
Naomi yang mendapat perlakuan itu merasa terkejut dan dadanya berdegup kencang.
Naomi hendak bangun namun urung melakukan nya karena Arsen " Ku mohon seperti ini dulu sebentar...5menit saja. Biar hati aku tenang."
Setelah 5 menit Arsen pun melepaskan pelukannya. Dia tersenyum melihat Naomi, ternyata dia tertidur di dadanya.
"Hemmm...dia tidur. Kok bisa bisanya dia tidur di dada gue, kalo gak inget sama peraturan...gue udah terkam nih...tapi gak deh...gue sayang ...dia cewek spesial. Gue harus jaga dia." Arsen lalu membaringkan tubuh Naomi di kasurnya.
Wajah Arsen tak bisa lepas dari wajah Naomi yang terlihat sangat polos dan cantik.
"Gue harus cepat cepat keluar....lama lama kalo gak tahan bisa gawat nih." Arsen bergumam sambil melangkah kan kaki keluar kamar.
Arsen melihat Andre dan silia yang juga tertidur di sofa depan tv. Kepala Silia menyender di bahu Andre.
Arsen tersenyum melihat mereka yang sedang tertidur. Mau bangunin kasian, gak dibangunin juga kasihan.
Akhirnya Arsen pun membangunkan Andre dengan menepuk bahu.
"Dre.... bangun...Dre bangun loh..pindah kamar." Andre pun langsung terbuka matanya dan melirik ke arah Arsen.
"Apa?"
"Bangun...pindahin Silia ke kamar. Kasian ntar sakit punggung nya."
"Oh ya...gue ketiduran. Abis nungguin lo lama." Andre memfokuskan diri dulu biar gak linglung karena bangun tidur.
Arsen masuk ke kamar dan Andre pun mencoba membangunkan Silia tapi belum bangun juga yang akhirnya dia gendong Silia masuk ke kamar tidur dan menidurkannya di samping Naomi.
"Cewek cewek cantik nan menggemaskan." Gumam Andre tersenyum
Mereka pun tidur terlelap tapi tidak dengan kedua temannya yang masih berada di mobil Adi.
***
Adi mencari Jihan ke luar dan ternyata Jihan sudah berada di mobil Adi. Adi melangkah kan kakinya menuju mobil miliknya. Di sana Adi dapat melihat Jihan yang sedang m nangis sambil memukul mukul dadanya.
Adi bisa melihat kekecewaan dan sakit juga pedih yang dirasakan Jihan. Dia tahu Jihan sudah ada rencana untuk dikenalkan dengan orang tua Vian. Yang artinya mereka sudah serius untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Sakit... ya Adi pun merasa sakit tatkala melihat gadis yang dia cintai menangis seperti itu.
Adi melangkah dan semakin mendekati mobil. Dia buka pintu mobil itu.
"Arrrrrgh....hik..hik...sakit di... sakit. " Teriak Jihan sambil memukul dadanya sendiri. Adi yang melihat itu langsung memeluk Jihan erat.
"Sabar ya cinta....Lo masih punya gue. Ada Naomi juga Silia di samping lo." Peluk Adi makin erat.
Seketika Jihan mengangkat wajahnya, mata mereka saling bertatapan. Adi Melihat mata Jihan yang bengkak dan dengan lembut kedua tangannya mengusap air mata yang jatuh dari manik mata yang indah itu.
"Aku gak sanggup lihat kamu tersakiti begini, aku gak mau mata indah ini menangis untuk laki laki bejad seperti dia...cukup ..jangan menangis lagi ya." Adi berbicara dengan lembut. Jihan hanya menatap wajah adi dengan sayu.
"Gimana kalo kita makan ice cream...biar mood kamu bagus lagi. Ok?" Jihan tersenyum dan mengangguk
Mereka pun pergi ke toko kue yang juga menyediakan ice cream di menu nya.
Adi dan jihan duduk saling berhadapan, mereka memesan kue dan ice cream.
"Mba kita pesan kue red Velvet ya sama tiramisu, ice cream nya strawberry dan coklat aja. Makasih"
"Baik, kue red Velvet 1, tiramisu 1, ice cream nya strawberry 1 dan coklat 1...ada yang lain mas?" Tanya pelayan itu
"Udah cukup. Makasih."
"Tunggu sebentar ya mas "
Tak lama pesanan pun datang. Mereka langsung menyantap kue itu. Tapi Jihan terlihat masih belum berselera. Dia menyuap satu suap...melamun lagi...menyuap lagi...menetes lagi air matanya.
Adi yang melihat itupun mencoba mencari cari cara supaya Jihan bisa tersenyum kembali.
"Ji...Lo tau gak apa bedanya burung elang sama Lo." Jihan pun kaget tau tau dapet tebakan dari Adi. Jihan langsung menghapus sisa air mata di pipinya.
