One Night In Singapore

One Night In Singapore
Maaf kak Hendrik



Akhirnya selesai sudah satu urusan Naomi, sekarang dia mau menemui Arsen di mobilnya. Dia tahu ada 2 hati lagi yang harus diurusnya. Belum beres dengan ungkapan kak Hendrik dia juga langsung dihadapkan dengan ungkapan dari Arsen.


Naomi POV


Gue gak nyangka kak Hendrik ada rasa sama gue, apa yang harus gue lakukan? Dia selalu jagain gue dari dulu. Gue juga sayang sama kak Hendrik tapi itu dulu saat gue masih SMA, gue hilangin perasaan itu pas tahu dia jadian sama alea. Sakit hati gue susah payah gue hilangin perasaan itu sampe sampe aku kuliah ke Jakarta ketika kak Hendrik kuliah di Bandung.  Dan Sekarang sayang gue udah berubah, hanya sebatas sayang terhadap kakak.


Hati ini sudah berdetak untuk yang lain, gue gak bisa sangkal ketika dekat dengan Arsen. Ya ...gue suka Arsen. Detak jantung ini sudah tak santuy lagi ketika dekat dengan nya. Tapi gue bingung...gue sama Arsen gak se agama. Agama gue melarang kita menjalin hubungan berbeda agama, karena hubungan ini bukan untuk hanya pertemanan tapi gue mau sampe pernikahan.


Gue gak masalah punya temen berbeda agama, tapi untuk pacar yang pasti gue mau sampe nikah, gak mungkin kita berbeda agama. Ya Allah kenapa engkau buat jantung hamba berdetak kencang untuk Arsen, kenapa tidak untuk kak Hendrik.


Sekarang gue jalan menghampiri mobil Arsen, belum juga sampe ni jantung udah dag Dig dug aja deh. Kesel gue. Apa gue harus menjauh kayak dulu lagi, menenangkan pikiran gue dan jauh jauh dari Arsen. Atau gue pindah RS kali ya...kerja di Singapore aja gitu di RS yang dulu gue kunjungan? Akh... bingung.


Gue gak bisa liat Arsen di dalem soalnya mobil itu gelap, gak transparan. Gue mau ketok eh udah di buka aja. Gue mundur sedikit dan Arsen turun dari mobil, dia tersenyum. Aduh senyumnya, tolong dong sen...jangan suruh jantung gue olahraga Mulu. Capek tahu.


Naomi POV  end


" Hai..udah selesai?" Arsen tersenyum sangat menawan sedangkan naomi hanya mengangguk saja sambil tersenyum.


"Ayo masuk!" Lanjut Arsen sambil membuka pintu dan Naomi pun masuk ke mobil.


" Kita langsung ke apartemen atau mau ke mana dulu?" Tanya Naomi


"Kamu capek gak?"


"Gak capek sih...emang mau ke mana?"


" Kita ke apartemen aja deh, aku kasian sama kamu, baru pulang kerja juga."


"Ya udah kita ngobrol di apartemen aja,  kamu makan belum sen?"


"Belum sih, hehe.."


"Entar aku bikinin sesuatu deh ya."


"Wow....seneng nya mau di bikinin makanan. Jangan lupa ya makanannya pake sesuatu."


"Pake apa? Naomi bingung


"Pake cinta...biar enak." Naomi sontak tertawa.


"Hahaha...cie...udah bisa gombal nih. Dulu dingin dan irit kalo ngomong. Kok bisa sih sekarang berbeda gini." Arsen menatap Naomi dan mendekatkan wajahnya bibirnya berbisik di telinga naomi


"Karena aku... cinta... kamu." Jawab Arsen dan Naomi yang mendengarnya langsung membeku.


"Hei...jangan melamun." Arsen menjentikkan jarinya dan Naomi terperanjat.


"Oh.,..ya..?"


"Kamu kenapa sih, jadi merah gitu pipinya." Naomi langsung memegang pipinya dan terasa agak hangat.


Bagaimana tidak salting ya digituin. Ah...melting jadinya kan?


"Ayo kita dah nyampe, kamu gak mau keluar nih? Mau dimobil sampe kapan?" Naomi sadar langsung buru buru membuka seat belt nya dan keluar. Dia gak bisa terus di situ, setelah keluar lalu mengibas ngibaskan tangannya ke pipi biar gak panas dan mengontrol nafas juga detak jantung nya.


Arsen keluar dan merasa heran dengan tingkah laku Naomi.


