Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Pilih Dia atau Aku?



"Kurang ajar!"geram seseorang yang melihat Kenzo dan Aline dengan pose yang seakan-akan menunjukkan kemesraan keduanya di depan umum.


"Apa yang kamu lihat, zo?"tanya Sisil yang berada di belakang vazo. Sisil pun melihat ke arah tatapan vazo dan dia tidak menyangka jika malam itu akan ada Aline berada di pesta pernikahan dari keluarga Pramono.


"Astaga, itu bukankah Aline dan juga anak yang menjadi murid didiknya ya,"kata Sisil.


"Sampai kapan mereka bermain kucing-kucingan dariku,"geram vazo.


"Tunggu, zo,"Sisil mencoba mencegah vazo mendekati Aline dan juga Kenzo. Sisil tidak mau terjadi pertengkaran di sebuah acara pernikahan orang lain. Lagipula Sisil juga tidak mau ketahuan oleh Aline bahwa malam itu dia yang datang sebagai pendamping vazo. Semua rahasia akan terbongkar nantinya. Ini belum saatnya, karena Sisil masih belum lulus dari perkuliahan.


"Lepaskan aku, sil. Aku akan memberi pelajaran kepada anak ingusan itu,"ujar vazo yang hendak menyingkirkan Sisil dari hadapannya. Namun, Sisil bersikeras tetap berada di depan vazo untuk menghadang langkah vazo yang akan mendatangi tempat dimana Aline dan Kenzo berada.


"Ini di tempat umum. Jangan gila kamu ! Kamu datang bersamaku kemari. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nanti jika Aline melihat kita berdua bersama,"ujar Sisil mengingatkan kekasihnya tersebut.


Selalu saja vazo bertindak tanpa memikirkan apa yang akan dialaminya nanti. Mereka datang berdua ke acara pernikahan anak dari seorang pengusaha ternama. Vazo masih berstatus kekasih dari Aline. Bagaimana bisa vazo datang dengan teman baik kekasihnya sendiri. Sisil tidak mau masalah perselingkuhan mereka terbongkar saat ini. Masih belum saat yang tepat untuk melakukan itu semua.


"Sudahlah, ayo kita pergi dulu. Biarkan mereka di sana,"ajak Sisil untuk menjauh dari tempat dimana ada Aline dan Kenzo.


"Tidak, aku mau membuat perhitungan dengan bocah tengil itu,"kata vazo namun segera Sisil menarik vazo ke tempat yang lebih sepi.


"Sil, lepaskan aku!"teriak vazo kesal karena rencananya dihentikan oleh Sisil sebelum dia melaksanakan aksinya tersebut.


Sisil yang juga kesal akan sifat kekanakan vazo menghempaskan tangan vazo begitu saja. Dia sebal dengan tindakan vazo yang tanpa pemikiran panjang. Dia selalu main hantam dan berkelahi tanpa bermain dengan otaknya.


"Gila kamu ya! Di sana acara pesta besar, mau ditaruh dimana muka kamu kalau kamu mengajak ribut anak SMA itu, heh,"kata Sisil dengan geram.


"Tapi mereka tidak seharusnya bermesraan seperti itu di depan umum! Aku merasa tidak dihargai di sini. Aku kekasihnya, tetapi dia justru bermesraan dengan lelaki lain!"ujar vazo membela dirinya. Tetapi pernyataan vazo justru membuat Sisil semakin kesal saja.


"Kamu cemburu ya melihat kemesraan mereka. Iya!"bentak Sisil membuat vazo seketika terdiam. Dia tidak menyangka Sisil akan berpikir seperti itu. Bahkan menganggap dia telah merasa cemburu dengan kedekatan Aline dengan bocah tengil itu.


"Sil...bukan itu maksudku.."ucap vazo meralat pernyataan nya barusan.


"Sudahlah, aku tidak mau mendengar alasanmu lagi. Kamu sendiri sudah menunjukkan betapa kamu peduli dengan Aline. Kedekatan kalian selama ini menimbulkan sebuah perasan bukan di dalam hatimu,"kali ini Sisil justru meragukan perasaan vazo kepada dirinya selama ini.


