Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Kamu bukan Siapa-Siapa



Kenzo sudah bersiap-siap untuk segera keluar dari rumah sakit pagi itu. Sang mama sudah lebih dulu berada di sana bersama dengan Dion, pengawal pribadi Kenzo. Sekarang mereka sedang menunggu kedatangan Dion yang masih mengurus biaya perawatan Kenzo selama ini.


"Apakah Aline akan kesini?"tanya monita kepada sang putra yang nampaknya sedang menunggu kehadiran seseorang. Monita sudah bisa menebak sepertinya yang ditunggu adalah Aline. Siapa lagi jika bukan gadis manis itu yang sedang dinantikan kedatangannya oleh sang putra.


"Entahlah, mungkin dia...."


"Ah...maaf aku terlambat, aku sudah berlari-lari sampai kemari,"cerosos Aline yang baru saja membuka pintu kamar Kenzo tanpa menyadari jika di dalam kamar rawat Kenzo itu ada monita.


Sedangkan kenzo dan Monita yang melihat gelagat Aline yang tampak canggung seketika menahan tawanya. Aline sungguh tidak tahu jika ada mama Kenzo di dalam ruangan tersebut. Apalagi dia datang sambil tergesa-gesa seperti itu. Sungguh tidak menjaga sopan santun sama sekali.


"Eh...Tante monita, ah...maaf,"ujar Aline yang masih ngos-ngosan. Rupanya dia tadi terburu-buru datang ke rumah sakit karena takut terlambat.


Kenzo masih menahan tawanya melihat Aline yang tampak salah tingkah dihadapan sang mama. Monita segera menghampiri Aline yang sudah berusaha datang pagi itu untuk menemani kepulangan Kenzo ke rumah.


"Aline, kamu ditungguin dari tadi lho. Syukurlah kamu segera datang, sedari tadi ada yang berwajah jutek terus karena kamu belum juga datang,"ucapan monita ini seakan menampar diri Kenzo yang seketika itu juga melotot ke arah sang mama. Sedangkan monita balik yang ingin tertawa sekarang namun dia tahan sebisa mungkin melihat wajah panik Kenzo.


Aline yang masih belum bisa mencerna pembicaraan mereka pun hanya bisa terdiam saja. Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghilangkan kecanggungan ini.


"Hehehe...Tante hanya bercanda, sayang,"kata monita mencairkan suasana diantara mereka bertiga saat ini.


"Makasih ya, lin, kamu sudah menyempatkan waktumu untuk menemani Kenzo keluar dari rumah sakit. Kamu belum terlambat kok. Dion masih mengurus biaya perawatan di kasir,"kata monita menjelaskan. Aline hanya ber-oh ria mendengarkan penjelasan dari mama Kenzo.


Aline merasa lega karena dia tidak terlambat datang. Dia tadinya sudah merasa cemas karena takut ketinggalan.


"Kamu sudah benar-benar baikkah, Ken?"tanya Aline kepada Kenzo yang masih duduk di ranjang pasien di rumah sakit.


"Dokter sudah membolehkan pulang berarti sudah membaik,"jawaban datar Kenzo ini justru membuat Aline merasa kesal saja dibuatnya.


"Dia sudah tidak apa-apa secara psikis. Ya, tapi nanti tetap harus rutin mengontrol kondisi kakinya saja, Lin,"jawab monita setelah mendengar jawaban putranya yang cukup mengesalkan tadi.


"Oh, jadi begitu ya Tante,"sahut Aline setelah mendengarkan penjelasan dari monita.


"Kamu nanti harus temani aku setiap kali kontrol,"ucapan Kenzo ini justru membuat Aline dan monita seketika terkejut mendengarnya.


"Apa??"ucap keduanya secara berbarengan. Aline dan monita pun saling menoleh karena mereka merespon ucapan Kenzo secara bersamaan. Ini benar-benar lucu saja terdengar.


"Ya, kamu sendiri kan sudah janji sama aku untuk menemaniku, jangan pura-pura lupa ya,"kata Kenzo mengingatkan Aline akan perkataannya tempo hari yang berjanji akan menemani dan merawat Kenzo sampai dia benar-benar sembuh nanti.


Monita menutup mulutnya menahan tawanya melihat kedua anak muda yang sedang bercengkerama layaknya dua orang kekasih ini. Monita seperti melihat masa remaja dirinya dahulu. Mereka memang tampaknya saling ribut tetapi keduanya sama-sama saling memperhatikan.


