
"Arsen........tidak mungkin kan aku melihat nya di sini?" Gumam Naomi dan tanpa terasa menetes sebutir air bening dari mata nya.
Dan dia terdiam di tempatnya. Melihat gio yang melirik ke arah nya, dengan segera Naomi menghapus bekas air mata nya lalu tersenyum.
Gio tersenyum dan melambaikan tangannya, namun Naomi masih enggan bergerak sampai gio menghampiri Naomi.
"Hai honey...ngapain sih diem di situ. Ayo aku mau kenalin kamu ke seseorang." Naomi menelan ludah nya dengan sangat susah. Dia berusaha mengatur nafasnya. Berusaha untuk tetap tenang.
Naomi melangkahkan kakinya perlahan, tangan gio melingkar di pinggang nya.
"Permisi..." Ucap gio dan seketika Arsen dan Hanna melirik ke arah suara dan refleks mereka saling bertatapan dan jantung mereka berdegup semakin kencang.
"Emmmm Arsen...ini kekasih saya my little aom....dan sayang...ini Arsen Miller, rekan bisnis aku." Keduanya saling bertatapan sampai gio mengusap punggung Naomi.
"Oh ya...Mr Arsen Miller. Saya aom Azura, just call me Azura." Naomi menjulurkan tangannya. merekapun berjabatan tangan
"Ok... Azura...just call me Arsen." Arsen sedikit tergagap.
"I Will call you Mr Miller. Arsen, tidak begitu nyaman untukku....emmm oh wanita cantik ini...istri anda?" Tanya Naomi.
"Oh...ya kami masih merencanakan pernikahan, mungkin tahun depan. Sebenarnya saya ingin bulan ini namun dia selalu menghindar, alasannya masih sibuk." Hanna mengangkat bahunya dan tersenyum ramah.
"Hanna...call me Hanna." Naomi menjulurkan tangannya dan di sambut Hanna
"Call me azura.... Senang mendengarnya. Saya kira anda sudah menikah." Naomi mencoba mengakrabkan diri dan tersenyum.
"Sayang...mau minum?" Tanya gio sambil mencium lembut bahu Naomi yang terbuka. Dan itu membuat Arsen merasa panas dan darahnya mendidih. Dia masukan kedua tangannya ke dalam saku dan mengepalkan tangannya menahan amarah.
Naomi melirik ke arah Arsen lalu menatap gio dengan mesra.
"Terima kasih sayang ....kamu tahu aku suka apa." Naomi mencium pipi gio lalu tersenyum.
" Ya seperti biasa jus strawberry. tunggu sebentar ya." Gio tersenyum dan melirik Hanna juga Arsen. "Kalian mau minum apa?" Hanna tersenyum dan berkata " oh.... biar aku pergi dengan mu. " ucap Hanna dan ikut melangkah kan kakinya.
Di sini lah mereka, hanya berdua dan kecanggungan terjadi di sana. Arsen menarik pergelangan tangan Naomi menjauh ke arah taman belakang. Sedikit menyeretnya.
"Hentikan Mr Miller, anda menyakitiku." Naomi berusaha menghentak kan tangannya namun tidak berhasil terlepas.
Arsen terlihat marah, wajahnya merah dan matanya menatap tajam Naomi.
"Kau bahagia?" Bentak Arsen " ya...kau terlihat bahagia sekali..." Napasnya terengah engah.
"Lepaskan Mr. Miller....anda menyakiti saya " ucap Naomi dingin
"Naomi..." Arsen masih memegang tangan Naomi dan dia angkat ke atas kepala Naomi yang tersudut menempel di tembok.
"Mr. Miller...anda sungguh berbuat seperti ini?" Naomi masih bernada dingin.
"Lepas atau saya akan bertindak. Ingat .... Saya masih lincah untuk melawan satu orang." Lanjut naomi
"Naomi...my angel..." Tatapan Arsen menjadi sendu. Naomi merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
"Please ..... Aku merindukan mu." Arsen memeluk Naomi dan mencium bahu Naomi dan Naomi mencoba menghindar.
"Jangan lakukan itu Mr Miller...anda tidak sopan." Dalam hati Naomi juga tidak bisa membohongi dirinya jika dia juga merindukan Arsen. Namun dia sudah bukan miliknya. Rasanya tidak pantas hal ini terjadi.
"Naomi...please..." Arsen menetes kan air mata nya lalu secepatnya menghapus karena terdengar suara Hanna memanggil nya.
"Arsen...honey...." Teriak Hanna memanggil Arsen.
Naomi bergeser dan berkata. " Kami di sini." Hanna dan gio mendekat. "Maaf kami pindah ke sini, di dalam agak panas dan kami hanya mencari udara segar." Ucap Naomi mencari alasan.
