
" Berikan aku waktu untuk berpikir...ini komitmen seumur hidup...jadi butuh pemikiran yang sangat tenang dan tidak terburu buru.". Gio mengangguk dan mereka berpelukan " makasih" ucap Naomi.
Naomi dan gio akhirnya kembali setelah sekian lama bermain di laut, Arsen dan Hanna juga sempat bermain selancar dan kembali ke atas tikar lalu duduk duduk di sana.
Melihat gio dan Naomi turun dari jetski dan berpegangan tangan membuat darah arsen kembali terasa panas, dadanya bergemuruh.
Arsen ijin pergi ke toilet pada Hanna dan gio juga Naomi hendak berganti pakaian, dan gio menghentikan langkahnya di dekat sebuah pohon sebelah toilet.
"Yo.. lepaskan dulu tangannya, toilet kita beda loh." Gio tersenyum " ya iyalah beda, aku kan ke toilet cowok, kamu ke toilet cewek. Aku juga tau."
"Ya udah lepasin tangannya. Gimana aku bisa pergi." Gio cengengesan
" Tunggu dulu dong aom....my princess..." Ucap gio sambil menyentuh pipinya.
" Kamu kamu apa sih? Ini udah sore...kita kan mau siap siap buat makan malam loh..."
" Sebentar aja." Manja gio
" Ok. Apa? Mau ngomongin apa?" Naomi menunggu ucapan gio.
" Aom....kamu janjikan akan secepatnya jadi milik aku? Jangan terlalu lama ya?" Naomi tersenyum dan mengangguk.
" Ya... paling ngak tunangan dulu ya." Ucap Naomi.
"Mungkin 2-3 bulan kita bisa tunangan dulu dan menikah beberapa bulan berikutnya.... Tapi aku akan yakinkan dulu hati aku, bukan aku tak sayang ... Bukan... tapi...apa aku bisa secepat itu...karena aku tak mau mengecewakan mu. Karena aku ingin pernikahan itu hanya satu kali sampe aku mati...dan jika aku sudah bilang iya...aku belum pernah menarik kembali kata kataku...jadi sabar ya Yo....." Gio terlihat sendu dan tersenyum kecil mendengar penuturan naomi.
"Aku harap jawaban nya iya dan secepatnya.... seperti yang kamu bilang ketika kamu bilang iya maka kau tak akan menariknya bukan? Baiklah, cepat ganti baju.... Aom...i love you so much....cup." kecupan singkat di pipi Naomi dan gio melepaskan genggaman tangannya. Mereka pun masuk ke toilet yang berbeda.
Di sisi lain terlihat seseorang yang memperhatikan mereka dan merasakan sesak di dada. Di balik pohon dia bersandar menutup mata dan terduduk dengan lemas sampai menitikkan air matanya. Rasanya tak sanggup....tak bisa lagi menahan.
Orang itu tak lain tak bukan adalah Arsen Miller seorang pengusaha kaya yang dulu sangat dingin dan kejam namun saat ini dia sangat terpuruk bahkan rasa sakitnya melebihi ketika ditinggalkan pengantin perempuan di saat acara pernikahan.
"Mengapa sesakit ini? Apa kita tak akan mungkin bersama my angel? Tak adakah kesempatan itu? Kukira dengan keputusan yang dulu telah ku ambil itu adalah keputusan yang tepat, namun apa? Aku terpuruk dan tersakiti begitu dalam. Hiks hiks." Batin Arsen berteriak, dia menangis tanpa mengeluarkan suara nya. Terduduk dan menunduk, lutut dan tangan sebagai penahan kepalanya.
Semua orang sudah kembali ke vila...gio dan Naomi sedang membereskan acara bakar Bakaran. Semua terlihat senang kecuali Arsen.
Mereka makan dengan lahap dan bercanda diselingi makan. Acara telah selesai dan mereka duduk di depan televisi, di atas karpet berbulu ditemani cemilan dan minuman ringan.
Hanna yang melihat Arsen diam saja sedari tadi sore pun buka suara.
"Honey...kamu kenapa? Capek...atau banyak pikiran? Kerjaan kamu gak ada masalah kan?" Arsen hanya menggeleng kan kepalanya dan tersenyum
"Santai aja bro...kerjaan jangan dipikirin ya, besok kita baru kerja lagi baru pikirin kerjaan." Ucap gio dan Arsen kembali tersenyum "Yap.." Arsen mengacungkan minumannya
"Emmmm biar seru gimana kalo kita main say the truth ? Sambil nunggu malam nih ..kan baru jam 8 juga, acara tv juga gak seru. Gimana? " Tanya Hanna begitu antusias.
