Oh, My Young Man

Oh, My Young Man
Menjenguk Kenzo



"Wah menu masakannya enak nih kelihatannya, ma,"ujar Keanu melihat beberapa masakan yang tersaji di meja makan. Monita tersenyum senang mendengar ucapan sang suami.


"Ini sebagian masakan dibawakan oleh Aline, masakan dia sendiri, lho,"ujar monita sambil tersenyum ke arah Aline.


Kenzo menarik kursi yang biasa di tempatinya.


"Ayo, Lin, sini ikut bergabung,"ajak monita kepada Aline.


"Baik, Tante,"Aline hendak duduk di samping Tante monita namun tangan Kenzo menarik dirinya dan Kenzo juga sudah menarik sebuah kursi yang ada di sebelah dia duduk. Keanu dan Monita melihat apa yang baru saja dilakukan oleh putra semata wayangnya.


"Oh, ya kamu duduk situ saja tidak apa-apa,"ujar monita melihat apa yang baru saja Kenzo lakukan untuk Aline. Monita tidak mau melihat Aline merasa canggung berada di ruangan tersebut.


"Mana masakan buatku?"tanya Kenzo kepada Aline karena tadi Aline bilang kalau dia membuatkan masakan kesukaan Kenzo.


"Oh, ini, kamu juga suka nasi goreng seafood kan, ini aku buatkan banyak,"ujar Aline. Kenzo langsung menyodorkan piring dihadapannya kepada Aline.


"Ambilkan untukku,"ucap Kenzo dengan raut wajah datarnya. Sedangkan Aline mendengar ucapan Kenzo itu merasa tidak enak dengan kedua orang tua Kenzo yang melihat ke arah dirinya dan Kenzo.


"Ambilkan saja, Lin, tidak usah takut,"ujar monita mencairkan suasana. Monita juga memberikan kode kepada Keanu agar tidak terlalu melihat mereka seperti itu membuat keduanya merasa canggung jadinya.


"Ini,"ujar Aline sambil menyodorkan piring yang telah terisi penuh nasi goreng seafood buatannya kepada kenzo.


"Wah, jadi ini kamu masak sendiri, lin?"tanya Keanu, papa Kenzo, mencoba mengalihkan kecanggunggan yang baru saja terjadi.


"Iya, om, di restoran tadi sebelum ke sini,"jawab Aline. Dia menyerahkan piring berisi nasi goreng seafood kepada Kenzo. Dan langsung dimakan dengan lahap oleh Kenzo.


"Hebat juga kamu, Lin,"lanjut Keanu karena dia melihat masakan Aline yang tampak menggugah selera makannya.


"Kata Anita, dia itu memang berbakat dalam hal memasak,"puji Monita.


"Bagus, Lin, kamu bisa mengembangkan usaha bundamu di bidang kuliner,"kata Keanu.


"Saya juga masih banyak belajar om,"ujar Aline merendah.


"Tidak masalah, sebagai anak muda memang harus banyak belajar. Kalian tidak harus mengandalkan kami yang tua ini terus-menerus, bukan?"kata Keanu menjelaskan.


"Iya, om,"jawab Aline. Kenzo hanya terdiam dan melahap dengan enaknya nasi goreng seafood buatan Aline. Monita melihat ekspresi senang putranya ketika makan. Maka muncullah ide dalam benak Monita.


"Aline sudah mempunyai seorang pacar?"tanya monita tiba-tiba membuat Aline terkejut dengan pertanyaan yang baru saja diberikan kepadanya.


"Eh, itu..."


"Sudah,"jawab Kenzo. Monita tidak menyangka bahwa Kenzo yang akan menjawab pertanyaannya. Dan rupanya putranya ternyata lebih tahu tentang Aline.


"Oh, ya, lelaki mana yang beruntung itu?"pancing monita kembali.


"Dia dulu kakak kelas saya, Tante,"ujar Aline.


"Oh,"sahut monita meski sebenarnya dia terdengar kecewa dengan apa yang baru saja Aline katakan kepadanya.


"Sudah berapa lama kalian berpacaran?"tanya monita kembali.


"Hampir tiga tahun, Tante,"ujar aline. Monita hanya mengangguk mengerti. Dia tidak lagi bertanya kepada Aline.


