One Night In Singapore

One Night In Singapore
Penyesalan



Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan, Arsen sejak pagi sudah bertemu dengan pamannya untuk menyelesaikan permasalahan keluarga yang menurut Arsen sangat tidak bijak jika masih berlanjut, sebagai seorang keponakan dia lebih baik mengalah dengan memberikan sisa harta kakeknya untuk sang paman, dengan begitu semua masalah selesai. Toh dia masih mempunyai saham yang besar di perusahaan miliknya.


Flashback


Sekitar jam 7 pagi Arsen sudah berada di meja makan dan sudah berencana pukul 8 dia harus sudah berangkat menuju mansion sang uncle.


Dia sarapan ditemani Andre juga Jodi. Kebetulan semalam Jodi datang dan memberikan sedikit laporan hasil investigasi nya selama beberapa Minggu yang lalu.


Setiap makan selalu dilalui dengan suasana sepi jika hanya Arsen yang makan namun jika sudah ada Jodi dan Andre suasana berubah menjadi lebih riang karena kedua sahabatnya ini sering sekali bercanda gurau.


"Sen, tau gak aku tadi malem ketemu siapa coba?" Tanya Jodi sambil melirik Arsen dan yang di tanya cuek saja dengan makanannya. Hanya mengunyah dan melirik dan kembali ke makannya.


"Sen, jawab dong...tau gak gue tadi malam ketemuĀ  sama siapa?" Jodi menunggu reaksi Arsen dan yang ditanya cuma mendehem aja "emmm"


"Hahahaha" sontak andre yang melihat reaksi Arsen ketawa gimana tidak liat Jodi kasian banget sih...gak dianggap sama Arsen.


"Diem Lo banci kaleng." Jodi mendengus


"Sialan Lo bilang gue banci...dasar colokan listrik...." Sengit Andre


"Kenapa Lo bilang gue colokan listrik?" Suara Jodi meninggi gak mau disebut colokan listrik


"Nah Lo ngapain panggil gue banci kaleng?" Andre tak kalah sengit


"Kan Lo jomblo gak punya pacar, gue kira sih Lo gay kan? Gue gak pernah tuh liat Lo bawa pacar...gue ajak ke club' juga gak pernah sentuh cewek. Berarti Lo sakit kan? Anu Lo gak bisa berdiri atau emang suka samurai Lo?" Andre bener bener marah


"Eh colokan listrik, sorry sorry to say ya...gue main bersih man...gue jaga kejantanan gue buat istri seorang dan gue juga mau yang virgin. Gak kayak Lo colok sana colok sini kesetrum ****** Lo." Jodi langsung nganga dengar Andre masih perjaka.


"Hahahahaha yang bener Lo masih perjaka? Ya ampun luar biasa ya, kok Lo bisa tahan sih Deket cewek tapi gak asyik asyik....rugi Lo."


"Udah diem." Suara Arsen menggelegar membuat Jodi terdiam dan Andre menutup mulut ketika mau menjawab balik ucapan jodi.


Melihat temannya langsung diam Arsen sedikit kasian juga sih.


"Emang siapa yang Lo liat semalam jod?" Tanya Arsen


"Gue ketemu Miss Cathy...cewek yang dulu tergila gila sama Lo. Dia tanyain Lo tuh...sampe sampe dia merajuk peluk gue, sialnya pacar gue liat dan marah sama gue. Dasar Cathy kucing sialan." Jodi mendengus


"Hahahaha...kasian banget Lo...tapi bagus sih biar ditinggal sama iren, soalnya kan Lo playboy cap burung Pipit." Jodi langsung menoyor kepala Andre


"Cewek gue bukan iren.." belum selesai langsung di potong Andre


"Lo ganti lagi bro? Siapa lagi yang Lo pacarain? Emang cuma buat sebulan ya cewek Lo." Andre menggeleng gelengkan kepala.


"Vani...sekarang namanya Vani. Ya udah sebulan ganti dong bro...sama Vani baru 3 Minggu man...kan seminggu lagi sayang masa udah keburu putus." Arsen hanya menatap sekilas dan fokus ke makanan.


Mereka akhirnya selesai juga sarapan walaupun lumayan dengan suasana heboh karena kelakuan kedua sahabat Arsen. Sekarang mereka berada di dalam mobil Arsen menuju keansion pamannya.


"Mana laporannya selama beberapa Minggu yang lalu?" Dan Jodi langsung memberikan amplop coklat ke tangan Arsen. Di sana ada banyak photo dan kertas hasil laporan dari pengintaian jodi juga pencarian Arnold sang hacker.


