
Kediaman Dirgantara.
Pagi itu keluarga Dirgantara sudah disibukkan dengan acara dandan karena mereka akan menghadiri pesta kelulusan Aline yang akan resmi menyandang gelar Sarjana. Tampak pagi itu seorang penata rias sudah didatangkan ke rumah tersebut untuk merias putri bungsu keluarga Dirgantara.
Sang bunda, Anita Dirgantara tentunya ingin sang putri memiliki kesan yang tak akan terlupakan seumur hidupnya. Di pesta kelulusannya ini beliau ingin membuat sang putri bahagia. Bahkan Bunda Anita sudah menyiapkan sebuah pesta syukuran yang akan dilakukan di restoran mereka besok malam. Meski acaranya hanya sederhana karena mengundang kerabat dekat saja tetapi ini sebagai bentuk rasa syukur atas keberhasilan sang putri bungsunya.
Aline sudah bekerja keras siang malam demi menyelesaikan skripsinya. Di samping dia juga bekerja di restoran sang bunda. Tentu saja kerja keras Aline selama ini telah membuat hati seorang ibu itu terharu. Sang putri bungsu mampu menjadi seorang wanita yang mandiri dan sukses. Apalagi sekarang sang putri bahkan sedang menjalin asmara dengan putra tunggal dari sahabat baiknya. Tentu saja Anita semakin merasa tenang melihat Aline saat ini yang menurutnya sudah memiliki masa depan yang lebih baik. Tinggal memikirkan putra sulungnya yang sampai saat ini masih belum pernah memperkenalkan seorang gadis kepadanya.
Padahal dari segi usia, putra sulungnya itu sudah cukup usia. Kalau selalu mengejar karir kapan itu sih tidak akan ada habisnya. Sepengetahuan Anita selama ini putranya belum kelihatan menjalin sebuah hubungan. Hal ini seringkali dipertanyakan kepada sang putra tetapi jawabannya selalu saja sama. Masih ingin mendapatkan jenjang karir yang lebih bagus.
Bunda Anita menghela napas panjang membuat Aline yang duduk di dekatnya merasa bahwa sedang terjadi sesuatu dengan sang bunda.
"Bunda kenapa?"tanya Aline yang penasaran akan apa yang terjadi dengan sang bunda.
Bunda Anita menoleh ke arah sang putri. Beliau tersenyum sambil mengelus pundak sang putri yang masih duduk berias.
"Bunda nggak apa-apa, sayang. Hanya saja bunda merasa senang akhirnya bisa melihat kamu di wisuda juga,"ucap Bunda Anita dengan senyuman yang hangat.
Aline ikut bahagia mendengar ucapan sang bunda.
"Aku juga senang bisa menyelesaikan studiku. Setelah ini aku akan bisa fokus mengurus restoran,"ucap Aline bersemangat. Bunda Anita semakin bangga mendengar ucapan putrinya itu. Sungguh dia harus bersyukur memiliki dua orang anak yang sama-sama mandiri dan pekerja keras.
"Bunda bangga kepada kalian berdua. Meskipun ayah kalian sudah tidak lagi bersama kita. Tetapi bunda masih bisa melihat kalian tumbuh dengan membanggakan seperti ini,"tanpa terasa Bunda Anita berbicara sambil meneteskan air mata. Dia yang seorang single parent tentu tidak mudah membesarkan kedua anaknya disaat sang suami sudah terlebih dahulu meninggalkan dirinya.
Aline mengelus punggung tangan sang bunda kemudian menciumnya dengan takzim. Bunda Anita pun mengelus puncak kepala putrinya itu dengan sayang.
"Bunda semakin tenang karena kamu juga sudah memiliki seorang calon suami seperti Kenzo. Bunda sudah mengenal bagaimana keluarganya dan bunda berharap hubungan kalian segera melangkah ke jenjang pernikahan agar bunda semakin tenang. Hanya saja..."ucapan bunda Anita terputus dan tampak kegelisahan di wajahnya. Aline pun mengernyitkan alisnya.
"Hanya saja kenapa bunda?"tanya Aline penasaran akan kalimat menggantung dari sang Bunda.
"Bunda hanya mencemaskan kakakmu saja. Selama ini dia terlalu fokus dengan perkembangannya. Sampai-sampai melupakan masalah pribadinya. Bunda hanya tidak ingin dia melewatkan masa mudanya,"ujar Bunda Anita menceritakan kegelisahan di hatinya.
"Bunda tenang saja, nanti kita tanyakan hal ini kepada kakak ya, Bun. Lagipula sudah lama kita tidak kumpul bareng bertiga dan saling bercerita. Kakak sibuk dengan pekerjaannya. Demikian pula bunda. Dan juga diriku yang sibuk dengan kuliah dan kerjaan. Aku kangen kita saling bercerita bersama. Bagaimana, Bun?"bujuk Aline membuah sang bunda merasa sedikit lega mendengar usul putrinya tersebut.
"Baiklah, nanti kita agendakan berkumpul khusus bertiga dan kita bisa ngobrol dari hati kehati. Saran kamu terbaik, nak,"ucap Bunda Anita sambil memeluk sang putri.
"Nah, gitu dong bunda, senyum, bunda harus bahagia karena ini adalah hari bahagia buat kau,"ujar Aline sambil tersenyum manis.
"Pasti, sayang, apalagi nanti saat kamu menikah. Ah, bunda rasa pasti bunda tidak bisa berhenti menangis,"ujar sang bunda sambil mengusap sudut matanya yang mulai mengembun.
"Astaga, bunda, apaan sih, kenapa sudah sejauh itu. Bukannya kak Aldo yang akan menikah lebih dulu. Kenapa bisa Aline duluan,"gerutu Aline mendengar omongan sang bunda barusan.
"Eh, nggak apa-apa kalau kamu mau ngeduluin kakak kamu. Sepertinya Kenzo sudah nggak sabar pengen menikahi mu,"ledek bunda Anita sambil menoel dagu lancip sang putri.
"Ih, bunda, jangan mulai deh ya. Aku masih belum kepikiran. Lagipula Kenzo sekarang masih memulai perjuangannya di perusahaan ayahnya. Dia juga butuh kuliah, bukan,"sahut Aline.
"Tetapi tidak ada larangan buat menikah saat kuliah kan, nak,"ujar sang bunda tidak mau kalah.
"Ya ampun bunda,"pekik Aline karena sang bunda terkesan sekali memaksa Aline untuk segera menikah dengan Kenzo. Padahal hubungan diantara keduanya baru juga dimulai.
"Bunda sudah ingin segera menimang cucu. Begitu pula dengan mamanya Kenzo,"kata bunda Anita dengan senyum jahilnya.
Aline hanya mendengus sambil memutarkan kedua bola matanya jengah mendengar permintaan sang bunda tersebut.
...****************...
...📢Perhatian babang Kenzo segera merapat untuk melamar. Ada yang udah kepengen punya cucu tuh🤭...
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...