Sayang sekali gadis seperti Aline yang sangat monita sukai sudah memiliki pacar. Bagaimana ya lelaki yang menjadi pacar Aline tersebut? Ah, Monita tidak boleh mudah menyerah secepat ini.


Selama janur kuning belum melengkung, semuanya masih sah untuk ditikung.


Monita tersenyum dalam hati apalagi sekarang saat dia melihat kedekatan antara Kenzo dan juga Aline. Semuanya masih mungkin terjadi bukan.


*


"Kenzo sudah baik-baik saja, bunda,"jawab Aline sambil ikut duduk di samping sang bunda.


"Syukurlah, kasihan monita pasti panik sekali melihat kondisi Kenzo saat itu,"ujar bunda Anita mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.


"Tante monita selalu panikan jika sudah menyangkut masalah Kenzo,"ujar Aldo sambil tersenyum.


"Karena putra mereka hanya satu saja, jadi mereka menjadi begitu mengemaskan kenzo,"ujar bunda Anita.


"Bunda benar,"kata Aline.


"Monita sudah tidak bisa hamil lagi karena sesuatu hal. Jadi mereka begitu protektif dengan Kenzo,"kata bunda Anita menjelaskan. Aline mengangguk mengerti kenapa mama Kenzo begitu panik dan sering sekali marah-marah kalau Kenzo melakukan sesuatu yang berbahaya seperti balapan liar waktu itu.


"Oya, vazo tadi ke sini mencarimu, nak,"ujar bunda Anita baru saja ingat. Aline seketika menoleh ke arah sang bunda.


"Untuk apa dia kemari, Bun?"tanya Aline dengan nada kesal. Bunda Anita hanya mengangkat kedua bahunya.


"Bunda tidak tahu, dia tidak bilang apa-apa,"jawab bunda Anita.


"Apakah dia pulang setelah tahu aku tidak ada di rumah?"tanya aline.


"Tidak, dia juga mencariku untuk membahas masalah pekerjaan,"sahut kakak Aline, Aldo.


Aline sudah menduga bahwa vazo selalu melakukan itu jika main ke rumahnya. Bahkan ketika mereka sedang jalan bersama, vazo selalu bertanya apapun seputar pekerjaan sang kakak.


"Bunda bilang aku kemana padanya?"tanya Aline kembali.


"Ya, bunda bilang kamu menjenguk Kenzo. Memang ada apa, nak? Kalian bertengkar?"tanya bunda Anita karena melihat wajah putrinya yang tampak tidak senang dengan berita kedatangan vazo ke rumahnya.


"Aku hanya tidak mengerti saja dengan sikapnya akhir-akhir ini, Bun. Dia banyak berubah,"kata Aline bercerita.


"Dalam sebuah hubungan pasti ada permasalahan, dek,"sahut Aldo kepada sang adik.


"Ya, aku mengerti itu, kak. Cuma vazo sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku. Aku merasa dia mendekatiku hanya agar dekat dengan kak Aldo aja,"ujar Aline dan pernyataan sang adik membuat Aldo menjadi tertarik membahasnya.


"Oya, kenapa kamu berbicara seperti itu, dek?"tanya Aldo semakin penasaran.


"Itu hanya feeling aku saja, kak. Karena aku sudah lama mengenalnya dan mulai curiga akan sikap dia,"kata Aline dengan nada curiga.


"Sudahlah, jangan asal menuduh orang sembarangan jika kita tidak memiliki bukti. Kamu selesaikan masalahmu dengan vazo biar jelas dan tidak ada rasa saling curiga lagi,"ujar Aldo menasehati sang adik.


"Ya, aku ke kamar dulu, selamat malam bunda, kakak,"pamit Aline karena dia sudah capek seharian.


"Sepertinya bukan aku saja yang memiliki dugaan yang sama, bunda,"ujar Aldo sambil tersenyum kepada bunda Anita ketika Aline sudah naik ke lantai dua rumah mereka.


"Biarlah, biarkan adikmu belajar, dengan begitu dia akan lebih mengenal banyak orang,"kata bunda Anita dengan bijak.


***


Iklan Author


Budayakan klik like setelah membaca novel di atas. Tuliskan komentar kalian sebanyak-banyaknya. Dan jika ingin promosi novel kalian silakan promosi di kolom komentar. Namun, jangan melakukan promosi itu di grub chat milik author ya. Mohon pengertiannya.


Terimakasih 😄