Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Selagi Masih Ada Waktu



Kabar berita yang mana menceritakan pengeroyokan atas diri Aline pun terdengar juga sampai ke telinga Sisil. Dan mendengar hal tersebut sebenarnya biasa saja bagi seorang Sisil. Dia tidak ambil pusing sama sekali. Justru Sisil berharap jika Aline bisa cedera parah karena kejadian tersebut.


"Bagus sekali, kenapa tidak sekalian aja pergi. Masih hidup juga bikin kesal. Tebar pesona kesana-kemari,"gerutu Sisil perlahan karena tidak ingin didengar oleh Vazo yang sedang berada di kamar mandi.


Akhir-akhir ini Sisil memang sudah mulai menghindar dari kehidupan Aline. Karena dia sudah memutuskan tidak akan menjadi bayang-bayang Aline lagi. Lagipula vazo juga sudah memberikannya kenyamanan dan janji untuk hidup bersama dengannya.


Lalu apa yang ditakutkan lagi oleh Sisil. Dia juga sebentar lagi akan selesai skripsinya. Tinggal revisi terakhir dan dia juga sudah mengajukan sidang dalam waktu dekat ini. Sisil memang akan lulus lebih cepat dari Aline. Itu sudah dia rencanakan sejak awal. Dia tidak mau kalah dari seorang Aline.


"Kenapa kamu senyum-senyum sedari tadi?"tanya vazo yang baru keluar dari kamar mandi. Dia melihat Sisil yang masih tiduran di ranjang sambil tersenyum-senyum melihat handphone nya.


"Ach, sayang, aku sedang membaca komik kesukaan aku,"ujar Sisil dengan lancarnya menutupi kebohongan yang dia buat barusan kepada vazo.


"Oh, kamu mandi dulu, aku akan pesankan sarapan pagi untuk kita,"ujar vazo yang tidak menaruh curiga sama sekali kepada Sisil. Dan dengan sikap genitnya Sisil menghampiri ke arah vazo. Dia memberikan sebuah ciuman di pipi kekasihnya tersebut.


"Terimakasih untuk semalam, kamu sangat hebat,"puji Sisil tepat di telinga vazo.


Sebuah kecupan manis di bibir pun mendarat di bibir tipis milk vazo. Sungguh perbuatan Sisil sudah membuat vazo kembali ingin mencicipi tubuh yang semalam sudah dia hempaskan berkali-kali di ranjang. Entah sudah berapa kali kenikmatan itu melanda keduanya. Tetapi seakan tiada habisnya mereguk kepuasan batin itu. Mereka terus-menerus melakukannya sampai tubuh terlelap dan tertidur pulas.


*


"Kapan sidang skripsimu, sayang?"tanya vazo kepada Sisil yang menggelayut manja di lengannya. Mereka berdua kini menuju ke lantai dasar apartemen. Vazo akan mengantarkan Sisil ke kampusnya sebelum dia berangkat ke kantor.


"Minggu depan sayang, aku akan lulus lebih cepat tahun ini,"ucap Sisil dengan bangganya karena dia benar-benar bisa menyalip kemampuan dari Aline kali ini.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik,"sahut vazo dengan gembira.


"Apa benar nanti aku bisa menjadi sekretaris kamu di kantor?"tanya Sisil kepada vazo yang pernah menjanjikan dia sebuah posisi kerja di kantornya.


"Aku mencintaimu,"ucap sisil sambil mencium pipi vazo. Keduanya pun bergegas menuju ke parkiran mobil yang ada di lantai dasar apartemen.


Vazo dan Sisil rupanya tidak tahu jika mereka berdua sedari tadi diawasi oleh dua orang dari balik mobil sedan warna hitam.


"Laporkan kepada bos hasil foto-foto kita hari ini,"ucap salah seorang yang mengemudikan mobil tersebut.


"Baiklah, sepertinya hasil kita kali ini cukup baik,"ujar yang satunya kembali. Diapun segera menghubungi sebuah nomor.


"Halo, bos, ya, kami sudah mendapatkan beberapa foto sesuai permintaan. Akan segera kami kirimkan,"lapor pria berpakaian serba hitam tersebut.


"Bagus,"sahut Verel lalu mematikan sambungan teleponnya. Verel tersenyum mendengar keberhasilan dari kedua anak buahnya tersebut.


"Kita lihat saja Stella Bramantyo, bagaimana reaksimu jika kamu tahu putra kesayanganmu itu bertingkah tidak jauh berbeda dengan mantan suamimu itu,"ucap Verel.


Rasanya sudah tidak sabar Verel ingin membuat wajah kesombongan Stella Bramantyo itu hancur melihat kelakuan putra kesayangannya tersebut. Stella Bramantyo akan malu jika mengetahui siapa sebenarnya wanita yang ada di samping putranya sekarang.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dukung terus author ya ☺️


Terimakasih.