
"Aku tidak mau...." Arsen terhentak dengan jawaban Naomi...dia mulai takut Naomi akan menjauhinya.
"Aku tau aku memang kotor, sedangkan kamu gadis yang baik dan masih virgin. Aku mengerti jika kamu menolak ku Naomi. " Arsen tertunduk dan meneteskan air matanya.
Naomi mengangkat wajah Arsen, menangkupnya dengan kedua tangan dan menghapus jejak air mata yang menetes di pipi Arsen dengan ibu jarinya. Lalu berkata
"Aku tidak mau....menolak laki laki tampan nan menggemaskan ini. Yang penting kamu sudah sadar dan tak mengulanginya lagi. Cukup saat itu saja. Aku tidak akan terima jika kamu melakukannya saat kita sedang memiliki hubungan seperti saat ini, asal kau tidak selingkuh dariku maka hal yang dulu aku coba lupakan." Naomi tersenyum dan Arsen terlihat bahagia dengan ucapan Naomi. Dipeluk kembali Naomi dan dikecup dahinya.
"I love you... I love you... I love you Naomi. Thanks honey. " Dia kecup semua bagian wajah Naomi, dahi kedua pipinya, dagu, hidung mata dan terakhir bibirnya dan Naomi merasa geli akibat jambang dari Arsen.
"Sudah cukup Arsen, geli.." mereka pun tertawa bersama.
Mereka terlentang tiduran di ranjang kamar Naomi, saling berpelukan. Arsen mengusap usap kepala Naomi hingga mereka tertidur sampai siang hari.
***
Sekarang di sini lah mereka di dalam mobil hendak menuju kearah mall besar di salah satu kota jakarta.ereka turun dan saling menggenggam tangan. Jari jemari saling bertautan, terkadang saling tatap dan tersenyum bahagia.
Naomi tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi padanya, bertemu dengan orang yang tidak dikenal di tengah tengah insiden penembakan, tepatnya percobaan pembunuhan.
Siapa sangka orang yang dia tolong akan menjadi sosok yang sangat spesial bagi hidupnya saat ini.
Tak beberapa lama suara dering telpon berbunyi.
Drrrrrt... drrrrrttttt
"Hallo, assalamualaikum. Mom?"
"Waalaikmslm. Neng geulis, kapan pulang ke Bandung. Mommy kangen tau."
"Ya mom, Minggu ini Naomi rencananya mau pulang, mungkin cuti 2hari."
"Benar kan? Kamu tidak bohong?"
"Bener mom, Daddy di mana mom, di kantor ya?"
"Daddy lagi males ke kantor, tuh lagi siap siap pergi sama temannya. Katanya mau pergi latihan kendo"
"Wah Daddy masih aktif ya? Bilang ke Daddy, nanti latihan sama Naomi ya mom."
"Emang kamu masih suka latihan gitu?"
"Masih atuh mom. Harus, kudu eta mah...biar sehat juga kuat tentunya."
"Eh dasar si neng geulis. Ya atuh pokokna mah ditunggu ya geulis."
"Siap mom. Entar di kabari kalo udah berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikmslm."
"Siapa sayang ?" Tanya Arsen karena dia sedikit agak kurang mengerti dengan bahasa selain bahasa Indonesia.
"Mommy, katanya kangen, suruh pulang ke Bandung."
"Kamu mau cuti ya 2hari?"
"Kamu nguping ya sen?" Naomi sbil menunjuk menggoda Arsen.
"Bukan nguping, tapi emang kedengeran kali. Kan kamu di sebelah aku."
"Oh iya ya..." Naomi terlihat sedikit berpikir dan bengong, itu membuat Arsen gemas sendiri. Arsen pun mencubit pipi Naomi.
" Ih sakit tau." Bibir Naomi cemberut bikin Arsen tambah gemes aja.
" Kalo liat kamu gini, gak ada yang bakal tahu kamu itu seorang dokter bahkan gak akan menyangka kamu bisa bela diri." Naomi malah senang Arsen bilang begitu. Dia tersenyum bangga.
