Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Ini Urusan antar Lelaki



"Aku berkelahi dengan vazo malam itu. Dia mencegatku sepulang dari mengantarkanmu,"sebuah pernyataan jujur Kenzo yang tidak dia katakan kepada yang lain. Hanya Aline lah pernah pertama yang tahu apa yang terjadi semalam dengan dirinya.


"Apa? Jadi itu...."Aline sungguh tidak menyangka bahwa vazo akan kembali berkelahi dengan Kenzo.


"Jadi lukamu itu karena kamu berkelahi dengan vazo? Bukan karena kamu dibegal preman di tengah perjalanan pulang?"tanya Aline mengulangi pertanyaannya barusan. Dia ingin meyakinkan dirinya akan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya,"jawab Kenzo singkat.


Aline memejamkan matanya sejenak menahan rasa kesal dalam dirinya. Vazo sungguh keterlaluan kali ini. Sikapnya justru tidak menunjukkan kedewasaannya. Dia bersikap kekanak-kanakan dengan menyerang Kenzo seperti itu. Aline harus membuat perhitungan dengan vazo kali ini. Dia tidak bisa tinggal di saja melihat situasi yang seperti ini.


"Mau kemana kamu?"tanya Kenzo sambil memegang pergelangan tangan Aline yang baru saja beranjak dari ranjangnya.


"Aku mau menemui vazo, aku ingin kejelasan dia mengenai kejadian ini,"ujar Aline dengan wajah serius.


Kenzo berdiri dari tempat dia duduk. Dia menahan bahu Aline lalu membuat nya kembali terduduk di ranjangnya.


"Buat apa kamu melakukan itu, heh? Pengen dibilang aku mengadu padamu begitu, ya. Ini urusan lelaki sudah diam saja nggak usah ikut campur. Biarkan saja dia melakukan itu meskipun dia tampak kekanak-kanakan,"kata Kenzo dengan nada cukup tinggi. Aline menjadi seperti bersalah sekarang kedudukannya. Aline hanya diam saja ketika Kenzo berbicara dan tidak berkata apa-apa.


"Kamu ingin aku jujur, aku sudah katakan yang sebenarnya. Jadi, permintaanku sekarang kamu diam saja dan tidak perlu melakukan apapun,"kata Kenzo kepada Aline. Sikap Kenzo membuat Aline merasa tidak nyaman. Kenzo membuat Aline merasa bersalah meskipun dia tidak melakukan apapun. Namun, Aline merasa karena dirinyalah Kenzo menjadi terluka seperti itu.


Kenzo melihat ke arah Aline yang hanya diam tertunduk dan tidak berkata apa-apa. Kenzo tahu kalau Aline sepertinya merasa bersalah atas apa yang telah menimpanya.


"Aline...."Kenzo berusaha mengangkat dagu Aline tetapi Kenzo justru terkejut karena melihat Aline berkaca-kaca hendak menangis. Namun, Aline berusaha menahan diri untuk tidak menangis di depan Kenzo. Aline merasa dirinya bingung tidak tahu harus berbuat apa mendengar cerita Kenzo tentang vazo.


"Kamu begitu mencintainya?"satu pertanyaan yang lolos dari diri Kenzo membuat Aline menoleh ke arah Kenzo.


"Kami sudah bersama selama tiga tahun. Tetapi akhir-akhir dia banyak berubah dan bersikap aneh. Aku menjadi tidak mengerti akan dirinya lagi. Jadi aku meminta dia untuk sementara waktu kita saling introspeksi diri dan tidak saling bertemu,"tiba-tiba saja Aline sudah bercerita kepada diri Kenzo. Entah mengapa Aline pun tidak tahu dia bisa curhat begitu saja kepada Kenzo.


"Maaf membuatmu ikut terbawa dalam hubungan kami. Aku...."


"Sudahlah, jangan dipikirkan, aku tidak masalah, kamu tenang saja. Selesaikan saja permasalahan kalian. Dan masalah perkelahian kami kemarin tidak perlu kamu besar-besarkan. Dan tidak perlu mempertanyakan kepada si vazo itu. Kamu pura-pura tidak tahu saja,"kata Kenzo mengakhiri permasalahan antara dia dengan vazo. Kenzo tidak ambil pusing dengan perilaku vazo kepada dirinya malam itu.


"Maaf...."ujar Aline sekali lagi karena masih merasa tidak enak dengan apa yang terjadi pada diri Kenzo.


"Akh..sudahlah, kalau kamu minta maaf terus aku bisa kesal juga lama-lama,"ucap Kenzo mengalihkan suasana pembicaraan diantara mereka.


