One Night In Singapore

One Night In Singapore
Pertunangan



Waktu pun cepat berlalu, tak terasa sudah 2 bulan. Dan seperti yang telah dijanjikan, Naomi dan gio akan bertunangan.


Semua keluarga dan sahabat juga tamu dekat sudah hadir, keluarga gio dan keluarga Naomi sudah berada di ruangan saling berhadapan disaksikan seluruh tamu yang hadir di sana. Tak terkecuali Arsen dan Hanna.


Saat ini Naomi sedang berada di kamar dan 5menit lagi acara akan di mulai. Teman Naomi Jihan dan Sillia mendampingi Naomi.


" Naomi, Lo siap? Lo yakin dengan keputusan Lo?" Tanya jihan dan Naomi yang duduk di kursi meja rias pun tersenyum dan mengangguk.


"Di bawah ada Arsen, Lo yakin GPP? Kalo jadi Lo, gue pasti nervous banget...dan mungkin gak sanggup bergerak." Naomi terdiam atas ucapan Sillia sahabat nya


"Gue udah ngambil keputusan, dan Arsen sedari awal sudah memilih Hanna, gue bisa apa ji, sil? Dan gue gak mungkin ngorbanin perasaan gio yang udah tulus. Mau tidak mau gue harus siap dan harus bisa walaupun adanya Arsen, dia rekan bisnis gio dan teman gio juga, kan gue udah ceritain semuanya sama kalian, jadi rasanya..ini keputusan yang terbaik buat kami semua." Naomi menghela napasnya dengan berat


"Mungkin nanti kita bisa berteman, ya...suatu saat nanti walaupun butuh waktu." Lanjut Naomi


"Ya udah, kita cuma bisa mendoakan kamu saja, mudah mudahan kamu sama gio bahagia ya... Aamiin." Ucap Jihan dan di Aamiin i oleh sillia dan Naomi.


Tok tok tok suara pintu diketuk.


"Sayang ..anak bunda yang cantik...ayo cepat turun, acara teh mau di mulai." Naomi tersenyum manis


"Ya mom, kita turun...." Mereka semua turun dan Naomi duduk di tengah tengah mom dan dad nya. Begitupun gio yang diapit oleh kedua orang tuanya.


Semua orang tertuju kepada Naomi yang sungguh cantik dan lembut, terlihat feminim dan beda dari biasanya, dengan dibalut pakaian tradisional Indonesia, Naomi menggunakan kebaya dan kain sebagai bawahan, rambut yang disanggul modern disisipkan bunga di bawah rambutnya menambah kesan wanita Indonesia yang cantik, lembut dan luwes.


Mata gio tak terputus dari wajah Naomi, begitu pula dengan Arsen yang takjub melihat perubahan Naomi yang biasa menggunakan celana dan jas dokter nya, sekarang berbeda, sangaaaat berbeda.


"Seandainya yang duduk di sana itu adalah aku, pasti aku adalah laki laki yang paling bahagia di dunia ini." Batin Arsen


"Sen...kamu melamun?" Tanya Hanna


"Emmm ya.. sedikit melamun. Aku membayangkan kebahagiaan mereka. Dan menunggu jawaban mu Hanna." Ucap Arsen dan Hanna terdiam.


"Setelah ini Arsen, ada yang ingin ku bicarakan." Arsen mengangguk


Sedari tadi acara sudah di mulai...pembukaan dari pembawa acara, pembacaan ayat suci Al Quran dan sambutan dari kedua keluarga juga sudah, tinggal ungkapan dari gio dan penerimaan atau penolakan dari Naomi.