"Kecil kecil juga cabe rawit kan?" Arsen mengangkat kedua jempol nya
"Kamu memang the best." Tiba tiba Naomi merasakan lapar, mereka sungguh belum makan dari pagi sampe siang, saking rindunya mereka hanya melepaskan kerinduan saja tanpa ingat perutnya kosong.
"Sen, aku lapar. Belum sarapan dari pagi. Makan yu." Arsen langsung mencari cari restoran yang dekat supaya mereka bisa cepat makan.
"Gimana kalo di sana? Aku juga lapar. Saking rindunya sama kamu aku gak ingat kalo aku belum sarapan dan sekarang sudah siang saja."
Mereka pun akhirnya makan dengan lahap dan kekenyangan. Naomi butuh ke kamar mandi, dia ingin pipis dan ijin ke belakang sebentar.
"Sen, aku ke toilet bentar ya" Arsen mengangguk kan kepalanya sambil sesekali melihat hp nya.
"Ya jangan lama lama, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
"Ok. "
Naomi sudah 30 menit berada di toilet tapi belum kembali juga. Arsen agak sedikit panik jadinya. Takut terjadi sesuatu.
Arsen pergi menghampiri toilet wanita dan menunggu sang kekasih keluar namun tak ada, beberapa wanita keluar dari sana namun bukan kekasih nya.
Arsen bingung mau masuk nanti bisa bisa diteriaki mesum, tidak masuk bingung Naomi di mana.
Sudah berkali kali dia telp Naomi nun tak diangkat bahkan terakhir tidak aktif setelah panggilannya di reject.
Dia minta seorang wanita untuk cek apa ada wanita dengan ciri ciri yang disebutkan Arsen, namun aneh sungguh aneh. Tak ada seorang pun di toilet katanya.
Arsen merasa sangat bingung...kemana gadisnya pergi, tak lama ponselnya pun berdering.
Drrrt.. drrrrrttttt
No tidak dikenal
"Hallo..."
"Hi Arsen...kamu bingung di mana gadismu bukan?"
"Kamu...jadi kamu yang membawa Naomi?" Teriakan keluar dari mulut Arsen. Dia merasakan amarah yang sangat besar. Rasanya ingin sekali dia memukul seseorang yang berada di balik telpon saat ini.
"Tenang, Naomi aman sama gue...... Gue mau Lo lepasin Naomi ok, gue gak akan nyakitin dia, biarkan Naomi jadi milik gue. Gimana?"
"Apa maksud Lo ********?" Arsen menggertak rahangnya.
"Gue cinta Naomi...gue mau milikin dia. Gue udah jatuh cinta sama dia semenjak gue liat di Singapore."
"Shit! Denger ya... She is mine. Dia calon istri gue. Jangan seenaknya aja Lo ya."
"Gimana kalo kita barter?"
"Maksud Lo barter sama apa? Berapa uang yang Lo mau, gue kasih."
"Jadi mau Lo apa? Saham perusahaan? Hotel? Atau apa hah?"
"Gak ada sangkut pautnya dengan harta bro."
"So what?"
"Bukannya Lo punya calon istri 2,5 th lalu Arsen?" Arsen terdiam dia teringat akan sosok wanita yang dulu dia cintai dengan tulus.
"Maksud Lo, Lo mau Hanna? Gue aja gak tau dia di mana."
"Hanna ada di tangan gue, Lo gak perlu cari dia. Baru 2 hari dia sama gue. Tenang aja dia aman kok. Gak lecet sedikitpun." Arsen tambah geram, bagaimana dia bisa dapet Hanna sedangkan dirinya dulu nyari gak ketemu juga. 1 th dia cari tp gak ketemu juga.
"Gimana bisa Lo dapet dia, dulu gue cari cari gak ketemu."
"Dia sembunyi dari Lo, dia tinggal di Hawai dan gue tahu setahun belakangan. "
"Jadi maksud Lo apa hah? Kedua wanita ada di tangan Lo baji*gan." Arsen sungguh muak dengan permainan ini
"Gue suka Naomi, gue mau Lo lepasin Naomi dan kembali ke Hanna, menikahlah Dengan nya." dengan santai James berkata demikian.
Sungguh berat rasanya jika harus memilih, kedua wanita ini sama sama orang yang dia cintai.
