
Kenzo mengantarkan Aline kembali ke rumahnya setelah menghadiri pesta pernikahan keluarga Pramono.
"Sudah sampai, nona,"ujar Dion, asisten pribadi Kenzo yang malam itu mengantarkan mereka berdua ke pesta.
"Terimakasih, bang Dion,"ujar Aline dengan ramah. Dan hanya dijawab dengan sebuah anggukan juga senyuman oleh Dion. Aline hendak turun dari mobil tetapi dicegah oleh Kenzo.
"Tunggu,"Kenzo menahan tangan Aline. Melihat perilaku Kenzo membuat Aline bingung dan bertanya-tanya.
"Ada apa?"tanyanya. Namun, Kenzo justru hanya diam dan turun dari mobil lebih dulu. Aline diam saja melihat apa yang diperbuat oleh Kenzo.
Ternyata Kenzo hanya pergi untuk membukakan pintu mobilnya untuk Aline. Sedangkan Aline sendiri melihat apa yang Kenzo baru saja lakukan justru hanya menghela napas panjangnya. Ada-ada saja kelakuan anak ini, batin Aline.
"Kupikir ada sesuatu yang salah. Lain kali jangan membuatku bingung,"ujar Aline menyindir apa yang baru saja Kenzo lakukan.
"Dasar bawel,"gerutu Kenzo setelah Aline berbicara panjang lebar kepadanya.
"Ih, begitu saja ngambek,"sahut Aline.
Kenzo menutup kembali pintu mobilnya setelah Aline keluar dari dalam mobil tersebut.
"Tidak masuk dulu,"tawar Aline kepada Kenzo yang tampaknya enggan untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Sudah malam, kamu segera istirahat saja,"ujar kenzo.
"Baiklah, terimakasih sudah menemaniku malam ini dan sudah antar jemput juga,"kata Aline dengan tulus. Kenzo tersenyum dan itu membuat Aline terpesona sesaat melihat senyumannya yang begitu memikat siapa saja yang melihatnya.
"Aku pulang dulu,"pamit Kenzo dan Aline hanya mengangguk mengiyakan apa yang Kenzo baru saja katakan.
"Masuklah ke dalam,"perintah Kenzo sebelum dia pulang. Aline menuruti apa yang dikatakan Kenzo untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
Kenzo membuka pintu mobil. Dia duduk di bangku belakang mobil. Dion segera melajukan mobil majikannya tersebut untuk segera pulang. Kenzo melihat video yang tadi dikirimkan oleh Dion kepadanya. Dia sungguh tidak menyangka bahwa lelaki itu benar-benar menduakan Aline. Dan yang lebih menyedihkan lagi, wanita yang menjadi selingkuhannya itu adalah teman Aline. Kenzo pernah melihat foto wanita itu di kantor Aline, di restoran.
"Apakah kedua orang tadi benar-benar hadir di pesta?"tanya Kenzo kepada Dion. Kenzo mempertanyakan perihal kehadiran vazo dan juga wanita yang diduga adalah selingkuhannya.
"Benar tuan muda. Hanya saja mereka bergegas pulang,"ujar Dion melaporkan apa yang dia lihat di pesta.
"Bang dion, tolong selidiki sejauh mana hubungan kedua orang ini,"ujar Kenzo kepada asisten pribadinya.
"Baik, tuan muda,"jawab Dion dengan patuh.
Kenzo merasa kasihan dengan nasib Aline yang hampir mirip dengan dirinya. Kekasihnya ditikung oleh sahabatnya sendiri. Entah bagaimana nanti ketika Aline tahu apa yang terjadi diantara mereka bertiga. Apakah Aline akan bisa menerima kenyataan itu semua.
Kenzo mulai merasa prihatin dengan apa yang menimpa diri Aline. Kenzo seperti melihat masa lalunya terulang kembali kepada diri Aline.
*
Verel Aldriansyah melemparkan tas kerjanya begitu saja di sofa. Dia merasa tidak nyaman setelah menemani sang ayah melakukan pertemuan dengan salah satu klien perusahaan. Verel Aldriansyah merasa dia masih belum cukup berkompeten di mata sang ayah.
"Sial,"gerutu Verel sambil merebahkan dirinya di sofa ruang tamu apartemen pribadinya.
