
Aline berada di dalam mobil vazo yang sedang melaju menuju kampusnya. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam saja. Tidak ada satupun kata yang mengawali pembicaraan diantara mereka. Dan Aline juga malas untuk memulai pembicaraan dengan vazo.
Aline merasa vazo sudah bukan vazo yang dulu lagi. Dia sudah banyak berubah. Aline sudah merasa tidak nyaman lagi berjalan berduaan bersama dengan vazo sejak lelaki itu pernah bilang untuk putus dengan Aline tempo hari. Mungkin Aline terlalu terburu-buru memutuskan hubungan diantara mereka. Tetapi, kini Aline merasa ada yang tidak nyaman dengan dirinya saat berjalan dengan vazo. Entahlah, Aline masih bingung menanggapi hubungan diantara dia dan Vazo.
"Kita sudah sampai, lin,"ujar vazo setelah sampai di depan kampus Aline. Seketika Aline melepaskan sabuk pengamannya dan hendak keluar dari mobil vazo.
"Tunggu, Lin,"vazo mencegah diri Aline untuk keluar dari dalam mobilnya.
"Kita harus bicara mengenai hubungan kita ini,"kata vazo membuat pergerakan Aline menjadi terhenti. Dan memang Aline juga ingin membahas tentang hubungan diantara mereka berdua.
"Akupun juga ingin melakukan hal yang sama,"jawab Aline dengan yakin. Vazo cukup terkejut dengan pernyataan yang diberikan oleh Aline kepadanya. Vazo harus mengatakan niatnya lebih dulu sebelum Aline mengatakan keinginan nya.
"Baiklah, aku akan bicara lebih dulu,"ujar vazo tidak mau kalah dari Aline. Dia tidak mau Aline berpikir yang macam-macam tentang dirinya. Karena dia masih membutuhkan jasa Aline untuk memudahkan rencananya.
"Lin, aku mohon maafkan aku, aku tahu kalau aku selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga melupakan dirimu dan janji-janji kita. Dan masalah emosiku yang tidak stabil kemarin-kemarin juga karena aku terlalu lelah dengan pekerjaanku. Aku mohon kamu bisa mengerti,"lanjut vazo melakukan pembelaan diri.
"Jadi, mulai sekarang aku akan lebih berusaha menepati setiap janji-janji ku, beri aku kesempatan ya,"rengek vazo kembali sambil membuat tanda memohon di hadapan Aline.
Aline tidak berkata apa-apa. Dia hanya mendengarkan saja apa yang ingin vazo katakan padanya. Aline menghela napas panjang. Dia tidak tahu harus berkata seperti apa setelah vazo mengatakan isi hatinya.
"Aku butuh waktu, zo,"ucap Aline kepada vazo yang sedari tadi menunggu jawaban dari Aline.
"Apa?"vazo ingin Aline mengulangi jawabannya barusan.
"Aku butuh waktu untuk menyendiri dulu,"kata Aline menegaskan jawabannya. Vazo bingung akan jawaban dari Aline. Kenapa Aline tiba-tiba tidak ingin ditemui olehnya lagi.
"Tapi kenapa, Lin, bukankah aku sudah mengakui kesalahan ku selama ini, dan aku juga berjanji tidak akan lagi melupakan janji-janjiku,"ucap vazo seakan tidak ingin menjauh dari Aline. Vazo berusaha membuat Aline untuk tetap berada di sisinya.
"Kalau kamu memang mencintaiku, tolong beri aku waktu, aku butuh waktu untuk sendiri dan berpikir, maaf zo, itu yang terbaik menurutku saat ini,"Aline sudah membuat keputusan dan Vazo tidak bisa memaksa Aline karena dia tahu semakin dia memaksa maka Aline akan semakin jauh dari jangkauan nya.
"Baiklah, aku akan menerima apa maumu saja,"jawab vazo akhirnya menuruti kemauan dari Aline.
"Terimakasih, zo,"ucap Aline kemudian dia keluar dari mobil vazo.
Aline menunggu mobil vazo meninggalkan halaman parkiran kampusnya terlebih dahulu sebelum dia masuk ke dalam kampusnya.
"Hai, Lin, sama siapa?"sapa Sisil yang melihat Aline sepertinya diantara oleh seseorang.
"Oh, sama vazo,"jawab Aline biasa saja.
