Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Teringat saat Bersama



Vazo menghempaskan pintu mobilnya dengan keras. Dia begitu kesal akan sikap Aline yang lebih memilih cowok ingusan itu daripada dirinya, pacarnya sendiri. Apa Aline memang sudah tidak lagi mau peduli pada dirinya. Apa benar seperti yang vazo dengar selama ini dari seseorang yang menjadi mata-mata bagi vazo.


Dia bilang kepada vazo bahwa Aline sedang dekat dengan seorang laki-laki muda. Sepertinya benar kalau itu adalah anak ingusan yang ditemuinya di rumah Aline.


Vazo memukul kemudi mobilnya dengan keras. Dia tidak menyangka bahwa Aline akan berbuat seperti ini kepadanya. Bahkan menganggap nya biasa saja saat vazo mengatakan kalau ingin putus dengan Aline.


Drrrtt..... drrtttt...


Vazo melihat siapa yang memanggilnya di handphone.


"Aku sedang sibuk!"vazo segera mematikannya kembali. Vazo tidak memberikan kesempatan kepada seseorang yang baru saja menghubungi nya untuk menjawab perkataan nya di telepon.


Vazo benar-benar sedang kesal sejak dia membuntuti Aline berboncengan dengan lelaki itu dengan Aline memeluk tubuh anak ingusan itu yang menurut vazo tampak mesra.


"Aku akan membuat perhitungan kepadamu anak ingusan,"ucap vazo kesal.


**


Kenzo baru saja sampai di rumahnya setelah menemani Aline sebentar sebelum bunda Anita, ibunya Aline, datang dari kantor.


Kenzo juga sempat makan malam dahulu sebelum pulang. Itu juga karena dipaksa oleh bunda anita dan juga kakak Aline untuk makan malam bersama mereka.


Memang keluarga Aline begitu menyayangi Kenzo karena sejak Kenzo kecil sudah mengenal keluarga Aline. Jadi mereka begitu dekat.


"Kamu dari mana saja, sayang?"tanya monita melihat putra semata wayangnya baru saja dari luar. Monita takut Kenzo bermain-main dengan teman-teman nya yang liar dan suka balapan itu.


"Aku habis mengantar Aline dan Tante Anita mengajak ku makan malam sekalian di sana,"ujar Kenzo berkata apa adanya kepada sang mama.


Monita menghela napas lega mendengar apa yang dikatakan anak semata wayangnya itu.


"Syukurlah kalau begitu,"ucapnya merasa senang.


"Ya, sudah aku langsung ke kamar saja ya, ma,"ujar Kenzo sambil bergegas ke kamarnya di lantai dua.


Monita menatap kepergian sang putra tunggalnya.


"Dia sudah besar ma,"ujar sang suami melihat istrinya tampak begitu mengkhawatirkan sang anak.


"Pa, bagaimana pun dia tetap anak. Meskipun sekarang sudah besar kita juga harus mengawasi pergaulan nya. Jangan sampai salah bergaul. Aku takut dia salah bergaul dan bisa merusak masa depannya nanti,"ujar monita. Sang suami memeluk sang istri dan berusaha menenangkan nya.


"Karena itu Mama mendekatkan Kenzo dengan putri tunggal Anita?"tanya sang suami.


"Selain karena itu, Aline juga cantik dan juga bisa mengajari Kenzo belajar. Bukankah tresno jalaran Soko kulino, pa,"ujar monita dengan satu kedipan matanya kepada sang suami.


"Tapi mereka berbeda usia, apakah mereka mau?"


"Kita juga berbeda usia bukan, bahkan saat Anita dulu tampak protektif padaku karena takut aku disakiti, papa menunjukkan kesungguhan cinta papa, bukan?"monita mengulang masa lalu kisah cinta mereka.


Keanu tersenyum mendengar ucapan sang istri,"baiklah, kita tidak bisa memaksakan mereka juga. Kalau nantinya mereka berjodoh bagus juga."


Monita tersenyum bahagia mendengar sang suami merestui rencana nya itu.


"Terimakasih Papa, sayang,"ucap monita sambil memeluk erat sang suami.


"Aku juga sayang kamu. Ayo temani aku makan malam,"ujar Keanu. Monita pun berjalan berdampingan dengan sang suami ke meja makan untuk menikmati makan malam mereka.


Kenzo melemparkan jaket di kursi depan meja belajarnya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang big size miliknya. Dia menghela napas panjang dan kembali teringat akan kejadian pertengkaran nya di arena balap.


Kenzo teringat bagaimana Aline bisa terluka karenanya.


"Akh, bodoh, seharusnya aku tidak membawanya ke sana."


Kenzo juga teringat saat dia melihat kulit mulus Aline yang selama ini dia tutupi dengan menggunakan kemeja itu. Betapa lembut saat dia menyentuhnya tadi.


"Astaga! Kenzo kenapa malah kamu berpikir ke arah sana!"Kenzo mencak-mencak sendiri karena baru saja memikirkan tentang Aline.


"Lebih baik aku mandi,"gumam Kenzo pada dirinya sendiri. Kenzo pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi.


**


Aline berada di kamarnya. Dia sedang meminta tolong kepada salah satu pembantu di kamarnya untuk mengoleskan salep yang dia dapatkan dari dokter Sindi, Tante Kenzo.


"Bibi, jangan katakan kepada siapapun tentang hal ini ya. Aku tidak mau bunda sampai khawatir,"ujar aline.


"Baik, non."


Setelah mengobati nona nya, pembantu itupun permisi untuk turun ke bawah. Aline mengangguk dan meminta kembali pembantunya untuk merahasiakan apa yang terjadi padanya.


"Ach...sakit juga rasanya. Orang itu kuat sekali memukulnya. Tulangku rasanya mau putus saja."


Aline hendak beranjak tidur ketika sebuah pesan masuk ke WhatsApp nya. Dari Kenzo. Tumben anak ini menghubunginya, batin Aline.


*Sudah tidur?


Belum. Ada apa?


Tidak ada apa-apa*


Aline mengerutkan alisnya. Kenapa menghubungi nya kalau tidak ada yang ingin dikatakan, batin Aline.


Aline pun meletakkan handphone nya. Lagipula Kenzo tidak menuliskan pesan kembali.


Tiba-tiba suara dering telepon berbunyi. Kenzo menelepon nya. Aline menekan tombol hijau dan membuat suara di perbesar agar Aline tidak meletakkan teleponnya di telinga nya.


"Halo.."


"Ya, ada apa menelepon?"tanya Aline.


"Besok kamu ada kuliah pagi?"tanya Kenzo.


"Ada, kenapa?"tanya Aline kembali.


"Besok kujemput,"ujar Kenzo.


"Tapi..."


Klik.


Aline tidak menyangka Kenzo sudah mematikan sambungan teleponnya tanpa mendengar penjelasan dari Aline.


***


Iklan Author


Lama nggak update, semoga tidak mengecewakan.


Setelah baca, tekan tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.


Terimakasih 😁