
"gio...gio.. sadar Yo..." Dasha sangat khawatir dengan keadaan gio saat ini.
Dasha berusaha menggendong badan gio, walaupun dia kesusahan menggendong gio, namun dia berhasil sampai ke mobil gio yang terparkir di bawah pohon.
Dasha memasukkan gio ke dalam mobil dan mengendarainya dengan cepat. Dia berusaha secepat mungkin untuk sampai ke RS dengan segera.
Sampai di UGD langsung semua perawat mengangkat gio dan menidurkan nya di blangkar.
Seorang dokter langsung membawanya masuk ke ruangan tindakan dan pintu pun di tutup dengan rapat.
Dasha sungguh bingung harus menghubungi siapa, dia tak tahu keluarga gio, melihat darah yang mengucur membuat Dasha kaget bukan main, dia khawatir akan terjadi apa apa terhadap Gio.
Dasha melihat jaket gio, untuk mencari benda pipih itu dirogohnya saku dan benar saja di situ ada handphone milik gio. Dia melihat panggilan terakhir dan tertera my little aom.
Dasha yang melihat nama yang tertera itu dapat mengerti jika itu bukan sekedar panggilan tapi pasti nama seseorang yang sangat berarti.
"Apa ini adiknya?" Gumam Dasha
Dasha langsung menghubungi nama ya tertera itu, berharap itu memang adiknya dan bisa berbicara dengan orang tua gio dan memberikan kabar gio saat ini.
"Hallo... Yo... kenapa?" Dasha kaget karena suara di balik telpon ini terdengar bukan suara anak kecil. "Apa ini kakaknya?" Itu pikiran Dasha saat ini.
"Hi....emm Good evening?" Suara itu terdiam sesaat.
"Yes... Hai.. is it gio's handphone?"
"Yes... Emm i just want to tell you that gio in the hospital right now. Something worst happened."
"Ya Allah... Wait...wait... Gio in the hospital?"
"Yes... Are you his family? Because i don't know any else. "
"Oh... Yes...emm he is like my brother."
"Can you come here?"
"Yes, but i need time to get there. I am in Indonesia."
"Oh...ok.. i Will wait you here. In the hospital."
"Thank you so much, please take care of him."
"Ok... See you."
Telpon berakhir dan Dasha merasa sudah melakukan tugasnya dengan memberitahu kan salah satu keluarga Gio.
Dasha sudah menunggu sekitar satu jam, dia mondar mandir di depan pintu. Tak lama seorang dokter cantik keluar dan Dasha menghampiri nya dengan cepat.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" Dokter itu tersenyum manis
"Anda keluarga pasien?" Dasha menganggukan kepalanya
"Untung lukanya tidak terlalu dalam dan tidak melukai organ dalamnya, memang apa yang terjadi? Saya melihat luka seperti paku yang tertusuk." Dasha termenung mengingat kejadian tadi.
"Iya dok, tadi kami di serang oleh dua pria dan salah satu dari mereka memukul pakai balok kayu.... Apa mungkin di kayu itu ada pakunya dok?" Dokter menganggukan kepalanya. " ya sepertinya begitu....jika anda perlu visum, akan kami sediakan."
"Terima kasih dok, tapi bagaimana keadaannya sekarang?"
"Tunggu sadar dulu, nanti kita cek lagi karena kepalanya seperti nya terkena benturan juga jadi ada luka di dahinya."
"Sebentar lagi akan kami pindahkan ke ruang perawatan, jadi jangan khawatir ya..."
"Oh ya.. jika sudah sadar, tolong panggil perawat biar nanti kami periksa kembali keadaannya." Dasha mengangguk dan tersenyum.
Dasha yang melihat ranjang gio di dorong langsung ikut mengikuti dari belakang.
Gio dipindahkan ke ranjang yang sudah tersedia di ruangan itu namun gio masih belum sadar, dia terlihat seperti tidur lelap.
