
"Apa!!!"
Seorang wanita sosialita yang cantik itu tidak bisa menahan emosinya saat mendengar laporan dari orang kepercayaannya selama ini.
"Kamu tidak membawa berita bohong, bukan?"tanyanya dengan mengepalkan buku-buku tangannya menahan amarah yang telah siap untuk memuncak tersebut.
"Tidak, nyonya, saya mendapatkan info dari orang-orang yang terpercaya,"lapor orang tersebut dengan sikap tenangnya. Meski sang majikan sudah mengepulkan emosionalnya yang telah membara.
"Aku tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Bagaimana bisa Doni Aldriansyah lebih memilih anak dari wanita tidak tahu diri itu daripada putranya yang lahir dari sebuah pernikahan sah. Ini tidak akan kubiarkan terjadi. Harus putraku yang menguasai perusahaan Aldriansyah. Bukan anak sekretaris murahan yang sudah melempar tubuhnya ke ranjang atasannya sendiri hanya untuk hidup layak, cih,"umpat Stella yang berapi-api mendengar jika anak dari saingannya itu lebih dipilih mantan suaminya untuk menjadi calon penggantinya di perusahaan.
"Apa ada perintah yang lain, nyonya?"tanya sang anak buah yang masih setia menanti perintah selanjutnya dari majikannya.
"Awasi terus pergerakan wanita murahan itu. Aku mungkin akan bermain-main sedikit dengannya. Biar dia bisa mengajari putranya yang arogan itu untuk menundukkan wajahnya kepada siapa dia berhadapan,"ucap Stella dengan senyuman seringaian yang tajam.
"Baik, nyonya, saya permisi,"ucap mata-mata nya tersebut.
"Hmm."
Stella menatap ke arah luar jendela ruangan kerjanya. Sorot matanya yang penuh dendam bahkan tidak mampu untuk dia tepiskan lagi.
"Doni, jangan harap kamu akan bahagia dengan wanita murahan itu. Kamu lebih memilih dia dan melepaskan aku, maka selamanya kalian tidak akan pernah bersatu. Aku akan pastikan hal itu,"ucap Stella bersumpah.
......................
BRAK!
Sebuah dobrakan keras membuat Vazo yang tengah berada di kamar bersama sang kekasih terkejut. Pasalnya mereka sedang asyik memadu kasih tetapi ada gangguan yang membuat kegiatan mereka menjadi terganggu.
"Siapa sih, mengganggu saja,"gerutu Sisil sambil menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh atasnya yang telah terbuka karena Vazo sudah membuatnya tanpa sehelai benangpun.
"Entahlah, biar aku cek dulu,"ucap Vazo sambil kembali mengenakan celana dan bajunya yang tergeletak di lantai.
"Vazo!"teriakan itu membuat Vazo seketika melototkan mata.
'Gawat itu mama! Sial!' umpat Vazo dalam hati. Seketika dia melihat ke arah Sisil dan langsung menarik gadis itu lalu menyeretnya ke arah kamar mandi.
"Vazo, apa yang kam...."
"Sudah, kamu disini saja! Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu!"ucap Vazo tanpa memberikan Sisil kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Dia mendorong tubuh sang kekasih untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Tapi...."
BRAK! KLIK!
Vazo langsung mengunci pintu kamar mandi agar Sisil tidak bisa keluar dari sana.
"Vazo!"kembali suara itu terdengar membuat Vazo buru-buru keluar dari kamarnya setelah membereskan kamarnya yang cukup berantakan akibat perbuatannya dengan Sisil barusan.
Langkah kaki terdengar menuruni anak tangga lantai dua apartemen tersebut. Seorang wanita yang masih terlihat cantik meski sudah berusia itu menatap tajam Vazo yang sedang berjalan ke arahnya.
"Duduk kamu!"perintah sang mama yang tampak menatapnya dengan raut wajah tajam. Vazo sudah merasa ada yang tidak beres dengan kedatangan sang mama yang begitu mendadak ke apartemen miliknya. Ini sangat tidak biasa jika sang mama datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Pasti ada sesuatu yang tidak beres.
"Lama sekali kamu, apa yang kamu lakukan di kamar?"tanya sang mama.
"Eh, aku tidur tadi ma,"ucap Vazo beralasan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Tidak mungkin bukan jika dia berkata hal yang sebenarnya. Bisa-bisa sang mama akan menerkamnya detik itu juga.
"Mama mau tanya? Bagaimana hubungan mu dengan Aline?"tanya Shella to the point dengan raut wajah seriusnya.
"Hah!?"
Vazo tercekat tidak mengerti kenapa sang mama tiba-tiba saja menanyakan perihal hubungan antara dirinya dengan Aline.
"Memang ada apa ma?"tanya balik Vazo.
"Kamu ini, mama tanya malah kamu Bali bertanya, cepat jawab!"bentak sang mama sekali lagi membuat Vazo terkesiap.
"Ba...baik, ma,"jawab Vazo gugup.
"Baguslah, bawa dia lusa untuk makan malam dengan kita. Aku ingin mengenalkan dia sebagai calon istrimu,"ucap Shella dengan santainya.
"Apa???!"justru kali ini Vazo yang terkejut dengan ucapan sang mama.
"Kenapa? Bukannya kalian masih berpacaran bukan?"tanya sang mama kembali.
"Tap...tapi ..ma..."
"Aku ingin mengenalkan dia kepada papamu. Kamu tahu, anak wanita murahan itu telah selangkah lebih maju darimu. Bahkan dia bisa menarik perhatian papamu karena perilakunya. Kamu tidak boleh kalah darinya. Kamu harus membawa wanita yang lebih baik dari wanita yang dikenalkan anak sialan itu. Mama tidak mau kalah dari anak wanita murahan itu, tahu kamu!"
"I...i...iya, ma."
Ucapan Shella kali ini membuat Vazo tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana dia akan menjelaskan kepada mamanya jika dia dan Aline sudah berpisah. Dan sekarang dia sedang menjalin hubungan dengan Sisil.
"Mama tidak mau kamu sampai berhubungan dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya. Cukup mama yang kecewa dengan perilaku papamu dengan menjalin hubungan dengan wanita murahan itu. Jangan kecewakan mama untuk yang kedua kalinya,"perkataan Shella tepat mengenai sasaran. Vazo justru semakin bingung bagaimana caranya dia mengatakan yang sebenarnya.
Vazo menghela napasnya panjang. Bagaimana ini? Apakah mama akan bisa menerima kehadiran Sisil dalam hidupnya?
...****************...
...Itulah akibat melepaskan berlian demi batu kali😁 author julid deh.......
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...