
Memang dokter cantik dan menawan. You are so special. Rasanya aku akan sangat bersyukur jika aku bisa jadi imam nya. " Angga senyum senyum sendiri.
****
Waktu sudah menunjukkan pukul 06:00 pagi, itu artinya Naomi sudah selesai mengerjakan tugas nya sebagai dokter, dia melangkahkan kakinya menuju luar gedung RS setelah dia mengambil tas dan juga jas nya di ruang pribadinya.
Ketika sampai di depan ruang UGD sudah terlihat seseorang yang tengah berdiri setengah menyenderkan badannya di mobil miliknya dan mengangkat kaki kanan menempel di kaki kirinya sambil memegang handphonenya.
Mobil yang beda dari yang lain memang selalu menjadi sorotan tak sedikit wanita yang lewat menoleh ke arah laki laki tampan itu. Bahkan laki laki pun merasa terpesona melihat kegagahan seorang Arsen.
Badan yang tinggi nan sempurna dengan tegap, sudah pasti perutnya ada ABS nya, wajah yang disuguhkan dengan jambang tipis membuat semua mengidam idamkan sosok arsen. Banyak yang berbisik di telinga nya, banyak komentar komentar dari orang yang memperhatikan nya.
"Ganteng banget, sumpah."
"Yang, gym dong biar badannya kayak gitu."
" Yang tumbuhan jambang dong biar agak geli geli gimana gitu "
"Kalo gue jadi bini nya gak bakal gue keluar kamar."
"Uhhhhh....hot."
" Sooooo ...sexy...."
"Meleleh gue...."
"Siapa yang beruntung mendapatkannya sih?"
"Kayak liat patung Yunani
gue..."
Ya itulah ucapan ucapan yang sempat terdengar baik oleh Arsen atau Naomi.
Naomi terdiam sesaat....lalu ketika Arsen menengadah kan wajahnya dia dapat melihat sang kekasih yang dia rindukan tengah menatapnya. Arsen lalu berdiri sempurna, dia menyebrang ke halaman RS karena tidak melihat Naomi berjalan.
Setelah menyebrang arsen pun terdiam di tempat sambil menatap wajah Naomi, jarak mereka mungkin sekitar 5 meter. Arsen membuka lengannya dengan lebar, menunggu kekasihnya untuk memeluknya.
Naomi mengerti akan maksud Arsen, seketika dia lupa dimana mereka berada saat ini. Naomi berlari dan lompat ke pelukan Arsen, Arsen yang melihat itu tersenyum dan mengangkat tubuh mungil Naomi, sangat tinggi, dahi mereka bertemu, menempel diikuti senyuman yang merekah...
Arsen sedikit menurunkan badan Naomi namun masih di peluknya, wajah mereka berhadapan, terasa hembusan napas dari masing masing, kecupan singkat mendarat di bibir Naomi. Dan Arsen menurunkan badannya lalu mendekapnya erat menyalurkan rasa sayangnya, melepaskan rasa rindunya.
"I Miss you, my angel.... I Miss you so much." Naomi yang mendengarnya langsung pipinya merona seperti tomat.
"I Miss you more, my love." Arsen tersenyum lebar menurunkan tubuh Naomi lalu digenggam tangan naomi, jari jemari mereka saling bertautan dan Arsen menariknya menuju mobil yang sudah terparkir di sebrang RS sejak pukul 5:45 , dia parkir di sana supaya lebih mudah untuk keluar dan melajukan kendaraannya tanpa harus membolak-balikkan mobil nya.
Tak di sangka ada seseorang duduk di balik mobil hitam memperhatikan mereka dan terlihat amarah juga cengkraman di setir mobil.
Naomi dan Arsen berada di dalam mobil, tangan mereka masih terkait satu sama lain setelah tadi Arsen lepas karena berputar masuk ke kursi kemudi.
Di perjalanan mereka terkadang saling menatap dan tersenyum sekilas.
"Gimana urusannya, sudah beres?" Naomi mulai pembicaraan. Terus terang dia khawatir dan ingin permusuhan itu selesai dengan damai.
"Urusan dengan paman memang selesai, namun masih ada satu masalah lagi. Tapi aku akan cerita nanti ya." Naomi tersenyum hangat, bersyukur akhirnya paman dan ponakan bisa akur.
"Alhamdulillah, aku bersyukur sekali akhirnya kalian berdamai, aku selalu berdoa kepada Allah, hubungan kalian bisa kembali hangat dan baik."
"Terima kasih Naomi." Arsen mengeratkan genggaman tangannya dan mencium punggung tangan naomi.
" Harta tidak akan kita bawa mati sen, tapi hanya ibadah dan amal perbuatan yang akan mendampingi kita di alam kubur, sampai di hari kebangkitan." Arsen melirik dan tersenyum.
"Ya makanya aku tadinya kan udah mau kasih saham grandpa, tapi uncle Robert tolak. Kita sempat adu mulut padahal surat surat pemindahan pun sudah diurus atas nama uncle tapi uncle terlihat enggan menerima nya dan penyesalan pun terlihat di wajahnya, sangat tulus. Tapi surat itu sudah ku kasih ke aunty molly."
"Bagus lah, hanya karna 15% tapi keluarga jadi musuh sungguh tidak setimpal." Arsen mengangguk tanda dia setuju dengan ungkapan Naomi.
"Kamu benar sayang." Arsen menatap jalanan sesekali melirik ke samping menatap sang kekasih.
"Kita sampai sayang...ayo turun." Naomi pun langsung melepas seat belt nya dan sebelum membuka pintu mobil Arsen sudah lebih dulu membukanya. Arsen memeluk pinggang Naomi, mendekapnya seakan akan dia takut Naomi menjauh.
