
Kenzo mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar sangat muak dengan sosok si Panjul ini. Kenzo melihat baju Aline sedikit koyak sepertinya Aline juga melakukan perlawanan tetapi dia kalah tenaga. Kenzo tidak bisa menerima perbuatan anak buah Panjul itu terhadap diri Aline.
"Kamu lihat bocah tengil! Kamu lihat siapa yang aku bawa, heh?"tanya Panjul dengan nada mengejek. Panjul begitu senang melihat wajah penuh amarah yang sedang ditahan oleh Kenzo tersebut. Kali ini kartu as ada di tangan panjul dengan keberhasilan anak buahnya menangkap wanita yang bersama dengan Kenzo.
"Kamu tentunya tidak ingin terjadi sesuatu dengan dirinya bukan?"tanya Panjul lagi dengan nada mengejek membuat darah Kenzo semakin memanas saja. Ingin rasanya Kenzo menghajar habis mulut kurang ajar si Panjul itu.
"Bebaskan dia!"teriak Kenzo mencoba berunding dengan si Panjul meskipun hasilnya Kenzo tahu itu tidak akan mungkin.
"Hahahaha....... bebaskan dia?Bebaskan dia?"ejek si Panjul dan derai tawa nya pun diikuti oleh beberapa anak buahnya yang masih berdiri di sampingnya. Kenzo tahu bahwa Aline akan dijadikan sandera agar si Panjul mampu melawannya.
"Kamu tahu tidak semudah itu bocah tengil,"ucap Panjul dengan sorot matanya yang tajam. Kenzo sudah menduganya, Panjul akan berkata seperti itu.
"Ringkus dia!"perintah si Panjul kepada sisa anak buahnya untuk meringkus Kenzo. Dan dengan segera ketiga anak buah Panjul yang lainnya segera meringkus Kenzo. Diikatnya kedua tangan Kenzo ke belakang.
Kenzo tidak mungkin melawan karena kalau itu dia lakukan maka nyawa Aline akan menjadi taruhannya. Kenzo tidak mau mengambil resiko dengan keselamatan Aline.
Tidak hanya diikat juga tetapi salah satu anak buah Panjul memukul kedua kaki Kenzo sehingga dia jatuh berlutut. Kenzo meringis kesakitan menahan sakit karena pukulan tersebut. Kenzo hanya berharap bang Dion segera datang dan menyelamatkan mereka berdua saat ini. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan dengan Aline berada di tangan mereka.
"Hahahaha......akhirnya kamu takhluk juga di tangan aku bocah tengik!"teriak si Panjul dengan nada penuh kemenangan.
"Kamu tentunya tidak ingin melihat dia telanjang di sini bukan?"tanya Panjul dengan wajah menggoda ke arah Kenzo. Lalu dengan kurang ajarnya si Panjul hendak menyentuh kancing kemeja atas milik Aline. Mata Kenzo seketika melotot melihat hal itu.
"Hentikan! Hentikan!"teriak Kenzo mencoba menghentikan gerakan si Panjul dan hampir saja dia bisa berlari ke sana, ke tempat Aline. Akan tetapi ketiga anak buah Panjul yang ada di belakangnya menahan langkahnya tentunya.
"Hahahaha.....dia cantik juga,"ucap si Panjul sambil mengelus pipi mulus dari si Aline. Dan dia juga melihat-lihat tubuh seksi si aline. Tatapan mata si Panjul itu membuat Aline muak dan ingin muntah rasanya. Dengan berusaha keras Aline ingin bisa lepas dari cengkeraman anak buah si Panjul. Tetapi lagi-lagi Aline tidak bisa melakukannya.
Dari kejauhan tampak Kenzo sudah terbakar wajahnya melihat kelakuan si Panjul yang sudah berani-beraninya memegang pipi Aline dan menatap lekat-lekat bagian tubuh sensitif dari Aline. Ingin rasanya Kenzo mencolok mata si Panjul itu dan membuatnya buta seumur hidupnya. Tampak dari jauh jika si Panjul menyukai tubuh Aline.
"Hehehe....kamu kucing liar juga ya ternyata, kamu kuat sekali dalam melawan, sayang. Seandainya saja kamu bisa aku miliki. Kita tentunya bisa menggapai indahnya kenikmatan berdua, sayang,"ucap si Panjul dengan suara yang dibuat seseksi mungkin dengan maksud agar gadis di hadapannya ini tertarik kepadanya. Namun, Aline justru melotot menunjukkan ekspresi tidak sukanya.
Si Panjul melihat ekspresi tersebut dan justru tertawa terbahak-bahak. Panjul merasa hal ini sungguh mengasyikkan. Dia bisa menghabisi bocah tengik itu dengan memanfaatkan wanita yang ada di hadapannya. Ternyata wanita ini adalah kelemahan dari bocah tengik tersebut.
"Cepat, lumpuhkan kedua kakinya!"perintah Panjul kepada ketiga anak buahnya yang sedang memegang erat Kenzo. Mendengar perintah Panjul tersebut membuat Aline seketika meronta-ronta dalam pegangan erat salah satu anak buah Panjul.
