
...💌 ᴛɪɴɢɢᴀʟᴋᴀɴ ᴊᴇᴊᴀᴋ ᴋᴏᴍᴇɴᴛᴀʀ, ᴠᴏᴛᴇ ᴅᴀɴ ʟɪᴋᴇ ᴀɢᴀʀ ᴘᴇɴᴜʟɪs sᴇᴍᴀɴɢᴀᴛ ᴜᴘᴅᴀᴛᴇ😉...
...нαρρу яєα∂ιиg...
...----------------...
Pagi itu Aline sudah bersiap-siap hendak berangkat ke kampus. Dia sudah lama tidak melakukan bimbingan skripsi setelah peristiwa yang menimpanya kemarin. Aline harus mengejar ketinggalannya di kampus selama dia sakit tersebut. Aline ingin segera lulus tahun ini. Akan tetapi, sepertinya dia sudah tertinggal. Semoga saja dia sanggup mengejar ketertinggalannya.
"Pagi ini kamu diantar pak sopir saja ya dek,"ujar sang kakak, Aldo.
"Aku bisa mengendarai motor kok, kak,"sahut Aline merasa seperti anak kecil saja.
"Bukan kakak meragukan kemampuanmu berkendara dek, hanya saja kakakmu ini masih kepikiran dengan apa yang pernah menimpa dirimu kemarin. Lebih baik kamu diantarkan saja lebih dulu ya,"kata Aldo tidak mau keinginannya kali ini dibantah oleh sang adik.
Aline menghela napas panjangnya.
"Baiklah kakak,"sahut Aline ingin membuat hati kakaknya merasa tenang.
"Oh, ya, bagaimana kondisi Kenzo?"tanya bunda Anita kepada putri bungsunya.
"Dia sudah mulai bisa berjalan bunda. Nanti sepulang bimbingan, aku akan mengantarkan kenzo untuk melakukan pengobatan di rumah sakit. Jadi nanti aku tidak perlu dijemput sepulang dari kampus. Kenzo yang nantinya akan menjemputku ke kampus,"kata Aline menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu. Semoga saja dia lekas sembuh dan dapat berjalan kembali dengan normal,"ujar bunda Anita sambil menikmati sarapan paginya.
"Iya, bunda, aku juga kepikiran dengan Kenzo. Apalagi dia anak tunggal, pasti tidak mudah bagi kedua orangtuanya untuk menerima kenyataan itu,"kata Aldo merasa prihatin dengan apa yang sudah menimpa diri Kenzo.
"Ya, semoga dia segera membaik dari kondisinya,"kata bunda Anita.
......................
Aline berjalan di koridor kampus hendak menuju ke ruang dosen. Ketika dia melihat sosok Sisil yang sedang melihat sesuatu di papan pengumuman. Tampak wajah gembira diraut muka Sisil melihat pengumuman yang tertempel di papan.
Aline memperhatikannya dari kejauhan. Aline sungguh tidak menduga jika sikap Sisil sekarang berubah menjadi begitu dingin terhadapnya. Bahkan ketika dirinya sakit pun tidak ada kabar berita dari sahabatnya itu. Entah apakah dia tidak mendengarnya atau memang sengaja melupakan dirinya begitu saja.
Aline melihat kepergian Sisil menuju ke ruang dosen. Aline menahan dirinya untuk tidak masuk ke ruang dosen terlebih dahulu. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya dilihat oleh Sisil barusan.
Aline mendekati papan pengumuman dan melihat di sana terpampang nama mahasiswa yang akan melaksanakan sidang skripsi. Rupanya Sisil termasuk menjadi salah satu mahasiswa yang akan melakukan sidang skripsi. Aline hanya tersenyum simpul. Inikah yang membuatnya sampai melupakan dirinya. Ataukah memang Sisil sudah benar-benar berubah sejak dia bersama dengan sang mantan, Vazo.
"Eh...."terdengar nada terkejut saat Sisil keluar dari ruangan dosen dan berpapasan dengan Aline yang sedang berdiri di depan papan pengumuman. Tempat yang tidak jauh dari ruangan dosen tentunya.
"Hai, sil, selamat ya kamu akan melaksanakan sidang skripsi lusa. Semoga lancar lusa sidang skripsinya,"ujar Aline memberikan ucapan selamat kepada sahabatnya tersebut.
"Oh, ya, terimakasih,"ucap Sisil tampak sekali raut wajahnya sudah tidak seperti dulu lagi. Sisil tampak kikuk dan tidak siap untuk bertemu dengan Aline.