Dua jam sudah berlalu dan Dasha tertidur di sofa ruang kamar itu.
***
Gio terbangun dan kepalanya terasa pusing, saat ini dia berada di sebuah ruangan yang putih dan tak ada siapapun di sana.
Melihat sebuah infusan sudah jelas dia tahu berada di mana saat ini. Dia mencoba bangun namun punggungnya terasa sakit, pantas saja tidurnya miring, namun dia merasa tangan kirinya kebas karena tidur miring ke kiri.
Tak lama terbuka pintu dan matanya langsung menatap ke sana, seorang gadis cantik datang dan tersenyum senang melihat nya telah sadar lalu berlari memeluk gio.
"Gio...kamu sudah sadar?" Gio mengeryitkan dahinya " kamu siapa? Kenapa aku di sini?" Dasha benar benar kaget karena gio tak mengenalinya.
"Kamu jangan bercanda gio... Masa kamu amnesia." Dasha khawatir lalu memijit tombol untuk memanggil perawat atau dokter.
Tak lama seorang dokter cantik masuk bersama seorang perawat.
" Dokter, itu .. dia kok gak mengenali saya ya dok, apa dia amnesia dok?" Dokter itu tersenyum manis dan meminta Dasha untuk keluar supaya bisa memeriksa gio dengan fokus.
Setelah selesai perawatan itu mempersilahkan Dasha untuk masuk kembali ke ruangan tersebut.
" Nona, kondisinya saat ini lumayan bagus, namun lukanya masih basah dan masih butuh perawatan. Untuk amnesia nya, saya belum bisa memastikan, harus ada pemeriksaan berikutnya. Nanti saya jadwalkan untuk scan bagian kepala ya." Dasha menganggukan kepalanya mencoba memahami semua yang dokter sampaikan.
"Baiklah saya ijin undur diri dulu. "
"Terima kasih dokter."
Dokter tersebut meninggalkan ruangan dan di sana hanya ada gio dan Dasha saja.
"Emmm gimana keadaan mu Yo?" Ucap Dasha canggung mengingat tadi dia tanpa sadar telah memeluk Gio.
"Kamu siapa sih? Kok bisa di sini?" Dasha terlihat sendu " kamu benar benar lupa aku ya?" Gio menatap Dasha begitu intens, dia dapat melihat kekhawatiran juga rasa sedih di mata Dasha.
Tak lama pintu di buka dan masuk seorang wanita yang seksi berpakaian minim.
"Gio....kamu kenapa sih? Aku khawatir tahu gak?" Gio merasa risih melihat cewek ini menempel nempel di bahu Gio.
"Apaan sih..kok kamu tahu aku di sini?" Gio merasa heran.
"Kamu gak Dateng ke kantor dan siang ini kita ada meeting, ya sudah aku hubungi no kamu, eh cewek ini bilang kamu ada di RS sedang di rawat dan semalaman belum sadar sampe tadi pagi."
"Semua schedule sudah aku bereskan, aku cancel dulu. Dan aku ke sini mau tanya, apa meeting nya di wakilkan Eza saja?" Gio terlihat berpikir.
" Ya, suruh Eza saja, toh Eza sudah tahu dan itu client yang masih bisa ditangani Eza kok." Dasha melihat mereka begitu dekat, sangat dekat.
"Evelyn.. tolong jangan begini, aku risih tau gak "
"Gio...Di kantor ok Lo bos gue, tapi di luar kantor, gue kan teman dekat Lo."
"Iya cuma teman kan, jadi jangan nempel gini ah.." gio melirik Dasha dan Evelyn bisa melihat itu.
" Oh kamu gak nyaman karena ada dia, iya?" Evely melirik Dasha
"Eh Lo...siapa nama Lo.. emmm Dasha iya...Dasha. Lo keluar sana. Masa mau di situ terus sih. Mau liat yang pacaran?" Dasha terlihat sendu dan pergi meninggalkan mereka berdua.