
"Apakah aku membuat dia merasa tak nyaman?"sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut tuan mudanya membuat Dion melirik dari arah kaca spion di mobil.
"Ya, tuan muda?"tanya ulang Dion menanggapi ucapan tuan mudanya barusan.
"Bang, apa menurut mu sikapku ini terlalu terburu-buru? Apakah salah jika aku ingin sebuah hubungan yang serius dengannya?"tanya Kenzo meminta pendapat dari asisten pribadinya tersebut.
Dion tersenyum mendengar perkataan tuan mudanya yang tampak sedang galau tersebut.
"Tidak ada yang salah tuan muda, mungkin nona Aline masih membutuhkan waktu. Lagipula baru kemarin juga hubungan ini terjalin,"ucap Dion memberikan pendapatnya.
'Benar juga apa yang dikatakan oleh Bang Dion. Baru juga semalam aku menembaknya. Hari ini malah membahas pertunangan dan merencanakan pernikahan. Pantas saja Aline menjadi syok dibuatnya. Sikapku begitu terburu-buru, tetapi aku sendiri melakukan ini karena aku sudah merasa siap' batin Kenzo bergejolak saat ini setelah mendengar ada nada keraguan dibenak Aline saat dia mengutarakan maksudnya.
"Tuan muda, lebih baik melakukan pendekatan kepada nona Aline dengan lebih intens. Mungkin dengan cara itu bisa membuat nona Aline lebih yakin akan keseriusan hubungan ini,"sara Dion setelah melihat wajah frustasi di dalam diri tuan mudanya.
Seperti mendapat pencerahan, wajah Kenzo yang semula tampak buram kini ada secercah harapan.
"Ah, benar juga katamu bang,"sahut Kenzo menyetujui pendapat dari asisten pribadinya itu.
'Mungkin benar juga apa yang bang Dion katakan. Aku terlalu terburu-buru sehingga membuat Aline merasa belum siap. Mulai sekarang aku akan memberikan perhatian yang lebih padanya' batin Kenzo dengan senyum yang mengembang.
......................
Aline berjalan menuju ke ruang dosen pembimbingnya dengan tatapan yang masih bingung. Rupanya setelah turun dari mobil Kenzo, dia masih memikirkan ucapan dari kekasihnya tersebut.
Aline masih tidak menyangka jika Kenzo begitu serius memikirkan hubungan mereka kedepannya. Padahal Aline sendiri bahkan tidak sampai berpikir jauh ke sana. Apalagi membahas tentang pernikahan, otak Aline seketika buntu dibuatnya.
"Aline."
Suara sapaan itu membuat Aline seketika mendongak. Aline menatap ke depan dengan pandangan yang tiba-tiba berubah datar. Bagaimana tidak jika yang sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya adalah seseorang yang sangat tidak ingin dia lihat. Apalagi saat ini.
"Baik,"jawab Aline singkat.
"Aku dengar terjadi sesuatu denganmu dari pemberitaan di televisi. Apakah kamu baik-baik saja?"tanya Vazo dengan nada yang terdengar khawatir. Namun, Aline sudah tidak bersimpati dengan sikapnya tersebut. Karena dia sudah tahu perilaku yang sebenarnya dari mantannya itu.
"Seperti yang kau lihat,"lagi-lagi hanya sebuah kalimat-kalimat pendek yang vazo terima sebagai jawaban.
"Apakah kamu sudah selesai dengan skripsi mu?"tanya Vazo yang tidak mempedulikan jika sikap Aline tampak begitu dingin padanya. Jujur, setelah putus dengan Aline, entah mengapa vazo merasa dirinya seperti kehilangan sesuatu. Bahkan perilaku Sisil yang begitu perhatian pun tidak membuatnya bisa melupakan sosok Aline begitu saja.
"Permisi, aku harus segera bertemu dengan dosen pembimbing,"ucap Aline agar bisa segera terlepas dari pertanyaan-pertanyaan dari vazo.
"Aline, tunggu,"ucap Vazo sambil menahan lengan Aline. Tapi seketika dilepaskan oleh Aline karena dia tidak mau ada kesalahpahaman diantara keduanya.
"Lepaskan, zo,"ucap Aline sambil menatap datar ke arah Vazo yang membuat perasaan sedih lelaki itu karena ditatap seperti itu oleh Aline. Tetapi Aline tidak peduli.
"Jangan membuat masalah di sini. Aku tahu kamu sudah bersama dengan Sisil sejak lama. Dan kalian berdua dengan teganya membuatku tidak tahu apa-apa. Kalian rupanya sudah merencanakan semua ini. Terimakasih untuk semua yang sudah kalian lakukan. Aku doakan semoga kalian berdua bahagia,"ucap Aline kemudian pergi dari hadapan Vazo yang perasaannya sedang tidak karuan karena ternyata Aline sudah mengetahuinya semua.
Vazo tidak bisa lagi menahan kepergian Aline. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi di depan gadis yang masih disukainya tersebut. Dan rahasia kebersamaannya dengan Sisil selama ini tenyata juga telah diketahui olehnya. Vazo menjadi tidak mampu lagi berkutik.
Sedangkan di sudut ruangan yang lain. Seorang wanita sedang memperhatikan kedua orang tersebut dengan tatapan geram. Ya, itu adalah Sisil. Dia melihat kejadian diantara Vazo dan Aline. Dia hendak mendekat saat Vazo dengan sengaja menahan kepergian Aline. Tetapi, dia menghentikan langkahnya saat dilihatnya Aline menghempaskan tangan Vazo dengan kasar.
Sisil tahu jika Aline sudah pasti akan muak dengan sikap Vazo yang sebenarnya. Akan tetapi, tatapan terluka yang ditunjukkan oleh Vazo justru membuat Sisil menjadi geram dibuatnya.
'Kenapa dia harus memperlihatkan tampang sedihnya seperti itu. Rupanya selama ini dia diam-diam menyukai perempuan rubah itu. Tidak kusangka dia berani mengkhianati cinta yang selama ini aku berikan kepadanya. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan nanti.'
...****************...
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...