One Night In Singapore

One Night In Singapore
Bersedia menjadi obatmu



Arsen kembali ke ruangannya dengan sangat sedih. Dia melihat Andre yang sedang membereskan kopernya.


Hanna yang melihat Arsen masuk langsung dipeluknya.


"Arsen, kamu kemana saja?" Manja Hanna.


"Hanna...lepas..." Ucap Arsen dingin.


"Kamu kenapa sih, marah?" Tanya Hanna


"Apa yang kamu lakukan membuat Naomi terluka. Kau tahu itu?" Arsen terlihat menahan amarahnya


"Bukankah kau bilang akan mencoba membuka pintu hatimu untukku? Berarti kamu sudah memilihku bukan?" Tanya Hanna dengan wajah sendu.


"Aku tahu, tapi aku dan Naomi belum putus. Aku tak mau kita bersentuhan sebelum aku memberikan keputusan padanya." Arsen benar benar terlihat kesal.


"Arsen .. hari ini kita pulang, apa ada yang perlu kamu urus dahulu? Tanya Andre yang memahami keadaan yang sedang terjadi.


Sebenarnya Andre melihat ketika dia keluar dari toilet, Naomi menangis dan dikejar Arsen.


Arsen menghela napasnya, dia menutup matanya dan berpikir apa yang harus dia lakukan.


"Andre...aku ingin ke ruangan Naomi . Kalian keluarlah...aku mau ganti baju dulu " Andre dan Hanna pergi menunggu di luar.


Setelah selesai berganti baju Arsen bergegas pergi menuju ruangan Naomi.


Tok..tok...tok...


Keluar seorang dokter muda yang cantik namun matanya terlihat sembab.


"Ya ada apa Mr Arsen, ada yang bisa saya bantu?" Tatapan dingin dikeluarkan oleh Naomi


"Naomi ..jangan bicara seperti itu....ini sungguh tidak nyaman." Arsen menatap sendu mata Naomi


"Aku...sangat merindukanmu my angel." Arsen memeluk Naomi dan Naomi memejamkan matanya untuk mengumpulkan kekuatan dan keberanian.


"Lepaskan tangan anda tuan...jangan sentuh saya." Naomi mencoba melepaskan pelukan Arsen.


"Naomi ..please...aku tak sanggup jika melihat mu seperti ini." Arsen benar benar sedih melihat Naomi bersikap seperti itu.


"Jika tak ada yang ingin anda bicarakan, maka silahkan anda pulang. Bukan kah anda sudah boleh pulang tu-an Ar-sen ."ucap Naomi dengan dingin.


"Please Naomi ... please." Pinta Arsen


"Baiklah apa mau mu, katakan. Aku ada operasi sebentar lagi."


" Naomi...maaf...yang tadi...itu... kesalahan pahaman."


"Kesalahpahaman? Berc*uman kesalahpahaman? Sudah jelas aku melihat nya."


"Terus, apa keputusan mu Arsen? Siapa yang kau pilih, aku atau Hanna.? Oh maaf ..terkadang aku memang bodoh, sudah liat kalian berc*uman ya sudah pasti kamu pilih dia bukan.?" Tanya naomi


"Kejadian nya tidak seperti itu Naomi..." Arsen merasa sedih mereka harus berada di keadaan yang sulit seperti ini.


"Gak usah banyak bicara lagi, kamu tinggal jawab, kamu memilih Hanna?" Tanya Naomi dingin


"Ya..aku yakin kamu bisa dengan cepat..."


"Sudah cukup, gak usah panjang lebar, aku sudah dengar jawabannya, buat apa alasan toh sama saja kan jawabannya itu kamu pilih Hanna." Arsen tertunduk tak sanggup menatap Naomi


"Baiklah, mulai sekarang kita sudah tidak ada hubungan lagi. Selamat tuan Arsen, semoga bahagia. Dan gak usah kirim aku kartu undangan ya. Aku akan sangat sibuk. Ok. Saya permisi, saya ada operasi." Naomi pergi meninggalkan Arsen sendiri di depan ruangan nya.


"Mungkin dia bukan jodohmu Naomi... Allah akan kasih yang terbaik untukmu....jangan sedih dan tersenyum lah seperti biasanya...kamu hanya butuh waktu.." ucap Naomi pada dirinya sendiri.


Naomi masuk ke ruangan bersama para dokter, menyiapkan operasi yang akan mereka lakukan. Sedangkan Arsen kembali menuju Andre dan mengajak mereka pulang.


Malam pun tlah tiba, kabar yang dinanti nanti pun akhirnya datang.


Drrrt.. drrrrrttttt. Handphone Naomi bergetar dan mengeluarkan lagu kesukaannya one night in Dubai. Teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika dia dan Arsen bertemu di Singapore. Dan dia berniat akan mengganti ringtone nya dengan yang lain. Mungkin dengan lagu baru Lesty. Hahaha Naomi tersenyum miris.


"Assalamualaikum. Dad...gimana?"


"Waalaikmslm...my little girl."


"Apa mungkin aku bisa dad pindah ke new York?"


"Maaf sayang... untuk saat ini hal itu tidak mungkin dilakukan. Karena keadaan di sana memang sedang ada sedikit masalah..your uncle terkena serangan jantung...jadi belum bisa dimintai tolong. Jika kamu mau...kamu bisa ke RS di Singapore RS yang dulu kau singgahi, bagaimana?" Naomi pun jadi terdiam. Bagaimana dia melupakan Arsen kalo malah ke Singapore. Paling tidak itu tempat mereka pertama kali bertemu


"I don't know dad...mungkin aku urungkan dahulu." Ucap Naomi dengan lesu.


