
"Ya .. aku di sini Naomi...aku gio mu....merindukanku?" Tanya gio sambil tersenyum
Naomi berdiri dan menatap dengan tatapan terkejut dan masih belum percaya.
Naomi mencubit pipinya dan berteriak
"Aw...sakit..." Naomi masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Mau aku yang cubitin, biar kami percaya? Atau mau aku gendong?" Gio tersenyum menggoda.
"Ini bukan mimpi kan? Hiks..hiks...setelah sekian tahun...sudah 12 tahun kita berpisah...hiks..hiks .." Naomi malah menangis tersedu sedu
"Hey....kenapa menangis, bukankah harusnya bahagia?" Gio memeluk Naomi
"Aku di sini aom....my little aom." Naomi masih belum percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aw...sakit kenapa kau cubit aku?" Tanya gio
"Aku masih belum percaya, daripada aku cubit pipiku lagi, kan sakit ya jadi giliran kamu yang aku cubit." Naomi tersenyum bahagia
" Eh kamu kok tahu sih aku di sini?"
"Tadinya aku mau ke rumah mu, pas lewat sini aku liat kamu jadi langsung ke sini aja." Naomi menganggukkan kepalanya
"Ayo pulang, aku ingin ketemu sama aunty Vina dan uncle Akimoto." Ucap gio
Mereka pun berbincang sambil berjalan pulang menuju rumah orang tua Naomi.
Ketika sampai semua teman Naomi sedang berbincang di ruang keluarga bersama mommy dan Daddy.
"Assalamualaikum." Ucap Naomi dan gio bersamaan
"Waalaikmslm...." Jawab mereka berbarengan.
"Hey....siapa ini....ini bukannya.....oh ya Allah...ini kan...." Vina gak bisa berkata kata.
" Ya aunty...ini gio....aunty tambah cantik aja deh."
"Gio...kamu sudah besar ya" ucap Akimoto
"Uncle bagaimana kabarnya, sehat? Uncle masih tetap gagah ya setelah 12 th tak bertemu." Ucap gio
"Kamu tambah ganteng sayang.... bagaimana cewek Thailand, ada yang nyangkut gak?" Tanya Vina
",Makasih Tante....cewek Thailand ya...buat gio sih cuma ada satu cewek yang bikin gio tertarik dan sampai sekarang belum bisa lupa." Gio melirik Naomi
"Siapa tuh? Tadinya uncle pengen kamu jadi calon mantu uncle." Gio tersenyum lebar
"Mau banget uncle...kalo Naomi nya mau besok juga boleh."
"Daddy.. stop." Naomi merasa malu dan kesal.
"Pantas saja kamu main basket sendiri, ada yang nemenin ya..." Ucap Adi
"Adi ..tadi kalian masih tidur jadi aku pergi sendiri. Toh aku main sendiri. Aku udah selesai baru gio datang." Ucap Naomi
"Kamu gak mau kenalin ke kita nih?"goda Jihan
"Oh iya ..ini gio teman aku waktu kecil dan gio...ini Jihan, Adi dan sillia." Ucap Naomi
"Kok kita gak pernah ketemu sih?" Tanya Adi
"Waktu kecil kami berteman sampai kelas 6 SD dan dia pindah ke Thailand. Aku kak Hendrik dan gio selalu bersama. Sedangkan kita kan ketemu pas SMA." Ujar Naomi
"Oh gitu..." ketiganya mengangguk kan kepalanya.
"Gimana gio siap serius sama Naomi?" Ucap Daddy
"Daddy ..udah deh jangan ganggu gio." Ucap Naomi
"Tada, kimi ni shiawase ni natte hoshī dakena nda"
*Daddy cuma mau kamu bahagia.
"Dekinai otōsan"
*Dad aku gak bisa
"Wah mulai nih....kalo dah kayak gini kita gak bisa ikut nimbrung." Ujar Adi
"Itu tandanya biar Lo gak ikut ngerecokin." Ucap Jihan
" Jigana mah Kitu ya cinta, aunty .. mereka ngomong bahasa Jepang urang mah pake bahasa Sunda we yu." Ajak adi
"Tong keun Adi, aunty Oge moal bisa nimbrung da teu ngartos. Teu lancar ngomong bahasa Jepang." Jawab Vina
*Jangan kan Adi, aunty aja gak bisa ikut nimbrung kan gak ngerti. Gak lancar ngomong bahasa Jepang."
