Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Kebohongan Sahabat



"Bukankah itu mobil vazo?"gumam Aline, seketika Aline mencari tempat untuk bersembunyi karena dia tidak mau sampai terlihat lelaki itu. Aline tidak siap untuk bertemu dia saat ini.


Tetapi alangkah terkejutnya Aline saat dia mengetahui bahwa Sisil keluar dari mobil tersebut. Wajah Sisil tampak berseri-seri saat turun dari mobil vazo. Bahkan Sisil juga melambaikan tangannya kepada vazo saat lelaki itu pergi meninggalkan dirinya.


Aline sungguh tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sikap Sisil yang begitu centil dan juga kelakukannya kepada vazo sungguh di luar dugaan. Karena setahu Aline selama ini sikap sisil selalu cuek jika bertemu dengan vazo. Kenapa sikapnya kali ini berbeda seratus delapan puluh derajat seperti itu kepada vazo.


Sisil bergegas menuju ke ruangan dosen digedung utama kampus. Aline yang sebenarnya ingin menyapa Sisil menjadi mengurungkan niatnya tersebut. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi diantara Sisil dan juga vazo.


Aline mengambil handphone yang dia letakkan di dalam tas. Aline menekan nomor sisil dan menunggu si pemilik nomor tersebut mengangkat telepon darinya. Masih terdengar suara nada tunggu dari nomor sisil.


Aline melihat dari jauh Sisil yang berhenti di anak tangga dan tampak mengambil handphone miliknya dari dalam tas.


"Halo,"jawab Sisil dari seberang sana. Aline tampak berusaha tenang dan berbicara seolah-olah dia tidak mengetahui kejadian yang baru saja dilihatnya.


"Hai, sil, kamu ada dimana sekarang?"tanya Aline dengan nada santai. Dia melihat dari jauh bagaimana ekspresi wajah Sisil yang sedang menerima telepon darinya tersebut.


"Emmm...aku...aku sedang berada di tempat kerjaku,"jawab Sisil dan Aline tahu persis jika jawaban Sisil itu berbohong. Padahal Aline sekarang sedang berada di satu lokasi yang sama dengan diri Sisil.


"Oh...begitu,"ujar Aline merasa kecewa dengan jawaban kebohongan yang disampaikan oleh sang sahabat kepadanya. Padahal Aline dengan jelas melihat dari tempatnya apa saja yang baru dilakukan Sisil dan dimana dia berasa sekarang.


"Kamu ada dimana memangnya, Lin?"tanya Sisil sambil menengok ke sekitarnya. Aline melihat gelagat dari sisil tersebut seketika dia mencari tempat untuk bersembunyi agar tidak diketahui keberadaannya oleh Sisil.


"Aku ada di restoran, tadi aku ada di kampus, tetapi kamu tidak kunjung datang,"kata Aline memberikan alasan kebohongan yang sama.


"Oh, ya, maaf ya, Lin, aku memang sibuk akhir-akhir ini. Aku matikan dulu ya teleponnya. Aku ada pelanggan,"kata Sisil dengan nada terburu-buru. Aline mengerti jika teman baiknya itu ingin segera menyudahi pembicaraan diantara mereka tersebut.


"Baiklah, sil,"ucap Aline dan dia pun mendengar jika sambungan teleponnya dimatikan lebih dulu oleh Sisil sebelum Aline mengucapkan salam terlebih dahulu.


Aline menengok keberadaan Sisil di gedung utama kampus. Dia tampak memasuki ruangan dosen setelah mematikan sambungan teleponnya. Aline hanya terdiam dan melihat dari kejauhan bagaimana sahabat baiknya kini sudah mulai berbohong kepadanya.


"Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, sil,"gumam Aline merasa tidak mengerti kenapa Sisil sampai berbuat seperti itu kepada dirinya.


**



Suasana restoran milik keluarga Dirgantara memang ramai jika siang hari. Apalagi nuansa yang disuguhkan di sana membuat pengunjung yang datang menjadi betah dan nyaman. Disaat jam makan siang, banyak pengunjung yang menikmati menu makanan di restoran tersebut.


Kenzo memarkir motor yang dia kendarai. Dia melepaskan helmnya dan berjalan masuk ke dalam restoran. Kenzo melihat suasana restoran yang begitu ramai.


