One Night In Singapore

One Night In Singapore
Sesak



Ketiga sahabat Naomi sudah kembali ke Jakarta dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang dokter, begitupun dengan Naomi yang masa cutinya sudah habis dan harus kembali.


Dua hari ternyata cukup singkat juga jika kita lewati dengan hati yang senang. Naomi cukup puas dengan cutinya karena masalah yang dia hadapi bisa sedikit dilupakan sejenak dan sakit hati yang menyergap juga sedikit terobati dengan ada gio di sampingnya selama masa cuti di Bandung.


Hari ini Naomi harus kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas nya. Menurut Naomi 2 hari cukup untuk Arsen memikirkan siapa yang akan dia dipilih. Namun Naomi tak banyak berharap jika melihat sejarah dari Hanna dan Arsen.


"Naomi, sebelum kami berangkat Daddy mau bicara dulu sayang." Akimoto menepuk sofa di sampingnya


"Ya dad, apa yang Daddy mau bicarakan. Mom..duduk sini ikut kumpul." Naomi melihat Vina berjalan dari dapur


"Ya sayang...ada apa nih...kayaknya ada yang mau bicara serius deh." Kening Vina berkerut melihat suami dan anaknya bergantian.


"Gak tau nih Daddy, katanya ada yang mau di omongin." Naomi mengangkat bahunya


"Daddy ingin tanya, jika...Arsen memilih wanita itu, bagaimana?" Naomi terdiam dan menghela napas


"Mungkin ini sangat berat, emmm karena, aku...baru merasakan rasanya mencintai sedalam ini Daddy...tapi aku gak bisa egois...jika itu terjadi...aku.... aku akan melepasnya dengan ikhlas." Naomi berbicara sedikit bergetar dan tercekat. Akimoto dapat melihat begitu dalam perasaan Naomi untuk pacarnya.


"Apa perlu Daddy bunuh wanita itu, supaya dia memilih mu mu little girl?" Akimoto mengangkat sebelah alisnya.


"Daddy....jangan bercanda. Itu tak baik. Gak lucu tau gak?" Naomi tersenyum kecut


"Oh ayolah...cuma dipotong potong aja..." Santai Akimoto


"Apanya yang dipotong potong Daddy?" Naomi membesarkan matanya.


"Ya kue nya lah. Kami ini ... tenang, Daddy sudah pensiun jadi mafia, itu karena bidadari surga ku ini." Akimoto memeluk Vina dengan mesra. Dan Vina hanya tersenyum lebar.


"Daddy hanya ingin buat aku cburu kan? Melihat kemesraan kalian. Ish...licik." cibik Naomi


"Jika kau cemburu pada mereka, aku bisa kok memelukmu Naomi." Gio datang tiba tiba dari arah pintu sambil tersenyum.


"Ah gio...kau ada ada saja...nanti pacarmu marah padaku. Dan aku gak mau menjadi seorang pelakor." Jawab Naomi.


"Naomi...aku tak punya pacar, sang mantan pun tak ada, kau tahu...aku cowok paling dingin di Thailand." Ucap gio sambil mendudukkan dirinya di sofa berhadapan dengan Naomi


"Mana mungkin...aku tak percaya...lihat dirimu...kau ganteng, berkarisma, sukses..mana ada wanita yang tak mendekati mu."


"Aku bilang bukan wanita tak mendekati ku tapi aku yang dingin terhadap mereka Naomi."


"Oh...jangan bilang....kami lebih suka ...oh my God...gue gak percaya...gak sanggup rasanya ku sebutkan." Naomi membelalakkan matanya dan menutup mulutnya. Spontan gio pun mencubit hidung Naomi.


"Aku normal Naomi...aku suka wanita..buktinya aku cinta kamu." Santai gio dan Naomi sekali lagi membesarkan bola matanya.


"Kau bercanda... gio... hentikan candaanmu itu." Ucap Naomi


"Aunty...uncle...aku ingin menikahi Naomi...apa boleh?" Ucap gio dengan penuh keyakinan


"Ah....memang tak salah pilihanku ini..tentu saja aku merestui mu nak...miliki dulu hatinya, jika dia bersedia aku bisa nikahkan kalian segera. "


"Aunty setuju dan akan bahagia jika Naomi juga bahagia. Tak masalah bagi aunty dengan siapa Naomi menikah."