"Kamu yakin dia tak ke mana mana?" Jodi mengangguk


"Selama 3 Minggu memang uncle gak kemana mana hanya ke mansion dan perusahaan nya saja. Itupun jarang karena sekarang sudah ada Mike yang melanjutkan kepemimpinan."


"Ini bukannya photo James ya? Kok bisa ada photo dia di kantor uncle? Memang mereka ada hubungan bisnis ? Jodi mengangkat bahunya.


"Mungkin, bisa jadi. Coba kamu tanya bukannya dia sahabat Lo pas SMA dulu?" Andre merasa itu tidak salah maka menyarankan Arsen untuk menelpon.


" Gak usah...nanti saja. Toh gue dah gak punya no nya." Ujar Arsen dengan nada cuek merasa itu bukan hal yang penting


"Ya mungkin James mau mengajukan kerjasama dengan Mike, mengingat kalian bertiga dulu berhubungan dekat di SMA."


"Bisa jadi." Jawab Arsen singkat tanpa ekspresi.


Meraka sampai di sebuah mansion yang sangat luas, jika tamu datang maka akan langsung disuguhkan dengan taman yang luas dan asri..di bawah pohon rindang sudah ada kursi kursi untuk bersantai yang di depannya disajikan bunga bunga, apalagi bunga anggrek. Kebetulan aunty molly suka sekali dengan bunga anggrek.


Di sebelah kanan pojok ada air terjun buatan yang cukup besar dan diberikan bebatuan di bawahnya seakan akan memang air terjun asli yang berada di hutan. Sungguh pemandangan yang sangat indah dan menyejukkan mata dan hati.


Mereka bertiga juga para pengawal di mobil yang lain turun menuju ke arah pintu utama. Dua orang bodyguard berada di depan dan ketiga orang yang tak lain Arsen Jodi dan Andre berada di belakang nya dan yang terakhir 5 orang bodyguard di belakang sang bos.


Sang bodyguard mengetuk pintu dan tak lama ketukan ke 3 langsung pintu dibuka oleh seorang wanita paruh baya yang sudah Arsen kenal.


"Bibi Marta, boleh kami masuk? Tanya salah satu bodyguard tersebut.


"Sebentar tuan. Saya ijin dulu.." belum bibi Marta menutup sudah ada suara di belakang nya


"Siapa bi..." Suaranya terdengar lembut, siapa lagi kalo bukan aunty molly.


"Itu nyonya... seperti nya tuan Arsen." Molly langsung tersenyum dan minta bibi Marta membuka pintu.


"Silakan masuk tuan Arsen." Bibi Marta menunduk mempersilahkan semua masuk dwnganbuka pintu lebar lebar


"Aunty, how's life?" Arsen tersenyum lembut


"Fine, and you? But...there ia something problem sen? Sampai sampai datang banyak begini. Rasanya seperti aunty mau disergap. Hahah." Arsen agak tidak enak memang seperti itu kelihatannya.


"Where's uncle? I need to talk to him."


"Oh...just a moment." Aunty langsung naik ke lantai dua untuk memanggil suaminya dan tak lama seorang laki laki paruh baya yang usianya 3tahun dibawah Dady nya Arsen datang.


Memang sudah mulai banyak keriput tapi masih terlihat tampan dan gagah. Dia melangkah dengan tenang sambil menatap ke arah keponakan nya yang dia rindukan. Dulu ketika masih kecil Arsen sering digendong oleh uncle nya namun kejadian beberapa tahun lalu membuat hubungan nya menjadi renggang bahkan hancur.


"Arsen, kau di sini? Rasanya sudah sangat lama sekali ya...kapan terakhir kamu menginjakkan kaki mu ke sini?" Suara yang tegas namun tetap lembut.


"Uncle...tidak perlu basa basi...aku ingin tahu kenapa uncle masih mencoba membunuhku? Apa tidak cukup grandpa jadi korban?" Ucap Arsen dingin dengan tatapan tajam Nya.


"Apa maksudmu Arsen, uncle tidak pernah mencoba membunuhmu. Kamu adalah keponakan ku. " Sungguh uncle sangat terkejut mendengar hal itu.


"Jangan sok suci dan pura pura tak tahu uncle...bukan kah kau menyuruh anak buahmu mbunuhku, bahkan sampai ke Indonesia mereka datang?"