"Mending ke ruang sebelah yu, nonton tv, daripada bengong disini, ngeri juga enggak. Hahaha." Ajak Vina
"Ayo aunty, tapi jangan ngomong bahasa Sunda ya, aku gak ngerti." Ucap Sillia
"Sini gue ajarin. Mau gak biar gak bengong pas kita ngomong bahasa Sunda." Ucap Adi
"Boleh boleh." Mereka langsung pergi ke ruang televisi, mengobrol sambil nonton tv. Sedangkan Akimoto dan Naomi masih saling berdebat walaupun cara mereka berbicara tidak dengan teriak, masih dengan nada lembut.
"Anata ga kega o shite iru no wa shitte imasu ka? Sono shōnen Naomi o wasurete kudasai."
*Daddy tau kamu lagi sakit hati kan? Lupakan laki laki itu Naomi.
"Tashika ni papa wa nani o shitte iru"
*Memang Daddy tau apa?
"Sono otoko no namae wa āsendesu yo ne? Kare o wasurete, motto ī ko o mitsukete."
*Laki laki itu namanya Arsen kan? Lupakan dia, cari laki laki yang lebih baik.
"Otōsan, dō yatte shiru no? Adi no hanashi ka, soretomo watashinotomodachi?"
*Daddy dari mana Daddy tau? Adi cerita atau temanku yang lain?
"Renshū-shitsu de naite iru no ga wakarimashita. Kare wa anata ni nani o shimashita ka?
*Daddy tau dan melihat kamu menangis di ruang latihan. Apa yang sudah dia perbuat terhadapmu?
"Otōsan wa nani mo shiranainode, ippō-tekina ketsuron o kudasanaide kudasai."
*Daddy tak tau apa apa jadi tolong jangan mengambil kesimpulan sepihak.
*Yang Daddy tau dia sudah membuat anak Daddy menangis, jadi Daddy mau kamu putuskan dia. Dia laki laki tak baik.
"Kare wa yoi papadesuga, watashitachi o kono yō ni sa seta jōkyō, papa wa rikai shimasen."
*Dia baik Daddy tapi keadaan yang membuat kami seperti ini, Daddy gak akan mengerti.
"Sorekara watashi ni rikai sa sete kudasai. Subete oshietekudasai."
*Kalo begitu buat Daddy mengerti. Ceritakan semuanya.
Naomi mau tak mau menceritakan semuanya, berawal pertemuan dan sampai kejadian kemaren malam.
"Kamu tau, Daddy yakin dia pasti pilih wanita itu. Dan dia akan meninggalkan mu sayang." Wajah Akimoto terlihat sedih.
"Aku tau Daddy, tapi kami masih belum putus dan aku gak bisa langsung mencari pengganti."
"Daddy tau kamu memang wanita setia sama seperti mommy kamu." Akimoto memeluk Naomi dan mencium keningnya.
"Sebelum ada keputusan Naomi gak bisa mencari gantinya Daddy, dan walaupun sudah putus gak akan semudah itu Daddy....aku gak mau orang lain jadi pelampiasan aku. Aku ingin perlahan dan menerima pria lain."
"Iya sayang Daddy ngerti. Tapi bukankah dia cinta pertama mu?"
"Siapa Daddy?"
"Gio kan cinta pertama mu bukan?"
"Bagaimana Daddy tau?"
"Maaf...tapi Daddy pernah baca diary kamu, waktu itu kamu nangis terus sampe gak mau keluar kamar pas makan malem. Eh taunya nangisin gio karena dia pindah ke Thailand." Naomi terkejut dan sangat malu sehingga menutup wajahnya.
"Daddy...ih...kok Daddy tega sih buka buka buku diary aku."