"Kamu lihat...restu dari kedua orang tua mu sudah kudapatkan, tinggal dari mu. Yes or no." Ucap gio


"Gio... Jawabannya sudah pasti no...kami ini melamarku atau apa Hem? Sungguh tidak romantis." Ucap Naomi.


"Baiklah, tadi hanya spontan saja aku melamarmu...karena kau meragukan kesungguhanku, nanti...kita lihat nanti..aku akan melamarmu sampai kau tak akan bisa menolak ku." Ucap gio tersenyum.


"Dasar kau." Cebik Naomi


"Baiklah aku gak bisa pergi terlalu sore, senin aku kerja pagi jadi aku harus berangkat sekarang. Biar sampai rumah tak terlalu malam." Ucap Naomi langsung berdiri danencium punggung tangan Vina dan Akimoto


"Hati hati di jalan dan telp jika kamu sudah sampai di sana." Ucap Vina


"Baik mom...tenang aja aku akan telp saat aku mendudukkan diri ku di sofa rumahku." Senyum Naomi terpampang di wajah cantiknya.


"Sini kuncinya, aku yang nyetir." Gio menjulurkan tangannya


"Kenapa kamu yang nyetir, emang kamu mau ke Jakarta? Trus bagaimana dengan mobil mu?' tanya Naomi heran


" Aku memang mau ke Jakarta, dan mobilku sudah berangkat ke Jakarta duluan tadi sejam yang lalu di bawa sama Eza." Ucap Naomi


"Siapa Eza?"


"Eza sekertaris aku." Jawab gio santai.


"Ya bagus kalo gitu Daddy dan mommy akan tenang jika ada gio, kan kalian bisa bergiliran untuk nyetir kan? Jadi kak terlalu capek." Ucap Akimoto


"Titip Naomi ya gio." Ucap Vina


"Nitip my little girl ya...buat dia selalu bahagia. Kau bisa kan son?" Akimoto menepuk bahu gio


"Siap aunty, uncle...gio cuma bisa berusaha namun tak bisa janji apa yang gio lakukan bisa membuat Naomi bahagia. Hanya usaha yang bisa gio janjikan." Gio mencium punggung tangan Vina dan Akimoto


"Kami pamit ya mom, dad.. i Will Miss you so much." Naomi mencium kedua pipi orang tua nya


"Assalamualaikum.." ucap gio dan Naomi


"Waalaikmslm...hati hati ya" ucap Vina dan gio juga Naomi sudah masuk ke mobil dan Vina juga Akimoto memperhatikan sampai mobil itu menghilang tak terlihat.


Pukul 9 malam Naomi sampai di apartemen nya, dia merebahkan badannya di sofa, begitupun dengan gio..rasanya punggung pegal sekali. Tak lama Naomi teringat jika sudah sampai pasti akan telpon.


Diangkat nya handphone dan langsung menekan nama 'my beautiful mom' di handphone miliknya. Naomi memberitahukan jika dirinya baru saja sampai di apartemen.


Gio dijemput Eza dan tak lama mereka pun pamit pulang ke apartemen milik gio.


****


Hari ini Naomi sudah siap dengan rutinitasnya...tidur yang cukup dan menghilangkan pikiran pikiran negatif dan menghela napasnya dengan teratur membuat perasaanya lebih baik.


"Ayo naomi, semangat." Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Naomi melangkahkan kakinya ke ruangannya dan menyimpan tasnya, ketika dia keluar dari ruangan nya ternyata Hendrik hendak masuk ke ruangan Naomi.


"Kak Hendrik?" Tanya Naomi


"Ada perlu apa?" Lanjut Naomi


"Oh tidak aku cuma mau bilang nanti kita ada operasi jam 2 siang, bantu aku bisa kan?" Tanya Hendrik


"Ok. Memang pasiennya kenapa? Pasienmu atau yang baru dilarikan ke UGD?"


"Semalam ada tabrakan beruntun dan RS terdekat sampai kehabisan tempat, jadi ada satu orang yang dilarikan ke sini. Semua sudah disiapkan dan mungkin pukul 2 kita siap operasi. Sekarang sedang di cek keseluruhan dulu, takut ada yang salah..dokter ahli tulang juga ikut kita, nanti kita ada 4 dokter termasuk saya dan kamu, juga beberapa perawat dan dokter anastesi." Naomi menganggukkan kepalanya.


