
"Kami datang,"ujar Kenzo begitu mereka berdua telah sampai di rumah keluarga Darmawan.
"Ah, kalian datang juga,"sambut monita melihat kedatangan putra tunggalnya dan juga Aline, putri dari sahabat baiknya.
"Selamat sore, Tante,"sapa Aline dengan sikap sopan santunnya. Monita selalu senang jika ada Aline di rumahnya. Dia merasa memiliki seorang anak perempuan. Dengan kelembutan dan kesopanan yang ditunjukkan Aline semakin membuat monita menyukai anak gadis itu.
"Sore, Lin, tunggu dulu, Tante mau bicara kepadamu,"ujar monita menarik lengan Aline dan membawanya duduk di sofa ruang tamu di rumahnya.
Aline merasa ada sesuatu yang aneh melihat gerak-gerik yang ditunjukkan oleh mama Kenzo. Aline sempat menoleh ke arah Kenzo tetapi lelaki itu hanya diam saja tidak memberikan jawaban apapun.
"Sini, nak, duduklah dulu,"ujar monita dengan penuh keibuan.
"Ada apa ya, Tante?"tanya Aline penasaran karena melihat sikap monita kepadanya.
"Ah, bukan apa-apa, kok, Tante hanya ingin meminta maaf kepadamu, Lin, atas apa yang dilakukan Kenzo kepada Aline,"ujar monita dengan penuh penyesalan. Sedangkan aline mendengar ucapan mama Kenzo justru semakin bingung saja.
"Tante, maaf, bukannya saya tidak mau memaafkan, tetapi saya tidak merasa Kenzo memiliki sebuah kesalahan kepada diri saya,"ucap Aline dengan jujur.
"Aline, Tante sudah tahu apa yang terjadi dengan luka yang ada di dirimu. Dokter Sindi sudah menceritakan semuanya kepada tante. Dan Tante sangat menyesal mendengar ini terakhir kali seperti ini. Tante sudah memarahi Kenzo karena telah membuatmu celaka akibat perbuatannya,"terang monita.
"Tidak apa-apa, Tante. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Kenzo juga. Saya yang awalnya memaksa untuk ikut dengannya. Mungkin kalau saya tidak ikut, saya tidak akan celaka,"ujar Aline. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh Aline. Awalnya dia yang memaksa Kenzo untuk ikut. Mungkin kalau waktu itu dia menurut apa kata Kenzo untuk tidak ikut, barangkali tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
"Lalu bagaimana hasil pemeriksaan dari Tante Sindi hari ini?"tanya monita kepada Kenzo.
"Tidak jadi, ma,"jawab singkat Kenzo.
"Apa! Kamu ini bagaimana sih, kenzo. Mama kan memintamu membawa Aline ke tantemu untuk diperiksa kembali. Katamu tadi kamu akan bertanggung jawab. Kenapa sekarang kamu sendiri yang mengingkarinya. Kamu ini kenapa sih, nak. Suka menjadi plin-plan tidak jelas ngomongnya begitu,"cerocos Monita tanpa memberikan kesempatan kepada Kenzo untuk menjelaskan.
"Tante, itu bukan salah Kenzo,"potong Aline karena mama Kenzo menyudutkan Kenzo kali ini. Monita terdiam dan menoleh ke arah Aline.
"Apa maksudmu, Lin. Kamu jangan membela Kenzo terus, ya. Nanti dia bisa semakin tidak mengerti tangung jawab dan seenaknya sendiri saja,"kata monita.
"Sudahlah, ma. Aku ke atas dulu,"putus Kenzo karena capek diomeli terus sepulang dari sekolah sampai sekarang. Dia tidak dianggap dalam berbicara oleh mamanya sedari tadi. Bahkan kesempatan untuk menjelaskan pun tidak diberikan kepadanya.
"Hei, Kenzo. Kamu itu ya...."
"Tante....."Aline memegang lengan mama Kenzo meminta agar mama Kenzo menjadi lebih tenang.
"Tante, semua itu bukan salah Kenzo."
"Lalu?"
"Tadi kami sebenarnya sudah akan ke tempat dokter Sindi. Namun, di jalan ada sebuah kecelakaan. Daripada kami lama terjebak di sana, saya yang meminta Kenzo untuk mengurungkan niatnya ke tempat dokter Sindi. Jadi saya yang membatalkan untuk pergi ke klinik dokter Sindi, Tante. Bukan Kenzo yang sengaja melakukannya,"terang Aline. Monita hanya terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Aline. Sepertinya dia sudah terlalu menyalahkan Kenzo sedari tadi dan tidak memberikan Kenzo kesempatan untuk menjelaskannya.
Aline berjalan ke ke lantai atas menuju ke kamar Kenzo. Dia tahu suasana hati Kenzo pasti sedang tidak baik karena sedari tadi berselisih faham dengan sang mama.