Bug...
Bug...
Bug...
Bug...
Empat pukulan itu cukup membuat Kenzo jatuh tersungkur seketika. Kedua kakinya terasa sangat sakit dan tidak mampu digerakkan lagi olehnya. Namun Kenzo tetap menatap ke arah Aline. Dia ingin memastikan bahwa Aline baik-baik saja di sana. Dia hanya ingin melihat bahwa Aline tidak dilukai oleh si Panjul itu.
Aline memberontak begitu kuat melihat tubuh Kenzo yang sudah jatuh tersungkur di tanah. Dia berusaha melawan sampai anak buah si Panjul tampak juga kewalahan. Si Panjul justru hanya tertawa terbahak-bahak melihat bocah tengik yang dia benci itu kini sudah tersungkur tidak berdaya.
"Tenang saja manis, kekasihmu itu hanya akan melayang nyawanya saja, tidak sampai kenapa-kenapa,"ujar si Panjul disusul dengan derai tawa yang semakin panjang saja.
"Habisi dia!"perintah Panjul kali ini lebih keras. Ketiga anak buah Panjul sudah bersiap dengan tiga buah balok kayu yang siap dihantamkan kepada Kenzo. Aline yang menatap Kenzo akan dihabisi di depan matanya seketika itu juga air matanya mengalir tanpa bisa dia hentikan.
Sedangkan kenzo sendiri hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Aline di ujung sana, di sisi si Panjul. Kenzo menyesal tidak mendengarkan perkataan kedua orang tuanya selama ini.
Kenzo melihat derai air mata Aline dan juga usahanya untuk melepaskan diri dari anak buah si Panjul. Kenzo sempat memberikan kode kepada Aline untuk tidak melawan dengan sebuah gelengan kepala. Akan tetapi, Aline sudah tidak peduli lagi. Yang dia inginkan saat ini adalah berasa di sisi Kenzo dan menyelamatkannya.
Kenzo memejamkan kedua matanya sebelum dia dieksekusi. Dia membayangkan wajah kedua orang tuanya. Papanya.... Mamanya... dan seorang wanita yang sedang menangis di ujung sana, Aline....
Maafkan aku....
Dor!
Sebuah suara tembakan membuat si Panjul dan anak buahnya terkejut. Disusul kemudian dengan suara sirine mobil polisi. Semuanya yang ada di sana berlari tunggang langgang seketika.
Aline pun terlepaskan dari cengkeraman anak buah si Panjul. Sedangkan Panjul sendiri segera berusaha menyelamatkan dirinya. Dia tentunya tidak mau berurusan dengan pihak kepolisian. Begitu juga keempat anak buahnya yang masih ingin menjalani hidup. Mereka juga tidak mau sampai mendekam di penjara. Akan tetapi usaha mereka untuk mencoba kabur sudah tidak memungkinkan lagi.
Polisi sudah mengepung posisi mereka dan mereka tidak bisa kabur dengan motor yang mereka kendarai. Si Panjul mencoba untuk melawan diikuti oleh beberapa anak buahnya yang lain. Dan dengan terpaksa, polisi mengeluarkan timah panas untuk menghentikan aksi mereka. Kelimanya pun terjatuh dari motornya.
Polisi dengan segera meringkus kelima pelaku kejahatan tersebut.
Aline dibantu oleh salah satu polisi melepaskan dirinya dari ikatannya. Aline juga tidak peduli dengan kondisi dirinya sendiri.
"Nona, saya antar ke ...."
"Tidak, saya harus melihatnya! Saya mau melihatnya!"teriak Aline berusaha melepaskan diri dari bantuan si polisi ketika mengajaknya ke ruang rawat di mobil ambulance.
Aline berlari dengan tertatih-tatih karena kakinya juga terluka akibat diseret dengan paksa oleh anak buah si Panjul tadi.
Aline berusaha mendatangi tempat dimana banyak petugas medis berkerumun dan juga ada bang Dion di sana.
"Non Aline,"panggil bang Dion saat melihat Aline yang tampak berusaha mendekat ke arah Kenzo.
"Kenzo....Kenzo...."Aline tidak mampu berkata apa-apa. Dia hanya bisa menyebutkan nama Kenzo sambil berderai air mata. Aline hanya ingin melihat keadaan Kenzo saat ini. Aline ingin tahu bagaimana kondisi dia.
Dion membantu Aline untuk mendekat ke arah tuan mudanya, Kenzo. Dion meminta jalan agar Aline bisa mendekat ke arah Kenzo.
Sungguh pemandangan miris dilihat oleh Aline. Dia terduduk jatuh di samping Kenzo yang masih terjerembab di tanah. Dengan luka yang mengalirkan darah di kaki dan juga bagian tubuhnya yang lain. Aline menangisi kondisi Kenzo yang sedemikian parahnya.
"Maaf....maaf....maaf....karena aku...kamu...menjadi seperti ini,"ucap Aline dengan derai tangisannya di samping tubuh Kenzo.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Vote novel ini dan tekan lima bintangnya ya ☺️
Terimakasih.