"Oya? wow, tumben dia bisa mengantar kamu ke kampus. Biasanya sibuk mulu,"ujar Sisil tampak terkejut karena Aline diantara oleh kekasihnya yang akhir-akhir ini sering menghilang dan melupakan janji-janjinya dengan Aline.
"Entahlah, aku juga tidak menyangka dia ada waktu untukku,"jawab Aline dengan suasana hati yang kurang mengenakkan. Sisil melihat raut wajah Aline yang tidak tampak bahagia meskipun baru saja jalan dengan sang kekasih.
"Kamu sepertinya tidak bahagia, memang kalian ada masalah ya,"tanya Sisil kepada Aline karena wajah sahabatnya itu ditekuk saja sedari tadi.
"Entahlah, sil, aku tidak tahu apa yang sedang kurasakan,"jawab Aline sambil menghela napas. Jelas sekali bahwa ada masalah di dalam hubungan mereka. Kalau tidak ada masalah tentu wajah Aline akan tampak bahagia. Tetapi ini wajah Aline justru ditekuk saja sedari tadi dan setiap kali ditanya jawabannya selalu diawali dengan kata entahlah.
"Ya, itupun kalau kamu bersedia, aku tidak memaksa kok, Lin,"ucap Sisil kembali. Sedangkan Aline masih merasa tidak tahu apa yang harus dia katakan atau ceritakan kepada sahabat nya tersebut. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Mungkin dia lebih baik menyendiri diri untuk memikirkan apa yang sedang terjadi kepada dirinya.
"Belum saatnya, sil, aku masih belum tahu ada apa dengan diriku sendiri, aku butuh waktu,"jawaban Aline memang sedikit disayangkan oleh Sisil tetapi dia bisa menerima permintaan Aline tersebut. Sepertinya sahabat nya itu sedang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, tidak masalah, kalau kamu ingin bercerita, kapanpun aku siap mendengarkan ceritamu itu,"kata Sisil menawarkan dirinya. Aline mengangguk menerima tawaran Sisil.
"Ya, sil, terimakasih, kamu memang teman baikku selama ini,"kata Aline. Sisil tersenyum mendengar perkataan dari Aline.
**
"Kak Kenzo, tunggu!"mendengar suara gadis itu lagi-lagi memanggil namanya membuat Kenzo semakin mempercepat langkah dia berjalan.
Kenzo sedang malas saja menanggapi omongan adik sepupu dari Hero.
"Kak, tunggu aku!"teriakan Leni terdengar nyaring di telinga Kenzo namun laki-laki itu berusaha berlari agar tidak terkejar oleh si Leni. Kenzo sudah hampir sampai di pintu gerbang sekolah SMA nya. Dia sudah menelepon sopir pribadinya untuk menjemput. Dan mobil yang menjemput Kenzo pun sudah tampak di depan pintu pagar halaman sekolahnya.
Kenzo buru-buru berlari dan masuk ke dalam mobil jemputan nya. Dia segera menutup pintu mobil dan dilihatnya Leni sudah melihat ke arahnya.
"Cepat jalan, pak,"perintah Kenzo kepada sang sopir.
"Baik, tuan muda,"jawab pak sopir dan segera melajukan mobil yang dikendarainya. Leni sudah berusaha berlari namun mobil milik Kenzo sudah berjalan lebih dulu dan dia lagi-lagi tidak bisa mengejar langkah Kenzo.
"Dasar kurang ajar! Awas kamu Kenzo ya! aku tidak akan membiarkan cewek manapun untuk dapetin kamu. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku, kamu akan mengejar-ngejar cintaku, Kenzo!"pekik Leni kesal. Dia tidak peduli dilihat oleh banyak anak yang lain karena saat itu adalah jam pulang sekolah. Semua anak di sekolah itu sudah mengetahui jika Leni begitu mengejar-ngejar cinta dari Kenzo. Itu sudah menjadi rahasia umum.
***
Iklan Author
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya. Semoga kalian semua sehat selalu dan diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah ini.
Marhaban ya Ramadhan....
Jika memang ada yang ingin promosi novel, silakan di kolom komentar saja. Author selalu mempersilakan bagi siapa saja yang ingin promosi di kolom komentar di sini. Tetapi mohon tidak dilakukan di grub author ya😀
Baiklah, budayakan klik tombol like setelah kalian membaca part ini. Dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Kenapa?
Karena komentar kalian itu adalah penyemangat bagi author untuk menuliskan kelanjutan ceritanya. Jadi dukung terus author agar semangat ya.
Sehari hanya update satu kali saja.
Terimakasih 😄