Setelah Aline menjelaskan apa yang terjadi kepada Tante monita, mama Kenzo. Kini Aline sedang berusaha membujuk Kenzo agar tidak lagi merasa kesal karena ucapan sang mama.
"Kenzo...."panggil Aline sambil mengetuk pintu kamar dari Kenzo.
"Kenzo, aku boleh masuk tidak?"tanya Aline karena Kenzo mengunci rapat pintu kamarnya. Aline sudah mencoba membuka pintu itu tadinya tetapi ternyata dikunci oleh Kenzo dari dalam.
"Kenzo, tolong buka pintunya,"pinta Aline.
"Kita bisa bicarakan hal ini dengan baik-baik, Ken,"lanjut Aline.
"Kenzo, buka pintunya,"pinta Aline kembali. Dia mengetuk-ngetuk pintu kamar Kenzo. Dia tidak tahu kalau masalahnya kemarin bisa membuat Kenzo jadi terkena masalah besar dengan sang mama.
"Ken, kita jadi les privat tidak neh hari ini?"tanya Aline kembali dengan pasrah. Tahu begitu tadi dia mengurungkan saja jadwal les privat nya.
"Kenzo, aku sudah datang kemari masak kita tidak jadi belajar bersama,"kata Aline kembali meyakinkan Kenzo.
"Kalau kamu tidak membukakan pintu, aku pulang saja, ya..."
Klik.
Terdengar suara kunci pintu dibuka dari dalam. Sepertinya Kenzo mau diajak berbicara olehnya.
"Kenzo,"Aline segera menghambur ke dalam ruangan kamar Kenzo.
"Astaga!"Aline seketika membalikkan badannya dan menutup wajahnya karena melihat Kenzo bertelanjang dada.
"Kenzo! Kenapa kamu tidak memakai baju!"teriak Aline karena tidak sengaja melihat tubuh atas Kenzo. Aline tidak pernah seperti ini kepada lelaki manapun sehingga dia cukup terkejut saat masuk ke dalam kamar Kenzo barusan.
Kenzo cukup geli melihat tingkah Aline yang seperti itu. Timbul dalam pikirannya untuk menggoda Aline. Diapun berjalan mendekati Aline yang masih memunggunginya.
"Kenapa memangnya jika aku tidak memakai baju,"ucap Kenzo tepat di dekat telinga kanan Aline.
"Kenzo,"Aline mengusap telinganya dan mencoba berbalik ke arah Kenzo tetapi dia masih melihat Kenzo tidak memakai baju dan itu membuatnya terkejut. Dan saking kagetnya menabrak dada bidang kenzo membuat aline hampir saja terjatuh. Kenzo buru-buru menangkap punggung Aline sehingga dia tidak sampai jatuh terlentang. Namun, itu justru membuat Aline semakin dekat dengan Kenzo dan bisa melihat jelas tubuh Kenzo yang ternyata sixpack juga.
"Ach, Kenzo!"Aline mendorong tubuh Kenzo.
"Cepat, pakai bajumu sana!"teriak Aline menyuruh Kenzo untuk segera memakai bajunya. Sedangkan Kenzo hanya tersenyum saja melihat wajah Aline yang memerah karenanya.
"Memang kenapa? Aku baru selesai mandi, kamu ramai terus sedari tadi,"ujar Kenzo sambil berjalan ke arah lemari pakaiannya. Aline kira tadi Kenzo sedang merajuk ternyata anak itu sedang mandi ketika dia berbicara di depan pintu kamarnya. Astaga, dia sedari tadi kenapa juga mengomel saja di depan pintu kalau tahu begitu.
Aline menghela napas panjang dan merasa lega karena Kenzo sudah memakai bajunya.
"Ya...aku...aku kan tidak tahu kalau kamu sedang mandi,"bela Aline tidak mau disalahkan. Kalau tahu Kenzo sedang mandi juga dia tidak akan menghabiskan tenaganya untuk bicara terus sedari tadi di depan pintu kamar Kenzo.
"Ya, sudah, ayo belajar, aku mempunyai banyak tugas hari ini,"ajak Kenzo sambil menarik tangan Aline untuk segera belajar bersama.
"Eh, tunggu, tas ku tertinggal di bawah,"ujar Aline baru ingat kalau tas nya tertinggal di ruang tamu tadi.
"Dasar pelupa,"ujar Kenzo sambil menyentil kening Aline karena lupa membawa tasnya ke atas.
"Kenzo!"teriak Aline karena sikap Kenzo barusan. Sedangkan Kenzo hanya tersenyum sambil turun ke bawah mengambil tas milik Aline.
***
Iklan Author
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Semoga amalan ibadah kita di terima.
Budayakan klik tombol like dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Karena komentar kalian adalah penyemangat bagi author.
Terimakasih 😄