ar....Arsen..." Rasanya berat untuk hanya sekedar mengucapkan namanya.


"Kamu...kamu sangat...cantik Naomi." Arsen memandang Naomi dengar sendu.


"Sebaiknya kamu kembali Arsen...kamu...tak boleh di sini " ucap naomi terbata bata.


"Ijinkan aku sebentar saja...5 menit ya." Naomi tersenyum terpaksa " cepatlah, katakan apa yang kamu inginkan... sebentar lagi aku harus turun Arsen." Naomi terlihat gusar.


Arsen melangkah kan kakinya mendekati Naomi "my angel....aku sungguh sangat mencintaimu..." Air mata menetes membasahi pipi keduanya. Arsen menundukkan wajahnya dan naomi membalikkan badannya, dia tidak mau terlihat menangis. Mereka menangis tanpa mengeluarkan suara nya.


"Maaf...maaf...maaf...karena kesalahan ku mengambil keputusan membuatmu...membuat kita jadi begini...jika kau bahagia...aku akan melepaskan mu Naomi..." Air mata tak dapat lagi terbendung...buliran air mata terus turun.


Arsen melangkah kan kakinya mendekati Naomi, dia peluk Naomi dari belakang dan itu sungguh mengagetkan nya.


"Arsen...Arsen..." Naomi berusaha melepaskan nya " tunggu sebentar...aku mohon.. sebentar saja...hanya sebentar..dan ... untuk.. yang Ter..akhir kalinya..." Keduanya memejamkan matanya menikmati pelukan terakhir mereka.


Arsen melepaskan pelukan nya dan membalikkan badan Naomi, dia menghapus air matanya dan tersenyum.


"Semoga bahagia...dan selamat tinggal my angel...ini terakhir aku mengucapkan nya...tak akan ada lagi kata itu yang akan kamu dengar... berbahagia lah honey...i love you." Arsen mengecup kepala Naomi dengan lembut dan pergi dari ruangan itu.


Tak lama suara ketukan terdengar...


Tok...tok...tok..." Naomi...sudah siap?" Pintu terbuka, di sana Jihan, sillia dan mom Vina sudah menunggu.


"Ayo sayang....eh kamu nangis?" Ucap mom Vina lalu mendekap anaknya. Menatap mata Naomi lalu merapihkan riasannya yang sedikit berantakan.


"Sudah jangan nangis ya...mom yakin kamu akan bahagia...gio sangat mencintaimu...dan jika jodoh mu dia maka sekuat apapun kita menolak itu akan tetap terjadi sayang." Mom mengecup dahi Naomi sedang lembut.


Akhirnya mereka turun ke aula yang sudah disediakan khusus untuk acara akad nikah.


Naomi berjalan dengan pelan, di sana gio sudah menunggu di depan penghulu, tak jauh dari penghulu Arsen berdiri di dekat pintu keluar.


Mata Naomi tertuju pada Arsen...mata mereka saling berpandangan, sendu terlihat dari keduanya. Hampir meneteskan air mata...Naomi mengangkat wajah nya ke atas supaya tidak meneteskan cairan bening itu ke pipi. Mata mereka kembali berpandangan dan Arsen menganggukan kepalanya seraya memperlihatkan senyum manisnya, menandakan dia telah melepaskan nya.


"Ayo sayang...." Suara mom Vina memutus pandangan itu dan Naomi menatap ke arah gio.


Terlihat gio dari tempat penghulu terlihat marah? Kecewa? Atau apa? Naomi tak tahu raut wajah itu. Namun Naomi sedikit ketakutan melihat gio bangun dengan cepat ke arahnya. Tak ada senyuman di sana.


Setelah dekat gio pun berkata " sudah ku bilang...jika kau ragu bahkan berniat lari dari pernikahan ini, maka akan ku seret kamu ke depan penghulu." Naomi terkejut bukan main apalagi saat ini tangannya ditarik oleh gio...


Naomi terkejut bukan main...ketika dia melewati penghulu nya..."kenapa...kenapa...gio... penghulu nya ..." Naomi menunjuk ke arah penghulu yang sedang duduk menunggu.


"Arsen..." Ucap gio dan Arsen membalikkan badannya.


"Gio... penghulunya. .di...sana.. kenapa?" Gio tersenyum


"Kalian kira aku tidak tahu? Sampai kapan kalian akan menyembunyikan semua kebenaran ini?" Naomi terlihat gelisah " gio...gio...kita sudah tidak ada apa apa lagi...kami sudah lama putus.." Naomi terlihat sendu takut pernikahan nya akan batal


"Apa kamu lupa Apa yang ku bilang? Pernikahan akan berlangsung dan aku akan menyeretmu ke depan penghulu..." Naomi menganggukan kepalanya


"ya aku tahu...dan aku juga pernah berjanji..aku tidak akan membatalkan atau menarik kembali apa yang sudah aku ucapkan Yo...kamu jangan khawatir...aku akan menikah dengan mu hari ini... hubungan kami sudah berakhir Yo...ku mohon..ayo kita ke tempat yang seharusnya." Naomi menarik gio namun gio tak bergerak sedikit pun.