"Baiklah kita meeting dulu di ruangan ku, karena semalam aku yang terima dia." Ucap Hendrik


Naomi dan ketiga dokter mengadakan meeting dadakan untuk membahas operasi yang akan dilakukan siang nanti. Kira kira pukul 10 mereka baru selesai dan Naomi melihat Adi di sana.


"Hai di...kau masuk pagi?"


"Oh..ya..aku mau tak mau masuk pagi..katanya akan ada operasi besar nanti siang jadi gak ada yang jaga di UGD."


"Oh ya... bagaimana keadaan Arsen?"


"Dia baik hari ini dia bisa pulang kok. Kamu belum ke sana?" Naomi menggelengkan kepala nya.


"Aku langsung meeting, jadi belum sempat ke sana." Ucap Naomi


"Ya sudah temui dia, dari kemaren dia menanyakan mu terus." Ucap Adi


"Iya. ini aku mau ke sana." Jawab Naomi


Naomi melangkahkan kakinya menuju ruangan Arsen.. beberapa langkah sebelum masuk ke ruangan Arsen, naomi menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk menenangkan diri nya.


Langkah demi langkah akhir nya sampai di depan pintu ruangan. Naomi mengetuk pintu.


Tok..tok..tok...permisi.


Ceklek..pintu Naomi buka perlahan dan terlihat Arsen yang sedang duduk di ranjangnya.


Naomi terkejut dengan apa yang dia lihat..sungguh sesak rasanya...namun dia harus siap menerima. Bukankah dia bilang akan ikhlas melepasnya? Namun kenapa masih sesesak ini.


"I love you Arsen...emmmmnh." Naomi yang melihat mereka sedang berc*uman pun tak bisa berlama lama di sana.


"Ma...maaf mengganggu. Silahkan lanjutkan." Ucap Naomi langsung berbalik melangkah kan kakinya secepat mungkin.


Arsen sungguh terkejut dengan kehadiran Naomi yang tiba tiba...dia mendorong Hanna dengan kasar dan mencoba mengejar Naomi.


"Naomi...Naomi...tunggu." Naomi yang dikejar pun sudah masuk lift menuju rooftop.


"Naomi....shit! Kenapa jadi begini sih?" Arsen sungguh kesal dan marah...tepatnya marah dan kesal terhadap diri sendiri.


Naomi yang sudah sampai di rooftop langsung berteriak dengan kencang.


"Aaaaaaaaaaaaaa....hiks...hiks .. ..aaaaaaaaaaaa." Naomi sungguh tak sanggup...2x dia dihianati namun kali ini lebih sakit.


"Kenapa dengan diriku ini....hiks .hiks...aku tak bisa begini....mana Naomi yang kuat...mana? Teriak Naomi sambil memukul dadanya sendiri


"Mana Naomi yang dulu... MANA? Teriaknya lagi. Naomi tahu dengan kejadian itu sudah jelas Arsen pasti memilih Hanna, bukan dirinya. Naomi menarik nafasnya dan setelah tenang dia telp Daddy nya.


"Daddy... assalamualaikum..."


"Ya honey...kamu kenapa? Kamu nangis?" Akimoto merasa cemas terhadap anaknya.


"Gak penting Daddy...yang penting sekarang, aku butuh bantuan Daddy..."


"Apa sayang...apa yang kamu butuhkan pasti Daddy kasih."


"Aku mau pindah kerja ke RS yang ada di new York. Bisa Daddy bantu? Bukankah ada saudara kita di sana?"


"Kenapa mendadak sekali sayang?"


" Bulan depan dad...2 Minggu lagi. Jika bisa aku akan siap siap resign dari sini."


"Baiklah...aku mengerti. Nanti malam Daddy kasih hasilnya ok. Sabar ya."


"Thanks dad, see you. Assalamualaikum."


"Ok. waalaikmslm."


******


Wah gimana ini kalo pergi kasian gio juga loh Naomi...


Thanks for reading and don't forget to vote and comment ya


See you next chapter


Bye 🤗😘