"Baiklah sekarang acara intinya, silahkan gio mengungkapkan maksud dan tujuannya kemari dan bisa langsung dijawab oleh Naomi." Pembawa acara memberikan kesempatan kepada gio.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh... seperti tadi sudah disampaikan bahwa saya dan juga keluarga ada maksud yang ingin di sampaikan." Gio begitu gugup dan menjeda ucapannya untuk menghela nafas


"Adinda Naomi Azura....kita sudah saling mengenal sejak kecil, dan perasaan itu terus tubuh walaupun jarak dan waktu telah memisahkan, rasanya saya sangat yakin jika tulang rusukku telah ada padamu dan Allah telah menjodohkan kita sejak kita berada di dalam rahim ibu kita...buktinya rasa cinta itu terus tumbuh dan tumbuh, seakan akan tak ada lagi wanita yang bisa menggeser kan namamu di hati dan pikiran ini...mungkin sedikit terdengar lebay..namun kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku...aku merasa hanya kamu satu satunya perempuan yang akan ada di kehidupan aku dulu, saat ini dan juga nanti. Aku hanya bisa berjanji akan berusaha membahagiakan mu selama itu tidak menyalahi aturan agama. Naomi Azura...aku mencintaimu karena Allah. Dan di hari ini aku ingin bertanya...maukah kau menerima cintaku yang tulus, suci murni ini? Dan mau kah hari ini kau menjadi tunangan ku dan menjadi istriku kelak sampai maut memisahkan?" Lanjut gio dengan tulus sambil menatap Naomi dengan tersenyum namun tetap terlihat gugup


Naomi terdiam dan berpikir begitu dalam kah cinta gio untuknya dan Naomi yakin dengan ketulusannya Naomi akan mencintai gio dengan sendirinya dan pasti akan bahagia.


"Kakanda gio Suparat, rasanya cinta mu begitu suci dan tulus, apa pantas itu diberikan untukku? Namun mungkin engkau benar...aku pasti bahagia dan tulang rusukmu sepertinya ada di dadaku. Maafkan jika aku nanti banyak kesalahan dan kekurangan, dengan ketulusan mu aku menerima semua perasaan mu, mudah mudahan kita bisa hidup bersama, sampai maut memisahkan kita. Terima kasih atas cinta tulus dan suci darimu. Aku sangat bahagia." Semua terlihat tersenyum bahagia.


"Alhamdulillah, sekarang silahkan bertukar cincinnya." Ucap MC dan Gio juga Naomi berdiri memasangkan cincin pertunangan nya. Ucapan syukur dan juga tawa terdengar dari acara tersebut.


Setelah itu ada acara penuturan para sahabat baik dari sahabat Naomi ataupun Jihan.


Acara berjalan dengan hikmat dan lancar, setelahnya mereka menyantap makanan dan bercanda gurau di taman. Karena untuk konsep hidangan di adakan di luar dengan konsep garden party.


Gio dan Naomi sedang duduk berdua dan berbincang bincang..membahas pernikahan yang mungkin akan berlangsung beberapa bulan lagi atau batasnya mungkin 1 th dari acara ini.



Melihat mereka duduk bersama membuat banyak pasang mata iri. Begitupula dengan kak Hendrik.


"Khem... selamat ya buat kalian berdua." Ucap kak Hendrik


"Oh hai kak...sudah menyantap hidangan?" Ucap Naomi dan Hendrik tersenyum sambil mengangguk.


"Sudah..sudah ..nanti aku keliling lagi untuk coba makan yang lain." Gio tersenyum.


"Makasih kak...selama aku gak ada, kak Hendrik yang udah jaga my little aom." Hendrik menggeleng gelengkan kepalanya


"Bukan...bukan aku...dia itu jago bela diri...mana ada aku jaga dia... lagipula dia ada pacar nya kan?" Gio tersenyum lebar


"Iya sih kak bener banget. Dari dulu Naomi emang gitu... walaupun dia wanita yang mungil, semua temannya dia lindungi, tak terkecuali teman cowok juga. Hahaha." Naomi tersenyum manis


"Bagi aku..teman itu segalanya, no 2 setelah orang tua. Di dunia ini kita hanya akan kembali kepada keluarga dan teman dekat bukan?" Gio dan Hendrik menganggukan kepalanya.


"Benar...kamu memang benar, tapi Naomi...kenapa kamu gak mau nikah sama aku sih? Aku sedikit kesal nih... padahal aku selalu ada di samping kamu, bahkan di RS juga kita sering bertemu, kenapa pilih bocah ini buat jadi suamimu bukannya aku?" Hendrik bertolak pinggang sambil tersenyum.


