
"Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu begini?"tanya Sisil dengan khawatir melihat bekas lebam di wajah vazo. Sedangkan vazo hanya terdiam saja. Dia sudah kesal karena kena marah sang ayah pagi ini. Masalahnya dia pagi ini ada meeting penting dengan investor dari Cina. Namun, melihat wajah vazo yang terdapat memar membuat sang ayah memberikan tugas itu kepada sang adik.
Dan Vazo sungguh kesal akan apa yang terjadi padanya hari ini. Seharusnya tugas itu diberikan kepadanya. Bukan anak haram ayahnya itu yang sekarang justru diberi tugas oleh ayahnya untuk menggantikan dirinya.
Brak!
"Vazo! Kamu ini kenapa!"teriak Sisil karena vazo telah menendang kursi kayu yang ada di hadapannya. Sisil menatap wajah vazo yang tampak kesal. Sisil merasa sesuatu sepertinya telah terjadi kepada diri vazo.
"Ada apa, sayang? Ceritakan padaku, apa yang terjadi padamu?"tanya Sisil yang duduk di samping vazo. Karena vazo tidak merespon ucapan sisil maka sisil mengelus perlahan wajah vazo dan menghadapkan ke arahnya.
"Sayang, apa yang terjadi, hmmm?"tanya Sisil dengan suara yang lemah lembut. Sisil ingin sekali menjadi yang pertama sebagai tempat curhat vazo.
"Semalam aku membuktikan foto yang kamu kirimkan,"ujar vazo mulai bercerita.
"Apa yang kamu buktikan?"
"Aku ingin membuktikan apakah benar Aline jalan dengan bocah ingusan itu,"kata vazo.
"Lalu?"
"Ya, mereka pulang malam dan berboncengan dengan mesra,"kata vazo dengan kesal.
"Lalu bagaimana bisa kamu mendapatkan luka ini, sayang?"tanya Sisil lebih jauh lagi mengorek cerita dari vazo.
"Aku menghadang langkah pulang bocah ingusan itu. Dan kami berkelahi,"jawab vazo. Sisil tampak menggepalkan jemari tangannya dengan erat.
"Oh, jadi kamu cemburu melihat mereka yang bermesraan itu?"tanya Sisil dengan sedikit geram melihat ekspresi wajah vazo yang jelas tampak cemburu akan kedekatan Aline dan bocah SMA itu.
"Ah, bukan begitu, sayang,"ralat vazo seketika. Dia baru teringat jika dia tidak bisa sembarangan berbicara ketika bersama dengan Sisil. Bagaimana bisa vazo justru kelepasan seperti tadi.
"Jangan ditutupi lagi, sayang. Aku tahu kamu jelas cemburu dengan kedekatan Aline dan juga bocah SMA itu. Oleh karena itu kamu nekad datang ke rumah Aline untuk membuktikan foto yang aku berikan padamu, bukan begitu?"tanya Sisil dengan nada menyindir.
"Aku tidak menyangka dia seperti itu,"elak vazo.
"Memang kamu menyangka dia seperti apa? Bidadari yang suci? Sungguh aku selama ini sudah tertipu olehmu ya? Kamu bilang kamu tidak main perasan dengannya. Ternyata kamu sudah menyimpan suatu perasaan khusus kepada Aline,"ucap Sisil lalu hendak pergi meninggalkan vazo.
"Tunggu, sayang. Kenapa kamu ini?"cegah vazo menghadang langkah sisil yang beranjak dari sisinya.
"Aku mau pergi saja. Tidak ada gunanya lagi aku ada di sini. Aku tahu sekarang bahwa hatimu kini milik Aline bukan lagi milikku,"ujar Sisil dengan raut wajah yang sedih. Vazo menarik tubuh Sisil dalam pelukannya. Dia tidak bisa seperti sekarang ini apabila tanpa Sisil di sampingnya. Wanita itu selama ini telah membantunya dalam banyak hal. Dan Vazo tidak sanggup jika dia harus kehilangan Sisil saat ini.
"Tidak, sayang. Kamu salah paham. Aku tidak bisa seperti sekarang ini tanpa kamu di sisiku. Jangan pergi, sayang. Aku sangat mencintaimu. Hanya kamu yang ada di hatiku,"ucap vazo dengan napas memburu. Dia sungguh tidak bisa melepaskan Sisil begitu saja dari kehidupannya.
