Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Kekecewaan Monita



"Sudah sampai tuan muda,"ujar sopir pribadi Kenzo. Mobil mereka telah sampai di pelataran teras rumah keluarga Darmawan.


Sopir pribadinya sudah membukakan pintu untuknya. Kenzo pun mengambil tas sekolahnya dan keluar dari mobil.


"Aku pulang,"ucap Kenzo saat sudah berada di dalam. Kenzo melihat sang mama tampak berada di dapur. Kenzo sendiri hendak naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Tunggu!"cegah monita melihat Kenzo baru saja sampai rumah.


"Ada apa, ma?"tanya Kenzo tampak ogah-ogahan.


"Mama ingin bicara denganmu, duduk sini,"perintah sang mama sambil menunjuk ke arah sofa di ruang keluarga. Kenzo pun berjalan mengikuti perintah sang mama.


"Kenapa mama memanggil ku?"tanya Kenzo kembali. Monita tampa memicingkan mata melihat gelagat putra semata wayangnya tersebut.


"Kamu, katakan kepada mama, apa yang terjadi dengan Aline?"tanya monita langsung ke inti permasalahannya. Kenzo tersentak kaget karena pertanyaan itu langsung tertuju kepadanya.


"Aline....dia baik-baik saja,"jawab Kenzo. Monita menangkap adanya ketakutan dalam jawaban yang diberikan oleh Kenzo.


"Jangan bohong kamu ya, mama sudah dengar ceritanya dari Tante kamu, Tante Sindi. Kamu membawa Aline ke kliniknya. Dan Aline memiliki luka memar di bahunya. Apa yang sebenarnya terjadi?"cecar monita kepada Kenzo.


"Oh, jadi mama sudah tahu,"jawab Kenzo dengan santai.


"Kamu ya!!!"monita mengambil bantal di sofa dan memukulnya ke arah Kenzo. Monita sudah gemas sekali sedari tadi dengan kelakuan putra semata wayangnya itu.


"Ampun, ma,"ucap Kenzo sambil memegang erat bantal berbentuk segiempat yang digunakan sang mama untuk memukulinya.


"Bagaimana bisa kamu sesantai itu. Anak orang sudah kamu lukai dan kamu masih bisa baik-baik saja. Mana tanggung jawab mu, heh! Mama mendidik kamu bukan untuk menjadi lelaki pengecut selama ini,"cerocos monita dengan nada kesal. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Kenzo.


"Aku bertanggung jawab kok, ma,"kata Kenzo.


"Kalau kamu bertanggung jawab, jemput dia setiap jadwal les,"perintah mamanya.


"Ya, ma,"jawab Kenzo menurut daripada permasalahannya semakin panjang.


"Mama tanya sekarang ya, bagaimana bisa Aline terluka lebam begitu?"


"Itu... itu..."


"Kamu balapan ya?"tebak monita dan Kenzo pun mengangguk sambil menundukkan kepalanya.


Monita menghela napas panjang. Rupanya anaknya itu masih saja melakukan aksi berbahaya meskipun dia sudah sering menasehatinya.


"Mama tidak habis pikir. Kamu lebih mementingkan teman-teman berandalanmu itu daripada keluargamu. Kalau sesuatu terjadi padamu siapa yang paling bersedih. Itu mama Kenzo! Mama hanya punya kamu, nak! Kamu putra mama satu-satunya, Kenzo,"monita mulai terisak. Dia tidak bisa menahan lagi dirinya. Monita selalu mengkhawatirkan keselamatan putranya. Tetapi putranya seakan menjadikan nasehatnya sebagai angin lalu saja.


"Ma, maaf..."Kenzo berlutut di depan mamanya yang masih menangis. Kenzo tidak tega melihat mama yang begitu mencintainya sampai sesedih itu. Kenzo merasa bersalah dan berdosa sebagai anak.


"Kenzo tidak akan melakukan itu lagi, ma,"ucap Kenzo dengan berlutut di depan sang mama. Monita melihat wajah bersalah Kenzo. Dia pun merengkuh tubuh putranya itu dan memeluknya erat. Monita menangis tersedu-sedu sambil mengelus-elus putranya.


"Mama menyayangi mu, Kenzo. Mama tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa, nak. Janganlah membuat hati mama ini bersedih. Kamu adalah harapan mama, nak. Mama cuma punya kamu seorang sebagai anak mama, nak. Tolong pahami itu, Kenzo,"kata monita masih berderai air mata. Kenzo pun memeluk balik sang mama dan berusaha menenangkan mamanya.


"Maaf, ma. Kenzo tidak akan melakukan nya lagi,"janji Kenzo. Monita tampak bahagia mendengarnya. Karena dulu monita pernah menasehati nya seperti ini justru Kenzo melawan dirinya. Tetapi Kenzo yang sekarang lebih lembut perangainya. Monita senang melihat perubahan dalam diri Kenzo.


"Mama pegang janjimu, Kenzo. Jangan kecewakan mama."


"Baik, ma,"jawab Kenzo sambil mengusap sisa air mata di wajah sang mama.


"Sekarang ceritakan sama mama bagaimana Aline bisa sampai mendapatkan luka memar?"tanya monita masih penasaran.


"Aline menghadang musuhku yang mau memukul ku,ma."


"Astaga!"monita terkejut mendengar nya.


"Pasti Aline kesakitan waktu itu. Kamu bagaimana bisa mengajak Aline segala?"gerutu monita.


"Ya, itu dari awal memang salah aku, ma. Aku yang memaksa dia untuk ikut. Awalnya dia menahanku untuk tidak pergi tetapi aku justru mengancam dia,"terang Kenzo.


