
Akad nikah berjalan dengan lancar, mereka pun duduk berdua dan sesekali di photo dan photonya akan mereka bingkai sebagai kenangan indah dan mereka pasang di rumah.
Pakaian akad nikah Naomi.
Pakaian akad nikah Arsen yang telah disediakan oleh gio sebelumnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5, saatnya mereka mengganti pakaiannya dengan yang ke dua.
Sebelum mereka masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya, mereka berdua menghampiri gio.
"Gio..." Gio tersenyum lebar melihat mereka berdua terlihat bahagia.
"Kenapa, ada yang bisa gue bantu?" Arsen tersenyum dan berkata " Yo...Lo emang menyiapkan ini buat kita berdua ya? Sejak kapan?" Tanya Arsen penasaran begitu pun dengan naomi.
"Sebulan yang lalu...atau tepatnya setelah insiden Naomi tertembak...gue berpikir banyak tentang semua dan akhirnya gue tahu yang sebenarnya."
"Mas kawin nya gimana? Gue ganti ya...rasanya gak enak itu kan mas kawin Lo." Gio tersenyum
"Gak usah ganti ke gue...itu dari orang tua Lo .. dan disesuaikan dengan tanggal pernikahan. 17-04 jadi 17 kilo 4gram. Itu dari bokap Lo. Jadi GPP...masih sah dan tunai gak kredit. Hahaha" Arsen ikut tertawa namun Naomi tersenyum kecil dan menatap gio dengan sendu.
"Jangan menatap aku kayak gitu Naomi....apa kamu menyesal tidak menikah denganku?" Naomi tersenyum lebar
"Mungpung penghulu masih ada, ayo nikah sama aku." Arsen melirik dengan tatapan tajam.
"Hahaha...tenang bro...gak mungkin aku begitu." Arsen tersenyum lebar " gue juga tau Lo cuma bercanda Yo...ini semua kan Lo yang siapin... sampe jas?" Arsen merasa bingung
"Ya..jas juga...aku bikin dua, buat kamu dan aku biar gak curiga...aku pinjam ukurannya, salah satu jas mu aku pinjam dari Andre dan dia memberikan nya." Arsen kaget bukan main
"What? Andre tahu tentang ini?" Gio mengangkat bahunya "gue cuma bilang mau bikin jas buat kamu sebagai saksi di acara nikahan ku.
"Ooh..." Arsen dan Naomi kembali tersenyum. " Makasih yooo makasih atas semua yang Lo persiapkan untuk kami...." Ucap Arsen
"Tapi ingat janji Lo bro...jaga dan sayangi dia...karena Allah." Ucapan gio begitu lembut dan Arsen menganggukan kepalanya. "Pasti."
"Emmm...kita ganti baju dulu ya..." Ucap Naomi dan gio menganggukan kepalanya.
Mereka berjalan menuju kamar Naomi, di sana baju pengantin yang ke dua sudah tergantung dengan rapi...mereka masih punya waktu 2 jam untuk turun ke bawah karena party akan dilaksanakan setelah sholat Maghrib, tepatnya pukul 7 malam.
Arsen menggenggam tangan Naomi begitu erat seakan enggan untuk melepaskan. Sampailah mereka di kamar pengantin, kamar Naomi. Di sana ada seseorang yang akan membantu Naomi berpakaian dan sedang merapihkan peralatan dan segala macam yang dibutuhkan.
"Oh...nona dan tuan sudah sampai... silahkan beristirahat dulu... Ada makanan di atas meja, saya yakin anda berdua akan merasa lapar. Jadi saya undur diri, pukul 6 abis Maghrib saya kembali ke sini." Asisten itupun pamit pergi "terimakasih" ucap Naomi dan Arsen sebelum orang itu keluar dari kamarnya.
Naomi dan Arsen duduk di ranjang berdua, mereka merasa kikuk tat kala mereka menyadari saat ini mereka sudah menjadi sepasang suami istri.
"Emmm...kamu lapar?"tanya Naomi untuk memulai pembicaraan
"Ya ..sedikit. apa perlu kita makan pembukanya dulu?" Ucap Arsen namun Naomi Tek melihat ada makanan pembuka apapun di sana..tak ada buah, puding atau apa pun selain nasi, daging, sayuran...
"Gak ada makanan pembuka Arsen..itu main course semua." Baru Naomi teringat " ada ice cream...mau?" Naomi berjalan ke lemari es dan membuka nya, di sana ada ice cream kesukaannya. Cone dengan rasa coklat strawberry. Dia mengambil 2 buah. "Nih." Naomi langsung membuka ice cream punya dia dan melahapnya.
Arsen kembali duduk di pinggir Naomi, dia melihat ice cream di ujung bibir nya. Dan dengan cepat Arsen ******* sisa ice cream itu dengan lembut. Dan sontak Naomi kaget membelalakkan matanya.
