
Saat ini Naomi duduk di sofa yang berada di salah satu kamar di rumah gio, seorang dokter dipanggil untuk mengobati Naomi.
Sekitar 5 jahitan yang harus didapatkan Naomi akibat sabetan pisau. Arsen setia berada di samping Naomi. Sesekali Arsen melihat raut wajah Naomi yang menggigit bibir bawahnya..
"Sayang, jangan gigit bibirmu..kalo sakit gigit bantal itu saja." Naomi menatap wajah Arsen dan tersenyum kecil.
"I am ok..cuma sedikit sakit saja sih.." Arsen menggeleng gelengkan kepalanya.
"Kamu sih ngeyel di kasih tahu tuh... Aku bilang diam ya diam.. coba ceritakan apa yang kau lakukan tadi." Naomi cuma cengar cengir saja.
"Sayang...." Ucap Arsen lagi.
Terdengar langkah kaki dari seseorang. Dia datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Kak... Makan ya nanti... Biar kakak cepat sembuh."
Naomi mengangguk.
"Dia bukan sakit panas dek, tapi kena sabetan pisau. Masa makan jadi sembuh." Naomi tersebut lebar.
"Shasha itu benar sayang, kalo aku banyak makan, lukaku bisa cepat kering. Masa gitu aja gak tahu." Arsen tersenyum lebar
"Oh iya ya...adikku memang pintar. " Dasha tersenyum manis
"Kak, aku tak menyangka kita akhirnya bisa bertemu lagi. Aku pikir kak semi sudah melupakanku." Arsen mendekat dan memeluk adiknya
"Sha, kakak gak mungkin melupakan adik kakak satu satunya. Maaf kakak baru menemukanmu sekarang."
Mereka duduk bertiga di sofa tersebut dan berbincang bincang melepaskan kerinduan yang sudah terpendam selama 10 tahun.
"Oh ya ... Kamu belum menceritakan kejadian tadi Sayang, kau hutang penjelasan padaku." Naomi tersenyum manis
"Kamu masih saja ingat dengan itu..." Arsen menyipitkan matanya
"Kau terluka dan aku tak bisa melupakan begitu saja."
"Baiklah... Aku tadi menggunakan pakaian ninjaku ... Dengan keahlianku sebagai keturunan Jepang, d Ngan mudah aku bisa masuk ke dalam dan mencoba menyelamatkan Shasha, karena ada dua orang yang menghalangi, ya aku bereskan dulu keduanya karena di sana boomer sudah masuk dan hendak di halangi juga akhirnya mau tak mau aku bantu dong buat boomer bisa membawa adik kita yang cantik ini. Itu saja tak ada yang spesial." Arsen mengangkat ujung bibir atasnya.
"Tak spesial kamu bilang? Dua selamat juga karena kamu bantu sayang, dan aku sangat menghargai itu. Aku tak masalah jika kamu mau turun tangan, tapi aku tak mau kamu terluka, itu saja. Ok ... Jangan terluka lagi. " Arsen mengulurkan tangannya dan Naomi memegangnya.
"Baik...aku janji...aku akan berusaha untuk tidak terluka lagi." Mata mereka bertemu dan Arsen menarik Naomi sehingga Naomi berdiri dan di dudukkan di pangkuannya.
"Terima kasih sayang.."
"Sama sama..Shasha juga adikku... Jadi tak perlu sungkan." Arsen mendaratkan kecupan di bibir Naomi
Cup..cup..cup..
"Hey... Hentikan... Kau tak lihat ada adikmu di sini?" Shasha cuma nyengir aja melihat kemesraan mereka berdua.
"GPP kak... Kak semi sangat mencintai kakak...aku sangat senang.. tapi s baiknya aku keluar... Aku ingin main dengan Arkana... Keponakanku itu sangat menggemaskan."
"Makasih sha... Karena kamu telah kembali." Tatapan sendu tapi memperlihatkan rasa haru.
"Terimakasih juga..karena kakak telah kembali untuk mencariku."
***
Pagi ini mereka sarapan dengan makanan yang sudah di siapkan Naomi.. tentunya dengan bantuan shasha.
Naomi yang sedang mencuci piring dikejutkan dengan pelukan yang melingkar di pinggangnya.
Dengan mencium bau wangi dari tubuh itupun Naomi sudah pasti tahu siapa yang memeluknya.
"Sayang... Aku susah dong...lepas ih."
" Gak... Aku pengen peluk kamu sebelum pergi ketemu client..biar semangat. " Arsen mencium dan menghisap wangi tubuh Naomi di ceruqqq1q11k lehernya.
"Arsen..stop..geli tahu...awas Lo kena luka aku." Arsen langsung melepaskan pelukannya
"Oh iya, kamu kan pundaknya abis di jahit ya, untung gak kena itu." Naomi tersenyum manis
"Gpp kok, toh gak kena juga."
