One Night In Singapore

One Night In Singapore
You are so special



Hari sudah siang Arsen merasa sudah cukup dia beristirahat, 15 menit lagi dia akan mendapatkan hasil laporan tentang temannya.


Arsen bangun dan mandi lalu turun ke bawah hendak makan siang, dilihat Andre yang masih terbahak bahak, Arsen pun tidak tau ada apa Antara Andre dan Jonathan tapi jika dilihat dari apa yang Arsen perhatian sepertinya Andre menang telak game.


Arsen hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua. Merasa ada yang memperhatikan Andre dan Jonathan melirik ke belakang dan mereka tersenyum.


"Oh..hi bos...sudah bangun? Apa kami terlalu berisik sehingga bos sudah bangun?" Tanya Jonathan dan Andre melirik jam dinding di atas televisi memang jam sudah menunjukkan pukul 12.


"Oh tidak Jojo, bos emang sudah waktunya bangun, betul kan bos? Toh kamar bos itu kedap suara jadi tak akan ada yang terdengar." Arsen pun hanya tersenyum tipis dan melangkah ke ruang makan.


"Ayo makan Dre." Menerima ajakan Arsen Andre pun langsung beranjak pergi namun sebelumnya dia berkata kepada Jojo


"Jo, Lo makan siang dulu, gantian ya shift pagi makan yang siang jaga. Makanan buat kalian seperti biasa sudah ada di ruangan.ok" Jojo yang mendapat perintah pun langsung mematikan televisi dan pergi menuju ruangan yang disediakan untuk mereka makan siang.


Arsen duduk dengan Andre di ruang makan, sebelumnya Arsen meminta laporannya harus sudah ada. Dia tak mau menunggu terlalu lama, dia takut ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Gimana laporannya Dre?" Arsen mengunyah makanan dengan santai menikmati suapan demi suapan masuk ke mulutnya.


"Laporan sudah ada, mau saya telp Arnold sekarang?" Andre menelpon Arnold dan men load speaker


"Siang, gimana laporannya. Ini Arsen menunggu laporan darimu." Arnold terdengar menghela kan napasnya


"Sen, ini gue udah lacak James, dia sekarang berada di Indonesia tepatnya di Jakarta. Dan akhir akhir ini dia sering datang ke RS tempat pacar Lo kerja deh. Nanti gue share photo nya. Ada beberapa kali terlihat Naomi sama dia datang bersama terkadang dia dijemput nah untuk alasan apa gue masih cari.


Yang gue dapet info sih James dulu juga cinta sama viona mantan pacar Lo tapi viona lebih pilih Lo." Arsen yang sedang makan langsung terdiam dan mengepalkan tangannya, dia takut Naomi terluka ketika mendengar James sering datang bahkan menjemput Naomi.


"Dre, siapkan jet. kita berangkat ke Indonesia sekarang" Arsen menghentikan makannya.


"Trus gimana lagi, masih ada laporan nya?" Dan Arnold meneruskan ucapannya


"Saya dengar percakapan....em...kau siap mendengarnya?"  Arnold tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya


"Cepat lanjutkan laporan mu. Aku tak punya waktu lagi."


"Ya...gue dengar percakapan antara James dan mantan calon istri Lo berbicara. Seminggu sebelum kalian mau menikah." Deg Arsen benar benar kaget akan hasil dari laporannya.


"Bisa kau kirimkan percakapan nya? " Arsen berusaha menelan saliva dengan kasar. Sungguh tidak nyaman ketika mengingat kejadian 2 th lebih yang sungguh berat untuknya.


"Baik gue kirim sekarang ya. Lo tenang ya, Lo sekarang sudah ada Naomi kan sen. Gue harap Lo emang udah move on sen. " Arsen yang mendengar penuturan Arnold hanya tersenyum lirih tersirat kekecewaan dan sakit hati di wajah Arsen.


Arnold mengirim laporannya dan andre menyiapkan jet untuk penerbangan ke Indonesia.


Pukul 1:30  siang mereka langsung berangkat ke Indonesia dan semua anak buah yang berada di Indonesia sudah siap menunggu kedatangan bos nya.


Sekitar jam 11 malam mereka akan sampai, Arsen sungguh tak bisa tenang mendengar James sering keluar masuk RS menemui Naomi.


