Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Kamu Bukan Lawanku



Aline masuk ke dalam rumah setelah Kenzo mengantarkannya sampai depan rumah. Kenzo tidak mampir terlebih dahulu. Dia langsung pulang kembali ke rumahnya.


"Kamu baru pulang, nak?"tanya bunda Anita saat melihat Aline baru sampai.


"Iya, bunda,"jawab Aline dengan wajah tampak ditekuk. Bunda Anita yang melihat wajah muram anaknya merasa ada yang janggal. Mungkin sesuatu sedang terjadi dengan sang putri.


"Bagaimana mengajar les privat Kenzo hari ini?"tanya sang bunda yang sedang berkutat di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka. Sang bunda memang selalu menanyakan perkembangan belajar Aline dengan Kenzo. Karena bagaimanapun Kenzo sudah dianggap bunda Anita seperti putranya sendiri. Jadi dia selalu ingin tahu perkembangan Kenzo.


"Ah, lumayanlah bunda, dia sudah mulai banyak yang mengerti daripada sebelumnya,"jawab Aline sambil duduk di kursi meja makan.


"Syukurlah kalau ada kemajuan. Berarti usaha kamu tidak sia-sia, nak. Bunda senang mendengar nya,"ujar bunda Anita karena putrinya berhasil membantu putra sahabat baiknya. Namun, bunda Anita masih melihat wajah masam dari sang putri yang sedang serius menatap handphone nya.


"Siapa yang mengantarmu barusan?"tanya bunda Anita penasaran. Apakah wajah masam sang putri ada hubungannya dengan seseorang yang tadi bersama putrinya.


"Oh, yang mengantarkan tadi kenzo kok, Bun,"jawab Aline sambil memasukkan handphone nya ke dalam tas.


"Eh, bunda kira kamu diantar oleh vazo,"jawab sang bunda asal tebak saja.


"Sudahlah, Bun. Jangan bahas dia lagi, aku malas,"jawab Aline dengan nada sewot. Terjawablah sudah akhirnya alasan yang membuat sang putri tampak masam karena berhubungan dengan vazo. Bunda Anita tidak perlu banyak bertanya siapa yang membuat sang putri begitu kesal. Dia sudah tahu siapa pelakunya.


"Ya, sudah Bun, aku mandi dulu ya, gerah banget, astaga!"seketika Aline melihat jaket yang dia gunakan.


"Kenapa, nak. Kok kamu sampai berteriak segala,"tanya sang bunda yang ikut terkejut karena teriakan Aline. Sampai-sampai pembantu Aline ikut melihat kondisi nona mudanya tersebut.


"Aku lupa masih memakai jaket Kenzo,"ujar Aline sambil memegang jaket Kenzo yang masih dia kenakan."


Bunda Anita hanya menghela napas saja mendengar penuturan sang putri.


"Bunda kira kamu kenapa, nak. Ya sudah mandi dulu sana,"tutur sang bunda kepada Aline.


"Baik, Bun." Aline berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Aline melepaskan jaket Kenzo yang dikenakannya tadi. Ya, bagus juga dia tadi lupa memberikan jaket kenzo. Memang seharusnya dia mengembalikan jaket itu kepada Kenzo setelah di cucinya dengan baik. Ah, Aline menepuk dahinya pelan.


Aline menggantung jaket Kenzo agar besok bisa dibawanya sekalian ke tempat laundry langganan nya. Jadinya pas dia mengajar les privat Kenzo, jaket itu sudah bisa dikembalikan kepada Kenzo.


Masih memikirkan vazo membuat Aline menjadi kesal. Bukankah lelaki itu baru saja bilang kalau dia ingin berbaikan dengannya. Kenapa janji untuk makan malam menjadi dilupakan begitu saja olehnya. Sebenarnya apa tujuan vazo. Apa arti hubungan mereka selama ini. Aline bahkan merasa bahwa vazo sudah melupakan hubungan diantara mereka berdua.


"Apa sebenarnya mau mu vazo? Kita bersama sudah tiga tahun lamanya. Kenapa sekarang aku seperti tidak mengenal dirimu lagi?"Aline merasa tidak bisa begini. Dia harus menanyakan semua ini kepada vazo.


