
Pagi telah tiba dan gio pun sudah bangun, dia tengah membuat sarapan.
Terdengar langkah kaki di atas tangga, gio melirik dan seorang gadis turun dari sana. Gio tersenyum sendiri, dia baru ingat semalam dia membawa seorang gadis ke rumahnya dan dia telah kehilangan lima milyar dari tabungannya.
"Kau sudah bangun, duduklah....ayo sarapan." Gadis itu tersenyum manis dan mengangguk lalu ditariknya kursi yang ada di hadapannya dan didudukinya.
"Maaf, jadi merepotkan mu." Gio melirik lalu fokus ke makannya lagi. Selang beberapa menit baru gio membuka suaranya.
"Aku tak ada waktu berbicara denganmu." Gio meneguk air mineral dan melanjutkan ucapannya.
" Aku harus kerja, jadi setelah makan, pulanglah." Gio membereskan bekas makannya lalu pergi ke atas dengan membawa tas dan sudah memakai jas nya.
"Tunggu .. kita harus bicara..." Gio melirik sedikit lalu menjawab. " Sudah ku bilang, aku tak ada waktu...aku ada meeting jam 8, jadi pulanglah. Simpan saja kuncinya di bawah pot bunga." Gio melangkahkan kakinya lalu masuk ke mobil dan melajukannya.
Gio seperti biasanya berada di kantor dengan segala kesibukkan nya. Di sana dia disibukkan dengan setumpuk berkas yang harus di periksa dan ditanda tangani.
Gio mengangkat telponnya dan menekan angka 2. "Ke ruangan saya sekarang." Ucap gio tak lama ketukan di pintu terdengar dan masuklah seorang wanita cantik, langsing dan juga seksi ke dalam ruangan gio.
"Evelyn...kapan kita harus mendatangi pembukaan hotel yang ada di Cannes?" Evelyn lalu melihat catatan schedule nya. " Minggu depan Mr. Gio..." Gio menganggukan kepalanya
"Ok. Tapi sekarang saya ada jadwal meeting gak? Atau tadi yang terakhir?" Evelyn langsung menjawab. " Gak Mr.. meeting tadi yang terakhir... Semua sudah selesai jika anda sudah menandatangani berkas yang ada di meja."
"Ini memang sudah beres, jadi kamu bawa saja ke sana.. berarti hari ini sudah selesai kan? Baiklah aku akan pulang. Kamu juga kalo udah beres pulang saja... Toh hari sudah sore. Lima menit lagi jam kerja selesai." Gio beranjak dari duduknya dan memakai jas yang sedari tadi tergantung di kursi kebesaran nya.
"Emmmm....Mr...apa anda punya acara? Emmm ti tidak....mau kah mememaniku makan malam?" Gio menatap Evelyn.. " maaf sepertinya aku tak bisa .. rasanya sangat lelah....ingin istirahat." Gio melangkah pergi dan melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Ketika gio sampai di rumah, dia dapat melihat rumah begitu rapi dan bersih..." Siapa yang beresin ruangan aku? Bi Madena udah Dateng gitu? Bukannya besok ya?" Gumamnya
"Bi...Bi..." seseorang berlari dan mendekat " ada yang bisa saya bantu tuan?" Gio mengeryitkan dahinya
" Kamu masih di sini?"
"Ya tuan...saya tak enak jika pulang begitu saja." Gio duduk di sebuah sofa. " Baiklah... duduk, kita bicara." Gadis itu pun duduk di sebrang gio
" Tuan, aku tahu kemarin uang anda terpakai untuk menyelamatkan saya, jadi ... Bagaimana saya mengganti nya?" Gio menatap gadis itu dan terlihat seperti sedang berpikir
"Siapa namamu." Ucapnya dengan dingin
"Dasha... Nama saya Dasha Miguel tuan." Gio menganggukan kepalanya
"Baiklah... lima milyar...silahkan kembalikan lima milyar kepada saya? Kapan kamu mau bayar?"gadis itu tertegun "tuan...ya..tapi...saya tak punya uang." Dasha menjawab dengan terbata bata.
"Katanya mau ganti...tapi gak punya uang. Gimana sih?" Gadis itu tertunduk, terdiam lalu beberapa menit kemudian mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca
"Hiks...hiks...tuan.... Orang tua saya punya hutang... dan...dan..hiks...hiks.. mereka sudah meninggal... Hu..hutang kami sebenarnya tidak sebesar itu... hutangnya satu milyar, ya..tapi...kami tak bisa bayar dan akhirnya mereka membawa saya sebagai pelunas hutang." Gadis itu masih berbicara sambil menangis
"Jadi mau kamu apa? Aku sudah suruh kami pulang dan tak perlu mengganti nya. Jadi... pergilah... Anggap saja saya sedekah." Gadis itu menggeleng gelengkan kepalanya
"Tidak...tidak.... Tuan... Mana mungkin uang lima milyar diberikan begitu saja kepada saya yang sama sekali tidak anda kenal." Dasha menatap heran
"Jadi maumu itu apa Hem? Saya lelah cepatlah." Gio terlihat kesal.