"Aku gak bisa milih...keduanya berharga buat gue...please lepasin mereka." Arsen terdengar lirih
"Wow.. seorang Arsen memohon, sungguh hal yang menggemparkan ya...tapi maaf bro Lo harus pilih salah satu. Mau Naomi atau Hanna."
"Sebelum Lo jawab, gue mau kasih tau dulu alasan Hanna pergi meninggalkan Lo di acara pernikahan Lo."
"Gue cinta Hanna...lagi lagi orang yang gue cinta selalu memilih Lo, seminggu sebelum pernikahan gue bilang ke Hanna untuk pergi sama gue...nikah sama gue..tapi dia menolak, dia cinta mati sama Lo. Yang akhirnya sebelum besok dia menikah sama Lo, gue bawa Hanna dan gue per***a dia....dan berharap dia bisa menerima gue. "
"Bang*at...sial**...baji**an...Lo hancurin kebahagiaan dan hidup Hanna. Sinting " teriak Arsen
"Gue mabok man...gue udah bingung gimana cara membujuk Hanna Nerima gue, gue lupa dan gue per***a dia. Tp tetep aja dia gak mau Nerima gue sampai sekarang."
"Hati Lo dimana James...Lo temen gue juga Hanna...kenapa Lo tega baji**an." Arsen teriak dengan rasa marah dan hati yang hancur. Tetesan air mata pun tak dapat dibendung lagi..
"Gue juga sama hancurnya sen, gue mau dia nikah sama gue tapi tetep gak mau. Hati gue beku gak bisa jatuh cinta lagi. Tapi di malam itu gue lihat ada cewek cantik pergi bersama teman teman nya, tertawa riang di dekat mesjid sungguh menyejukkan hati. Hati gue menghangat merasakan kembali getaran getaran itu. Jadi gue harap Lo balik ke Hanna...dan Naomi biar sama gue. Gimana? Cukup Adil bukan?"
"Di mana alamat Lo? Gue ke sana sekarang." Arsen menarik nafas dalam-dalam dan mencoba untuk menetralkan perasaan nya sehingga dia bisa berpikir dengan jernih.
"Datang saja ke alamat ini xxxxx"
"Ok. Lo cuma bisa jemput salah satu dari mereka. Gue harap Lo bawa Hanna. Karena dia gak bisa terima gue, tp Naomi..dia masih bisa gue raih asal Lo pergi dari hidup dia."
Di lain tempat...
"Hai Naomi.."
"James...kamu di sini..tolong aku..aku di culik. Seseorang telah membius ku ketika aku keluar dari toilet." Terlihat wajah khawatir Naomi
"Tenang, aku tidak menculikmu. Aku hanya ada perlu dengan mu sebentar."
"Maksud mu...ini ulahmu?"
"Ya...tapi tenang dulu, jangan marah gitu dong sayang "
"Sayang, sejak kapan kita seakrab itu sampai sampai kamu bilang sayang sama aku?" Naomi terlihat kesal dan marah.
"Ok aku gak akan panggil sayang, gini Naomi..aku hanya ingin memberikan kamu informasi, calon istri dari Arsen 2,5th lalu ada di Indonesia, tepatnya di sini." Naomi membulatkan matanya.
"Dia di sini? Dimana?"
"Di mansion ku." Ucapnya enteng
"Kau tahu, mereka sangat saling mencintai. Bahkan ketika aku jatuh cinta dengan Hanna, dia tidak mau menerimaku Naomi. Ya aku hanya bantu Arsen mencarinya dan akhirnya aku menemukannya."
"Bagaimana kau kenal Arsen dan tau masalah percintaan nya?"
"Tentu saja aku tau, aku temannya sewaktu di SMA." Sungguh Naomi tak menyangka mereka berteman.
"Posisinya sekarang adalah bagaimana denganmu jika wanita yang Arsen cintai ada di sini. Apakah dia akan memilihmu atau memilih Hanna yang terang terang sudah berpacaran selama 2th dan sempat menjadi calon istri tentunya."
