Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Rubah Licik



Doni Aldriansyah sedang duduk bersama kedua putranya sarapan di meja makan. Doni adalah seorang pengusaha ternama. Dia memiliki dua orang anak lelaki dari dua orang wanita. Vazo Aldriansyah adalah putra dari istri sahnya sedangkan Verel Aldriansyah adalah putra dari istri sirinya.


Doni berpisah dengan ibu dari Vazo Aldriansyah karena mengetahui perselingkuhan sang suami dengan sekretaris pribadinya di kantor. Bahkan mereka telah memiliki seorang anak lelaki juga yang berusia tidak jauh berbeda. Itulah yang membuat ibu kandung vazo atau istri pertama Doni Aldriansyah meradang sehingga memutuskan untuk memutuskan hubungan diantara keduanya.


Lagipula sejak awal pernikahan mereka adalah berdasarkan perjodohan para orang tua. Doni Aldriansyah dan Stella Bramantyo menikah demi mempererat kerjasama dua perusahaan milik kedua orang tuanya.


Kini Doni Aldriansyah hidup sebagai duda dengan kedua putranya yang dia didik untuk membangun bisnisnya lebih besar lagi. Meskipun Doni sedang hidup sendiri setelah bercerai dengan ibu dari Vazo, Stella Bramantyo, tetapi dia tetap tidak bisa menikahi ibu dari putra keduanya, Verel Aldriansyah.


Itu karena Doni telah membuat perjanjian tertulis dengan almarhum ayahnya dahulu. Sehingga dia harus menjalani hidup seorang diri dengan tidak menikah kembali jika dia memutuskan berpisah dengan sang istri, Stella Bramantyo.


"Jadi bagaimana perkembangan pertemuan kemarin, Verel?"tanya Doni kepada putra keduanya dengan sang sekretaris.


"Lancar, pa. Mereka akan segera mengadakan pertemuan kembali dengan kita. Papa tunggu saja kabar baiknya,"ucap Verel dengan bersemangat karena berhasil melaksanakan tugas sang ayah dengan baik.


"Bagus, Verel, untuk kedepannya, tugas ini aku serahkan kepadamu. Urus semuanya sampai tuntas,"ujar Doni Aldriansyah dengan nada bangga. Dia memang melihat semangat kerja yang tinggi pada diri putra keduanya tersebut, Verel Aldriansyah.


"Tetapi, pa, bukankah itu sudah menjadi kewenangan dari kak Vazo,"ujar Verel mencoba bersikap baik hati kepada kakak tirinya yang sebenarnya sangat tidak menyukai dirinya itu.


"Vazo bisa mengerjakan hal yang lain. Lagipula pekerjaan di kantor tidak hanya itu saja,"ujar Doni Aldriansyah dengan tenang.


Mendengar ucapan sang ayah, Vazo Aldriansyah merasa ingin meledak saja. Dia diam-diam mengepalkan tangannya dan menahan emosi yang dia rasakan sejak tadi. Sang ayah selalu saja bersikap baik kepada anak haramnya itu. Bahkan memberikan pekerjaan yang sudah dia pegang kepada anak haramnya tersebut daripada dirinya yang anak sah.


"Maaf, pa, aku tidak bisa menerimanya,"ujar Verel membuat Doni dan Vazo terkejut akan apa yang dilakukannya.


"Apa yang kamu katakan, Verel? Papa sudah menyerahkan pekerjaan itu kepadamu. Kenapa kami malah menolaknya seperti ini? Kamu mau menentang papamu ya!"tegas Doni Aldriansyah merasa meradang melihat apa yang dilakukan oleh putra keduanya tersebut.


"Bukan, pa, tetapi aku tahu itu tidak benar. Jika dari awal pekerjaan itu adalah milik kak Vazo. Aku tidak boleh seenak hatiku untuk mengambil apa yang dia kerjakan dari awal, pa. Itu tidaklah benar. Bagaimanapun dia adalah kakakku. Kami adalah bersaudara. Bukankah akan lebih baik jika kami sampai tidak berselisih paham, pa,"jelas Verel dan itu membuat Doni Aldriansyah semakin bangga akan sikap dan juga kedewasaan yang dimiliki oleh putra keduanya tersebut.


"Kamu benar juga, nak. Maaf papa tidak memikirkan hal itu sebelumnya,"ujar Doni Aldriansyah.