**


"Kenapa kamu masih menghubunginya, sih,"ujar seorang wanita dengan tampang kesal kepada vazo, kekasihnya.


"Tapi selama ini aku sudah cukup bersabar untuk mengalah kepadanya. Apakah kamu tidak memikirkan perasaan ku, vazo?"ujar si wanita dengan nada kecewa. Memang dia berkorban selama ini demi masa depan vazo. Tetapi wanita mana yang tahan jika harus melihat kekasih sendiri berjalan dengan mesra bersama wanita lain. Bagaimanapun vazo adalah kekasihnya. Aline hanyalah alat bagi vazo untuk mendapatkan kepercayaan dari sang ayah. Dia yang lebih tahu bahwa vazo mendekati Aline hanya untuk mencapai tujuan nya saja. Jiwa dan raga vazo sepenuhnya hanyalah miliknya.


"Sayang, jangan marah lagi seperti ini. Aku tidak bisa tenang jika kamu mengacuhkanku seperti tadi,"bujuk vazo kepada wanita yang telah menjadi kekasihnya selain Aline selama empat tahun ini. Wanita ini lebih dahulu menjadi kekasihnya dibandingkan dengan Aline.


Mendengar nada merayu dari vazo membuat wanita itu merasa senang. Vazo tidak akan bisa terlepas dari jerat pesona yang telah dia berikan. Aline tidak akan mampu membuat vazo benar-benar bertekuk lutut kepadanya. Apalagi Aline begitu kolot, bahkan dicium saja dia tidak mau. Sungguh wanita yang bodoh. Bagaimana bisa dia bersaing dengan dirinya. Vazo akan bertekuk lutut oleh pesona dan juga kehangatan tubuhnya.


"Sayang, aku minta maaf ya,"bujuk vazo kembali. Dia tidak bisa jika wanita yang dicintainya ini sampai pergi dari kehidupannya. Selama ini dia tidak hanya sekedar kekasih bagi vazo. Tetapi juga, seseorang yang bisa membuat vazo sampai sesukses ini. Termasuk seseorang yang menyarankan vazo untuk mendekati Aline sebagai cara mudah vazo untuk meraih tujuannya.


"Tapi janji, jangan bermesraan dengan aline berlebihan di depan ku, bagaimanapun kamu itu milikku, selamanya hanya milikku, tahu,"ujar sang wanita dengan tatapan menggodanya. Vazo hanya mengangguk mengiyakan permintaan wanitanya.


"Percayalah, sayang, aku hanya milikmu, aku tidak tertarik dengan Aline. Dia hanya alatku saja untuk memudahkan tujuanku. Semua ini demi masa depan kita berdua. Bagaimana mungkin aku meninggalkan wanita yang hangat luar dalam seperti kamu,"ujar vazo dengan tatapan nakalnya ke arah sang wanita.


Sedangkan wanita itu melihat gelagat vazo, dia tahu apa yang dimau oleh sang kekasih. Dia pun mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.


"Aku memang milikmu, sayang, selamanya,"ucap sang wanita sambil mengeringkan sebelah matanya menggoda. Wajah vazo bersemu menahan hasratnya. Seketika vazo menggendong sang kekasih menuju ke ranjang yang akan menghangatkan kedua insan yang sedang dimabuk kasmaran tersebut.


Aline Putri Dirgantara, kamu bukan lawanku jika ingin memenangkan hati seorang pria. Aku adalah pemenangnya kali ini. Aku ingin melihatmu hancur saat tahu bahwa kamu hanyalah alat yang dipergunakan vazo untuk meraih ambisinya. Kasihan sekali kamu, Aline.


***


Iklan Author


Siapa sih wanita yang bersama dengan vazo?


Ada yang bisa menebaknya?


Bagi yang belum bergabung dengan grub. Sekarang bisa joint di grub author ya. Caranya mudah karena sudah ada di noveltoon maupun mangatoon.


Setelah membaca, budayakan untuk klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.


Kenapa?


Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author untuk menuliskan kelanjutan dari cerita nya.


Oke😃


Terimakasih 😄