"Tak apa apa sayang, yang penting Arsen tak membawamu pergi dari hidupku. Hahaha." Ucap gio menggoda namun keduanya hanya terdiam dengan kecanggungannya.
"Ya...terpikir olehku untuk menculiknya gio...dia cukup imut dan menggemaskan." Arsen menjawab serius
"Kau ini bisa saja bercandanya. Gak lucu tau." Ucap Hanna
"Ya tak mungkin Arsen melakukan itu...dia calon istriku dan anda nona Hanna ..tunangannya...calon istrinya .. masa wanita secantik ini Arsen tinggalkan. Bukan begitu Arsen?" Gio masih tersenyum merasa Arsen sedang bercanda dengannya.
"Tidak ada yang tak mungkin gio... Mungkin nona Azura dengan saya dan Hanna bisa kau bawa. " Arsen tersenyum.
"Maksud anda apa? Bertukar pasangan?" Sinis Naomi
"Mungkin" Arsen tersenyum dan gio merasakan suasana yang menegangkan.
"Sayang...sayang my little aom...Arsen cuma bercanda, dia tidak serius." Gio mencoba mencairkan suasana.
"Bercanda nya gak lucu." Ucap Naomi
"Maaf...maaf..iya....aku hanya bercanda." Ucap Arsen
"Arsen...di Indonesia tidak ada tukar pasangan, jadi bercanda seperti itu tidak cocok. Berbeda dengan di negara kita sayang." Hanna merangkul Arsen. Mereka terlihat mesra. Naomi merasa terbakar dan Arsen sedikit melirik dan merasa senang dengan reaksi Naomi.
"Khem...sayang ..kapan acaranya selesai." Naomi bergelayut di leher gio dan gio merasa aneh dengan sikap Naomi yang tidak biasa.
Biasanya Naomi selalu malu dan tak mau terlihat mesra di depan umum.
"Sebentar lagi sayang.... Yo kita ke aula." Ajak gio dan mengeratkan jari jemari gio ke jari tangan Naomi.
"Mari Arsen...acaranya kita buka. Ini sudah pukul 8." Ajak gio
Acarapun dibuka oleh pembawa acara dengan sambutan dari gio juga Arsen di podium berjalan lancar dan mereka terlihat senang.
"Azura...apakah kita pernah bertemu? Emmm aku merasa mungkin kita pernah bertemu di suatu tempat?" Tanya Hanna dan Naomi terkejut dan khawarij jika Hanna ingat dengan dirinya.
Setahu dia waktu dulu di culik James, mereka ditempatkan di tempat yang berbeda, ketika bertemu pun mata dan mulut ditutup namun ketika mata kami di buka, Hanna hanya melihat nya sekilas karena kaget dengan kedatangan Arsen. Dan mata Hanna tak lepas dari wajah Arsen. Dan di rumah sakit, hanya Naomi yang melihat mereka sedang berpelukan dan Hanna membelakangi Naomi begitupun ketika mereka sedang berciuman di RS. Hanya Naomi yang melihatnya.
"Ya mungkin...kita bertemu di mall atau tempat umum namun kita tidak saling menyapa karena tak saling kenal. Bukankah dunia ini sempit, apalagi kota Jakarta." Naomi mencoba tersenyum.
"Ya kau benar...mungkin seperti itu." Naomi merasa lega Hanna tak mengingat dirinya
"Ketika kita menikah...aku harap kamu datang ya." Pinta Hanna
"Oh...aku tak tahu....mungkin jika undangan nya sebulan sebelumnya...mungkin ya...ini masih mungkin.....mungkin bisa datang. Lihat saja nanti. Saya tidak bisa janji." Ucap Naomi.
"Aku tak punya teman di Indonesia, jadi aku harap kamu datang, atau kita bisa berteman dan kadang kadang hang out bersama, bagaimana?"Hanna terlihat antusias.
Naomi sebenarnya gak mau, apalagi berteman. Ah sungguh menyebalkan.... Dia sungguh tak sanggup jika harus seperti ini. Mungkin jika dengan Hanna saja tak masalah namun jika dengan Arsen akan menjadi masalah.
"Bagaimana...please." Hanna menangkup kedua tangannya sedikit memohon dan tersenyum.
"Baiklah...baiklah... jangan memohon seperti itu. Namun aku juga ada beberapa teman. Mungkin kita juga bisa ajak yang lain sehingga bisa lebih ramai." Ucap Naomi... takut canggung jika berdua saja
"Asik...bagus. .kapan kapan kita hang out bersama. Janji..." Hanna menjulurkan tangannya
"Ya insyaallah." Ucap Naomi menjabat tangan Hanna
Tak lama datang Arsen dan gio.