"Astaga, nak. Lalu kamu bertengkar dengan lawanmu begitu?"tanya monita kembali ingin mendapatkan cerita yang utuh.


"Dia tidak terima kekalahannya, lalu berusaha menyerangku di saat aku lengah. Aline menghadang pukulannya itu dan membuat dirinya sendiri terluka,"ucap Kenzo. Monita mengerti sekarang jalan ceritanya.


"Kamu masih berhubungan dengan Hero dan juga komplotannya?"tanya monita.


"Tidak, ma. Aku sudah menjauh dari Hero."


"Angel? Kamu masih berpacaran dengan dia?"selidik monita.


"Tidak juga, ma. Dia sudah menjadi kekasih Hero,"jawab Kenzo dengan wajah yang tampak murung.


"Nah, kamu lihat sendiri, kan. Mama dari awal sudah tidak suka dengan perempuan bernama angel itu. Dia bukan perempuan yang baik. Sekarang sudah terbukti omongan mama. Feeling orang tua itu tidak pernah salah, nak,"kata monita.


Monita senang akhirnya Kenzo sudah tidak lagi bersama perempuan itu. Monita sejak awal melihat gadis itu main ke rumahnya sudah tidak suka karena tampang gadis itu terlalu menggoda. Gadis itu pastinya pandai menggoda setiap pria. Buktinya sekarang lepas dari Kenzo justru jatuh di pelukan teman dekat Kenzo, si Hero.


"Ya, sudah, sekarang kamu makan siang dulu, terus jemput Aline sana, buktikan tanggung jawabmu,"ucap monita menyemangati Kenzo.


"Tapi..."Kenzo menggantungkan perkataan nya.


"Masih ada alasan apa lagi sih?"tanya monita dengan gemas akan perilaku sang anak.


"Tidak ada,"jawab Kenzo.


"Ya, sudah sana ganti bajumu,"kata monita mendorong tubuh Kenzo untuk segera ke kamarnya.


"Iya, ma,"jawab Kenzo sambil menggendong tas sekolahnya.


**


Aline tampak sibuk melihat coretan pada lembaran skripsinya yang baru saja dikoreksi oleh dosen pembimbingnya. Dia tampak sibuk merevisi kembali skripsinya. Aline melihat laptopnya yang berisi data dan mencocokkan dengan lembaran yang baru saja di revisi dosen pembimbing.


"Masih banyak revisinya, Lin?"tanya Sisil yang menghampirinya sambil membawa dua buah juice alpukat yang dia beli di kantin kampus.


"Tinggal sedikit lagi kelar kok ini, sil. Terimakasih juice alpukatnya, ya. Tahu saja kamu ini aku lagi haus bener,"kata Aline memuji kebaikan Sisil.


"Apa sih yang aku tidak tahu darimu. Cuma hatimu saja yang aku tidak tahu,"sindir Sisil karena temannya itu tadi tidak mau bercerita tentang permasalahannya dengan vazo.


"Ah, janganlah begitu, sil, bukannya aku tidak mau cerita padamu. Hanya saja...."


"Baiklah, baiklah, aku tidak memaksamu lagi,"kata Sisil memotong ucapan Aline.


"Kamu memang temanku yang terbaik,"kata Aline sambil mencubit pipi Sisil dengan gemas.


"Ich, jangan lebai deh kamu, Lin,"ujar Sisil sambil menepuk tangan nakal Aline yang telah mencubit pipinya barusan.


Drrtt... Drrtt...


"Lin, handphone kamu getar tuh,"kata Sisil melihat handphone yang digeletakkan Aline di meja taman kampus.


Mereka berdua baru saja menghadap dosen pembimbing masing-masing. Selalu mereka melakukan revisi di bawah pohon rindang di taman kampus. Area yang begitu digemari mahasiswa di kampus sambil menunggu jam masuk mereka.


"Oh, ada telepon,"ujar Aline sambil mengangkat telepon tersebut.


"Ya."


"Dimana?"


"Aku ada di kampus, kenapa?"


"Sudah selesai belum kegiatan di kampus?"


"Sudah, ini tinggal revisi saja. Masih jam 1 sekarang. Nanti jam 3 sore aku akan ke sana."


"Tidak perlu, jam 2 aku akan menjemputmu ke kampus. Tunggu aku."


"Eh, tidak usa..." Aline melihat ke arah layar handphone nya. Ternyata Kenzo sudah mematikan saluran teleponnya.


"Aih, anak ini kenapa sih, belum juga aku selesai bicaranya,"gerutu Aline karena Kenzo memutuskan lebih dulu sebelum Aline sempat menjawabnya.


"Siapa emangnya, Lin?"tanya sisil penasaran melihat Aline bicara sendiri.


"Oh, ini si Kenzo,"jawab Aline meletakkan handphone nya ke dalam tas.


"Hubungan kalian dekat juga ya, hati-hati lho,"ledek sisil sambil senyum-senyum melihat Aline.


"Apaan sih, sil. Aku hanya sebatas guru les dia saja, kok,"jelas Aline.


"Ya, siapa tahu dari guru les terus jadi pacar gitu,"kata Sisil.


"Ah, ngaco kamu ya,"tangkis Aline. Pemikiran temannya ini selalu saja yang aneh-aneh.


Mana mungkin aku dan Kenzo... Ach, lupakan saja. Masalahku dengan vazo saja belum kelar. Buat apa juga aku membuat masalah baru.


***


Iklan Author


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Semoga amalan ibadah kita di terima.


Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.


Terimakasih 😄