Sebelum berangkat jam 1 siang arsen menunggu laporan dari Andre mengenai kondisi Naomi saat ini.


"Dre, kenapa James bisa datang menemui Naomi bahkan mengantar jemput Naomi? Bukankah anak buah kita ada yang mengawasi?" Andre yang merasa lupa bertanya keadaan Naomi pun sedikit takut terhadap Arsen, kali ini ia memang teledor.


Andre langsung menelpon anak buahnya.


"Jack, mana laporan Lo selama 2 hari ini?"  Jack pun langsung melaporkan hasilnya


"2hari ini ada seorang laki-laki yang tampan dan berpakaian rapi sering bolak balik ke RS dan 2x nona Naomi diantar jemput olehnya. Kami mengikuti sampai ke mansion nya sir, dan mereka masuk ke dalam mungkin 2 jam lalu kembali lagi diantar ke RS. Itu yang bisa saya laporkan."


"Menurut mu mereka ada hubungan apa?"


"Mereka terlihat biasa saja, saling tersenyum sopan dan terkadang mereka ngobrol sambil terbahak bahak tapi tidak ada kontak fisik."


Andre pun melirik Arsen yang terlihat dingin dan mengeras kan rahangnya. Ya dari tadi andre memang mengload speaker supaya Arsen langsung mendengar hasil laporannya.


"Mereka lebih terlihat seperti teman saja namun cukup dekat juga. Saya bingung menggambarkannya. Namun yang pasti nona selalu membawa tas kerjanya yang berisi obat obatan. Mungkin nona memang mengobati seseorang di sana."  Andre paham maksud anak buahnya.


"Ok. Thanks." Andre langsung menutup telp.


"Kamu dengar kan, mungkin Naomi hanya mengobati luka dari orang orang James." Namyn Arsen tetap belum bisa tenang.


"Kalo cuma mau jemput Naomi, kan bisa anak buahnya Dre. Dan ini seorang James datang sendiri untuk menjemput Naomi. Trus siapa yang diobati? Kalo anak buahnya masa dijemput kenapa gak ke RS aja suruh berobat. Gue tau kalo dia punya maksud tersembunyi." Arsen terlihat dingin dan wajahnya merah.


Mereka sampai di mansion Arsen pukul 12 malam, Arsen merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menatap langit langit kamarnya dan masih merasa belum tenang maka dia memutuskan untuk menelpon Naomi.


Tut...Tut... Telp Arsen belum diangkat, wajar sih ini kan tengah malam, mungkin Naomi sedang tertidur pulas atau sedang berada di RS jika memang kekasihnya shift malam.


Arsen mencoba menelpon lagi masih belum diangkat, sampai yang ke 3 jika memang tidak diangkat Arsen akan menutup telp dan akan langsung menuju apartemen Naomi atau RS.


Tut..Tut.. akhirnya ada suara yang terdengar di sana


"Assalamualaikum. .....hallo...selamat malam menjelang pagi?" Arsen sangat senang mendengar suara Naomi


"Waalaikmslm my angel...." Naomi terperanjat dari rasa ngantuk nya, dia tidak tau jika yang telp adalah Arsen. Maklum dia baru saja tertidur di sofa ruangannya di RS.


"Oh ..Arsen, ini kamu?" Arsen malah bingung dengan pertanyaan nya.


"Kamu kira siapa? Kamu lagi tunggu telp dari siapa memangnya?" Naomi menguap dan merasa tidak enak sih mendengar jawaban Arsen.


"Bukan begitu sayang, aku baru tertidur dan mengangkat telp tanpa melihat siapa yang telp. Maaf..."


Merasa tak enak sudah mengganggu tidur kekasihnya Arsen pun berusaha melembut kembali suaranya


"Ya GPP my angel, maaf aku ganggu tidurmu. Sekarang kamu dimana, di RS atau apartemen?"


"Aku di RS, lagi shift malem, besok pulang pagi jam 6."


"Kamu kangen aku gak?"  Tanya Arsen


"Tentu saja kangen...i Miss you so much honey."


"Besok aku jemput ya." Naomi tak percaya jika Arsen akan menjemput nya besok


"Masa sih kamu kamu jemput, kan masih di Jerman."


"Ya ya ya terserah deh. Eh ..atau kamu ang udah di indo sekarang tanpa memberitahu ku ya?"