"Kalian sedang membicarakan apa? Terlihat menarik?". Tanya gio.
"Itu. .aku minta Azura menjadi temanku dan mengajak dia sekali kali hang out bareng. Aku senang Arsen...aku punya teman di Indonesia jadi gak terus diantar Andre atau Jodi kalo mau ke mana mana." Terlihat senyuman mengembang di wajah Hanna.
"Baiklah ..aku turut bahagia." Arsen melirik Naomi dan mereka bertatapan namun Naomi dengan cepat memutus tatapan itu ke lantai dan tersenyum pada gio
"Kamu mau pulang?" Tanya gio, dia paham Naomi paling tak bisa lama lama berada di sebuah pesta.
"Ya...makasih udah paham keinginan aku." Ucap Naomi
"Aku antar ya?" Gio hendak melangkah kan kakinya namu tangan gio ditarik naomi.
"Gak usah Yo...aku pulang sendiri saja...kamu tuan rumah di sini...masa pulang duluan? Gak enak dengan tamu yang lain." Gio terdiam dan menatap Naomi.
"Tapi Eza udah pulang, tadi ijin pulang cepat katanya sakit kepala. Atau ya...mungkin dia sedang kencan makanya ijin padaku." Ucap gio
"Aku naik taksi saja...masih jam 9. Ok." Gio sungguh berat namun apa boleh buat .. sekarang dia yang punya acara dan gak mungkin pergi begitu saja.
"Apa perlu aku antar kamu pulang lalu aku balik lagi ke sini. GPP." Naomi menggeleng gelengkan kepalanya
"Gak ...terlalu jauh dan butuh waktu lama apalagi bolak balik Yo."
"Aku gak papa kok...kamu gak usah khawatir ya .. kamu tau aku bisa jaga diri bukan?"
"Tapi tetap saja aku tak tenang sayang, kamu wanita dan aku khawatir." Tatapan sendu di wajah gio
"Aku akan baik baik saja....aku akan langsung telpon kamu jika sudah sampai di apartemen.ok." goobpun akhirnya mengalah.
"Baiklah....tapi ingat... telpon aku jika sudah sampai atau jika ada apa apa." Pinta gio
"Siap bos." Naomi mengangkat tangan kanannya di pelipis, memberikan hormat dan tersenyum.
Arsen sedari tadi memperhatikan tingkah mereka. Begitupun dengan Hanna.
Gio memeluk Naomi dan Naomi membalasnya.
"Oh ...rasanya aku sudah merindukan mu, padahal kau belum pergi sayang." Gio menempelkan dahinya ke dahi Naomi dan Naomi hanya terkekeh saja.
"Kamu ada ada saja." Ucap Naomi
"Besok pagi aku ke tempatmu ya...kita jalan jalan ke pantai. Ok." Naomi tersenyum dan menyunggingkan senyumnya.
"Memang tidak capek?" Ucap Naomi
"Tidak ada kata capek untuk my little aom....you are my everything..." Gio mencium kening Naomi
"Oh....so sweet ...kalian ini ya....ingat ada kita di sini....kami bukan patung." Tawa keluar dari Hanna dan gio juga ikut tertawa. Naomi hanya tersenyum saja. Namun beda dengan Arsen ..keningnya mengkerut dan tangannya mengepal. Rasanya dia ingin menghilang.
"Ini namanya cinta nona Hanna...serasa milik berdua dan uang lain ngontrak. Hahahaha." Ucap gio " dan maaf kan kami yang masih mabuk kepayang." Lanjutnya.
"Baiklah aom...ayo aku antar ke depan dan ku pesankan taksi ya." Naomi menganggukkan kepalanya
Arsen dan Hanna duduk di taman sedangkan Naomi diantar gio ke depan. Tak lama taksi pun datang Naomi pulang ke apartemen nya.
Acara berakhir pukul 11 malam, semua tamu sudah pulang dan gio yang sangat kelelahan tidur di kamar hotel khusus CEO.
Naomi yang sedari tadi sudah pulang tak bisa tertidur, hanya menatap langit langit kamarnya...dan banyak pertanyaan terlintas dipikiran nya. Kenapa mereka harus bertemu lagi? Kenapa dia jadi rekan bisnis gio? Kenapa Hanna ingin berteman dengannya? Akan sangat sulit rasanya....saat ini dia sedang berusaha melupakan Arsen...
Tak lama Naomi pun terlelap dan tertidur. Baru saja tertidur 15 menit namun terdengar suara ketukan di pintu.
Tok...tok...tok....
******
Wah susah move on kalo gini ceritanya.
Ok. See you next chapter
Thanks for reading and don't forget to like vote and comment ya guys
Bye 🤗😘