"Aku baik, kamu?"tanya balik Sisil dengan singkat. Terdengar sepertinya dia malas untuk bertegur sapa dengan Aline saat ini.
"Seperti yang kamu lihat sekarang,"jawab Aline dengan nada cukup membuat perasaan Sisil mengena. Sisil merasakan jika Aline sekarang mulai tahu perubahan yang terjadi dari dirinya.
"Maaf, ya, Lin, aku harus segera bekerja. Aku pamit duluan,"ujar Sisil memutuskan percakapan diantara mereka berdua. Tampak sekali dia menghindari untuk terlalu berlama-lama dengan Aline.
"Tunggu,"ujar Aline menghentikan langkah Sisil.
Apapun yang terjadi, Aline tahu bahwa sekarang mereka sudah tidak lagi seperti yang dulu. Aline harus memperjelas apa yang terjadi diantara mereka berdua.
"Kenapa kamu sekarang mencoba untuk menjauhiku? Apakah ada sesuatu yang membuatmu harus melakukan itu kepadaku?"tanya Aline tidak akan menutupi keadaan yang ada diantara mereka.
"Kamu sudah tahu apa yang terjadi bukan? Kenapa kamu masih saja harus bertanya dan mendapatkan sebuah jawaban dariku. Apakah itu sangat penting buatmu?"tanya Sisil dengan nada skeptis nya.
Aline tidak menyangka Sisil akan menjawabnya dengan beberapa pertanyaan yang dikembalikan kepadanya. Aline hanya tersenyum kecil mendengarnya. Inikah sahabatnya yang dahulu sering menemaninya tersebut.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Vazo?"tanya Aline ingin tahu jawaban yang jujur dari Sisil. Kalau memang dugaan dia selama ini benar, Aline tidak masalah. Lagipula Aline juga tidak ada hubungan lagi dengan Vazo. Lalu apa lagi yang akan mereka perdebatkan. Tidak ada bukan?
"Bukan hanya karena Vazo saja. Tetapi lebih dari itu. Kurasa kamu tidak perlu tahu apa yang aku rasakan. Kamu urusi saja masalah kamu. Kita jalani takdir hidup kita masing-masing, Lin. Kamu dengan jalan hidupmu dan aku dengan jalan hidupku,"ujar Sisil dengan nada dingin.
Aline lagi-lagi tidak tahu harus berkata apa dengan jawaban yang diberikan oleh Sisil. Sahabat baiknya itu sudah bukan lagi sahabatnya yang dulu. Dia sudah berubah seratus delapan puluh derajat.
"Jadi kamu ingin memutuskan hubungan pertemanan kita selama ini?"tanya Aline menegaskan.
"Menurutmu seperti itu? Baiklah, itu lebih baik bukan,"kata Sisil dengan senyuman sinisnya.
"Kurasa juga tidak ada lagi yang harus kita pertahankan dalam pertemanan ini. Aku merasa lebih bebas sekarang dengan hal ini. Terimakasih,"ucap Sisil sambil menepuk bahu Aline.
"Selamat berjuang mantan sahabat ku, semoga kamu segera lulus,"ucap Sisil sebelum pergi meninggalkan Aline yang terdiam terpaku melihat sang sahabat yang pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Aline tertawa kesal dengan apa yang baru saja dia alami. Perasaannya seketika memburuk ketika bertemu dengan sisil. Apalagi dengan ucapan-ucapannya barusan yang menusuk perasaannya banget.
"Sebegitukah pandangan mu dengan pertemanan kita selama ini, Sil?"kata Aline meratapi apa yang sudah dia pernah lakukan kepada Sisil. Lalu sahabatnya itu justru Setega itu kepada dirinya saat ini.
"Aku tahu, aku yang terlalu mudah percaya kepadamu. Aku yang salah telah mempercayai mu namun justru kamu memperlakukan ku seperti ini,"kata Aline kembali dengan nada penyesalan.
Tanpa terasa air mata Aline pun menetes. Tetapi dengan buru-buru Aline menghapusnya. Bukan karena kepergian Sisil yang membuatnya sedih. Tetapi kehilangan sosok sahabat yang dianggapnya selama ini benar-benar tulus kepada dirinya. Ternyata semua itu hanyalah palsu.
...----------------...
...Terimakasih sudah setia menunggu setiap updatean nya. Salam cinta dari Author ❤️...