"Naomi...apa kamu lupa? Cintaku untukmu sangat besar melebihi cintamu padaku." Naomi menganggukan kepalanya


"Aku tahu Yo...aku tahu..." Lolos sudah air mata Naomi


"Jangan menangis sayang....cukup di pernikahan jangan ada air mata." Gio menghapus air mata Naomi


"Kamu lupa my little aom...jika kebahagiaanku adalah kebahagiaan mu...." Gio menarik napas nya dan tersenyum


" membahagiakan mu adalah segalanya untukku....tak ada kebahagiaan yang lain yang bisa membuat ku bahagia, hanya dengan melihatmu bahagia sayang....dan senyuman kebahagiaan itu bukan ada di samping aku...tapi di samping Arsen." Gio meloloskan air matanya dan tersenyum


"Gio...." Gio langsung menutup bibir Naomi dengan jarinya.


" Sutttt...jangan bicara dulu... biarkan aku yang bicara kali ini ya sayang." Naomi menggeleng gelengkan kepalanya


" yoooo." Naomi menatap sendu gio berharap dia tidak meneruskannya.


" Arsen...mungkin ini akan sangat berat bagiku...namun...hanya kamu yang bisa membuat gadisku bahagia...kalian menikah lah." Gio menarik tangan Naomi dan Arsen lalu menyatukan nya.


"Gio ....Lo sadar apa yang Lo lakukan?" Gio tersenyum


"Gue sadar sen...sadar sesadar sadarnya...kalian bisa bahagia walaupun gue akan merasa sakit...tapi tenang...sakit itu tak akan lama...kan gue cowok ganteng...secara cowok ganteng banyak yang suka..." Gio tersenyum lebar dan semua yang mendengar tersenyum dengan ucapan gio.


" Kan Lo tahu sendiri gue di Thailand aja banyak yang antri, bukan begitu Mr Arsen?" Gio kembali tersenyum dan begitupun Arsen.


"Hei gadis kecil....jangan nangis terus... tersenyum lah...aku sudah coba untuk membuat mu bahagia...kalo masih nangis akan ku seret kau ke depan penghulu dan menikah dengan ku. Ini sungguh berat bagiku jadi jangan menangis terus atau aku berubah pikiran." Naomi tersenyum namun masih menangis.


"Gio..." Naomi memeluk gio dengan erat rasanya dia tak sanggup untuk berkata kata..


"Aku tahu aku ganteng...dan kau akan menyesal karena telah mencintai orang lain." Arsen tersenyum manis dengan buliran air mata nya sesekali lalu menghapus nya.


Naomi melepaskan pelukannya dan menatap gio " menikah lah dan berbahagia.. berikan aku keponakan yang lucu lucu. Ok " gio lalu melirik ke arah Arsen


" Dan kau harus ingat ya... bahagia kan my little aom..jika dia sedikit saja merasa sedih dan meneteskan air matanya, maka aku tak segan  segan untuk mengambil nya kembali dari tanganmu. Ingat itu." Arsen mengangguk kan kepalanya dan memeluk gio.


"Thanks bro....Lo emang sahabat sejati...gue janji..gak akan pernah membuat Naomi sedih..tak akan ada air mata nya satu tetes pun keluar kecuali air mata bahagia." Ucap Arsen dengan mantapnya.


Gio langsung menelpon seseorang dan tak lama pengawalnya mengantarkan dua orang yang sangat berharga buat Arsen.


Tak..tak..tak...suara langkah kaki terdengar dan itu membuat semua fokus teralihkan.


"Uncle.... aunty....come." ucap gio dan Arsen terbelalak


"Mom...dad...you are here?" Arsen tersenyum lebar


"Arsen....be happy...honey.." ucap keduanya orang tuanya yang ternyata sudah dijemput oleh gio dua hari yang lalu untuk datang ke Lombok dan menyaksikan pernikahan anaknya.


Gio lalu menarik tangan Arsen dan Naomi ke depan penghulu...semua orang tua juga tamu undangan merasa terharu atas apa yang terjadi...mereka ikut meneteskan air mata dan tersenyum bahagia.


"Arsen Miller...saya nikah dan kawinkan saudara dengan Naomi Azura binti Akimoto Azura dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta emas seberat 17 kilo 4gram di bayar tunai." Ucap penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naomi Azura binti Akimoto Azura dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta emas 17 kilo 4gram dibayar tunai." Ucap Arsen lantang dengan sekali helaan nafas


"Gimana para saksi ..sah?"


"Sah..."


"Sah.." semua mengucapkan syukur dan doa bersama lalu Arsen menyempatkan cincin pernikahan ke jari Naomi begitupun dengan naomi.


Naomi mencium tangan Arsen setelah Arsen mencium kening Naomi.


" Alhamdulillah ya Allah..." Ucap Naomi dan Arsen bersamaan...


*****


Gimana nih .. seru gak? Komen dong biar akyu  tambah semangat...maaf ya kalo ada yang kurang.  Makanya kasih aku masukan. Ok.


Thanks yang masih nunggu cerita gejeku ini.


See you next chapter


Bye 🤗😘