
Aline sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Akan tetapi, otak Aline tampaknya sedang tidak fokus dengan apa yang dilihatnya. Aline masih kepikiran ucapan yang dia katakan tadi kepada Kenzo dan sudah menjadi kesepakatan mereka berdua.
"Astaga, bagaimana bisa aku mengiyakan tantangan seperti itu? Kalau misalnya dia sampai berhasil dan aku harus nge-date sama dia, ya ampun, kenapa aku berkata tanpa memikirkannya terlebih dahulu,"ucap Aline kepada dirinya sendiri sambil merenungi yang menurut dia adalah sebuah kesalahan.
Apalagi Kenzo sudah saling mengenal dekat dengan keluarga Aline. Apabila mereka sampai nge-date, bagaimana tanggapan mereka nantinya. OMG, Aline.....
"Kamu itu kenapa, Lin?"tiba-tiba sebuah suara yang menegur Aline membuatnya seketika terkesiap.
Bunda Anita yang melihat perilaku putri bungsunya itu justru ikutan terkejut.
"Astaga, bunda bikin kaget aku aja,"ucap Aline sambil mengelus-elus dadanya.
"Kamu justru yang membuat bunda bingung. Bicara-bicara sendirian didepan televisi. Kamu ditanya malah kaget seperti ini. Kamu baik-baik aja, nak,"tanya Anita ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sang putri. Anita takut jika kejadian yang kemarin sempat menimpa putrinya itu masih membuat psikis sang putri bermasalah.
"Tidak bunda, tadi aku hanya kaget saja mendengar sapaan bunda. Habis bunda juga tidak terdengar suara langkah kakinya,"kata Aline membela diri.
"Ya, ampun, nak, memang bunda kalau datang harus dengan langkah kaki yang menggoyangkan seluruh isi rumah apa, ya. Kamu pikir bundamu ini apa? monster?"ucap bunda Anita sambil tertawa mendengar ucapan putrinya yang dia anggap lucu tersebut.
"Bunda, ih, bukan begitu juga, astaga,"kata Aline justru semakin gemas dibuatnya. Kenapa juga bundanya harus berpikiran seperti itu.
"Sudahlah, kamu juga sendirian disini saja. Bagaimana tadi kondisi Kenzo?"tanya bunda Anita mengakhiri perdebatan diantara mereka berdua. Bunda Anita duduk di sofa samping Aline.
"Kondisinya sudah membaik, bunda, ya tapi dia masih menggunakan alat bantu untuk berjalan. Kalau ada jadwalnya kontrol, aku nanti akan menemani Kenzo ke dokter,"kata Aline menjelaskan.
"Oh, begitu, ya sudah temani saja, lagian juga kasihan dia pasti kedua orang tuanya juga sibuk dengan pekerjaan mereka. Lalu kamu tadi sedang memikirkan apa sambil komat kamit sendirian di depan televisi,"kata bunda Anita kembali membahas apa yang telah dilakukan Aline tadi.
"Haduh, bunda, memang aku ini dukun yang sedang baca mantra begitu. Masak aku dibilang komat kamit. Aku tadi sedang berpikir aja bunda,"sahut Aline.
"Memang apa yang sedang kamu pikirkan sampai seserius itu?"tanya bunda Anita ingin tahu.
"Kamu tenang saja, bunda yakin kalau kamu tekun dan disiplin, skripsimu akan segera selesai juga. Kamu harus tetap semangat ya, nak,"ujar bunda Anita memberikan dorongan semangat untuk sang putri. Aline tersenyum mendengar semangat dari sang bunda tersebut.
"Terimakasih ya bunda, aku akan segera menyelesaikan studiku. Aku juga ingin segera bekerja,"ujar Aline karena dia ingin serius mengurusi restauran keluarga mereka.
"Baiklah, sayang, bunda percaya kamu pasti bisa,"ujar bunda Anita.
**
"Dia sudah pulang,"ujar Hero kepada Leni yang selama ini selalu ingin tahu bagaimana perkembangan kondisi Kenzo dari saudara sepupunya tersebut.
"Benarkah, syukurlah,"ucap Leni dengan perasaan lega.
Hero hanya menghela napas panjang mendengar ucapan adik sepupunya yang tampak begitu lega setelah mendengar berita kepulangan Kenzo.
"Berarti sebentar lagi dia akan kembali ke sekolah,"ujar Leni dengan bersemangat. Dia bisa mendekati Kenzo nantinya jika mereka bertemu di sekolah. Karena untuk menjenguknya ke rumah itu tidak mungkin.
"Terserah kamu lah,"sahut Hero tidak mau peduli apa yang akan dilakukan oleh adik sepupunya itu.
"Aku sudah tidak sabar menanti dia kembali ke sekolah,"ujar Leni dengan senangnya.
Hero hanya memutar kedua matanya mendengar ucapan Leni barusan. Hero sungguh tidak mengerti kenapa Leni begitu terobsesi dengan Kenzo sampai seperti itu. Hero sendiri sekarang lebih fokus untuk studinya karena dia ingin segera lulus dan kuliah ke luar negeri nantinya. Dia sudah malas berada di negeri ini berlama-lama.
***
...Terimakasih sudah mampir membaca cerita ini. Terus dukung cerita ini dengan cara klik like, vote dan tulis komentar kalian sebanyak-banyaknya. Sambil menunggu cerita ini update, silakan mampir di cerita saya yang lain....
Salam Cinta Dari Author ❤️