"Eh, mas Kenzo,"sapa salah seorang pelayan yang ada di restoran.


"Aline nya ada, mbak?"tanya Kenzo kembali.


"Oh, mbak Aline ada di atas mas, di ruangannya,"ujar pelayan itu sambil menunjuk ke ruangan di lantai dua restoran.


"Baiklah, aku akan ke sana, mbak,"ujar Kenzo.


"Eh, mas Kenzo mau minum apa?"tanya pelayan tersebut sebelum Kenzo naik ke lantai dua.


"Seperti biasa saja, mbak,"sahut Kenzo.


Aline sedari tadi hanya duduk di ruang kerjanya di lantai dua tanpa membuka apapun berkas yang biasa dia kerjakan. Aline duduk sambil melihat foto berduanya dengan Sisil yang terpampang di meja kerjanya.


Aline masih tidak menyangka jika Sisil dan vazo memiliki hubungan yang khusus seperti tadi yang dilihatnya di kampus. Sejak kapan mereka mulai berhubungan dan kenapa Sisil sekarang terkesan menghindarinya seperti tadi.


Aline menghela napas panjangnya. Dia belum bisa menemukan jawaban untuk banyak pertanyaan di kepalanya itu. Kenapa dan mengapa sikap Sisil bisa berubah seperti itu.


Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu masuk ruangan kerja Aline terdengar begitu jelas. Namun, Aline tidak merespon ketukan tersebut karena dirinya yang masih sibuk melamunkan kejadian di kampus tadi.


Kenzo pun mendekat ke tempat Aline duduk karena gadis itu tidak merespon ketukan pintu ruangannya. Kenzo melihat Aline tampak memegang sebuah bingkai foto dirinya dengan gadis yang pernah dilihat Kenzo bersama dengan vazo di sebuah pesta.


Kenzo melihat tatapan mata Aline yang kosong. Kenzo hanya menghela napas panjangnya.


"Heh! Lin! Aline!"panggil Kenzo sambil mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah Aline.


"Hah, eh...kamu,"ujar Aline yang telah tersadar dari lamunannya. Rupanya dia melamun sampai tidak menyadari jika Kenzo sudah berada di restorannya.


"Lho, Kenzo, kapan kamu masuk?"tanya Aline yang masih tampak bingung dengan keberadaan Kenzo.


"Bagaimana kamu bisa tahu, jika kamu sendiri sibuk melamun seperti tadi,"sahut Kenzo sambil meletakkan tas sekolahnya di sofa yang ada di ruangan kerja Aline.


"Oh, maaf, ini sudah jam berapa kok kamu sudah datang?"tanya Aline sambil melihat jam dindingnya.


"Memangnya kenapa? aku bosan bolak balik rumah, jadi sekalian saja,"sahut kenzo sambil duduk di sofa. Dengan baju seragamnya yang tidak tertata rapi. Aline hanya bisa berdecak melihat kelakuan Kenzo tersebut.


"Kamu bisa tidak sih memakai seragam sekolah yang benar gitu,"ujar Aline setelah melihat penampilan Kenzo yang berantakan. Dengan baju seragamnya yang berada di luar. Tidak dimasukkan rapi ke dalam.



Kenzo sendiri hanya cuek saja menanggapi reaksi Aline dengan penampilan dirinya. KenI justru berjalan mendekati Aline yang sedang duduk di kursi kerjanya.


Kenzo mencodongkan tubuhnya dan menatap wajah Aline dengan jarak yang dekat. Aline yang bingung dengan apa yang akan dilakukan Kenzo hanya menatap lelaki itu dengan raut wajah yang cukup lucu. Kenzo pun berusaha menahan tawanya melihat respon Aline kepadanya.


"Kamu mau apa Kenzo?"tanya Aline dengan raut wajah takut. Kenzo justru tersenyum melihat respon Aline itu.


"Aku ingin kamu tahu dengan jelas kalau aku tetap tampan meskipun penampilanku berantakan,"perkataan Kenzo ini sukses membuat Aline memajukan bibirnya karena kenarsisan Kenzo yang menurutnya berlebihan tersebut.


"Dasar narsis!"gerutu Aline dengan raut wajah nya yang ditekuk.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.


Terimakasih 💞