"Apa buktinya? Kamu justru lebih memikirkan wanita lain sekarang saat bersamaku,"ucap Sisil dengan nada merajuk. Vazo mengusap air mata sisil yang tampak lolos dari pelupuk mata cantiknya itu.
"Aku kesal bukan karena kedekatan Aline dengan bocah ingusan itu. Tetapi karena Verel yang mendapatkan job dari papa karena wajahku luka lebam ini. Itulah yang membuatku kesal, sayang,"ucap vazo memberikan alasannya kepada Sisil.
"Bener, bukan karena kamu cemburu pada bocah ingusan itu,"tuduh Sisil.
"Bukan, sayang. Kamu mau apa agar kamu percaya padaku lagi, hmmm?"tanya vazo kepada Sisil.
"Buktikan bahwa kamu hanya mencintaiku,"ucap Sisil dengan kedipan matanya yang menggoda. Vazo mengerti arti akan kode yang diberikan kekasihnya itu kepada dirinya.
"Baiklah, kalau itu maumu. Aku akan lakukan apa yang kamu minta,"kata vazo lalu menggendong tubuh mungil Sisil dan membawanya ke dalam kamar pribadi mereka. Sisil tersenyum bahagia melihat perilaku yang ditunjukkan vazo kepadanya. Dia senang bisa mengontrol diri vazo sedemikian sehingga bisa membuat lelaki itu tunduk dan takut kehilangan dirinya.
*
Kenzo teringat akan percakapan dirinya dan papanya tadi pagi. Ternyata papa Kenzo jauh lebih peka dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada putranya.
Flashback on
"Jadi kamu berkelahi dengan siapa sebenarnya tadi malam?"tanya Keanu kepada putra tunggal nya saat sang istri sedang sibuk berada di dapur memasak.
"Maksud papa?"tanya Kenzo pura-pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan sang ayah.
"Jangan membohongi papa, nak. Papa tahu kamu bukan berkelahi dengan preman. Siapa dia sebenarnya?"tanya keanu dengan sorot matanya yang tajam ke arah Kenzo.
Kenzo melirik ke arah dapur sebelum menjawab pertanyaan sang papa.
"Dia kekasihnya, Aline. Namanya Vazo,"jawab Kenzo dengan jujur.
"Kenapa sampai kalian berkelahi?"tanya Keanu mengorek keterangan.
"Mungkin dia tidak suka aku jalan berdua dengan Aline,"tukas Kenzo cepat karena dia juga tidak tahu alasan sebenarnya dari lelaki itu.
Flashback off
"Bagaimana papa bisa tahu ya, kalau aku berkelahi bukan dengan preman. Papa sudah seperti cenayang saja,"ujar Kenzo dengan suara pelan. Kenzo kembali melanjutkan membacanya. Tiba-tiba dia mendengar suara perlahan murid-murid perempuan yang membicarakan tentang seseorang yang Kenzo kenal.
"Eh, kalian tahu tidak, kak Hero kembali masuk sekolah lho. Katanya dia itu kakak kelas yang keren banget dulunya dan tidak kusangka ucapan itu benar adanya,"ujar siswi yang ada di belakang Kenzo duduk.
"Oya, kudengar dia tidak masuk sekolah karena mengalami kecelakaan?"tanya temannya yang lain. Kenzo mencoba mendengarkan pembicaraan beberapa siswi kelas sepuluh yang sedang asyik mengobrol di perpustakaan sekolah tersebut.
"Iya, dia mengalami kecelakaan dengan kekasihnya yang tercantik di sekolah ini, siapa ya namanya, aku lupa tadi diceritain kakak kelas,"sahut salah satunya.
"Oh, kak angel gitu bukan, sih,"ujar yang lain.
"Ah, ya bener, katanya dia secantik bidadari sama dengan namanya."
"Wah, pasti cantik banget kali ya, secara kak Hero juga tampan. Ich, jadi pengen deh punya cowok seperti kak Hero."
"Jangan mimpi di siang bolong deh."
Beberapa anak yang lain menahan tawanya karena ledekan temannya itu.
Jadi dia sudah menampakkan dirinya lagi di sekolah ini?
***
Iklan Author
Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir & Batin. Semoga amalan ibadah kita selama ramadhan di terima oleh Allah. Dan semoga kita dipertemukan kembali nantinya dengan ramadhan tahun depan.
Mohon Maaf Jika selama ini author ada salah.
Selamat Idul Fitri 2020.
Author NikenAyu
Terimakasih 😄