"Kamu kenapa, kepanasan?"


"Ya...agak gerah aja. Ayo ah masuk." Ajak Naomi agak berlari.


Naomi berjalan duluan dan Arsen mengikuti nya dari belakang  sedikit berlari mengejar Naomi yang sudah diam di depan lift. Tak lama lift pun terbuka. Mereka masuk dan naik ke apartemen.


Sekarang Naomi dan Arsen sudah masuk ke apartemen nya. Naomi menyuruh duduk di sofa dan dia langsung pergi ke kamar menyimpan tas dan jas kebanggaannya.


Tak perlu ganti baju, dia langsung pergi ke dapur. Dia memasak nasi liwet dan menggoreng ikan, tahu, cah kangkung juga sambal. Tak lupa lalap juga loh.  Awas ngiler ya...


Arsen memperhatikan Naomi dengan seksama...melihat gadis itu berkutat dengan masakan membuat Arsen tambah kagum. Terbayang jika mereka sudah menikah, pasti senang banget makan masakan istri tercinta.


Sambil menunggu nasi liwet Mateng, naomi ijin pergi mandi dahulu, sedangkan Arsen  lagi nonton tv.


Cukup 10 menit naomi mandi, dia tak mau berlama lama karena ada Arsen di rumah. Kasian kalo menunggu lama.


"Maaf, lama ya?"


"Gak kok."


"Kalo kamu capek kamu boleh tiduran di kamar sebelah. Tapi harus makan dulu ya. Tuh nasinya udah Mateng."


"Oh ya dong...harus coba masakan calon istri dulu." Dan Naomi tersipu malu mendengar ucapan Arsen.


"Calon istri apa? Pacar juga bukan."


"Kan bentar lagi juga jadi pacar. Itupun kalo kamu mau sih." Jawab Arsen sambil menatap Naomi yang sedang membereskan makanan nya di meja makan.


"Ayo sini duduk sen." Arsen langsung jalan dan mendudukkan tubuhnya di kursi yang sudah di bukakan Naomi.


"Makasih ya.." ucap Arsen dengan lembut namun suaranya tetap terdengar seksi.


"Sama sama. Mudah mudahan kamu suka ya. Karena ini bukan masakan mewah. Ini masakan rumahan. Sangat sederhana."


"Aku bakal suka semua yang kamu masak mau yang mewah, atau sederhana sekalipun."


"Bener nih...gak gombal?" Naomi merasa pengen ngerjain Arsen jadinya. Hahaha dia tertawa di dalam hati. "Entar gue masakin semur jengkol ah..." Batin naomi


"Bener dong. Masa gak di makan. Eh..ini apa ya...?"


"Oh itu namanya cah kangkung. Dan ini nasinya aku bikin nasi liwet. Coba deh. Enak tau "


"Ya udah aku coba ya." Arsen langsung memakan semua yang sudah Naomi siapkan di piring Arsen.


"Awas sambelnya pedas. Kamu suka pedas gak?"


"Suka sih tapi jangan terlalu pedas ya."


"Ya makannya sedikit aja jangan terlalu banyak."


"Iya makasih."


"Baca doa dulu dong." Ucap Naomi lalu dia langsung berdoa sebelum makan dan Arsen melihat itu. Cara Naomi berdoa sedikit berbeda dengan cara dia berdoa. Arsen pun langsung berdoa baru menyuapkan satu suapan ke mulutnya.


Naomi menunggu reaksi Arsen, takut Arsen tidak selera dengan masakannya. Ini masakan Sunda, tapi Arsen orang luar yang mungkin makannya cuma spaghetti, steak, burger dll.


"Naomi, masakan mu enak sekali. Aku suka." Naomi berbinar mendengar itu dan tersenyum senang.


"Alhamdulillah kalo kamu suka, dari tadi sebelum masak aku khawatir kamu gak suka makanan rumahan orang Sunda. Takut beda sama lidah kamu yang sudah biasa makan pizza, burger dll."


"Aku juga suka nasi kok, cuma baru kali ini makan nasi liwet. Dan ternyata enak banget."


"Aku seneng dengernya...makasih ya udah mau makan masakan aku."


"Aku yang makasih, kamu udah mau masakan makanan buat aku. Padahal kamu baru pulang kerja, pasti capek."


"GPP, aku seneng kok."


Mereka pun makan dengan lahap, apalagi Arsen yang sudah 2x nambah. Naomi yang melihat itu hanya tertawa senang. Gimana tidak seorang bule makan nasi liwet kayak kesetanan gitu. Apa gak sakit tuh perut?