Tak menyadari ada gio di belakang mereka.
"Khem...jadi kamu nangisin aku ya pas aku pindah, sampe sampe gak mau keluar kamar?" Naomi terkejut bukan main
"Gio....ih sejak kapan kamu di situ? Jangan geer ya kamu aku gak gitu." Naomi langsung berdiri
"Barusan aku dengar...jangan ngelak deh...ngaku aja ya." Goda Gio
"Nggak."
"Iya." Gio berlari dan Naomi mengejarnya
"Nggak."
"Iya....ngaku aja deh."
"Nggak." Ucap Naomi lagi
"Nggak." Ucap gio
"Iya.." ucap Naomi
"Tuh kan ngaku. Hahaha."
"Salah kamu jebak aku ya..." Naomi lari mengejar gio sekencang mungkin dan karena gio tersandung kaki sofa sehingga dia oleng dan jatuh ke sofa sedangkan Naomi yang lari tambah kencang gak bisa mendadak berhenti malah ikut terjatuh di sofa sehingga menindih badan gio.
Mereka saling bertatapan sambil terengah engah karena kehabisan nafas akibat berlari tadi
"Ups....sorry ganggu...silahkan dilanjut." Ucap Jihan
"Eh...anak kecil tutup mata, ayo pergi." Adi menutup mata Jihan
"Apaan sih emang aku anak kecil apa?" Ucap Jihan tak terima disebut anak kecil
"Kalo bukan anak kecil, mau gak kayak tadi sama aku..." Jihan terkejut bukan main
"Maksud kamu apa Adi? Awas siah macem macem bejakeun ka uncle Akimoto, biar di tendang." Ujar Jihan
"Jangan dong cantik...jangan gitu...kan kamu calon istri aku."
"Emang aku udah terima kamu?"
"Emang belum gitu? AH....babang ganteng kecowa deh. "
"Emang Lo kaya kecowa, menggelikan."Jihan menggidikan bahunya.
"Cinta...ayo dong jawab iya...gimana nih kelanjutannya hubungan kita?" Adi merajuk
",Adi...emang kamu serius gitu? Gak main main dan gak bercanda kan?" Tanya Jihan
"Gue serius cinta....gue sayang sama Lo...dah dari dulu gue cinta sama Lo tapi gue takut lo tolak dan akhirnya Lo jauhin gue." Adi menatap serius Jihan
"Gue butuh waktu, gue mau hilangin perasaan gue buat Ivan dan gue juga pengen liat lo buktiin keseriusan Lo. Ingat...jangan tebar pesona lagi sama cewek cewek yang lain."
"Ok. Berarti Lo kasih gue kesempatan kan? Berarti kita pacaran dong sekarang?"
"Bukan begitu Adi...." Adi langsung memotong ucapan jihan
"Fix...kita pacaran. Kan kamu kasih aku kesempatan berarti kita pacaran, kan gak langsung nikah. Kaloau buat hilangin perasaan kamu ke Vian berarti biarkan aku berada di sampingmu mulai sekarang. Ok."
"Kumaha maneh we lah. Sabebasna maneh we." Kesal Jihan namun terulas senyum di wajahnya.
*Terserah kamu aja deh, sebebas kamu aja.
"Alhamdulillah ya Allah...terima kasih atau Nikma yang kau berikan padaku..kau buat jihan mebuka pintu hatinya untukku." Adi mengangkat kedua tangannya menengadah ke atas seakan sedang berdoa
"Lebay.." ucap Jihan
"Kok lebay sih...kan harus bersyukur. Makasih ya sayang." Adi mengecup pipi Jihan lalu dia lari.
"Adiiiiii...." Teriak Jihan
"Dasar c*cunguk satu ini, hehe bisa aja hibur hati aku. Adi...aku yakin kamu bisa sembuhkan hati aku dan menggeser kembali na Vian dengan namamu. " Gumam Jihan sambim tersenyum bahagia.
***
Thanks udah mau baca, jangan lupa like, vote and comment ya guys
Hilangkan jejak biar aku tambah semangat.
See you next chapter
Bye 🤗 😘