"Boleh...boleh..." Ucap gio " gimana menurutmu sayang?" Tanya gio melihat ke arah Naomi. "Aku belum pernah memainkannya." Gio tersenyum" makanya kita coba...cuma bilang jujur aja, gimana" tanya gio sekali lagi. " Ya boleh." Naomi tersenyum manis
"Baiklah aku duluan." Hanna mengambil botol bekas sirup dan mencoba memutarkannya di atas karpet yang diberi alas sebuah papan kecil untuk mempermudah perputaran botol tersebut.
"Siap?" Ucap Hanna dan diangguki yang lain. " Baik aku mulai." Botol itu berputar dan berhenti ke arah gio. "Naomi...kami mau bertanya atau aku? Ini kesempatan mu loh." Naomi tersenyum " aku mau tanya... seberapa besar cinta mu padaku?" Gio tertawa "pertanyaan yang sangat mudah...cintaku padamu lebih besar dibanding cintamu padaku, kau tak akan pernah bisa bayangkan Naomi... kebahagiaan mu adalah kebahagiaan buatku." Gio menatap lekat mata naomi, begitu serius dan dalam jawaban gio.
"Uuuuhh so sweet...." Tutur Hanna
"Ok sekarang gio yang putar..." Gio mulai memutar botolnya dan menunjuk ke arah Hanna.
"Arsen, ayo tanya Hanna...aku kasih kesempatan padamu." Arsen tersenyum dan membuka mulutnya. " Bagaimana hidupmu selama aku tak berada di sisimu 2,5 th yang lalu? Apakah biasa saja, tenang tenang saja, terpuruk atau rasanya ingin mati saja?" Hanna terlihat bingung mengapa Arsen menanyakan hal tersebut " aku....aku di awal hancur sen...terpuruk karena kejadian yang merenggut hal yang sangat berharga, berjauhan denganmu awalnya berat...namun keluarga begitu mensupport jadi aku bangkit dan mampu melalui ini semua. Bekerja dan menjalani hidup dengan normal sampai aku ketemu kamu lagi dan sekarang aku bahagia sen." Arsen tersenyum "bagus kalo begitu...jika aku tinggalkan kamu lagi kamu pasti sanggup bertahan kan?" Hanna terlihat bingung "haha...kamu ini ada ada saja ...kamu memang mau kemana? Kamu gak lagi sakit kan?" Arsen tersenyum dan menggeleng gelengkan kepalanya. " Tidak tentu saja tidak ...itu hanya seandainya saja ..kita tak tau takdir akan membawa kita ke mana." Arsen melirik Naomi dan Naomi langsung memutus tatapan itu dengan menatap gio dan tersenyum kecil.
"Baik, sekarang bagian ku untuk memutar. " Hanna memutarkan botolnya dan botol itu mengarah ke arah Naomi. Hanna tersenyum " gio...mau tanya sesuatu?" Gio tersenyum " my little aom....apakah kau mau menikah dengan ku?" Naomi melirik ke arah Arsen lalu menatap gio " bukankah aku bilang aku butuh waktu?" Gio tersenyum " ok...ganti pertanyaan kalo gitu.... apakah kau sudah mulai mencintaiku dan bersedia bertunangan denganku bulan depan?" Naomi menarik napasnya karena rasanya terasa berat namun tak mungkin dia menolak, bukankah dia akan membuka hati untuk gio? "Ya ..aku mau...tapi tidak bulan depan gio...haha ..terlalu cepat. Mungkin 2bulan lagi. Aku harus bilang bukan ke mom and dad?" Arsen menundukkan kepalanya dan juga memejamkan matanya mencoba menahan sesak di dada.
"Baik giliran ku" ucap Naomi dan botor mengarah ke Arsen
"Hey Mr Miller yang tampan...apa kau mencintai ku?" Tanya Hanna
"Tidak...cintaku untukmu sudah hilang...dan digantikan oleh orang lain." Gio mengerutkan dahinya
"Hahahaha...Arsen....gurauan mu tak lucu...kau suka sekali bergurau." Tawa Hanna terlihat dipaksakan.
"Hahaha...ya...aku memang suka menggodanya." Arsen melirik Naomi dan langsung memutar kembali botolnya. " Gio...jika ternyata your little aom lebih mencintai orang lain, dan kau mengetahuinya saat pernikahan akan berlangsung, apa yang akan kamu lakukan?" Gio terkejut mendengar ucapan Arsen sedangkan Naomi menatap gio dengan serius dan gio kembali menatap Naomi dan berkata " aku akan menarik aom ke depan penghulu dengan tanganku sendiri....tak akan aku biarkan dia kabur di acara pernikahan."
