Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Kenapa Harus Dia?



"Apa?"ucap vazo sambil meremas surat undangan yang baru saja diberikan oleh asisten pribadinya.


"Tuan Doni meminta anda untuk menghadiri pesta pernikahan anak dari keluarga Pramono,"ujar asistennya dengan takut-takut karena melihat ekspresi wajah marah dari atasannya setelah melihat undangan yang dia berikan.


"Kenapa! Kenapa papa justru mengirimku menghadiri sebuah undangan pernikahan. Bukankah itu biasanya dilakukan oleh Verel?"tanya vazo dengan nada tinggi kepada asisten pribadinya.


"Maaf, tuan, saya tidak tahu, yang saya dengar tuan Verel Aldriansyah yang nantinya akan menghadiri rapat dengan tuan Doni Aldriansyah,"lapor asistennya tanpa berani menatap ke arah sang tuan mudanya. Tampak sekali raut wajah vazo yang semakin memerah menahan amarahnya mendengar bahwa sang ayah lebih memilih anak dari selingkuhannya itu untuk menemaninya ke pertemuan penting.


Vazo tidak habis pikir jika sang ayah akan lebih mencintai anaknya yang lahir di luar pernikahan itu daripada dengan dirinya. Vazo menggebrak meja kerjanya karena rasa kesal yang dia pendam untuk sang ayah. Jelas-jelas sekarang sang ayah menunjukkan kepada siapa dia berpihak.


"Aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan, lihat saja kamu, Verel,"tekad vazo dengan kuat. Dia harus membuktikan bahwa dirinya lebih mampu dan mumpuni dibandingkan anak tidak jelas itu. Vazo tidak akan membiarkan seorang anak yang tidak sah itu mengambil semua yang seharusnya dia miliki seorang diri.


"Aku akan mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milikku,"ujar vazo meyakinkan dirinya sendiri agar tetap bersemangat merebut segala miliknya yang harus tetap jatuh kepadanya bukan kepada anak yang tidak jelas tersebut.


*


"Kamu mau langsung pulang sekarang?"tanya Sisil melihat Aline tampak bersiap-siap. Setelah melakukan konsultasi bimbingan skripsi dengan dosen, Aline tampak bergegas untuk pulang dan tidak nongkrong-nongkrong dulu dengan Sisil di taman kampus.


"Enggak, aku ada perlu mau ke restoran dulu,"sahut Aline.


"Kamu masih marahan dengan vazo?"tanya sisil karena Aline jarang membicarakan tentang vazo dengannya. Aline menghela napas panjang setelah mendengar nama vazo kembali di sebut oleh teman baiknya tersebut.


"Aku tidak marahan dengan vazo. Kurasa kita butuh instrospeksi diri saja,"jawab Aline.


"Maaf ya, Lin, tetapi yang aku lihat justru hubungan kalian semakin menjauh, kenapa?"tanya Sisil ingin tahu lebih detail jawaban Aline mengenai hubungannya dengan vazo. Aline hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku juga tidak tahu, sil. Sepertinya hubungan kami tidak bisa diselamatkan lagi,"ujar Aline.


"Maksudmu?"tanya Sisil tidak mengerti maksud ucapan Aline tersebut.


"Vazo sudah keterlaluan juga sikapnya. Dia pernah menghajar Kenzo ketika Kenzo mengantarkan aku pulang, dan sampai sekarang tidak ada klarifikasi dari vazo. Entah apa yang dipikirkan oleh vazo,"kata Aline tampak kecewa. Dia merasa kekasihnya sekarang sudah bukan vazo yang dulu lagi.


"Mungkin vazo melakukan itu semua karena cemburu kepada Kenzo yang selalu dekat denganmu,"ujar Sisil.


"Cemburu? Lalu bagaimana dengan dirinya yang dulu pernah jalan dengan sekretaris pribadinya itu? Apa aku tidak cukup baik pernah memaafkan dirinya dulu? Sekarang kalau dia beralasan cemburu kepada Kenzo bukankah itu tidak beralasan. Kenzo dan aku hanya sebatas hubungan guru dan murid. Apakah aku pernah jalan dengan Kenzo seperti vazo dulu? Tidak pernah,"tegas Aline. Ya, sepertinya ucapan sisil barusan bagaikan menyiramkan bensin di api kecil yang menyala dan sekarang membesar sudah nyala apinya.


"Ya, itu hanya tebakanku saja, janganlah kamu marah kepadaku,"kata Sisil.


"Aku tidak marah kepadamu, sil. Maaf,"kata Aline dan dia sudah berdiri kembali untuk segera pergi ke restoran.