Verel Aldriansyah lebih menguasai berbagai macam cara berbisnis daripada Vazo Aldriansyah yang hanya bisa berfoya-foya dengan kekayaan yang sedari kecil dia miliki.
Verel tidak bisa menerima orang lain membicarakan vazo di depan ayahnya seperti itu. Vazo Aldriansyah tidak boleh mendapatkan hati seorang Doni Aldriansyah. Vazo sudah cukup mendapatkan kesenangan sedari keci sedangkan Verel dan ibunya selalu mendapatkan penghinaan dari orang lain karena Verel lahir di luar pernikahan.
Verel Aldriansyah akan membalas semua penderitaan yang dia alami kepada Vazo Aldriansyah yang juga ikut andil menghina keluarganya dahulu.
Verel menghubungi seseorang melalui handphone nya. Dia ingin segera menyelesaikan permasalahan yang sedang mengganggu dirinya.
"Halo."
"Bagaimana penyelidikan mu?"tanya Verel kepada mata-mata yang dia kirim untuk menyelidiki kehidupan vazo Aldriansyah.
"Dia memiliki masalah dengan keturunan keluarga Darmawan. Sepertinya ini akan menarik."
"Darmawan? Sungguh mengejutkan jika dia sampai bisa membuat masalah dengan nya. Sungguh di luar pemikiran,"sahut Verel dengan nada bahagia.
"Sepertinya ada masalah dengan putri keluarga Dirgantara. Ada persaingan cinta antara dia dan juga putra keluarga Darmawan."
"Begitulah? Bagus sekali jika memang itu terjadi. Lanjutkan penyelidikan mu dan dapatkan bukti-bukti yang bagus,"ujar Verel Aldriansyah kepada anak buah terdekatnya.
"Baik. Siap laksanakan perintah."
Verel mematikan sambungan teleponnya. Dia sudah tersenyum bahagia mendengar ada sebuah kejadian menarik perhatiannya kali ini. Verel sudah mulai merangkai-rangkai apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Jika memang dia mempunyai hubungan yang tidak baik dengan keturunan keluarga Darmawan itu sungguh bagus. Aku bisa membuat dia hancur hanya karena kelakuan dia sendiri. Papa pasti akan memarahi dia habis-habisan. Dan kejadian ini juga akan membuat dia merasa terpuruk. Baiklah, kakak tiriku yang merasa sok hebat. Kali ini kamu boleh tertawa bahagia. Dan menikmati hidupmu yang nyaman itu. Tetapi ketika kedokmu telah terbongkar maka tidak akan ada lagi ketenangan dalam dirimu,"ucap Verel dengan nada benci.
**
Malam yang panjang dan dingin membuat kedua insan yang sedang bermadu kasih. Setelah pulang dari pesta, Vazo dan juga Sisil menuju ke apartemen vazo.
Keduanya memadu kasih dan bercinta di apartemen milik vazo. Sudah menjadi kebiasaan jika keduanya selalu melakukan itu untuk saling memuaskan satu sama lain. Vazo begitu terpuaskan dengan pelayanam yang diberikan oleh Sisil kepadanya. Begitu juga dengan Sisil yang begitu terpuaskan dengan pundi-pundi rupiah yang dia dapatkan dari seorang Vazo Aldriansyah.
Sisil sudah terengah-engah namun dia masih melanjutkan apa yang dia lakukan dengan vazo. Dia ingin membuat vazo sangat terpuaskan dengan pelayanan yang dia berikan. Vazo terus bergerilya membuat Sisil keletihan dengan aksinya. Dia suka melihat wajah letih dan juga ekspresi berkuasanya atas diri Sisil.
Wanita itu selalu bisa membuat dia merasa lebih baik dengan service yang dia berikan. Setelah beberapa kali mereka meraih kenikmatan kini saatnya masa puncak kenikmatan itu datang. Vazo segera mempercepat gerakannya. Dia ingin segera mencapai klimaksnya.
Keduanya pun jatuh di atas ranjang dengan napas yang terengah-engah karena apa yang aneh saja keduanya lakukan begitu bersemangat. Vazo memeluk tubuh telanjang sisil yang begitu hangat. Sedangkan Sisil masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih bersama.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.
Terimakasih 😄