"Hehe...maaf kak... mungkin.....Karena cinta pertama?" Hendrik menggeleng gelengkan kepalanya lagi.


"Sungguh tak adil ini....dia pergi sangat lama, dan aku gak bisa menggeser namanya di hati mu walaupun sedikit saja? Sungguh aku kaget dan merasa ada sebuah ancaman ketika dengan ni bocah balik ke Indonesia."


Gio tertawa "ahahaha kakak ini ada ada saja...kalo begitu .... Maaf kah adikmu ini yang sudah kembali karena cinta nya. Aku memang kembali untuk my aom...gak ada yang lain. Namun jika dia menolak ku saat itu, mungkin aku balik ke Thailand lagi dan entah kapan aku ke Indonesia." Hendrik menatap keduanya.


"Aku berharap kamu bahagia Naomi...dua kalo sudah kau disakiti, jadi mudah mudahan kau bahagia kali ini. Jika dia macam macam, bilang padaku. Dan kami bocah...akan aku rebut dia jika kau menyakitinya. " Mereka bertiga tertawa " hahahha"


"Tak mungkin kak..aku akan selalu berusaha membahagiakan nya...karena sumber kebahagiaan aku itu adalah kebahagiaan mu little aom." Naomi mendelik tajam dan mendesis


"Ya sudah aku balik ke sana....mau coba makan yang lain." Ucap Hendrik.


Di lain tempat, di taman dekat air mancur duduk sepasang kekasih menyantap makanan dengan santai.


"Hanna... bagaimana..kau sudah memikirkan nya? Apa kamu yakin dengan pernikahan kita? Kau tahu aku sudah menjadi mualaf." Hanna menarik napasnya


"Sen...aku sudah berbincang bincang dengan kedua orang tua ku...aku mencintaimu Arsen...dan aku bersedia akan hal itu dan aku berharap kau bisa kembali  ke kepercayaan kita lagi." Arsen menarik nafasnya


"Aku sudah berikrar Hanna, untuk memegang agama ini...bukan karena my angel, tapi karena hati aku yang menariknya. Ku harap kau bisa menerima nya." Hanna tersenyum.


"Ya aku menerima mu, tidak apa kita berbeda agama, yang penting kita bisa bersama." Ucap Hanna tulus.


"Bersama berbeda agama sebagai teman dan sahabat aku setuju, tapi sebagai suami istri itu tak bisa Hanna... Di agamaku sekarang...kami dilarang menikah berbeda agama. Itu melanggar aturan agama. Jadi kamu mau pindah agama dan menerima atau tidak?" Tanya Arsen.


"Berikan aku waktu...aku perlu berpikir jika harus seperti itu..ku kira kita bisa tetap berdampingan dengan keyakinan yang berbeda. Aku tidak masalah pindah agama demi kamu, namun aku butuh ijin dari kedua orang tua ku. Berikan aku waktu untuk menyakinkan kedua orang tua ku Arsen. " Arsen tersenyum


"Baiklah..kapan kamu mau bicara dengan orang tua mu?"


"Besok lusa aku terbang ke Jerman, aku akan bilang tentang masalah ini..bagi aku tak masalah Arsen, yang penting aku bersama mu." Hanna menyender kan kepalanya di bahu arsen.


Acara berjalan dengan lancar dan 10 menit yang lalu telah berakhir. Tinggal kedua keluarga inti yang berada di ruang keluarga.


Mereka semua duduk di sofa untuk membicarakan tentang pernikahan nya.


"Baiklah...kita sudah berkumpul...kita saat ini ingin membicarakan tentang waktu pernikahan...kita kira kapan kalian ingin acara pernikahan berlangsung?" Tanya ayah gio


"Yah ..kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Bukan begitu tuan Mark?" Ayah gio menganggukan kepalanya dan tersenyum " ya betul tuan Akimoto...tugas kita hanya itu...mendukung mereka selama itu baik."