"Ya, maaf kalau begitu,"kata Aline masih juga mengucapkan kata maaf padahal sudah dilarang oleh kenzo mengatakan hal itu.


"Masih diucapkan sekali lagi,"ujar Kenzo dengan setengah geram akan sikap Aline.


"Maafkan aku, UPS...."Aline seketika menutup mulutnya karena masih saja mengucapkan kata maaf kepada kenzo yang sudah memperingatkannya sedari tadi.


"Kamu ya, kalau sekali lagi ngomong bakalan aku cium,"ancam Kenzo membuat mata Aline seketika melotot.


"Dasar mesum! Pikirannya masih saja sekotor itu!"ujar Aline sambil manyun dan segera berdiri dari ranjang Kenzo. Sudah cukup dirasanya dia melihat kondisi Kenzo. Sudah malas rasanya Aline seketika mendengar ucapan Kenzo yang ingin berbuat seperti itu kepadanya. Arrrkkhhhhh.....


"Lin, kamu mau kemana?"tanya Kenzo sambil menarik lengan Aline.


"Turun ke bawah, aku mau membantu Tante monita memasak saja,"ujarnya dengan bibir manyunnya membuat Kenzo sedikit menyunggingkan senyuman manisnya.


"Kenapa malah senyum-senyum begitu?"ujar Aline masih tampak sewot.


"Terserah kamu sajalah. Aku buatin makanan kesukaan mu tadi, cepat turun ke bawah untuk makan. Nanti keburu dingin nggak enak,"ujar Aline sambil melepaskan pegangan tangan Kenzo di lengannya.


"Iya, sayang,"celetuk Kenzo membuat Aline yang hendak keluar kamar jadi berbalik lagi melihat ke arah kenzo.


"Apa? Bilang sayang-sayang segala,"kata Aline sewot.


"Ich, siapa juga yang bilang sayang, salah dengar kamu tuh, aku tuh bilangnya eyang, karena kamu cerewet kayak oma-oma,"kata Kenzo membalas.


"Dasar! Bisa aja kalau ngeles ya,"ujar Aline lalu segera berlalu dari kamar Kenzo.


Sementara Kenzo tersenyum melihat kepergian Aline dengan wajah juteknya. Kenzo lebih suka melihat Aline tampak kesal seperti itu daripada Kenzo melihat wajah Aline yang bersedih.


Kenzo segera merapikan buku-buku belajarnya sebelum menyusul Aline turun ke lantai dasar. Katanya tadi dia membawa makanan untuk Kenzo. Mendengar nya saja sudah membuat perut Kenzo menjadi lapar jadinya. Kenzo sudah ingin makan karena siang tadi dia tidak nafsu untuk makan.


**


"Jadi, kakak benar-benar akan pindah sekolah?"tanya Leni kepada kakak sepupunya. Hero mengangguk menjawab pertanyaan sang adik.


"Ya, aku malas berada di sekolah yang lama,"ujar Hero memberikan alasannya.


"Kakak malas karena tidak ada lagi kak angel kan disana,"ujar Leni menebak apa alasan sesungguhnya dari Hero untuk pindah sekolah.


Hero menghela napas panjang,"ya, itu salah satunya."


"Apakah sampai sekarang kakak tidak tahu dimana keberadaan kak angel?"tanya Leni merasa kasihan dengan kakak sepupunya tersebut.


"Aku sudah berkali-kali datang ke rumahnya tetapi pembantunya bilang kalau angel dibawa keluar negeri oleh keluarganya. Entahlah, aku juga tidak bisa menghubungi nomornya. Sepertinya dia ganti nomor. Atau mungkin dia tidak mau lagi bertemu denganku,"ujar Hero dengan nada yang sedih.


Leni jadi ikut bersedih mendengar cerita Hero. Leni tahu jika Hero begitu menyukai perempuan itu. Angel adalah cinta pertama dari kakak sepupunya tersebut.


"Apakah pindah juga karena kakak tidak mau lagi bertemu dengan kenzo?"tanya Leni.


"Ya, itu juga alasanku yang lain,"jawab Hero.


"Tidak bisakah kalian berbaikan dan bersama-sama seperti dulu lagi"tanya Leni karena dia merasa sayang akan perpisahan dua sahabat hanya karena seorang wanita.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu lagi masalah itu,"ujar Hero kemudian pergi meninggalkan Leni sendi di ruang keluarga. Leni hanya bisa menghembuskan napas panjang mendengar jawaban singkat tapi penuh makna itu.


"Sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi,"gumam Leni menanggapi jawaban Hero barusan.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