"Tuan sudah menyelamatkan saya...jika tidak mungkin saya sudah jadi pemuas nafsu berbagai pria... Jadi.. tuan bisa memiliki tubuh saya....tuan boleh memakai saya kapan pun...." Belum selesai gadis itu berbicara gio sudah menyela
"Kamu gila...." Teriak gio dan membuat Dasha terkaget-kaget
"Aku rela tuan...dari pada harus berganti ganti laki laki.... Pada malam itu aku sudah ikhlas jika tubuh saya jadi milik tuan...hanya tuan." Gio tersenyum miring
"Kamu...apa?...rela tubuhmu untukku? Apa aku gila dengan menidurimu dan uang lima milyar ku... Hanya untuk tubuh mu?" Dasha menatap sendu
"Apa aku tidak begitu menarik? Tubuhku ...tidak menggiurkan mu tuan... Tu..tuan.... Aku masih perawan...bukan kan pria menginginkan wanita perawan? Aku masih perawan jadi masih bersih...tak ada penyakit tuan..."
"Tambah lama tambah melantur saja kamu Dasha.... Tapi aku hargai jika kamu mau memberikan keperawananmu padaku. Tapi kenapa? Bukannya kamu berikan kepada suamimu kelak?"
"Tuan...sudah rela membantu saya...saya kira anda memang menginginkan tubuh saya...jadi saat malam itu, asal aku selamat, aku tak apa memberikan hanya untuk anda, tuan. Lagipula... Di negara ini perawan atau bukan sudah tak ada masalah." Gio tersenyum manis
"Kalo begitu ... Boleh...patut di coba... Kamu mandilah dan datang ke kamarku, satu jam.... Aku tunggu di sana. Ok." Gio pergi dari sana lalu melangkah kan kakinya ke kamar di lantai dua." Dasha yang sudah mendengar apa yang diucapkan gio langsung bergetar
"Mom....aduh... bagaimana ini.... Bisa kah aku? Ahhhh... Kenapa malah bilang bayar pake tubuh sih? Sok sok an ikhlas lagi? Dasar bodoh..bodoh..bodoh..." Dia memukul kepalanya sendiri
"Kenapa gak aku bilang bayar pake tubuh dengan bekerja di sini, mengurus semua pekerjaan yang ada di rumah atau aku mencicilnya dengan tiap bulan, kan aku bisa kembali ke minimarket untuk bekerja...aish...nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana aku menarik kembali ucapanku? Aku memang ikhlas saat itu karena gak ada pilihan lain dari pada aku jadi wanita yang dinikmati oleh semua pria, lebih baik oleh dia kan? Yang jelas cuma seorang dan ganteng lagi....aish...otakku..aaaaaahhhhhh." Dasha menghentak hentakkan kakinya sambil memukul kepalanya sendiri.
Sedangkan gio sang pria sedang merentangkan tangannya di atas kasur...nyaman...itu yang gio rasakan setelah bekerja seharian. Cukup 30 menit baginya untuk mengistirahatkan tubuh nya dan dia bangun lalu masuk ke kamar mandi.
Di sana dia menggosok giginya dan menatap cermin di depannya... Mimikirkan ucapan gadis itu dan dia malah tersenyum. "Dasar gadis bodoh.... Mana mungkin aku mengbil keperawanan dia, walaupun aku bisa tapi aku tak mau... Aku sudah janji pada diriku sendiri jika aku akan melepaskan keperjakaan ku hanya untuk istriku. Tapi... Sepertinya menyenangkan jika menggodanya sedikit. Hehehe..." Gio menyelesaikan ritual mandinya dan ketika dia keluar dengan sebuah handuk yang mengikat di pinggangnya, juga handuk kecil mengusap usap rambutnya, dia terkaget karena ada seorang gadis yang sudah duduk di ranjang miliknya....
"Ya ampun...kamu..." Gio kaget bukan main
Dan gadis itu hanya bisa menatap badan gio yang menggiurkan dan dia menelan Saliva nya. Glugp...
****
mampir yuk ke ceritaku yang lain...ada cerita tentang perselingkuhan yang berjudul "aku, kamu dan dia" juga ada pasangan somplak. makasih.
jangan lupa like, vote and comment ya...biar tambah semangat nulis.