
Pagi itu di kediaman keluarga Dirgantara, suasana sudah cukup ramai karena banyak yang memulai aktivitas rutin pagi harinya.
Bunda Anita sudah berkutat dengan urusan dapurnya sebelum berangkat ke beberapa butik yang dia kelola. Sedangkan Aline juga sudah berdiri dengan memakai celemek memasaknya. Aline memang diajarkan oleh sang bunda agar bisa memasak dengan baik. Meskipun bunda Anita juga seorang wanita karir namun kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga juga harus bisa dilakukan.
Karena sebagai wanita, kita tidak boleh melupakan kodrat kita yang sesungguhnya. Kasian sekali anak-anak kita nantinya jika kehidupan mereka menjadi terlantar karena sang ibu sibuk bekerja tanpa peduli dengan pertumbuhan sang anak.
Para ibu-ibu pekerja itu hanya memikirkan untuk memberikan uang saja tanpa memikirkan kasih sayang yang sebenarnya diinginkan oleh sang anak. Bunda Anita tidak ingin Aldo dan juga Aline mengalami hal tersebut. Meskipun bunda Anita harus bekerja keras untuk menafkahi mereka. Tetapi bunda Anita tidak melupakan kodratnya sebagai ibu untuk keduanya. Bunda Anita selalu menyempatkan memasak sebelum berangkat bekerja.
Bunda Anita selalu sarapan pagi bersama dan mendengarkan setiap cerita baik itu keluh kesah maupun keseruan aktivitas yang dilakukan oleh putra dan juga putrinya setiap hari. Bunda Anita juga tidak pernah melewatkan makan malam di rumah. Bahkan bunda Anita masih sempat-sempatnya sampai dirumah setelah bekerja langsung mengurusi masalah di dapur.
Bunda Anita adalah seorang ibu yang tangguh. Dia adalah idola bagi kedua anaknya. Bunda Anita selalu menampakkan sikap yang tegar dihadapan kedua anaknya. Dia selalu tersenyum dan tidak pernah mengeluh sedikitpun. Meskipun tidak mudah bagi bunda Anita untuk menopang segala kerumitan dalam mengurusi rumah tangga seorang diri tanpa ada lagi seorang suami disisinya.
Tetapi bunda Anita tidak pernah berkata lelah. Dia selalu menyemangati dirinya sendiri untuk masa depan kedua anaknya. Oleh karena itulah, baik Aldo maupun Aline menjadi anak yang begitu menghormati sang bunda. Karena mereka tahu perjuangan dan kerja keras sang bunda dalam memperjuangkan masa depan mereka berdua.
"Lin, sudah sana kamu mandi duluan, nanti terlambat ke kampus lagi,"ujar bunda Anita setelah melihat jam dinding yang ada di dapur.
"Tinggal sebentar lagi, Bun,"sahut Aline tampak sibuk dengan menggoreng ikan gurame kesukaan sang kakak.
"Sudah biarkan saja, nanti dilanjutkan bibik, nak, kamu sekarang pergi sana ke kamar,"usir bunda Anita kepada putri bungsunya karena bunda tidak mau sampai sang putri terlambat ke kampus. Lagipula sudah sedari tadi juga Aline membantu bunda di dapur. Masakan sudah matang dan tinggal nunggu ikan gorengnya saja. Aline pun bergegas naik ke lantai atas, dimana kamar tidurnya terletak di sana.
Setelah masakan siap untuk disajikan di meja makan. Bunda Anita menyerahkan pekerjaan itu kepada pembantunya. Sedangkan bunda Anita sendiri pergi ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap berangkat ke butik pribadi miliknya.
Aline baru saja selesai mandi saat dia menerima sebuah pesan dari vazo. Lelaki itu berkata akan menjemput dia berangkat bersama ke kampus. Sedangkan vazo ke kantor untuk bekerja. Karena arah kampus Aline dan kantor vazo juga searah maka vazo menawarkan diri untuk menjemput dan jalan bersama dengan Aline.
"Sepertinya ini saat yang tepat untuk bertanya kepadanya mengenai hubungan diantara aku dan dia,"gumam Aline sendiri. Dia sudah memikirkan nya semalaman tentang hubungan diantara mereka berdua.