"Arsen...." Dah Dig dug detak jantung Naomi begitu kencang. Arsen tersenyum lebar. "Manis.." jantung Naomi tambah berdetak sangat kencang.
"Belepotan...sampe ujung bibir gitu. Kayak anak kecil." Goda Arsen
"Aku sisain buat nanti makanya ku simpan di pinggir."
Arsen tertawa " hahaha mana ada ice cream disisain di ujung bibir. Tuh di kulkas masih ada." Tunjuk Arsen dengan mengangkat dagunya.
"Kamu kenapa gak makan ice cream nya?" Arsen tersenyum sambil mengangkat alisnya.
" Aku ingin memakan ice cream dengan cara yang berbeda..mau tahu?" Naomi menganggukan kepalanya, dan dengan lembut tangan kiri Arsen memegang dagu Naomi dan tangan kanan meraih tengkuk Naomi, semakin mendekat dan terus mendekat, bibir Arsen menempel di bibir Naomi...begitu lembut Arsen mel*mat bibirnya...tanpa sadar Naomi mengikuti permainan Arsen, dia buka bibirnya sehingga arsen bisa leluasa mengecap dan bermain dengan lidah Naomi...decapan demi decapan terdengar merdu di telinga mereka. Membuat mereka terhanyut dalam kemesraan...sampai mereka merasakan kehabisan napas dan membutuhkan pasokan oksigen.
Keduanya tersenyum lebar dan terlihat malu di wajah Naomi.
"Pipiku merah sayang .." Naomi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan di tutup..aku suka lihat kamu blushing gini... tambah cantik." Arsen menatap Naomi begitu terkagum kagum.
"Hentikan Arsen...kau membuatku malu." Arsen tersenyum lebar
"Aku gak nyangka...kita sudah menjadi suami istri....rasa sesak masih terasa ketika aku melepas mu di kamar ini sejam yang lalu."Naomi menyentuh pipi Arsen dengan lembut.
"Aku juga sama ...ini lah jodoh...jika tuhan berkehendak ya detik detik terakhir bagi kita berpisah bisa berubah sesuai kehendakNya." Naomi tersenyum manis.
"Baiklah...ayo kita makan dulu, setelah ini kita akan sangat sibuk menyambut para tamu." Naomi menganggukkan kepalanya
Merekapun makan makanan yang sudah disiapkan dan tak lama setelah sholat Maghrib mereka mengganti pakaiannya dengan baju pengantin yang ke dua.
Mereka turun ke bawah ke tempat acara resepsi akan diadakan. Garden party.
Menyusiri jalan menuju tempat sang pengantin, melewati pohon dan lampu lampu terasa begitu indah dan akhirnya mereka sampai di sana, tempat mereka mengungkapkan rasa.
Sang pembawa acara pun mempersilahkan keduanya untuk berdiri dan mengungkapkan janji.
"Honey...my angel..., a few months to know you is the most beautiful thing for me ... since then I believe only you were created for me. no word but i love you And I promise I will always try to take care of you, love you, appreciate, and make you happy."
* Sayang...bidadariku..., beberapa bulan mengenalmu adalah hal yang sangat terindah bagiku...sejak saat itu aku yakin hanya dirimu yang diciptakan untuk ku. tak ada kata selain aku cinta kamu. Dan aku berjanji akan selalu berusaha menjagamu, mencintaimu, menghargai, dan membahagiakan mu
"my husband, arsen miller ... knowing you for a few months and saving you is something that I am very grateful for, if only at that time I did not save you maybe my life is colorless like this ... beautiful, very beautiful, since knowing you my life is so colorful, like a rainbow , there are happy, sad, emotional, angry, tight, mixed up. but it makes me even more strong. and I really appreciate it, I promise I will always try to be there for you, give encouragement when you are sad or down, take care of you when you are sick and let's be happy together with our children and our grandchildren in the future, because I love you."
*suamiku, arsen miller...mengenalmu beberapa bulan dan menyelamatkan mu adalah hal yang sangat aku syukuri, jika saja saat itu aku tidak menyelamatkan mu mungkin hidupku tak berwarna seperti ini...indah, sangat indah, semenjak mengenalmu hidupku begitu berwarna, seperti pelangi, ada senang, sedih, haru, marah, sesak, campur aduk. tapi hal itu membuatku tambah menjadi pribadi yang kuat. dan aku sangat menghargai itu, aku berjanji akan selalu berusaha mendampingi mu, memberi semangat tatkala kau sedang sedih atau terpuruk, merawat mu ketika sakit dan ayo kita bahagia bersama dengan anak anak kita dan cucu cucu kita kelak, karena aku cinta kamu.
Suara tepuk tangan dan senyuman kebahagiaan terpancar dari pasangan suami istri itu...
Sungguh atmosfer yang sangat indah, tempat yang indah...suasana malam yang romantis dengan angin sepoi-sepoi, senyuman kebahagiaan, rasanya tak ada lagi yang diinginkan selain bersyukur atas apa yang Tuhan telah kami kepada mereka.