"Aku cepat pulang karena aku kangen berat, rasanya sudah tak tahan kau tahu?"


"Masa?"


"Bener banget ..sumpah deh. Demi ibu yang melahirkan ku, aku tak bohong. "


"Hahaha gombal."


"Aku gak gombal sayang."


"Ok, aku percaya."


"Selama 2hari ini kemana aja?"


"Aku hanya ke apartemen dan RS, oh ya 2x aku ke rumah pasien karena ada orang yang minta saya untuk mengobati saudaranya yang terluka dan dia tak bisa cek up ke RS jadi aku di antar jemput gitu" Arsen sungguh senang mendengar ucapan Naomi yang jujur. Naomi tidak berusaha menutupi jika memang 2 hari ini dia pergi diantar jemput oleh seseorang.


Laporan anak buahnya dan penuturan naomi sama. Namun apa Naomi tidak merasa James ada maksud lain selain butuh jasa darinya?


"Kamu tak sibuk malam ini? Gak ada pasien gitu? Lanjut Arsen


"Alhamdulillah hari ini UGD sepi... berarti semua orang di sekitar kota jakarta sehat dan selamat."


"Baguslah kalo begitu, selamat tidur ya sayang, besok aku jemput ya. Dan sorenya kita jalan ya."


"Jalan kemana?"


"Ke mana aja boleh . Aku mau cerita sesuatu sama kamu sayang...sambil jalan dan makan. Ok."


"Ok. See you tomorrow"


"See you emmmuah. Love you."


"Me too."


Akhirnya merekapun bisa tertidur dengan nyenyak setelah keduanya melepas sedikit rindu. Naomi tertidur lumayan nyenyak karena sungguh bersyukur hari ini dia tidak terlalu capek melayani pasien, Naomi terbangun ketika suara adzan berkumandang. Dia langsung menuju kamar mandi dan mengambil wudhu dan sholat subuh. Membereskan semua barangnya dan pergi ke ruangan UGD menyempatkan diri untuk memeriksa pasien nya yang dia tangani akibat percobaan bunuh diri.


Hari itu hanya satu ini saja pasiennya, seorang laki laki yang mencoba bunuh diri akibat pacar nya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Sungguh menyedihkan bukan? Dia aja merasakan hal yang sama tapi gak sampai bodoh melakukan hal itu.


"Hai ..gimana kabarmu saat ini?"


"Aku sungguh tidak baik dokter."  Pasien itu terlihat marah dan kecewa.


Dia didampingi oleh adiknya karena takut melakukan hal yang bodoh lagi. Namun ketika Naomi datang adiknya pergi dulu biar Naomi bisa memeriksa keadaan kakaknya.


"Apa yang kamu rasakan saat ini?" Masih dengan nada lembut Naomi berusaha mendekatkan diri ke pasien. Ingin buka pikiran bahwa bunuh diri itu hal yang sangat sangat bodoh dan merugikan


"Sesak, marah, kecewa. Terutama dengan dokter."


"Kenapa marah sama saya?" Naomi merasa bingung


"Karena kamu sudah menyelamatkan nyawa ku."


"Hahaha...kamu ini. Memang kenapa kamu mau mati? Sudah bosan hidup? Tak punya uang? Tak punya orang yang dicintai dan menyanyangi? Hidup sendiri? Terpuruk? Banyak hutang? Atau gak punya pekerjaan?" 


"Apa hak anda menanyakan hal itu kepada saya?"


"Hanya ingin tahu supaya saya paham, mungkin saya bisa punya cukup alasan untuk membantu mu mati? Mungkin aku bisa bantu mengiris lagi nadimu? Atau aku bisa kasih kamu racun? Atau mau aku kasih tali buat gantung diri, mungkin kamu ingin jatuh dari gedung, aku bisa antar kamu ke rooftop, kalo jatuh lumayan badan kamu bisa hancur dan langsung mati. Di sini kan sampai lantai 15. Kalo cuma di lantai 2 paling cacat kan gak enak hidup tapi cacat tak bisa bergerak. Gimana, tertarik?" Pasien yang mendengar itupun menggidik ngeri.


"Emmm tak perlu. Terimakasih sudah mau membantu." Pasien itu terdiam terlihat termenung.