"Ah...sudah .sudah...kok rasanya semakin serius begini ya ..permainannya jadi tidak menyenangkan." Ucap Hanna
"Hahaha ... Tapi kami benar Arsen...my little aom memang pernah mencintai laki laki lain sebelum kita bertemu kembali, namun pria brengsek itu malah kembali ke tunangannya yang dulu. Tapi..bentar bentar...rasanya aku harus berterima kasih padanya, dengan begitu aku memiliki kesempatan yang sangat besar untuk memilikinya. Hanya un-tuk-ku. she is mine now." Terus terang kata kata itu menusuk hati Arsen...ya...benar laki laki itu memang brengsek... sangat brengsek....bisa bisanya dia meninggal kan perempuan yang dia cintai. Tunangannya adalah masa lalu dan Naomi adalah masanya kini tapi sekarang sudah jadi masa lalunya juga karena keputusan yang sangat BODOH. Ya BODOH.
"Laki laki brengsek...betul...laki laki seperti itu memang brengsek gio...kalo bisa laki laki itu mati saja. Benar?" Tanya Arsen
"Tidak... walaupun begitu dia berjasa atas kisah cintaku dan aom....mudah mudahan dia juga bahagia dengan pilihannya." Ucap gio tulus
"Kau memang laki laki baik gio...kau pantas mendapatkan aom mu itu." Arsen melirik Naomi dan Naomi beranjak ke dapur
"Mau ke mana sayang?" Tanya gio
"Ke dapur..aku mau minum, rasanya kerongkongan ku kering..." Arsen ikut berdiri "aku juga mau ke toilet...Hanna, kamu mau minum juga?" Arsen menunggu Hanna berbicara " ya boleh...bawa air mineral ke sini .. aku juga butuh air mineral untuk membasahi tenggorokan ku." Arsen tersenyum dan melangkah kan kakinya.
Arsen melihat Hanna berbincang bincang dengan gio, ini kesempatan untuk Arsen mendekati Naomi. Naomi yang sedang minum di depan lemari es terlihat terdiam membisu dan menyimpan gelas di meja. Dia berdiri mematung dengan memejamkan matanya. Arsen lalu menarik tangan Naomi ke pintu luar yang ada di dapur tersebut. Menarik ke arah taman, di sana ada beberapa pohon dan Arsen membawa Naomi ke sana.
"Aw....Arsen?" Mata Naomi membesar.
"Shut....jangan berisik." Arsen masih menarik tangan Naomi dan bersembunyi di sana.
"Apa yang kamu lakukan Arsen.?" Naomi terlihat kaget dan takut jika gio melihatnya
"My angel..." Arsen memeluk Naomi begitu erat dan Naomi berniat pergi namun tangannya ditarik lagi, saat ini Arsen memeluk dari belakang.
"Hentikan Arsen.. hentikan...aku mohon." Naomi meneteskan air mata nya.
"Apakah tidak ada kata kata yang lain Naomi...aku rindu kamu bilang i love you...honey ..kata kata manis mu dan senyumanmu...hanya untuk ku sayang." Arsen mencium bahu Naomi dari belakang.
"Hentikan candaanmu Arsen." Suara Naomi terasa tercekat.
"Sayang ...aku sudah tak tahan lagi dengan ini semua.. aku tak sanggup."
"Bukankah ini pilihan mu Arsen....aku hanya mengikuti keinginan mu. Jadi hentikan rengekan mu dan kembali ke tunangan mu." Naomi merasakan sesak ketika mengatakannya
"Apa cintamu untuk ku sudah tidak ada? Jujur padaku Naomi" Arsen membalikkan badan Naomi
"Aku membencimu Arsen...aku membencimu. Hiks...hiks .." Naomi mukul dada Arsen sambil menangis.
"Aku membencimu dan membenci diriku...hiks...karena aku tak bisa melupakan mu...ku kira. Hiks .hiks...aku bisa dengan mudah melepaskan mu...hiks...namun ternyata...sulit...sangat sulit...kenapa kau selalu diam di hati dan kepalaku Arsen. Kenapa? Padahal ada gio yang selalu berada di samping ku...aku benci kami Arsen ....aku benci...hiks .." Arsen memeluk Naomi dengan erat.
"Aku juga mencintaimu sayang....aku pikir kau sudah melupakan aku dan tak ada rasa cinta yang tersisa untuk ku. Naomi...my angel....aku tak bisa hidup tanpa mu sayang." Ucap Arsen menatap sendu mata Naomi namun terdengar suara memanggil manggil namanya.
"Aom...sayang ..aom...di mana kamu sayang ....aom...aom..." Gio teriak memanggil Naomi
Deg..deg.. deg...deg.... Jantung mereka berdetak sangat kencang...mereka bingung harus bagaimana...
"Honey...Arsen.... Honey....sen...Arsen..." Kali ini suara Hanna yang terdengar.
"Bagaimana ini..." Naomi terlihat bingung begitu pun dengan Arsen.
******
Gimana kelanjutannya? Masih penasaran? Kepedean amat ya ada yang penasaran kelanjutannya.
Dasar author...ngarep aja terooos..
Thanks for reading my story ya. Don't forget to give like vote and comment.
See you next chapter
Bye 🤗😘