"Aku pergi dulu, sil. Sampai bertemu besok,"pamit Aline dan Sisil hanya melambaikan tangan melihat kepergian dari Aline.


"Ya, kalau mau putus ya putus saja, begitu saja pakai urat otot segala. Lagipula juga vazo hanya mendekatimu karena kamu dilahirkan dalam keluarga Dirgantara. Andai saja bukan kamu pastinya vazo tidak akan mendekatimu,"gerutu Sisil dengan raut wajah mengejek.


"Aku juga sudah capek selama ini hanya menjadi bayang-bayang dalam hubungan kalian berdua. Dia yang jalan denganmu tetapi aku yang harus memuaskan dirinya,"gerutu Sisil kembali. Dia memang sudah tidak tahan melihat kebersamaan Aline dan Vazo selama ini. Padahal vazo sendiri mendekati Aline hanya untuk kepentingan bisnisnya semata. Sedangkan Aline tidak tahu menahu masalah itu. Sungguh polos sekali pemikiran seorang Aline Putri Dirgantara tersebut.


**


Kenzo turun ke lantai dasar setelah selesai bersiap. Kenzo hanya di rumah sendirian hari itu karena kedua orang tuanya sedang ada acara di luar.


"Ayo bang Dion,"ujar Kenzo kepada asisten pribadinya yang malam itu akan membawanya ke pesta pernikahan keluarga Pramono.


"Baik, tuan muda,"jawab Dion sambil menyalakan mesin mobil yang mereka tumpangi.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Kenzo untuk sampai di rumah Aline. Dia menunggu di ruang tamu rumah keluarga Dirgantara karena Aline masih bersiap-siap di kamarnya.


"Sudah menunggu lama ya?"pertanyaan dari Aline yang sudah turun ke bawah membuat Kenzo seketika menoleh dan betapa terkejutnya Kenzo melihat penampilan Aline yang menurutnya begitu cantik.



Ya, gaun yang digunakan Aline tidak terlalu ribet namun tampak manis dengan brokat yang menghiasi bagian depannya membuat penampilan Aline semakin cantik saja.


"Oh, tidak juga,"jawab Kenzo setelah dia sadar jika Aline menunggu jawaban darinya sedari tadi. Aline juga tampak sedang memperhatikan penampilan Kenzo yang berbeda dari biasanya yang terkesan urakan dan cuek. Sekarang Kenzo dengan balutan jas hitamnya membuat Kenzo tampak lebih dewasa dan juga tampan.


"Berangkat sekarang?"tawar Kenzo kepada Aline.


"Ayo,"jawab Aline.


Kenzo mengulurkan salah satu tangannya untuk memegang tangan Aline. Entah mengapa hal itu justru membuat jantung Aline berdebar tidak seperti biasanya. Aline melihat sosok Kenzo yang biasanya urakan, tidak terlalu peduli penampilan, sekarang menjadi sosok yang lebih dewasa.



Kenzo menggenggam tangan Aline dengan erat dan entah mengapa penerimaan Aline tersebut membuat diri Kenzo menjadi bahagia. Mobil yang mengantarkan keduanya ke pesta pun melaju membelah jalanan di perkotaan malam hari itu. Kenzo dan juga Aline duduk bersebelahan di dalam mobil namun keduanya tidak berbicafa sepatah katapun. Keduanya sibuk menata perasaan hati masing-masing.


"Sudah sampai tuan muda dan nona,"lapor dion saat mobil mereka telah sampai di depan pintu depan rumah keluarga Pramono yang sudah sangat ramai dengan para tamu undangan. Kenzo keluar lebih dulu dari mobil kemudian disusul dengan Aline. Sedangkan Dion pergi memarkir mobil terlebih dahulu sebelum menyusul sang tuan muda masuk ke dalam acara pesta.


Kenzo menyodorkan lengannya untuk menggamit tangan Aline sebelum keduanya masuk ke dalam ruangan pesta tersebut. Aline tampak malu-malu dibuatnya dan diapun mengalungkan tangganya di lengan Kenzo. Mereka berdua pun jalan bersamaan masuk ke dalam rumah mewah keluarga Pramono. Penampilan Kenzo dan Aline yang tampak serasi malam itu membuat keduanya menjadi sorotan banyak mata memandang saat mereka telah memasuki tempat pesta pernikahan keluarga Pramono.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Untuk foto yang ada di episode ini hanyalah gambar bajunya saja yang author ingin tampilkan. Author bukan ingin mempertontonkan wajah dari pemakai baju ya.


Terimakasih 😄