Naomi termenung memikirkan nasib percintaan nya ..apakah mereka masih bisa bersama sedangkan ada Hanna diantara mereka saat ini. Sungguh miris...mungkin Arsen akan lebih memilih Hanna dibandingkan dirinya.
"Tenang Naomi, jika Arsen tak memilihmu, masih ada aku di sini." James berlutut mensejajarkan dirinya dengan Naomi yang tengah duduk di sofa.
"Naomi, kau tahu ..sebelum aku bertemu dengan mu di RS, kita pernah bertemu. Tepatnya aku yang melihatmu. Saat itu kamu baru keluar dari mesjid di Singapore, dan aku baru turun dari mobil yang aku parkir di tempat parkir mesjid. Saat itu lahan parkir penuh sehingga aku ikut parkir di sana...aku jatuh cinta hanya dengan melihat senyumanmu. Hatiku menghangat Naomi. Aku melamunkan dirimu, Ketika aku tersadar kau sudah tidak ada di sana....aku mencarimu keliling Singapore berhari hari kamu tidak ada. Sampai akhirnya aku harus ke Indonesia. Dan di sini kita bertemu." Naomi berusaha melihat kebohongan di mata James namun tak ada, dia hanya melihat ketulusan di mata james
"Tentu saja kamu tak akan menemukanku. Aku hanya semalam di sana dan pulang ke Indonesia besok sorenya." James hanya mengangguk angguk kan kepalanya.
"Naomi...sungguh...aku benar benar dan sangat bersungguh-sungguh mencintaimu. Maukah kau menjadi pendamping ku, menjadi satu satunya wanita yang akan berbagi udara denganku? Sampai maut memisahkan kita." James berbicara dengan lembut juga mantap, tak terlihat keraguan di matanya dan Naomi terkejut dengan ucapan James, bukan ungkapan memintanya menjadi pacar akan tetapi menjadi istrinya.
"Tapi maaf James, kau terlambat. Aku sudah mencintai Arsen."
"Tapi bagaimana dengan Hanna, jika Arsen lebih memilih Hanna bagaimana?" Naomi memejamkan matanya, dadanya terasa sesak. Rasanya dia ingin menangis.
"Jika Arsen memilih Hanna...aku...aku..rela....asal dia bahagia." Naomi terbata-bata dan Jatuh sudah air matanya.
"Kau mau kan membuka hatimu untukku, jika Arsen memilih Hanna?" tatapan penuh harap dari James.
"Aku tidak tau James...aku sungguh tidak tahu " lemas rasanya raga naomi mengingat akan di bawa kemana kelanjutan hubungannya dengan Arsen.
"Coba lah untuk memberikan sedikit kesempatan untuk ku ya...ku mohon." James benar benar memohon dan menundukkan kepalanya.
"Kita juga beda agama James. Kau tahu kan itu?"
"Aku siap mengucapkan syahadat sekarang juga jika kamu mau." Dengan cepat, tegas dan yakin James menjawab ucapan Naomi. Sungguh Naomi terkesan dengan tekad James namun terlambat hatinya sudah menjadi milik Arsen seorang.
"Jangan....ini tentang Tuhan dan diri kita sendiri...jika niatmu karena aku, suatu saat nanti kau akan berpaling lagi DARINYA ketika aku mengecewakanmu atau aku telah tiada. Nyakini hatimu James seperti kau meyakin dirimu mencintaiku. Bahkan lebih, karena hanya kepadaNya lah kau akan kembali."
"Baik lah Naomi, sebentar lagi Arsen akan datang. Kita lihat siapa yang dia pilih, kau atau Hanna?" James pergi meninggalkan Naomi dengan badan lunglai dan kecewa. Namun dia masih berharap Naomi akan memberikan kesempatan untuk nya.
"Sen...siapa yang akan kamu pilih? Aku atau dia? Aku harus segera mempersiapkan hati ini. Mudah Mudahan kau mengambil keputusan yang tepat." Naomi memejamkan matanya dan jatuhlah air mata nya.
*****
Wow...wow..wow...2000 kata lebih nih. Panjang banget....kasih semangat terus dong buat aku...
Yang udah baca, vote and comment, thanks ya.
See you next chapter
Bye 🤗😘