
"Apa!"ucap Verel dengan nada emosi setelah mendengar dari sang bunda bahwa wanita yang pernah menjadi nyonya Aldriansyah itu mendatangi bundanya bahkan memberikan sebuah ancaman.
"Bunda hanya tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, nak. Hanya kamu yang bunda miliki. Sudahlah, jangan berebut dengan kakak kamu, vazo,"ujar Vina Wijayanti menasehati putra semata wayangnya dengan Doni Aldriansyah tersebut.
"Aku tidak akan membiarkan ini begitu saja bunda,"ujar Verel Aldriansyah dengan raut wajahnya yang tampak memendam rasa kesal.
Bagaimana Verel Aldriansyah tidak kesal setelah mendengar cerita sang bunda bahwa Stella Bramantyo mengancam bundanya dengan mengatakan akan mencelakakan dirinya. Itu sudah sangat keterlaluan. Bukannya Vazo Aldriansyah hanya anak yang lahir karena perjanjian semata. Bukan anak yang dilahirkan karena cinta.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka, bunda tenang saja,"janji Verel kepada sang bunda yang tampak ketakutan. Verel Aldriansyah tahu jika sang bunda lebih memikirkan keselamatan dirinya.
"Tidak perlu, nak, kamu sudah diakui oleh ayahmu itu sudah cukup. Kita tidak perlu berurusan dengan keluarga Bramantyo. Mereka memiliki kekuasaan yang lebih daripada kita. Apalah diri kita ini tanpa ayahmu yang selalu berdiri di depan kita berdua,"ujar Vina Wijayanti memperingatkan sang putra.
Akan tetapi Verel Aldriansyah sudah bertekad bulat. Dia tidak akan membiarkan wanita jahat itu sok berkuasa seolah-olah dirinya masih menyandang gelar sebagai nyonya Aldriansyah saja. Bukankah ayahnya sudah menunjukkan dengan jelas bahwa dia lebih memilih sang bundanya daripada wanita itu.
"Bunda tenang saja. Aku bisa mengatasi masalah ini. Percaya sajalah denganku, bunda,"ujar Verel Aldriansyah menenangkan sang bunda.
Vina Wijayanti memandang dengan seksama wajah putra tunggalnya tersebut. Dia mengelus wajah putranya yang sangat mirip dengan wajah Doni Aldriansyah, pujaan hatinya.
"Jaga dirimu dengan baik, nak. Hanya kamu yang bunda miliki di dunia ini,"pesan Vina Wijayanti akhirnya menurutu keinginan sang anak.
Verel Aldriansyah hanya tersenyum dan mencium kedua tangan bundanya.
"Terimakasih bunda, sudah percaya kepadaku,"ujarnya sambil berjongkok di hadapan sang bundanya.
Stella Bramantyo, kamu yang akan menangis melihat kelakuan putra kesayanganmu yang bodoh itu. Lihat saja, kamu berani mengancam bundaku. Maka kamu sendiri yang akan menuai akibat perbuatan mu itu.
**
Aline sedang duduk-duduk di taman kampus sambil merevisi skripsi yang baru saja dia konsultasikan dengan dosen pembimbingnya.
Sedari tadi Aline sebenarnya menunggu kehadiran Sisil. Sudah beberapa hari Aline tidak bertemu dengan Sisil. Entah kemana saja anak itu sampai dia tidak nampak di kampus. Kalau Aline menghubunginya, dia selalu beralasan sedang kerja part time.
Aline sengaja tidak memberitahu Sisil kalau dirinya menunggu kedatangan Sisil di kampus. Aline melakukan itu karena ingin tahu apa yang dilakukan Sisil selama ini sampai begitu sibuknya untuk datang ke kampus.
Aline menunggu sampai siang hari di kampus. Padahal biasanya Aline akan cabut dari kampus setelah selesai bimbingan. Aline sengaja datang ke restorannya setelah jam makan siang saja. Hanya karena dia ingin sekali bertemu dengan sisil.
Suasana di kampus siang itu begitu ramai. Banyak mahasiswa yang duduk-duduk di taman kampus sehingga membuat suasana menjadi ramai.
Aline sesekali menengok ke kanan dan ke kiri melihat andai saja dia bisa berjumpa dengan sosok Sisil yang sedang lewat. Tetapi sedari tadi, Aline tidak juga melihat sosok Sisil yang lewat ke arah gedung utama kampus.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Aline yang sudah menunggu sedari tadi menjadi jenuh juga. Dia sendiri sudah dari tadi menyelesaikan revisian skripsinya. Namun, sosok Sisil tidak juga dia temukan dari banyak orang yang berlalu lalang di sana.
Aline mematikan laptopnya dan memasukkan nya ke dalam tas. Aline sudah berencana untuk pergi ke restoran lebih dahulu. Sebelum nantinya dia akan pergi ke rumah Kenzo untuk les privat.
Aline berjalan menuju pintu gerbang kampus nya. Sambil memesan sebuah transportasi online yang akan membawanya ke restoran tempat dia bekerja.
Aline sedang asyik membuat janji di sebuah aplikasi online. Tiba-tiba ketika Aline mendongak, dia melihat sebuah mobil yang tidak asing sedang berbentuk di dekat pintu gerbang.
"Bukankah itu mobil vazo?"gumam Aline, seketika Aline mencari tempat untuk bersembunyi karena dia tidak mau sampai terlihat lelaki itu. Aline tidak siap untuk bertemu dia saat ini.
Tetapi alangkah terkejutnya Aline saat dia mengetahui bahwa Sisil keluar dari mobil tersebut. Wajah Sisil tampak berseri-seri saat turun dari mobil vazo. Bahkan Sisil juga melambaikan tangannya kepada vazo saat lelaki itu pergi meninggalkan dirinya.
Aline sungguh tidak menyangka dengan apa yang baru saja dilihatnya. Sikap Sisil yang begitu centil dan juga kelakukan nya kepada vazo sungguh di luar dugaan.
Sisil bergegas menuju ke ruangan dosen digedung utama kampus. Aline yang sebenarnya ingin menyapa Sisil menjadi mengurungkan niatnya tersebut. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi diantara Sisil dan juga vazo.
***
Iklan Author
Budayakan klik like setelah membaca dan tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya.
Terimakasih 💞