"Sil...bukan..aku mencintaimu, hanya kamu..."jelas vazo singkat tanpa berpanjang-panjang kata. Karena dia tidak tahu lagi bagaimana membuktikan kepada Sisil, perasaan yang dia miliki selama ini terhadap wanita itu.


"Entahlah, hanya kamu yang tahu, zo. Aku memang tidak lebih dari sekedar penghangat ranjangmu saja. Yang kamu manjakan jika kamu membutuhkan pelayanan yang tidak kamu dapatkan selama kamu bersama dengan Aline, bukan,"tukas Sisil sambil tersenyum getir. Vazo melihat kekecewaan yang tampak di wajah cantik Sisil malam itu. Vazo merasa bersalah melihat kenyataan itu. Dia tidak menyangka dirinya akan membuat Sisil menjadi terluka.


"Sil...dengarkan aku dulu,"kata vazo mendekati sisil tetapi sisil lebih dulu menepis tangan vazo yang ingin memeluk dirinya.


"Sisil..."vazo menghela napas panjang saat Sisil masih saja menepis pelukan darinya.


Vazo berjalan mendekati sisil yang tampak sudah mulai tenang kembali. Setelah dia sempat melihat wanita itu mengusap air matanya.


"Aku hanya mencintaimu, sil. Hanya menyayangimu seorang. Kamu yang lebih utama dibandingkan dengan Aline, percayalah,"kata vazo dengan tutur katanya yang lembut. Sisil menoleh ke arah kekasih itu. Dia melihat wajah bersalah di dalam diri vazo. Sisil pun merasa tergugah hatinya dengan apa yang vazo katakan barusan kepadanya.


"Benarkah aku yang paling utama?"tanya Sisil kembali. Dia justru ingin memanfaatkan apa yang baru saja dikatakan oleh vazo kepadanya.


"Iya, apapun yang kamu minta akan aku berikan kepadamu,"ujar vazo memberikan janjinya kepada Sisil.


Mendengar apa yang dikatakan vazo membuat Sisil semakin berbunga-bunga hatinya. Dia tahu mendekati dan menjalin hubungan dengan pewaris Aldriansyah akan membawa banyak keuntungan untuk dirinya.


"Jangan ulangi hal itu lagi,"ucap Sisil dengan tutur kata yang lemah lembut. Vazo memeluk tubuh indah nan gemulai milik kekasihnya tersebut. Vazo menghela napas lega setelah mendengar perkataan Sisil.


"Aku hanya mencintaimu, percayalah itu, sayang..."kata vazo sambil mengecup leher jenjang nan mulus milik Sisil.


Dari kejauhan tampak seseorang sedang memotret kemesraan yang dipertontonkan oleh vazo dan juga Sisil. Lelaki dengan jas hitam itu tampak tersenyum karena menemukan sebuah bukti yang kuat untuk dilaporkan kepada tuan mudanya.


"Kamu belum ambil minum?"tanya Kenzo kepada Aline saat keduanya tampak menikmati makanan di pesta tersebut. Aline hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya, sudah, tunggu di sini, aku akan ambilkan,"kata Kenzo dengan segera dia menuju ke tempat minuman. Aline yang melihat gelagat Kenzo yang gentleman itu sungguh membuat dia terkesan. Aline tersenyum tipis melihat kepergian Kenzo yang mengambilkannya minum.


Drrtt... Drrtt....


Handphone Kenzo bergetar, rupanya ada sebuah pesan yang masuk. Dari Dion.


"Ada apa bang Dion mengirimiku sebuah pesan?"gumam Kenzo pelan. Dia segera membuka pesan dari dion tersebut. Tentu sebuah pesan yang penting jika itu datang dari Dion.


Kenzo sudah menduga bahwa vazo bukan lelaki yang baik setelah melihat video yang dikirimkan oleh Dion kepadanya.


Kenzo kini tahu siapa wanita yang pernah bersama dengan vazo terakhir kali dia melihatnya. Kenzo juga sudah mengerti siapa wanita itu sebenarnya. Tetapi tidak akan semudah itu untuk menyakinkan Aline akan hal ini.


"Dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri untuk bisa percaya,"gumam Kenzo sambil memasukkan kembali handphone ke dalam saku jasnya.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