**


Sisil begitu bahagia karena dia bisa lulus lebih dulu dibandingkan dengan Aline. Ini semua juga berkat dukungan dan bantuan vazo kepada dirinya. Sisil segera memberi kabar kepada kekasih hatinya tersebut. Sisil nanti malam akan mengadakan pesta kecil-kecilan dengan sang kekasih.


"Aku harus menyiapkan makanan kesukaan vazo dan sebuah suasana yang romantis sepertinya akan menyenangkan,"ujar Sisil kepada dirinya sendiri. Dia begitu bahagia hari ini. Dia segera memesan sebuah taksi online untuk mengantarkan dirinya ke sebuah supermarket.


Sisil ingin berbelanja beberapa kebutuhan untuk dia memasak makanan kesukaan Vazo. Dan juga dia ingin menyiapkan dekorasi rumah yang romantis saat Vazo pulang kerja nanti. Sisil berharap nantinya apa yang dia siapkan akan menjadi sebuah kejutan tersendiri bagi sang kekasih.


Sisil sudah tidak sabar menanti saat itu tiba. Sisil begitu bersemangat berbelanja. Ketika dia sedang asyik berbelanja, tiba-tiba dia melihat seseorang yang tidak asing baginya.


Sisil begitu senang melihat sosok wanita tersebut. Dia adalah ibu kandung dari Vazo Adriansyah. Wanita itu bernama Stella Bramantyo.


Stella tampak juga sedang berbelanja di supermarket tersebut. Dan Sisil ingin sekali bisa akrab dengan ibu dari sang kekasih. Sepertinya Stella Bramantyo adalah orang yang cukup baik. Sisil pernah melihat betapa baiknya saat Stella bertemu pertama kalinya dengan Aline saat Vazo memperkenalkan Aline sebagai kekasihnya.


Sisil melihat Stella masih memilih-milih beberapa buah-buahan di stand buah. Sisil mencoba merapikan dirinya terlebih dahulu sebelum menyapa ibu kandung Vazo tersebut.


"Selamat siang Tante Stella,"sapa Sisil dengan ramah dan sopan. Stella yang merasa namanya dipanggil segera menoleh dan dia merasa terkejut karena dia sama sekali tidak mengenal orang yang menyapa dirinya tersebut.


"Ya,"jawab Stella dengan raut wajah yang datar dan tampak tidak seramah saat dulu Sisil pernah melihatnya saat bertemu dengan Aline.


Stella memperhatikan penampilan Sisil mulai dari atas sampai bawah berkali-kali. Stella tampaknya kurang suka dengan gadis yang berdiri dihadapannya ini. Akan tetapi, Sisil tetap nekad untuk menjalin hubungan yang baik dengan ibu kandung Vazo tersebut. Dia ingin mendapatkan perhatian yang lebih seperti dulu aline pernah mendapatkannya.


"Ah, maaf menggangu tante, saya melihat Tante sedang berbelanja sendirian. Kebetulan kita sedang sama-sama sedang berbelanja dan..."


"Oh, tapi saya tidak mengenal kamu. Dan tolong jangan sok akrab memanggil saya dengan sebutan Tante ya, saya tidak pernah menikah dengan pamanmu. Lain kali perhatian sikapmu saat menyapa orang lain. Belum tentu semua orang itu sama denganmu. Saya tidak bisa beramah tamah dengan orang asing, permisi!"ucapan Stella Bramantyo benar-benar membuat diri Sisil terdiam terpaku mendengarnya.


Jelas sekali seorang Stella Bramantyo memiliki mulut yang sangat tajam. Berbeda sekali dengan apa yang pernah dia lihat ketika Stella menyambut Aline. Dan pandangan Sisil kini tentang Stella Bramantyo benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Stella Bramantyo bukan orang yang mudah untuk didekati dan diajak beramah-tamah. Sisil telah salah mengira selama ini.


Stella meninggalkan Sisil yang masih menatap kepergiannya dengan hati yang sakit akan penghinaannya barusan. Sungguh itu ucapan yang tidak diharapkan Sisil di awal rencananya.


***


Terimakasih sudah mampir membaca cerita ini. Terimakasih juga sudah suport cerita saya dengan like, vote dan juga menuliskan komentar sebanyak-banyaknya. Sambil menunggu novel ini update, silakan mampir membaca novel saya yang lain.



Salam cinta dari author ❤️