"Aku bunuh diri karena......pacarku selingkuh dengan sahabat ku sendiri. Mereka saling bergandengan tangan dengan saling merangkul, lalu aku coba mengikuti mereka sampai mereka cek in ke hotel." Lanjutnya


"Kamu melihat mereka berhubungan intim? Have a ****?"


"Tidak, mereka mau masuk ke kamar, baru membuka pintu aku sudah tak tahan dan aku langsung memukul sahabat ku. Ralat...mantan sahabat."


Dia terdiam lagi sambil mengepalkan tangannya lalu menepuk dadanya pelan sambil mengatur napas.


"Trus kamu langsung pergi untuk bunuh diri, begitu?" Jawab Naomi santai


"Tuan, kau sungguh bodoh." Menatap sang pasien.


"Panggil aku Angga. Dan ....enak banget kau bilang aku bodoh. Kau tak tahu apa yang ku rasakan, aku sudah menetapkan akan menjadikan pacarku sebagai makmumku dunia akhirat." Terlihat amarah di wajahnya


"Ya emang begitu kan, ANGGA....kamu memang BODOH. " Menekankan kata angga bodoh


"Hanya karena wanita kamu korbankan hidupmu, kamu korbankan masa depanmu, kamu korbankan keluargamu. Bukannya kamu masih punya seorang adik yang harus kamu jaga?" Naomi sedikit menaikan nada ucapannya diselingi senyum sinis.


"Kamu bilang pengen wanita itu jadi makmumkan? Berarti Lo muslim kan? Menurut agama kita, yang mati bunuh diri di tempatkan di mana hah? NERAKA. Dan itu kekal abadi. Coba deh Lo buka Al Qur'an."


"Oh ya ...Lo harus tahu kalo Lo seharusnya bersyukur ya, Allah udah kasih tahu dengan membiarkan kamu tahu mereka selingkuh, berarti mereka orang orang yang tidak baik buat Lo. Mereka gak cukup baik untuk jadi sahabat dan tak cukup baik buat jadiin dia istri Lo. Ngerti." 


" Oh ya satu hal lagi...gue tahu apa yang Lo rasain karena beberapa bulan yang lalu, gue ngerasain hal yang sama, pacar gue yang mau gue jadikan imam di dunia akhirat gue, selingkuh dengan sahabatnya bahkan gue lihat dengan mata kepala gue sendiri mereka sedang setengah telanjang. Menurut Lo gimana perasaan gue? Gue bawain dia makanan karena sedang sakit, gue khawatir dia belum makan, tapi apa yang gue lihat? Ya ini lah hidup, tidak semua bisa berjalan sesuai dengan keinginan kita. Gue yakin yang baik akan diberikan jodoh orang baik, gue yakin sama Allah. Dan setiap cobaan pasti akan membuat kita lebih dewasa lagi. Dan satu hal yang penting, Allah tahu kemampuan kita maka DIA tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan umatnya. Bukankan begitu Tuan Angga?" Angga yang mendengarpuneneteskan air mata sambil tertunduk. Dan merenung apa yang sudah Naomi katakan.


" Apa masih mau mati tuan Angga? Rugi loh...hidup ini sangat indah. Mungkin suatu saat kamu akan dipertemukan dengan seseorang yang sangat berharga dan spesial." Lanjut Naomi sambil tersenyum


"Terima kasih dokter Naomi...ucapan anda membuat saya sadar...rasanya sangat di sayangkan ya kalo saya mati." Angga tersenyum sedikit tertawa tepatnya


"Baru nyadar mas? Jangan sia siakan kesempatan hidup yang Allah berikan." Naomi tersenyum lagi


"Ya aku baru sadar...ternyata dokter Naomi kalo tersenyum tambah cantik."


"Kamu bisa saja Angga....ok. jam kerja saya sudah selesai. Aku pamit ya. Sekarang aku tenang kalo meninggalkan mu dengan dokter Hendrik. See you Angga. Cepat masuk ke ruang perawatan ya. Di UGD kurang nyaman. Kasian adiknya." Naomi melambaikan tangan nya sambil pergi.


"Memang dokter cantik dan menawan. You are so special. Rasanya aku akan sangat bersyukur jika aku bisa jadi imam nya. " Angga senyum senyum sendiri.