"Aku tidak pernah menyuruh siapapun. Kau tau itu?" Paman Arsen berteriak meluapkan kekesalannya


"Kau ingin harta warisan kan uncle... silahkan ambil. Aku tak butuh. Sisa saham dari grandpa 15% dan aku tak akan membagi dua dengan Dady jadi ambil saja semua. Yang penting masalah selesai." Jawab Arsen dingin.


"Cukup Arsen...aku tak mau mendengar lagi masalah warisan." Arsen menyunggingkan bibirnya lalu tertawa...


"Hahaha...apa aku percaya? Tidak uncle...karena keserakahan mu grandpa meninggal. Maka ambil saja warisannya. "


Merasa tertekan akan masa lalu, paman Arsen membanting vas yang besar di samping dia berdiri.


"Cukup Arsen..cukup...aku sudah menyesal. Jangan ungkit lagi... bagaimana pun aku sangat menyayangi ayahku sendiri." Uncle terduduk di bawah dan menunduk sambil menangis dan berteriak


"Arrrrrgh...hiks hiks... seandainya waktu bisa diputar...aku gak akan mau warisan itu. Lebih baik aku tak dapat warisan daripada ayahku sendiri yang menjadi korban. Aku sungguh menyesal. " Dengan suara lirih pamannya masih tertunduk. Dan sungguh Arsen bingung kenapa bisa seperti ini. Jadi siapa yang mau membunuhnya?


"Jika bukan uncle yang maubunuhku, jadi siapa?" Selidik Arsen


"Aku sempat bekerja sama dengan seseorang yang membencimu, saat itu aku buta akan dendam dan amarah...kami bekerjasama untuk meruntuhkan perusahaan mu tapi tidak dengan nyawamu." Arsen Sakin penasaran


"Siapa uncle?"


"Dia adalah..." dor..dor..dor


Sebelum paman Arsen melanjutkan suara tembakan terdengar dan uncle tersungkur ke bawah dan bersimbah darah.


Flashback end


Semalaman kami menunggu uncle berharap dia akan melewati masa kritis nya...kami khawatir karena semalam uncle mengalami kejang dan monitor sempat mengeluarkan suara yang sama sekali tidak kami harapkan, namun berkat tindakan sigap para dokter akhirnya uncle bisa selamat.


Pagi telah menjelang, suara di sekitar RS sudah mulai terdengar. Para office boy sudah berlalu lalang


membersihkan seluruh bagian lantai RS. Sinar matahari sudah masuk ke jendela kamar tempat uncle dirawat, diiringi harapan mata uncle akan terbuka.


"Ndre, have you gotten the info?"


Arsen menunggu hasil laporan dari sahabat nya ini. Rasanya dia tak mau menunggu terlalu lama.


"Sudah, Arnold sudah mengirimkan hasilnya, namun aku tak bisa mempercayai ini. Sungguh tak bisa ku duga sen." Raut wajah Arsen mengkerut


"Mana hasilnya, berikan padaku." Arsen berbicara datar menyembunyikan atau lebih tepatnya mencoba mengontrol biar dia bisa lebih siap menerima kenyataan jika ternyata di balik kejadian ini adalah orang orang terdekat nya.


"Kamu yakin? Tapi aku anjurkan jika uncle udah sadar kau tanyakan lagi biar lebih pasti." Andre tau pasti ini agak sulit diterima mengingat sang pelaku tidak pernah ada masalah dengan keluarga Arsen.


"Ya." Arsen mengambil amplop yang berisi kertas, photo dan rekaman.


Tak lama aunty molly teriak dan membuat mereka semua menolehkan kepalanya.


"Dokter..dokter...suami saya sudah sadar." Arsen tersenyum bahagia dan terlihat beberapa dokter berlari menuju ruang perawatan uncle.


Sambil menunggu hasil dari dokter Arsen melihat laporan yang sudah dikerjakan anak buah sekaligus sahabatnya ini.


Terlihat beberapa photo ketika uncle duduk berdekatan di salah satu restoran ternama dengan seseorang, berjabatan tangan dan saling merangkul.


Bagi Arsen itu hal biasa mungkin mereka mempunyai hubungan kerja sama bisnis. Sampai akhirnya dia memutar rekaman dan video yang dia dapat. Ternyata...


"Jadi selama ini dia....." Sungguh Arsen tak menyangka. Rasanya tak percaya. Kenapa? Hanya kata itu yang terpikir di pikiran Arsen.


****"*


See you next chapter, thanks


Don't forget to vote and comment ya.