Arsen hanya tersenyum dan terlihat gemas dengan tingkah Naomi, pipinya mulai merona dan arsen langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Naomi, ciuman hangat mendarat di bibir naomi.
Arsen yang menginginkan lebih pun ditolak Naomi.
"jangan sen." dan Arsen terdiam membeku.
"Kamu marah?" Arsen hanya tertegun
"Kamu marah sen, maaf." Naomi merasa tidak enak karena telah menolak kekasihnya.
"Aku tidak marah, aku hanya..." Arsen bangun dan duduk di ranjang Naomi begitupun naomi mendudukkan dirinya di samping Arsen.
"Maaf...aku sudah melanggar janjiku. Jika kamu tak mengingatkan mungkin kita sudah jauh Naomi." Naomi merasa lega karena diam Arsen tadi bukan karena marah namun karena menyesal.
"Tidak apa apa sen, manusia itu gudangnya khilaf." Naomi tersenyum
"Kalo gitu boleh gak aku lanjut khilaf nya?" Arsen tertawa dan dia mendapat cubitan dari Naomi.
"Dasar kamu, mana ada orang khilaf bilang dulu trus sadar lagi bilang mau khilaf. " Naomi tertawa.
Mereka pun tertawa sambil berpelukan. Kepala Naomi berada di dada Arsen. Dan Arsen kembali termenung.
" Kamu kenapa sen?"
"Apa kamu tidak menyesal berpacaran denganku?" Naomi mengernyitkan dahinya
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Karena aku sudah tidak perjaka, aku sudah pernah bermain wanita, one night stand beberapa kali....apa kamu menyesal?" Arsen melepas pelukannya dan menatap mata Naomi. Lalu tertunduk.
"Kenapa kamu melakukannya? Apa alasannya, sekedar nafsu atau memang kebiasaanmu? Apa hal itu masih terjadi?"
"Aku hancur Naomi, saat itu aku mau menikah namun pada hari pernikahan ku, dia...wanita yang ku cintai wanita yang akan menjadi istriku tidak datang. Kami pacaran sudah 2th akhirnya memutuskan untuk menikah. Tapi kenapa dia tidak datang? Sampai saat ini aku tak tahu alasannya dan di mana dia sekarang. Pergi bagai ditelan bumi." Naomi termenung mendengar cerita masa lalu sang kekasih.
"Aku frustasi, aku pergi ke club' dan minum minuman beralkohol sampai hampir mabuk, lalu wanita pun berdatangan mencoba menggoda, awalnya aku tepis namun karena dia terus menerus menggoda akhirnya kami masuk ke salah satu kamar yang tersedia di club' itu dan....kami melakukannya." Mata Naomi terbelalak namun dia belum membuka suara.
"Saat itu aku baru merasakan yang namanya hubungan intim....aku mulai menikmati nya dan akhirnya aku sering ke club' dan mencari gadis untuk ku booking setelah di cek oleh dokter pribadiku kalo dia bersih tidak mengidap penyakit baru keesokkannya aku sentuh dia." Naomi saat itu merasa pintar juga nih orang mau gituan juga di cek dulu.
"Sampai seminggu saja aku melakukannya, mungkin 3atau 4 wanita yang pernah tidur denganku, aku mencari pelampiasan dari keterpurukan ku saat itu tapi aku masih merasa kosong...tak ada kebahagiaan. Sepi...sedih...hampa... walaupun setelah melakukan **** tak ada rasa bahagia, hanya kenikmatan sesaat, maka setelah hari itu aku tak menyentuh lagi wanita, aku menyibukkan diri ku dengan pekerjaan dan sering pergi bolak balik luar negeri." Arsen menghela napasnya
"Banyak wanita yang ingin berhubungan dengan ku, bahkan siap menyodorkan dirinya di depan ku namun aku tolak. Bahkan orang tua ku mau jodohkan ku. Sempat berpikir untuk menerima, namun sebelum itu aku pergi jalan jalan dengan Andre ke jembatan mencari udara segar untuk menenangkan pikiran, saat itu di Singapore...aku melihat seorang gadis cantik, menawan nan tangguh sudah dengan berani menyelamatkan diriku." Arsen mengangkat wajahnya dan menatap Naomi. Matanya berbinar binar penuh kehangatan
"Gadis itu....." Naomi belum meneruskan dan Arsen langsung menjawab
"Ya...itu kamu...gadis cantik, menawan, pemberani yang dengan gampangnya menggetarkan dan menghangatkan kembali hati yang sudah beku. 2th Naomi hati ku beku. Tak ada senyuman, tak ada tatapan hangat. Kanya karena kamu aku bisa seperti ini. Kembali menjadi seorang Arsen yang memiliki harapan dan impian." Arsen memeluk Naomi erat.
"Apa kamu menyesal Naomi...aku sudah tidak perjaka lagi...namun tenang aku masih bersih...aku tidak terkena penyakit akibat kenakalanku dulu " Arsen tersenyum menggoda.
"Aku tidak mau...." Arsen terhentak dengan jawaban Naomi...dia mulai takut Naomi akan menjauhinya.
*******
Wah panjang banget ini sampe 1571 kata loh.
Seru gak? Kasih masukannya dong, komentar juga ya...
Vote and comment dari kalian itu penyemangat ku untuk terus menulis melanjutkan cerita ini.
Yang udah mau baca makasih ya.
Kayaknya aku gak akan up setiap hari deh... kecuali kalo ada banyak yang nungguin kelanjutan nya. soalnya Noona butuh vote buat sangat menulis.
See you next chapter
Bye 🤗😘