"Jika Naomi tidak keberatan sih, gio pengen acara pernikahan bisa berlangsung secepatnya...6 bulan lagi. Bagaimana?" Naomi membesarkan matanya


"6 bulan lagi?" Gio mengangguk " ya...hari itu tepat di tanggal ulang tahun mu. Bagaimana?" Naomi terdiam "apa tidak terlalu cepat Yoo?" Gio menggeleng " tidak...justru aku pengennya 3bulan lagi kalo bisa bulan depan kita nikah. Jadi biar gak terlalu lama dan sebentar aku pilih 6 bulan lagi " terlihat Naomi sedang berpikir.


"Dan oh ya...temanku ..dia mengajukan pernikahan yang sama...jadi mereka ingin menikah barengan dengan kami. Apa tidak masalah?" Tanya Gio


"Maksudnya double pernikahan gitu?" Tanya mom Vina


" Ya mom." Jawab gio


"Mom kurang setuju...kata orang tua mom sih pamali...ya kalian mungkin gak ngerti tentang hal ini namun maksudnya jika itu tuh gak baik...kalo bisa jangan double pernikahan deh..masing masing aja. Bisa besoknya kan gak usah barengan. Lagipula kalian itu bukan anak kembar yang mau nikah keduanya kan? Kalian cuma teman, emang temanmu kere apa sampe mau nikah bareng." Ucap mom Vina dan yang lain malah ketawa


"Gak gitu mom...dia orang kaya..bisnisnya besar kedua sedunia. Hanya ingin saja katanya..." Ucap Gio


"Jangan deh...hati mom gak ngasih ijin. Gimana Mark dan Vivi? Sayang kamu juga gimana? Tanya Vina ke orang tua gio juga suaminya.


"Ya... sebaiknya masing masing aja...bunda juga kurang nyaman dengan itu Yo." Ucap bunda Vivi


"Baiklah kalo begitu...aku cuma menyampaikan maksud teman ku. Dan kembali ke laptop. Haha..gimana sayang...6 bulan lagi kita nikah?" Naomi tersenyum "ya baiklah..tgl 17 April, kita menikah. Tepat di hari ulang tahun ku. Dan itu pas sekali di hari Sabtu ya...hari libur. Untung bukan Senin. Gimana kalo Senin Yo..atau Jumat"


"Ya ditarik ke Sabtu bisa atau Minggu. Di Senin nya juga GPP kan..toh kita nikah sore..kan pestanya malem."


"Oh gitu ya...jadi bagus ya suasananya." Tanya bunda Vivi


"Ya dan garden party. Mau di rumah mom atau bunda? Di gedung juga boleh. Kira kira mau di mana?" Tanya Gio


"Kalo boleh...aku pengen di Lombok..dekat pantai...jika tidak merepotkan." Ucap Naomi.


"Tentu tidak sayang...kita bisa berangkat Jumat sore..dan sekaligus bulan madu." Semua tertawa


"Mau nya itu mah Yo..." Ucap Naomi


"Ya GPP dong ..aku dah tahan lama 13 th aku tahan ya pas nikah langsung gas pol GPP kali...kan udah resmi dan halal. Hahaha." Semua kembali tertawa dengan ucapan gio


Mereka Berjam jam membahas pernikahan, dan yang terpenting tanggal juga tempat sudah dapat. Yang lain bisa diurus belakangan.


Keluarga gio akhirnya pulang ke rumah nya yang dulu mereka tempati dan mom juga dad udah masuk untuk beristirahat. Tinggal gio dan Naomi yang masih duduk di sofa televisi setelah Naomi mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.


"Kamu bahagia sayang?" Ucap gio dengan memeluk Naomi di sofa


"Ya...aku pikir aku akan sangat bahagia. Cintamu sangat tulus. Apalagi yang ku harapkan?" Gio memeluk erat Naomi...lebih erat. Seakan akan takut akan terlepas.


*******


Mungkin tinggal beberapa chapter lagi tamat ya...


Thanks for reading my story.


Don't forget to give like vote and comment ya guys.


See you next chapter


Bye 🤗😘