",Ada apa sih honey, Arsen sudah memilih wanita itu?"  Naomi terdiam tak ada suara hanya hembusan napas yang Akimoto pun tahu dengan mendengar hembusan yang sangat dalam dan perlahan, menandakan gadisnya sedang mengontrol emosi


"Iya dad. .dan...aku ..sudah tahu. Hal..i ini a..akan terjadi." Ucap naomi berat dan tercekat di tenggorokan nya serasa tenggorokan nya sangat kering.


"Aku baru saja pulang cuti Daddy...gak mungkin aku cuti lagi. Mungkin nanti saja. Thanks dad... thanks for everything. And i love you so much. Salam buat mommy ya." Naomi merasa sedikit mendapatkan kekuatan dari Daddy nya jadi insyaallah dia pasti bisa.


Telpon pun akhirnya berakhir namun tak lama dering telp kembali berbunyi.


Drrrt..drrrrt


"Ya assalamualaikum." Ucap Naomi


"Waalaikmslm. Hai.. lagi apa nih? Ganggu gak?" Tanya seseorang di sana


"Gak...aku beres telponan sama Daddy....ada apa ya Yo?"


"Duh seneng deh my aom sudah panggil lagi dengan panggilan dulu." Terdengar tawa ringan di balik telpon


"Gio...udah jangan goda aku...ada apa telp malem malem?"


"Aku kangen aom....dan dari pagi sampai Maghrib aku sibuk Mulu jadi gak sempat telpon kamu."


" Cie...sok sibuk Lo." Cibir Naomi


"Hahaha beneran...soalnya hari ini aku banyak meeting. Ada kerjasama yang akan aku tangani besok dan sangat luar biasa prospek nya. Jadi tadi sibuk banget."


" Baguslah kalo gitu. Toh tadi juga aku sibuk kok...ada operasi besar tadi siang dan lumayan menguras tenaga dan pikiran."


"Aom....boleh vc? Video call...aku ingin melihat wajahmu. Biar bisa ku tahan sampe besok sore."


"Kamu ada ada saja Yo....." Tak sadar Naomi mengangkat ujung bibirnya yang membuat lengkungan lebar.


"Aku serius aom...anggap aku lagi men charger  hatiku biar aku bisa menahan rinduku...aku menunggu loh."


"Hahaha, Ya..ya.. ya..terserah kamu." Ucap Naomi sambil tertawa



"Loh kok cemberut gitu sih? Kamu gak seneng lihat wajah aku? Aku rindu dan kamu cuma cemberut? Ish...benar benar deh." Gio pura pura kesal.



"Gitu aja marah...aku bercanda kok. " Ucap Naomi.


"Hahaha...aku juga bercanda aom...gak mungkin aku kesal padamu, kamu tuh lucu... walaupun cemberut. Dan aku kesal karena aku gemes pengen tarik kamu ke dalam pelukan ku tapi gak bisa. Jiwa lelaki lakianku meronta ronta." Ucap gio lebay


"Hahaha Lebay Lo....dasar buaya." Ucap Naomi sambil tertawa


"Eh jangan salah buaya itu salah satu hewan yang setia loh. Nah hewan aja setia apa lagi aku, pasti setia sama kamu naomi."


"Ya baiklah...simpan aja gombalan mu itu Yo....siapkan hanya untuk istri mu seorang."


"Oh udah pasti..dan itu kamu my little aom." Gio tersenyum lebar.


"Terserah Yo.. terserah." Jawab Naomi


"Apa kamu lupa dengan janji kita aom? Kita janji akan menghabiskan waktu bersama jika kita bertemu kembali, dan sekarang kita sudah bertemu." Ucap gio dengan serius


"Emmmm Yo...gue inget kok...cuma mungkin belum waktunya. Hati aku masih sakit Yo...aku gak mau kamu hanya sebagai pengobat hati aku yang terluka."


"Aku bisa kok jadi obat kamu jika itu bisa membuatmu kembali bahagia, dan bahagia aku tuh ya...KAMU." ucap gio menekankan kata terakhir


"Thanks gio."


"Luka hati itu obatnya cuma 2 my little aom satu hati lagi dua waktu. Jadi hanya hati dan waktu akan mengobati dengan sendirinya. Dan aku ....bersedia menjadi obatmu dan mendampingimu melewati waktu demi waktu karena itu kebahagiaan ku yaitu selalu bersamamu."


"Kamu ternyata jago gombal juga ya?" Naomi tertawa untuk mencairkan suasana.


"Baiklah...sudah malam... istirahat lah...dan sampai besok ya. Sore aku jemput jam 4 ke RS." Naomi terkejut dengan rencana Gio..


"Apa, kamu mau jemput? Gak usah.. ngerepotin aja. Aku bisa pulang sendiri kok." Ucap Naomi


"Gak ngerepotin kok...lagi pula aku pengen ketemu kak Hendrik dan juga ketiga temanmu. Juga pengen lihat dimana calon istriku bekerja."


" Ya terserah deh. Kamu memang gak bisa ditolak ya. " Senyum Naomi berkembang


"Sampai besok ya....dah... assalamualaikum." Ucap gio sambil melambaikan tangannya


"Dah... waalaikmslm." Naomi membalas lambaian tangann gio."


Telpon pun berakhir dan mereka kembali ke ranjang miliknya dan hanyut dalam mimpi sampai terbangun keesokkan harinya.


*****""