Kalau Aline tidak menegaskan hubungan diantara mereka maka vazo akan seenaknya bersikap kepada dirinya. Seperti saat vazo marah-marah kepada Kenzo di rumah Aline. Vazo sendiri yang mengatakan putus kepada Aline dihadapan lelaki lain.
Lalu keesokan harinya keputusan itu telah berubah dengan sikap vazo yang memohon-mohon kepada Aline untuk kembali bersama lagi. Vazo mengatakan bahwa kejadian di rumah Aline itu hanya karena dirinya khilaf. Sehingga dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.
Aline pun tidak memiliki alasan yang kuat untuk memutuskan bahwa vazo bersalah. Sehingga dia pun masih memberikan vazo kesempatan atas sikap yang dia perbuat. Kalau dia menuruti emosinya justru dia yang tampak kekanak-kanakan.
Aline turun ke ruang makan dengan penampilan yang lebih santai. Dengan menggunakan celana jeans dan juga kemeja berwarna biru dengan motif bunga-bunga besar.
"Oh, nak vazo, masuklah, ikut bergabung dengan kita sarapan,"ajak bunda Anita yang sudah selesai bersiap dengan busana kantornya yang cukup stylish.
"Maaf, Tante, jadi mengganggu,"ujar vazo sambil masuk ke dalam ruang makan. Aline yang mendengar suara vazo tadi segera berbalik ke atas dan melihat vazo dari atas balkon tangga lantai dua rumah mereka. Aline melihat apa yang dilakukan vazo dan juga bundanya dari atas sana.
"Kamu kenapa mengintip dari sini dek?"ujar Aldo bingung melihat gerak-gerik adiknya sedari tadi.
"Eh, anu kak, itu aku hanya lihat saja,"jawab Aline dengan nada terbata-bata karena ketahuan sang kakak sedang mengintip diam-diam. Aldo hanya geleng-geleng kepala melihat perilaku sang adik. Sungguh tidak disangka adiknya bisa-bisanya mengintip seperti itu.
"Oh, kalian sudah turun semua. Bisa barengan juga?"ujar bunda Anita kepada kedua anaknya. Aldo hanya tersenyum mendengar ucapan sang bunda.
"Ayo, nak, ini vazo sudah menunggu untuk sarapan bersama dengan kita,"ujar sang bunda dengan ramah. Vazo hanya tersenyum mendengar ucapan bunda Aline.
"Hai, zo,"sapa Kakak Aline.
"Halo, kak, apa kabar?"sapa vazo dengan sikap yang sopan dihadapan kakaknya aline.
"Baik, aja, kamu jarang sekali kemari akhir-akhir ini,"kata aldo.
"Eh, iya kak, aku banyak pekerjaan di kantor,"jawab vazo.
"Sini, Lin,"ajak vazo untuk duduk di sampingnya, namun Aline lebih memilih duduk di samping bunda Anita.
"Aku di sini saja,"jawab Aline dengan nada sedikit cuek kepada vazo. Sedangkan bunda Anita dan juga Aldo yang melihat interaksi diantara keduanya cukup terkejut namun mereka berpura-pura tidak melihat saja kejadian itu.
Vazo menahan dirinya agar tetap bersikap tenang menghadapi kelakuan Aline yang seenaknya tersebut.
Tenang, sabar, ini demi masa depan. Kalau saja aku tidak memikirkan jabatan ku diperusahaan papa, malas sekali aku mendekati gadis sok suci sepertimu. Wanita lain banyak yang memujaku dan menginginkan diriku. Lihat saja kalau misiku berhasil, aku akan menghancurkan dirimu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut dihadapanku dan memohon-mohon agar aku tetap di sisimu. Saatmu nanti akan tiba Aline Putri Dirgantara. Aku akan memilikimu seutuhnya dan aku akan menggunakanmu di saat aku ingin dan membuangmu disaat dirimu sudah tidak berguna lagi.
***
Iklan Author
Oh, vazo... vazo.... niatmu sungguh mulia sekali, nak😎
Novel pertama author bergenre teenlit, komedi dan juga romantis. Semoga berkenan di hati para pembaca sekalian.
Bagi yang belum bergabung dengan grub. Sekarang bisa joint di grub author ya. Caranya mudah karena sudah ada di noveltoon maupun mangatoon.
Setelah membaca, budayakan untuk klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Kenapa?
Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author untuk menuliskan kelanjutan dari cerita nya.
Oke😃
Terimakasih 😄