Setelah acara makan selesai mereka duduk di sofa. Naomi yang santai memakai baju kaosnya dan celana selutut terlihat menggemaskan bagi Arsen... seperti anak kecil. Berbeda ketika memakai jas dan berada di RS, apalagi ketika berkelahi. Sungguh tak pernah membuat Arsen bosan menatap Naomi.


Jam sudah menunjukkan pukul 06:00 sebentar lagi sudah mau Maghrib.


Arsen takut terlalu lama jadi dia mau membuka percakapan yang tertunda.


"Naomi, bisa kita bicara serius sekarang?" Naomi pun melirik jam dan dia lalu berkata " sebaiknya tunggu sebentar ya, sebentar lagi adzan Maghrib, biar kita santai dan tak terburu buru ngobrolnya, jadi nanti abis aku sholat magrib aja, GPP kan? Soalnya waktu sholat Maghrib singkat."


"Oh ya udah. GPP." Tak lama adzan pun berkumandang, sangat merdu dan Arsen yang mendengar itu merasa merinding..hatinya merasa sejuk. Dan dia melirik Naomi yang sedang menjawab setiap lafaz adzan terlontar. Arsen tak pernah melihat orang yang begitu taat terhadap agamanya.


Sejauh ini dia hanya berteman dengan orang orang yang sering mabuk, sek bebas, clubbing, walaupun ada beberapa temannya yang beragama Islam tapi baru kali ini melihat yang berbeda...lebih menyejukkan.


Naomi yang baru sadar sejak tadi di tatap Arsen dia langsung berdiri dan mendekati nya.


"Hey...jangan melamun. Kata orang pamali melamun magrib Maghrib entar kesambet.."


"Pamali itu apa?" Arsen bengong


Naomi langsung pergi ambil wudhu dan menyiapkan sejadah dan memakai mukena. Setelah Dia sholat magrib dia langsung ke ruang tv di mana Arsen menunggunya.


"Ok kita bisa ngobrol sekarang, apa yang mau kamu bicarakan sen?" Ucap Naomi setelah mendudukkan tubuhnya di sofa.


"Naomi, kamu tau kan tadi sore aku bilang apa?"


"Iya. Tapi bisa kamu ulangi lagi gak, aku takut salah dengar karena kaget atau karena aku buru buru jadi gak jelas."


"Baik. Aku cuma akan ulangi lagi sekali, dengar ya." Naomi pun mengangguk dan mempersiapkan mata dan telinganya dengan baik


" Naomi, aku cinta kamu. Aku mau kamu jadi pacar aku. Gimana menurutmu?" Naomi yang mendengar ungkapan Arsen yang tegas dengan suara baritonnya namun mengucapkan nya dengan lembut membuat detak jantung nya berpacu kembali.


Naomi bingung harus jawab apa, dia masih bingung untuk mengambil keputusan. Cinta tapi berbeda keyakinan pasti banyak tantangannya.


"Naomi, bisa kamu jawab ungkapan aku, atau kami butuh waktu?"


"Aku mau jujur sama kamu, sebenarnya aku suka, bahkan mungkin cinta sama kamu."


"Mungkin?" Arsen memotong ucapan Naomi. "Maksudnya?" Lanjut Arsen


"Kenapa aku bilang mungkin, karena setiap aku berdekatan dengan kamu, jantung aku dag Dig dug tak karuan, namun selalu aku coba hilangkan rasa itu, takut bertambah besar..."


"Kenapa kamu coba hilangkan? Aku juga cinta sama kamu Naomi...aku gak sanggup kalo harus jauh dari kamu..aku bener bener sayang dan ingin kita bersama, selalu dekat. " Arsen khawatir dan merasa kecewa, kenapa rasa cinta Naomi terhadapnya harus dihilangkan? Memangnya kenapa?


"Jangan dipotong dulu dong... dengerin dulu ih." Naomi sedikit kesal sekaligus senang mendengar ungkapan dari Arsen.


" Ya udah, maaf. Silahkan di lanjutkan."


"Kenapa harus aku coba hilangkan, itu karena aku takut aku terlalu mencintaimu sen, aku harus sadar diri, kita berbeda. Agama kita berbeda. Aku tidak diperbolehkan bersanding dengan laki laki yang buka. Beragama Islam. Maaf..."