"Ya mana gue tau. Yang pasti itu burung nah gue kan manusia. Ada ada aja lo.". Jihan terkekeh.
"Ya udah apa?"
"Kalo burung itu bebas terbang di langit, nah elo......" Adi berhenti menjeda ucapan nya.
"Nah gue apa?" Jihan penasaran
"Lo....bebas terbang di hati gue." Adi menatap mata Jihan dan terasa hangat di hati Jihan dia merasakan jantungnya berdebar kencang.
"Khem...bisa aee....dasar tukang gombal." Jihan berusaha menormalkan detak jantung nya. Dia gak mau kegeeran.
"Hahaha...blushing tuh wajahnya."
"Apaan enggak ya...enak aja. Muka gue merah abis nangis."
" Oh ya sih....hehe...bisa bisa nya gue ngarep Lo kegeeran sama gue." Adi tertawa kecil
" Lo kan tukang gombal....kalo gue kegeeran gue pasti rugi.... semua cewek kan Lo gombalin."
"Ya udah deh.... mulai sekarang gue cuma gombalin Lo aja. Gimana?"
"Gak percaya gue, semua cowok sama aja. Yang satu suka gombal ke semua cewek yang satu lagi sok sok an mau nikahin gue ..eh ujung ujungnya malah tidur sama cewek lain." Jihan terisak lagi.
Adi langsung berdiri menghampiri Jihan dan duduk disebelah nya lalu memeluk kembali gadis itu.
"Udah jangan nangis lagi. Lo gak pantes nangisin dia. Dan Lo denger baik baik...gue sama tu cowok brengsek beda, dia udah niat nikahin Lo tapi masih main cewek, kalo gue gak ada status sama siapapun dan cuma bercanda doang sama cewek ingat ber-can-da bukan mainin cewek. "
"Kalo gue udah punya pacar bahkan istri...sorry sorry ni ya...gue gak mungkin bercanda lagi atau gombalin lagi karena yang berhak atas gue cuma istri gue. Gak ada yang lain. Kalo perlu gue gombalin tiap hari, mabok mabok deh sama gombalan gue. Hahaha" jihanpun tertawa mendengar itu dan tangisannya berhenti.
"Kalo Lo udah punya pacar /istri Lo gak akan gombalin gue lagi dong?" Kok Jihan merasa sedih ya. "Gak akan ada lagi gombal dan kata kata hai cinta...gak ada lagi bercanda dan usilnya Adi..belum juga Adi punya pacar kok gue merasa kehilangan ya...sedih dan nyesek." Batin Jihan
"Ya gak lah....." mendengar itu Jihan merasa sedih
".....gak akan mungkin berhenti gombalin Lo." Ucap Adi lantang dan nyeleneh
"Kenapa? Kan tadi Lo bilang..." Tanya Jihan polos
"Kan yang jadi istri gue elo ji. Ya kan? Hehehe"
"Hah...masa iya...gak percaya gue... becanda Mulu Lo. Udah ah abisin dulu nie kue sama ice cream..trus pulang. Dah malem." Jihan dah gak mau denger gombalan Adi lagi. Rasanya dah gak sanggup.
"Kalo Lo mau gue serius gue siap ji, kapan Lo mau gue lamar? Minggu depan? Bulan depan?" Jihan menatap mata Adi, ingin melihat ada kejahilan atau kebohongan namun tak ada. " Apa dia serius?" Batin Jihan
"Gue serius Jihan...Lo liat gue....apa gue terlihat bohong?" Adi menatap jihan dengan serius sama sekali tak ada senyuman di wajahnya.
"Gue jujur...gue sayang sama Lo sejak SMA, tp Lo sepertinya gak merasakan apa yang gue rasakan."
"Adi..." Jari Adi menahan mulut Jihan.
"Lo gak usah jawab. Pikirin aja dulu. Lo juga harus beresin masalah Lo sama Vian kan? Kalo Lo dah siap dan juga sayang, tepatnya cinta sama gue, gue akan lamar Lo langsung. Maaf gue malah jadi nembak Lo, gue gak sanggup lagi nahan rasa ini ji..."
"Apapun keputusannya gue bakal terima. Jangan jadiin beban ya ji." Adi tersenyum
"Udah abisin kue sama ice cream nya. Kita pulang."
Mereka pun pulang ke rumah masing masing setelah Adi mengantarkan jihan. Selama diperjalanan mereka duduk dengan diam tanpa percakapan sedikitpun.
*****
Nah gimana ini? Jihan pilih siapa ya?
Kalo kamu pilih siapa? Mending Jihan sama Adi atau sama Vian aja?
Aku bingung nih....apa kasih Vian kesempatan aja gitu ya?
Ok deh...thanks ya yang udah baca, vote and comment. Bantu share juga dong.
See you next chapter
Bye 🤗😘