Terdengar langkah kaki mendekati mereka.
"Kak...emmm aku pergi kerja dulu ya.." Arsen melirik ke arah Dasha yang sudah siap dengan menenteng tas nya.
"Sha...kamu kerja? Di mana?" Shasha tersenyum
"Jadi apa?"
"Waiters." Arsen menggeleng
"No... Just resign ok...i don't you be waiters." Shasha terkejut dengan ucapan Arsen
"Giooo...gio.." gio baru turun membawa tasnya
"Apaan sih teriak teriak... Asal Lo ingat ya. Ini rumah gue..." Arsen menatap dengan serius
"Gue mau adik gue resign di tempat Lo." Gio tersenyum dan terlihat santai.
"Ya udah tinggal resign, gitu aja kok repot." Gio terlihat santai tapi berbeda dengan Shasha.
"No... Kak...aku harus kerja, gimana aku hidup kalo gak kerja, hutang aku banyak ... Hutang ke gio aja 5 milyar kak ..." Rengek Shasha
"Sha...Lo lupa gue siapa? Jangankan 5 milyar, 5 triliun juga gue bisa kasih... Jangan bantah kakak.. kamu ada cita cita kan, ayo kejar..Lo harus kuliah. Ok." Gio tersenyum lebar
"Sha... Bener yang dibilang Arsen, kamu kuliah aja, masalah biaya kan ada kakak Lo, kalo perlu gue yang biaya in deh. Hehe.." Arsen melirik ke arah gio lagi
"Apa? Maaf nih ya... Gak bisa ikut nimbrung lama lama.. gue harus pergi. Bye.. assalamualaikum."
"Waalaikmslm." Ucap Naomi dan Arsen.
Arsen kembali menatap Shasha. Dan Naomi mengajak mereka berdua duduk.
"Sayang, duduk yu... Ngobrol nya sambil duduk aja " mereka bertiga duduk dan saling berbicara.
"Sha.. kakak mau kamu kuliah dan Kejar cita cita kamu, gak usah pikirkan biaya, ada kakak sekarang." Ucap Arsen lembut dan shasha mengangguk.
" Sekarang kamu gak ada yang perlu kamu khawatir kan mengenai uang... Semua keperluan kamu kakak yang penuhi selama kamu belum menikah." Shasha tersenyum namun menangis.
"Makasih kak .. aku masih hiks... Gak percaya .. setelah hiks... Sekian lama aku bisa sebahagia ini."
Arsen memeluk lalu mengusap usap punggung adik kesayangannya.
"Katanya bahagia, tapi nangis. Dasar cengeng." Arsen menarik hidung Shasha dengan gemas.
Tak lama turun Arkana
"Mommy...mommy...."
"Hai honey.... Emmuah... My boy..."
"Mom...onty nangis? Cup cup cup cup... Jangan nangis onty... Nanti cantiknya ilang." Shasha langsung tertawa mendengar ucapan keponakannya yang ucul ini.
"Gak kok..onty gak nangis... Onty seneng bisa ketemu kamu..ketemu Daddy Arsen, mom Naomi.. seneeeeeng banget..."
"Katanya seneng tapi kok onty nangis? Ada yang tatit? Sini aku cium...biasanya alo aku atuh ututku tatit... Mom cium...eh cembuh." Shasha mencubit pipi arka dengan gemas
"Ponakan siapa sih pinter bener?"
"Ponakan onty Shasha sama Kel gio..." Arkana memonyongkan bibirnya
"Nih, onty sakit ini dan ini dan ini." Tunjuk Shasha biar di cium Arkana
"Wajah onty atit cemua? Kaciaaaan."
Ahahahaha...terdengar ketiga orang dewasa itu tertawa melihat kelucuan dari Arkana.
"Sini alka cium...emuah..emuah..emuah...udah gak cakit kan onty?" Shasha tersenyum lebar
"Sakitnya udah ilang...makasih sayang...onty tambah gemes deh..." Shasha menciumi Arkana sambil menggelitik perut nya.
"Ahahaha...udah onty...udah...ahaha..onty...onty akal..."
"Kak...bikin lagi sana..biar arka sama aku aja.."
"Hem... Gak ya..jangan dulu... Nunggu bentar lagi.." ucap naomi. Dan Arsen cuma tersenyum melihat kebahagiaan yang sudah dia dapatkan. Secepatnya dia harus membawa Shasha ke rumah orangtuanya di Singapore.
"Sha... Nanti kita ke mom and Daddy ya... Pasti mereka senang.. kak semi belum ngasih tahu... Biar jadi surprise." Shasha menganggukan kepalanya.
"Aku berangkat dulu ya sayang.... Aku ada pertemuan dengan seorang pengusaha muda dan sukses di sini...siapa tahu bisa jadi jodohnya Shasha..."
Deg...Shasha merasa terkejut dengan ucapan kakak nya...