"Ok. Aku ngerti. Kita memang berbeda agama...dan aku tau kamu orang yang sangat taat terhadap agamamu. Kalo itu masalahnya, biarkan aku mengenal agamamu." Ucap Arsen dengan mantap


"Kenapa sen, kamu mau pindah agama?" Naomi keheranan


"Ya kalo itu bisa bikin kita bersama, kenapa tidak?"


"Jangan sen, aku gak mau kamu pindah agama karena aku. Aku mau kamu pindah agama karena Allah."


"Ya aku tau itu Naomi, ini jujur ya, bukan cuma karena kamu loh. Tapi setelah sekian lama aku dekat dengan kamu, memperhatikan kamu yang begitu taat dengan agama mu, mendengarkan adzan, itu sungguh membuat aku nyaman dan tenang. Apa itu bisa dijadikan cukup alasan?"


"Ya itu cukup untuk mengawalinya...jika kamu serius, aku bisa memperkenalkanmu dengan seseorang yang bisa membimbingmu."


"Baik...aku mau belajar, tapi bisa kita mulai pacaran? Aku gak mau kamu didekati orang lain." Arsen menatap Naomi dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan posesif.


"Kamu bisa belajar dulu agama Sen..baru kita pacaran ya." Ucap Naomi dengan lembut


"Gak, aku gak mau. Aku gak bisa larang kamu, aku gak bisa cemburu, aku gak bisa antar kamu dengan bebas, aku gak bisa pegang tangan kamu dengan seenaknya. Aku gak mau Naomi. Aku mau status kita sekarang juga sebagai kekasih. Ok. Tidak ada penolakan." Ucap Arsen dengan cepat dan tegas sedangkan Naomi yang mendengarnya terperanjat dan bengong


"Hah? Kamu kok gitu sih...ngomong nya panjang bener deh."


"Ya mau ya..mau ya...pacar.." manja nya Arsen dengan nada merajuk.


"Ok tapi ada beberapa hal yang harus kamu hindari dulu dari sekarang kalo kamu mau menjadi seorang muslim."


"Apa? Tenang aja nanti aku turuti."


"Kamu yakin?"


"Ya, akan aku coba. Walaupun sulit


Namanya juga belajar...sedikit sedikit juga nanti bisa kok." Jawab Arsen mantap


"Ok hal yang harus kamu jauhi mulai dari sekarang



No drugs


No alcohol


No ****. No ONS, ok?


And if you are here with me, don't smoking ok. I don't like it. Smoke make me can't breath well. "



"Ok. I Will try....step by step ok. "


"Are you sure?"


"Of course. Just for you honey."


"Not just for me but for Allah."


"Yes. Allah too."


"So now...you are my girl friend. Ya..ya?" Arsen mendekatkan tubuhnya menyenggol nyenggolkan bahunya ke bahu Naomi. Dengan manja.


"Hem." Naomi tersipu malu dan tersenyum


"Kok Hem sih. Hem apa dong jawab?"


"Ya "


"Ya apa? Yang jelas dong!"


"Iya yang tadi."


"Apa yang tadi?"


"Ih kamu ya.." jawab Naomi malu bercampur kesal


" Yang jelas dong, yang tadi itu apa?"


"I am your girl friend. Ok. Puas kamu?" Naomi cemberut


"Kok cemberut bilang gitunya sih. Kayak gak ikhlas tau gak."


"Aku malu tau kamu kok gak ngerti sih. Ish..." Naomi bener bener malu


" Ya udah maaf. Aku cuma pengen jelas aja dan yakin jadi aku tak ragu bilang kamu pacar aku, gitu honey."


"Iya."


"Thanks"


"For what?


"Udah Nerima cinta aku, padahal aku tau kamu baru ditembak sama dr Hendrik."


"Kamu tau? Kok bisa?"


"Ya tahu lah...aku denger sendiri."


Naomi terbengong mendengarnya. Dan Arsen masa bodoh yang penting sekarang Arsen sudah jadi pacar Naomi dan itu yang terpenting sekarang.


Arsen pun mendekat dan memeluk Naomi dan Naomi kaget akan prilakunya. Naomi menatap Arsen, dia tersenyum dan berharap di dalam hatinya jika keputusan yang sudah dia ambil adalah keputusan yang terbaik buat Arsen, Naomi juga yang lainnya.


"Maaf kak Hendrik" batin Naomi


*********


Gimana sweet gak?


Mudahan suka ya..


Jangan lupa vote and comment. Thanks udah mau baca cerita receh Noona.


See you next chapter


Bye 🤗😘