"Zo, lihatlah adikmu itu. Dia masih memikirkan hubungan persaudaraan kalian bahkan dalam bisnis sekalipun. Seharusnya sebagai kakak kamu mencontoh sikap dia yang dewasa dalam bersikap. Kali ini pekerjaanmu itu berikan kepada adikmu, Verel. Dia lebih bisa melakukan negoisasi dengan infestor dari cina itu daripada dirimu. Sudah berikan semua berkas tentang pekerjaan itu kepada adikmu hari ini,"tegas Doni Aldriansyah kepada vazo. Sedangkan Verel Aldriansyah tampak tersenyum bahagia karena apa yang dia lakukan barusan sempat membuat hati sang ayah menjadi berpihak kepadanya.


Namun, Vazo Aldriansyah justru begitu terluka hatinya karena sang ayah benar-benar membela anak haramnya itu dibandingkan dirinya. Bahkan pekerjaan yang sudah dia tangani harus rela dia berikan kepada anak haram tersebut.


"Baik...pa. Aku akan lakukan sesuai perintah papa,"ujar vazo dengan menahan emosinya. Dia tidak boleh meledak di sini atau sang ayah tidak akan lagi mempercayai dirinya.


*


Sedangkan Vazo Aldriansyah sendiri tidak memperdulikan teriakan sang kekasih. Dia ingin melampiaskan semua kekesalan dalam hati dan pikirannya dengan berhubungan badan seperti ini.


Dia ingin melepaskan stres yang dia tanggung seharian ini karena melihat betapa sombongnya sang adik saat dia berhasil mendapatkan perhatian sang ayah dengan menjadi negosiator untuk infestor dari cina.


Vazo Aldriansyah sungguh tidak habis pikir jika sang ayah akan secinta dan sebangga itu akan kerja dari anak haramnya. Vazo Aldriansyah merasa sia-sia saja usaha yang dia lakukan selama ini untuk menarik perhatian sang ayah. Karena kenyataannya sang ayah sangat mencintai dan membela putra dari wanita selingkuhan nya tersebut.


"Ah...va....zo...."teriak Sisil setelah melewati klimaks yang sungguh membuatnya melayang-layang di langit. Sisil merasa bahagia sekaligus kecapaian karena kehebatan sang kekasih, Vazo Aldriansyah, yang tidak biasanya itu. Sisi liar dari seorang Vazo Aldriansyah sungguh membuatnya sangat ketagihan. Tetapi dia tahu vazo akan melakukan dirinya seperti itu jika dia dalam kondisi yang tidak baik.


Karena jika vazo dalam keadaan yang baik-baik saja maka dia tidak akan mengeluarkan sisi liarnya yang sebenarnya sangat disukai oleh Sisil.


Vazo Aldriansyah menata ulang pernapasannya yang tidak teratur setelah hubungan panas yang baru saja dia lakukan dengan Sisil. Vazo melampiaskan kekesalannya dengan berhubungan seperti itu. Karena itulah vazo Aldriansyah memelihara seorang perempuan cantik dan juga seksi seperti Sisil yang mampu membuat dia merasa terpuaskan.


"Kamu ada masalah, sayang?"tanya Sisil setelah dia berhasil menata pernapasannya menjadi teratur.


"Aku ingin lagi, sayang,"ujar vazo yang justru tidak menjawab pertanyaan dari sang kekasih namun meminta kembali sang kekasih untuk berhubungan dengannya.


"Tunggu, sayang, beri aku waktu sebentar, aku harus menata pernapasan ku dengan lebih baik lagi,"ujar Sisil begitu mendengar permintaan dari vazo untuk melakukannya lagi.


Vazo mendekat ke arah Sisil dan mengelus punggung mulus sang kekasih yang selalu membuatnya merasa ingin dan ingin lagi.


"Kamu membuatku ketagihan malam ini, aku ingin benar-benar terpuaskan malam ini sayangku,"rayu vazo kembali sambil memberikan kecupan-kecupan ringan di area sensitif dari diri Sisil.


Dengan sentuhan-sentuhan nakal dari vazo tersebut membuat gairah Sisil terpancing kembali untuk bangkit. Dia mulai mendesah perlahan karena sentuhan bibir vazo telah sampai di lubang kenikmatan miliknya. Sisil tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara kenikmatan akibat perbuatan dari Vazo.


Sedangkan vazo malam itu benar-benar ingin melakukan percintaan dengan sang kekasih sebanyak mungkin untuk membuat dirinya merasa bahagia dan tidak lagi memikirkan kekesalannya akan perbuatan ayah dan juga adik tirinya tersebut.


Vazo menghentakkan dirinya dengan kuat di tubuh Sisil dan itu membuat Sisil harus mengakui bahwa vazo sangat hebat dalam urusan ranjang. Sisil dibuat pasrah tak berdaya dan juga harus sekuat tenaga mengimbangi keganasan dari lelaki yang berkuasa dengan berada di atas tubuhnya tersebut.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